My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 56


__ADS_3

Grace melewati beberapa departemen yang berada di bawah kendali Liam. Meski semua staf sudah tahu tentang status Grace dan Liam mereka tetap bersikap profesional. Ada yang suka dan juga tidak mengetahui Grace wanita yang sudah berhasil menaklukkan hati Liam. Tapi Grace jelas tidak akan peduli terhadap mereka, Grace datang bukan untuk menyenangkan orang-orang.


"Grace apa semua berjalan baik? " Liam menyambut sang istri di ruang kerjanya. Ia khawatir karena tidak biasanya Grace bertemu keluarganya di rumah sakit. Ia akan mengajak mereka mengobrol di rumah keluarga atau tempat makan.


"Tadi aku cek kesehatan, uncle Jack memberiku obat agar bekas jahitan lukaku tidak infeksi. Mungkin karena itu aku demam. " Liam langsung menarik Grace untuk di peluk olehnya. Tanpa bicara pun dia tahu bahwa Liam sangat mengkhawatirkan dirinya. "Maaf karena aku tidak peka, seharusnya kesehatan mu menjadi prioritas ku. " Grace menggeleng lemah karena itu bukan salahnya. Gracelah yang merasa tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Ayo kita jemput Dylan. " Liam menggenggam tangan Grace keluar ruangan. Jika dulu ia akan gugup dan takut bermesraan di depan staf Liam hari ini Grace penuh percaya diri melewati mereka. Pernikahan Liam dan Grace memang di gelar sederhana tanpa ada rencana untuk resepsi. Liam mempertimbangkan privasi kehidupannya.


"Zen kau bisa istirahat, aku akan menyetir sendiri menjemput Dylan. " Keduanya bertemu Zen di lobby utama, akhirnya dia bisa makan siang sendiri dengan tenang. "Baiklah, Hati-hati. " Ucap Zen tersenyum.


Mobil yang membawa Grace dan Liam datang tepat waktu ketika sekolah berakhir. Dylan keluar dan melihat orang tuanya sudah menunggu, berlari dan memeluk mereka bergantian.


"Daddy, mommy, aku senang kalian jemput." Liam menggendong tubuh gembul Dylan, semenjak dia bertemu Liam ayahnya Dylan menjadi lebih sehat karena kebahagiaan selalu menyertainya.


"Kita akan makan siang bareng sayang. " Grace menggenggam tangan Dylan tak kalah bahagia melihat anaknya bahagia. "Hore,,, " Dylan berteriak kegirangan membuat orang-orang menatap ke arahnya. Mereka ikut senang melihat keluarga kecil yang bahagia dan harmonis.


Liam melajukan mobilnya menuju restoran bernama Le Petit Poucet yang berada di kawasan sungai Seine. Di mana restoran itu berdiri di tengah-tengah sungai terkenal di Paris. Sekitar lima belas menit mereka sudah tiba di depan restoran. Grace dan Dylan masuk terlebih dulu karena Liam harus menerima panggilan telepon.


"Halo tuan Noel, ada apa gerangan? " Liam tetap fokus memperihatikan Grace dan Dylan dari luar.


"Ah tidak, hanya saja aku ingin mengajak anda makan siang bersama. Tapi mungkin anda sedang sibuk. " Ternyata Noel Javier yang menghubungi Liam.


"Maaf tuan, aku sedang makan siang bersama keluargaku. Maybe next time. " Setelah mendapat tanggapan tak masalah dari Noel Liam menutup telepon lalu menyusul istri dan anaknya.


Tanpa Liam sadari Noel juga baru tiba di depan restoran yang sama. Dia berbincang dengan asistennya sambil masuk ke dalam. "Aku ingin duduk di luar. " Ucap Noel, asisten hanya mengangguk setuju.


"Yeay, aku akan makan pizza. Sudah lama Grand ma tidak membuatkan pizza untuk ku. " Dylan mengangkat tangannya tinggi setelah di izinkan memesan makanan favoritnya. Sebelum tinggal terpisah kadang bibi Pat selalu membuat Pizza untuk keluarganya karena Dylan sangat menyukai itu.


Teriakan Dylan mencuri perhatian Noel yang ingin duduk di meja ujung. Di samping anak itu ada Liam partner bisnisnya, membuat Noel ingin menghampiri untuk sekedar menyapa.


