
Angin malam begitu dingin menusuk kulit. Tak ada yang di butuhkan selain kehangatan. Rasa takut masih menghantui seseorang yang gemetar sejak tiba di dalam rumah. Rumah yang selalu memberinya ketenangan juga rasa aman. Tidak ingin pergi kemanapun, lebih baik di sini bersama pelindungnya yang memang sudah menjadi bagian darinya.
Alya, gadis yang baru genap berusia delapan belas dini hari nanti memeluk lututnya di atas tempat tidur. Bagaimana jika Christian telat menolongnya tadi?
Sungguh Alya tidak sanggup hanya dengan mengingatnya saja.
"Tenanglah Al, jangan di pikirkan. Lebih baik kau beristirahat. " Duduk di tepi ranjang, Christian menemani Alya untuk mengurangi ketakutan nya.
"Aku tidak tahu Christian, jika sifatku bisa membahayakan. Aku sendiri bingung kenapa aku seperti ini. " Alya menelungkup kan kepalanya mencoba untuk menahan tangisnya.
"Kau bisa ceritakan semuanya padaku Al. Kau bilang aku harus mengetahui semua tentangmu. " Meski Christian tahu mungkin sekarang bukan waktu yang tepat mendesak Alya untuk terbuka.
Hening,,,
Hanya angin malam yang terdengar jelas di telinga. Beberapa saat tidak ada yang bersuara. Alya masih setia dengan kebisuannya. Ia berpikir, merangkai kata agar Christian mudah memahami setiap ucapannya.
"Aku tidak tahu apakah aku terlahir di atas kertas pernikahan yang sah secara agama maupun hukum. Selama tiga belas tahun aku mengira daddy sudah meninggal, atau mungkin berpisah dari mommy.
Diamku bukan berarti aku tidak ingin tahu.
Rasa penasaran itu ku kubur dalam-dalam ketika melihat mommy kerja keras membesarkan ku.
Hingga ketika kami kedatangan seseorang, yang ternyata adalah kakak perempuan ku.
Di hari dirinya melahirkan keponakanku kami mendengar hal mengejutkan bahwa aku adalah anak kedua tuan Rodrigo."
Alya menautkan kedua tangannya, mengingat sebab dirinya begitu tertutup dan seakan memiliki rasa trauma.
"Dia mengasingkan ku selama ini Chris. Kalau saja aku bisa, aku ingin membenci daddy. Tapi dia ayah yang baik yang selalu melindungi keluarganya. " Tubuh Alya bergetar hebat, pertama kalinya ia menangis di hadapan seseorang.
Tak tahan mendengar kisah pilunya, Christian bergeser lebih dekat untuk merengkuh Alya. Menyimpannya kedalam pelukan.
"Jangan di teruskan jika memang tidak sanggup Al. Sekarang aku paham semuanya." Bisik Christian begitu lembut dan menenangkan perasaan Alya.
"Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk bersedih dan marah menerima kenyataan ini. Setelah kami berkumpul pun prioritas dia masih tetap sama, yaitu Gracia. Tapi aku tidak akan pernah bisa membenci mereka." Melerai pelukan, Christian menciptakan jarak diantara mereka yang kini saling duduk berhadapan.
Tangan Christian merapikan rambut Alya yang menghalangi wajah merahnya ketika menangis.
"Sebagai bentuk kemarahanmu, kau membentengi diri Al. Terjebak di dalam luka mendalam. Kau mengorbankan dirimu sendiri.
Seharusnya kau lampiaskan kekesalanmu, kecewamu agar kau bisa berdamai dengan keadaan. "
Alya memandangi Christian lekat, selain tampan dan baik ternyata dia sangat bisa diandalkan dalam hal menenangkan.
"Kau benar, tapi aku tetap tidak ingin memiliki ikatan dengan siapapun Chris. Melihat bagaiman Gracia mengalami kesulitan hanya karena cinta, aku muak menyaksikan dirinya menderita. " Tidak, Alya bukan membenci Grace. Hanya saja kejadian demi kejadian yang di alami kakak nya juga di rasakan oleh Alya.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas Christian, mungkin belum saatnya ia meyakinkan Alya di saat kondisinya seperti ini.
"Tidurlah Al, kita akan melanjutkan ini setelah kau tenang. " Akan turun dari tempat tidur, Alya menahan lengan Christian lalu menatapnya penuh damba.
