My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 7


__ADS_3

Hari-hari Grace habiskan bersama Liam di kantor. Mengikuti kemanapun bosnya pergi, mulai dari meeting, makan siang bersama klien, hingga memeriksa beberapa rancangan yang akan di produksi. Grace selalu bahagia setiap melihat seorang perancang menyampaikan detail hasil karyanya.


Seperti sekarang, mereka menyaksikan Bianca yang tengah menyelesaikan tahap akhir sebuah dress musim panas. Sorot mata Liam fokus memperhatikan sesuatu.


"Aku tidak bisa membayangkan hanya dengan di pasang di manekin." Kata Liam menyuarakan pendapatnya. Lalu ia melirik seseorang yang berdiri di sampingnya, Grace sibuk mencatat apapun yang Liam suruh. "Grace, cobalah kau pakai itu." Perintah Liam menciptakan keheningan. Sah sah saja jika memang ingin mencobanya, tapi kenapa harus Grace? Jawabannya jelas karena di antara Grace dan Liam ada sesuatu.


"Aku? Bisakah yang lain saja,,, " Belum selesai Grace berbicara Liam sudah menatapnya tajam. "Baiklah." Grace pasrah saja menuruti keinginan bosnya.


Setelah berganti pakaian di fitting room, Grace keluar dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan sebuah prom dress berwarna hijau neon tanpa lengan. Memamerkan bagian dada dan sedikit punggung nya. Semua orang terpana bukan karena keindahan rancangan Bianca melainkan tubuh Grace yang ideal sebagai model.


"Wow, Grace is a new model." Bianca bertepuk tangan memuji keanggunan seorang Grace. Liam mencoba mengalihkan pandangannya tak ingin terpesona. Dia tidak boleh jatuh cinta pada Grace. Ingat, perempuan itulah yang sudah menolak dirinya dulu.


"Aku ingin Grace yang akan memamerkan koleksi baruku, semoga tuan menyetujuinya." Bianca kembali bersuara menyadarkan lamunan Liam.


"Tidak, aku menentang keras hal itu." Gila saja jika Liam harus mempertontonkan kecantikan Grace pada khalayak ramai. "Tapi aku ingin mencobanya sekali." Ternyata Grace merasa ketagihan berjalan di atas runway. Mungkin dia tidak bisa membuat sebuah karya, tapi Grace mampu menyampaikan karya-karya orang lain menggunakan tubuhnya.


Semua mata tertuju pada Liam menanti jawaban darinya. Kalau saja perempuan itu tidak menginginkan nya jelas Liam akan menolak. "Baiklah." Terpaksa dirinya memberi izin.


"Yes,,, " Batin Grace bersorak gembira. "Kau harus banyak berlatih Grace, jangan mempermalukan reputasi ku." Titah Liam penuh penekanan. Grace menjawab dengan gerakan hormat padanya.


Satu minggu yang di butuhkan Grace agar mampu menguasai panggung. Di samping itu dirinya juga harus mengerjakan tugas-tugas utamanya.


"Grace aku akan makan siang dengan daddy, kau harus ikut." Liam menghampiri meja Grace dan Andy, sejak tadi Grace sibuk di depan layar komputernya. "Pekerjaanku belum selesai." Tolak nya. "Andy akan mengambil alih." Serang Liam tak ingin ada penolakan.


"Pergilah Grace, aku akan mengerjakan nya." Itu memang tugas Andy sebelum kehadiran Grace. Berkat Grace yang cekatan semua jadi terasa ringan di kerjakan bersama.


"Thank you Andy. " Grace buru buru menyusul langkah kaki Liam yang lebar.

__ADS_1


Kali ini Liam memilih menyetir, ia memberi kesempatan untuk Grace beristirahat. Tadinya model luar negeri yang akan memeragakan koleksi terbaru Perusahaan. Namun karena belum menemukan kecocokan mereka enggan membuat kontrak.


"Gaji mu sudah aku transfer Grace." Liam membuka suara memulai percakapan. Mata Grace berbinar mendengar ucapan pria di samping kirinya. "Mercy Liam." Liam sempat melirik melihat wajah gembira seorang Grace, ia pun jadi ikut tersenyum.


"Kenapa kau malah hidup sendiri, padahal tuan Rodrigo bisa saja memberimu peluang usaha." Hal yang paling membuat Liam penasaran, timing yang pas untuk menggali lebih dalam kehidupan Grace.


"Aku takut, bisa saja kan Tiba-tiba ayahku bangkrut, atau dia di rampok bahkan hingga jatuh miskin." Gelak tawa begitu nyaring di telinga Grace seakan ucapannya lucu menurut Liam. "Kau ini, ada ada saja Grace. Perutku sampai sakit mendengarnya." Satu tangan Liam memegangi perutnya sambil menyetir.


"Aku serius Liam. Saat kau terbiasa hidup mewah belum tentu kau mampu bertahan saat jatuh miskin. Tapi ketika kita selalu hidup sederhana, dalam situasi apapun kita akan mudah melaluinya." Grace mengingat cerita Alice kalau orang tuanya pernah bangkrut. Maka dari itu sang ibu selalu mengajarkan hidup sederhana walau bergelimang harta. Dan terus bermimpi di atas kakimu sendiri.


Apa yang di katakan Grace memang benar. Liam bahkan tidak sanggup membayangkan keluarganya jatuh miskin. Apa lagi banyak pihak yang mengincar posisinya di perusahaan. salah satu alasan terbesar Liam menjadi seorang pimpinan berhati dingin. Ia tidak boleh lemah maupun lengah. Tangan Liam bergerak mengelus kepala Grace bangga terhadap pemikirannya.