"Mungkin itu istri dan anaknya. " Gumam Noel melihat punggung wanita berambut panjang bergelombang.

__ADS_1


"Tuan Liam. " Sapa Noel, yang di panggil mendongak lalu bangkit dari duduknya. "Tuan Noel, suatu kebetulan bertemu di sini." Liam menjabat tangan Noel yang terulur. Grace yang sedang asik bergurau dengan Dylan pun menoleh melihat siapa yang menyapa suaminya.


Manik mata Grace dan Noel bertemu dan itu membuat Noel meringis dalam hatinya. Melihat tatapan Noel Liam memperkenalkan keduanya.


"Dia Grace istriku, dia yang sudah melahirkan anakku Dylan. "


"Begitu rupanya, anda beruntung tuan karena sudah bertemu pasangan anda." Banyak makna tersirat dari sanjungan Noel. Grace tahu maksudnya, dulu Noel juga pernah mengutarakan perasaannya namun jelas Grace menolak. Ia bahkan sempat mengancam akan menjauhi Noel jika terus menganggapnya sebagai wanita, karena Grace menghormati Noel sebagai saudara laki-lakinya.


Melihat Dylan yang usianya sekitar empat tahun, Noel menyimpulkan saat mereka pertama kali saling mengenal Grace mungkin sudah melahirkan Dylan. Tapi kenapa tidak ada Liam di hidupnya dulu?


"Liam,,, " Grace ingin menyampaikan sesuatu, dia tidak bisa membohongi suaminya jika mereka tidak saling mengenal. Namun Noel tak ingin Grace mengatakan apapun, dia segera menyela.


"Kalau begitu silakan lanjutkan, aku tidak ingin mengganggu waktu berharga kalian. Takutnya aku malah iri. " Canda Noel menepuk lengan Liam lalu pamit dengan segala kekecewaannya. Respon Noel yang tidak menganggapnya teman membuat nyali Grace menciut.


Tak lama pelayan membawa pesanan mereka. Grace dan Liam fokus menatap Dylan yang lahap menikmati pizza nya. "Bagaimana kalau kita menginap di hotel? Kita titipkan Dylan di rumah daddy mu. " Tiba-tiba ide jahil muncul di kepala Liam, Grace yang mendengarnya mendelik tak percaya.


"What? " Liam melihat Grace menatapnya tajam malah bingung.


"Hahaha, you're so cute baby. " Liam mengelus pipi Grace lembut. Tawa Liam membuat dada seseorang terasa panas terbakar.


"Dy, boleh daddy minta satu permintaan?" Dylan menoleh ketika ayahnya mengajak bicara.


"Apa itu dadd? " Tanya Dylan menunggu. "Kau masih mau kan membentuk tim basket? " Dylan mengangguk semangat, Grace yang mendengarnya langsung memutar matanya malas karena Liam sudah mulai meracuni pikiran anak mereka.


"Berarti daddy dan mommy harus bekerja keras, jadi bagaimana kalau daddy dan mommy pergi ke tempat khusus untuk membuatnya, kau mau kan menginap di rumah Grand pa? " Liam memperhatikan ekspresi Dylan, biasanya Dylan tak ingin jauh dari mereka namun karena hasutan Liam Dylan pun mengacungkan ibu jarinya. "Oke, semangat daddy. " Grace menepuk jidatnya melihat tingkah konyol Liam. Bisa bisanya dia memanfaatkan kepolosan Dylan.


"See, it was easy baby. " Liam membanggakan dirinya. Bukan tanpa alasan, Liam merasa tidak bebas melakukan adegan ranjang setelah Sam menjadi nanny Dylan. Karena perempuan itu selalu ada di sekitar Dylan, Liam tak ingin kemesraan nya di dengar orang lain.


Selesai makan siang Liam langsung mengantarkan Dylan ke rumah Tuan Rodrigo. Grace merasa bersalah karena seperti sedang mengasingkan anaknya sendiri. Pintu rumah terbuka menampakkan Alya yang semakin tinggi dan cantik.


"Auntie Al,,, " Dylan merentangkan tangannya meminta pelukan dari Alya. " I miss you. " Dylan memeluk leher Alya manja. "Me too. Ayo masuk. " Ajak Alya pada mereka.