"Aku tidak takut dengan apapun meskipun itu daddy. Jika kau ragu, maka tidak ada alasan lagi aku dekat denganmu Chris. Kau tahu betul, daddy pasti selalu mengawasiku." Lagi-lagi Alya menginginkan Christian menyentuhnya, memberi Alya pengalaman pertamanya.
"Al, aku hanya ingin kau mendapat yang terbaik dariku. Ayo kita menikah, kau masih bisa melakukan apapun setelahnya. Aku tidak akan mengekang mu. " Sama halnya dengan Alya, Christian pun memiliki alasan tersendiri kenapa ia bersikeras menikah sebelum melakukan hubungan intim dengan perempuan.
"Baiklah,,, " Alya melepaskan genggamannya, "kau punya pendirian begitupun aku. Aku tidak akan memaksamu lagi Christian." Lirih Alya menundukkan kepalanya.
"Kau sangat mengecewakan ku Alya. " Kata Christian dengan nada rendah namun menusuk hati Alya. Dia pun pergi keluar meninggalkan Alya sendirian.
Christian pergi melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju suatu tempat. Ia sedang kesal dan marah saat ini pada Alya. Gadis bebal yang sulit ia taklukkan. Memukul stir kemudi, Christian mencoba mengurangi amarahnya.
"Kau tidak mengerti Al, ini semua aku lakukan demi dirimu. I give my World To you, but you Abandon me. " Butuh waktu lima belas menit Christian tiba di depan klub malam paling tersohor di kota London. Ia melemparkan kuncinya pada petugas parkir.
Duduk di depan bar, Christian memesan minuman satu botol dan menenggaknya langsung. Malam ini ia perlu melampiaskan kekesalannya. Beberapa wanita penghibur maupun pengunjung kelas atas mencoba merayu Christian. Meraba bagian tubuhnya, memberinya sentuhan sensual namun pikiran Christian malah di penuhi bayangan Alya.
"Chris." Daniel berdiri di samping Christian, dia memberi isyarat kepada dua wanita seksi di samping Christian untuk pergi. Mereka berlalu dengan perasaan marah tidak bisa menggoda tamu VIP
"Niel, beritahu nyonya Aline bahwa aku Christian akan menerima perjodohan itu." Mabuk berat, Christian yang sudah setengah sadar meracau mengatakan keputusannya.
"Kau mabuk Chris, aku antar kau pulang ke hotel. " Susah payah Daniel memapah tubuh Christian, dia begitu kacau ketika kehilangan kesadaran.
"Niel aku mau pulang ke rumah dimana ada Alya. Aku sangat mencintai nya Daniel." Racau Christian ketika dia sudah duduk di sebelah kemudi.
"Sial... " Umpat Daniel melayangkan tinju ke udara melihat taksi yang di tumpangi Christian sudah menjauh.
Daniel mencoba menghubungi Alya, tapi dia lupa kalau mereka belum pernah bertukar nomer ponsel satu sama lain. Mau tidak mau dia harus segera menyusul Christian agar tidak terjadi sesuatu.
Di kamarnya, Alya sudah terlelap mungkin karena terlalu shock dan lelah. Hujan deras mulai membasahi jalanan di iringi petir menggelegar. Akhirnya pengawal yang selalu mengawasi Alya harus kembali ke rumah yang dia sewa. Sudah cukup lama juga dia mengawasi, spertinya Christian tidak akan kembali lagi.
Keluar dari taksi, Christian basah kuyup menerobos hujan menuju lantai atas. Dia melihat lampu kamar Alya sudah mati, namun karena dia mengetahui kode aksesnya Christian tetap ingin masuk ke dalam. Derasnya hujan membuat Christian sedikit lebih sadar di banding tadi.
Meski pengar dan pening, Christian terus berjalan menyusuri koridor. Ia tersenyum menatap pintu dimana ada Alya di dalamnya.
"Alya,,, " Lirih Christian, ia berdiri di samping tempat tidur mengamati wajah Damai Alya.
Christian pov
Persetan dengan sebuah ikatan, yang pasti aku ingin Alya menjadi milikku seutuhnya. Biarlah aku membuka luka lama dengan menuruti keinginannya. Setan telah berhasil menguasai hasratku, aku menanggalkan seluruh pakaianku dan menindih tubuh mungil Alya.
"Alya, let's making love... " Bisik ku padanya. Sontak Alya bangun dan langsung menatapku tajam.
"Christian sadarlah, lepaskan aku! " Dia berusaha keluar dari kungkungan ku, jelas Alya akan kalah karena aku lebih kuat darinya.
__ADS_1
Mata indah itu, pipinya yang merona, dan bibir mungil nan manis. Secara brutal aku melahap nya, tak peduli pukulan tangan Alya menyakiti dadaku.
Srak,,,
Piyama dengan kancing di depan ku robek paksa, menyuguhkan dua gunung kembar yang sangat pas di genggamanku. Rupanya Alya memiliki kebiasaan tidur tanpa memakai braa.
"Christian please, jangan lakukan ini. " Kenapa dia malah melarang ku? Bukankah selama ini Alya menginginkannya? Lalu dimana letak kesalahanku sehingga dia malah menangis.
Ku ciumi ceruk lehernya kemudian menyedot gundukan di depan mataku. Ah, nikmatnya. Alya menegang ketika aku memainkan keduanya secara bersamaan.
Pov End
Malam dingin yang kelam, Christian memberi banyak tanda ke pemilikan di tubuh Alya sekaligus menorehkan luka terbesarnya. Alya menangis dalam diam merasa hancur di buat olehnya. Sakit, kecewa dan menyesal. Kalau saja Alya tidak mengenal Christian, mungkin semuanya akan baik-baik saja.
"Christian, it's hurt... " Rintihan dan isak tangis Alya seolah tidak terdengar oleh telinga Christian yang terus memompa tubuhnya.
"Rasakan lah Al,,, bukankah ini yang kau minta dariku? Kau akan menjadi milik ku seutuhnya. " Di sela-sela mendesahh Christian meracau menyalahkan keinginan Alya yang terus memancingnya.
"Argh,,, " Dan Christian pun mendapati puncaknya. Ia ambruk diatas tubuh Alya yang polos. Sementara diringa masih mengenakan kemeja kerjanya.
Cup,,,
Sebuah kecupan di kening Alya Christian berikan. Namun itu tidak akan pernah menghapus rasa sakit hati Alya.
Daniel, hanya mampu berdiri di depan pintu rumah. Sekuat apapun dirinya membantu, semua keputusan ada di tangan Christian maupun Alya. Ia urung menyelamatkan Alya dan memilih membiarkan Christian melampiaskan kekesalannya.
***
Setelah menggagahi Alya, Christian yang sudah bangun lebih dulu kini keluar dari kamar mandi. Bersikap seakan tidak terjadi sesuatu, ia ke dapur untuk membuatkan Alya sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Tidak banyak, hanya omelet dan roti panggang dengan selai strawberry kesukaan Alya. Juga secangkir kopi hitam, perempuan itu tidak pernah menyukai suusuu di pagi hari.
Tadinya Christian akan langsung pergi, tapi mengecek keadaan Alya sebentar tidak ada salahnya.
"Sweet dream Al,,, " Ucap Christian di ambang pintu, dia membiarkan Alya beristirahat di banding membangunkannya.
Christian keluar dari bangunan mewah itu, sudah ada Daniel duduk di dalam kemudi. Ternyata pria bermata sipit itu menginap di sana.
"Kita ke kantor. " Perintah Christian. Daniel pun segera tancap gas, untungnya dia sudah bangun sejak tiga puluh menit yang lalu.
Di perjalanan keduanya diam membisu, Daniel yakin telah terjadi sesuatu diantara mereka tadi malam. Sementara Christian di liputi banyak pikiran, bagaimana jika tuan Rodrigo tahu dan malah memisahkan mereka? Belum lagi tentang perjodohan nya dengan Sera. Apa perlu Christian mengatakan semuanya pada nyonya Aline ibunya?
"Lusa tuan Oliver dan Theo akan terbang ke London. " Akhirnya Daniel buka suara, dia perlu mengingatkan Christian lagi bahwa adiknya mungkin saja masih memiliki perasaan terhadap Alya.
Christian berdecak kesal, ternyata Alya memiliki banyak penggemar di sekitarnya.
__ADS_1
"Kau urus saja mereka Niel, aku pusing." Sisa pengar dan tenaganya yang terkuras akibat pergulatan semalam Christian memilih tidur sebentar. Ia memejamkan mata dan bersandar. Sarapan pun ia sengaja lewatkan agar bisa segera pergi sebelum Alya bangun.
Daniel melirik sebentar ke arah sampingnya kemudian menggeleng lemah.