__ADS_1


"Apa kau tidak khawatir melihat adikmu?" Bisik Liam tak ingin Adik iparnya mendengar. "Kenapa? " Grace bingung dengan pertanyaan Liam.


"Hanya saja, aku takut dia bertemu pria yang salah di usia muda. " Melihat Alya yang cantik alami tanpa polesan make up dengan tubuh proporsional nya Liam seolah melihat cerminan Grace. Grace di sukai banyak pria bahkan masuk ke dalam jeratan nya sendiri. Pria yang awalnya tidak ingin terikat pernikahan.


"Entahlah, semakin dewasa Alya menjadi tertutup. Tapi daddy pasti akan mengawasinya. Alya lebih rapuh dari kelihatannya. " Grace bukan tidak peduli pada adiknya, dia tak ingin melampaui batas privasi Alya. Grace takut Alya malah menjaga jarak darinya.


Orang tua Grace menyambut kedatangan mereka penuh suka cita. Saling berpelukan secara bergantian. "Tumben nih kalian menitipkan Dylan. Memang Dylan belum ada nanny? " Tuan Rodrigo menatap anak dan menantunya curiga.


"Grand pa, daddy dan mommy harus membuat tim basket. " Alya langsung menutup mulut Dylan merasa malu sendiri mendengar nya. Bagaimanapun Alya sudah dewasa.


"Sorry,,, " Liam mengusap tengkuknya malu di hadapan mereka. Grace mengerucutkan bibirnya kesal sendiri oleh Liam.


"Dy, kamu baik baik di sini. Besok mommy jemput di sekolah. Daddy tolong antarkan cucumu ke sekolahnya. Aku pergi dulu. " Grace mencium pipi Dylan di gendongan Alya, dia buru buru keluar karena malu. "Jaga Grace Liam, bisa saja musuh sedang mengincar kalian. " Tuan Rodrigo memperingati menantunya agar tetap waspada.


"I will dadd." Liam mengangguk kemudian mengusap pipi Dylan, ia menyusul Grace yang sudah duduk di mobil.


selepas kepergian orang tuanya Dylan meminta Alya menemaninya mengerjakan tugas sekolah. Alya yang memang bosan selama ini menjadi merasa ada teman saat Dylan datang.


"auntie kenapa? " Dylan melihat wajah Alya yang meringis seperti kesakitan.


"tidak apa apa Dy, auntie sedang mengalami masa periode. " Alya mengusap kepala Dylan, dia sudah membantu Grace merawat keponakannya sejak lahir. Alya begitu menyayangi Dylan dan merasa ingin memiliki anak di usia muda. tapi karena melihat begitu beratnya perjuangan sang kakak mendapat kebahagiaan membuat Alya membenci yang namanya pria maupun cinta.


"auntie, do you have a boyfriend? " mendadak Dylan menyerang Alya dengan pertanyaan menohok.


"Dy, kau tahun dari mana soal itu? auntie tidak suka kau membahas urusan orang dewasa." Alya menyilangkan kedua tangannya di dada menatap Dylan.


"sorry, aku mendengar mommy menanyakan kekasih uncle Zen. " Dylan melebarkan senyumnya menampilkan gigi mungilnya. "Ayo kembali fokus! " Perintah Alya, Dylan sedang membuat miniatur menara Eiffel menggunakan stik ice cream untuk pelajaran di sekolahnya.


Alya mengecek ponselnya mendapat pesan dari Theo teman sekelasnya. dia meminta Alya datang ke rumah karena ada pesta ulang tahun dirinya di adakan di sana nanti malam. Alya memutar bola matanya malas dan tak ada niat pergi.


"Al, mommy mau bilang kalau nanti malam daddy mengajak kita bertamu ke rumah temannya. jangan lupa memakai baju formal ya. " nyonya Patricia berdiri di ambang pintu. "bisakah aku tidak ikut? " Alya tak ingin kemana-mana saat datang bulan.

__ADS_1


"tidak bisa, mana mungkin kamu sendirian di rumah. pokoknya daddy mengajak kita semua. " Alya menghela nafas tak bisa lagi menolak, karena daddy orang yang tegas. Alya tidak berani melawan.


__ADS_2