Di restoran sir Arthur sudah menunggu beberapa menit dengan makanan yang datang bersamaan dengan duduknya Liam dan Grace. "Kau ini, membiarkan Grace kelaparan." Sir Arthur berdecak kesal karena Liam begitu telat.


"Kami banyak pekerjaan uncle." Jawab Grace membela Liam di hadapan ayahnya. "Jangan mau di kekang oleh pria dingin di sampingmu Grace. Aku bahkan lelah menghadapi nya." Tambah sir Arthur menjelekkan puteranya sendiri.


"Lebih baik kita makan dadd, bukankah kau sudah lapar." Liam menyudahi perdebatan kecil tak berujung diantara mereka.


"Jadi kau kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan? " Tanya Sir Arthur memastikan. Sepertinya Grace belum mengetahui bahwa laki laki yang akan di jodohkan dengannya adalah Liam.


"Sepuluh persen ya, selebihnya aku hanya ingin mencari jati diriku. Menemukan apa yang ingin aku lakukan, juga mencari seseorang yang akan mencintai ku tanpa sebuah paksaan." Ada yang berdesir dalam tubuh Liam mendengar penuturan seorang Gracia.


Memang Gracia tidak sepenuhnya salah, saat itu Grace masih sangat muda untuk menerima perjodohan mereka. Tapi Liam masih ingat betapa malunya mendapat sebuah penolakan dari perempuan. Bahkan di luaran sana banyak wanita mengantri ingin menjadi pasangannya.


"Ah kau benar Grace, kalau memang jodoh kalian pasti akan bersatu kembali." Sir Arthur tidak pernah salah dalam memilih calon untuk anaknya. Terbukti, mereka bertemu kembali setelah empat tahun lamanya.


"Dad kami harus kembali ke kantor." Liam mengajak Grace menyudahi obrolan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih uncle, makanan pilihanmu sangat enak." Grace mengacungkan kedua ibu jarinya sebelum pamit.


Kantor begitu sibuk di jam setelah istirahat. Liam menghilang entah kemana tanpa memberitahu Grace ataupun Andy. Tiba-tiba saja beberapa pria paruh baya berdatangan mencari keberadaannya. "Dimana Arthur Junior? Aku perlu bicara dengannya. " Pria berbadan gembul berkacak pinggang tak sabaran.


"Maaf tuan, bos sedang menyelesaikan beberapa urusan penting." Andy berkelit karena sejujurnya mereka tidak tahu Liam ada di mana.


"Hubungi dia sekarang juga. Kami ingin menuntut penjelasan kenapa bisa model peragaan minggu depan tidak sesuai dengan keinginan kami." Ternyata keempat orang itu merupakan pemegang saham lain. Kekacauan baru saja tercipta karena keputusan Liam yang menyulitkan posisinya.


Grace merasa bersalah karena memaksa Liam memberinya kesempatan untuk tampil. "Aku akan mencarinya." Grace berlari menuju tangga darurat. Ia berniat mengecek rooftop tempat Liam merokok saat sedang bosan.


Pintu sedikit terbuka menampilkan sosok Liam yang tengah bersandar di pagar pembatas. Baru kali ini Grace melihat wajah semrawut pria itu. Apa yang Grace inginkan ternyata malah membuat Liam dalam masalah. Perlahan Grace berjalan mendekati Liam yang menatapnya datar.


"Apa mereka sudah tiba? " Seakan tahu kedatangan para pemegang saham Liam sengaja membuat mereka menunggunya. "Maaf,,, " Lirih Grace menunduk.


"Tegakkan kepalamu Grace, buktikan pada mereka kalau kau mampu! " Meski ragu tapi Liam percaya Grace bisa menaklukan apapun rintangan yang ia hadapi. Perempuan itu begitu tangguh menurut Liam. Mendapat dukungan dari bosnya, Grace kembali percaya diri.


"Mereka menunggumu." Kata Grace. Sebelum pergi Liam mematikan rokoknya yang baru setengah ia hisap.


di ruang meeting berubah menjadi ketegangan kedua kubu. Liam sengaja tidak meminta persetujuan mereka soal model pilihan. dia ingin tahu siapa saja yang berdiri menjadi lawannya. sisanya mereka memang sangat setia dan loyal pada keluarga Arthur Louis.


"kalau acara hancur karena model amatir kau harus turun dari jabatanmu Liam." ancam pria kurus berkumis tebal di samping Liam. "bukan cuma itu, dia juga harus membayar ganti rugi bila mana acara berakhir memalukan." timpal pria berbadan gembul yang memang jelas membenci kepemimpinan Liam.


"aku setuju." jawab Liam mematahkan semangat mereka dalam menjatuhkan dirinya. "kalian lihat saja nanti." tambahnya dengan seringai mematikan.


untung mereka tidak tahu kalau model peraga itu adalah Grace, asisten pribadinya. kalau sampai terendus bisa bisa Grace dalam bahaya. Liam sudah sering menerima perlakuan licik dari mereka. salah satunya menyabotase model hingga sakit, dan saat itu Ethan dan Grace yang memotret. jadilah peluncuran menjadi terlambat akibat ulah pembencinya.


"Andy aku takut mengecewakan Liam." Grace menautkan kedua tangannya seraya berdoa dalam hati agar bapak bapak itu tidak menyalahkan Liam.

__ADS_1


"tenanglah Grace, ini hal biasa bagi sir Arthur Junior. kau harus bisa membuktikan pada mereka kalau kau mampu menjadi bintanh." Andy menepuk pundak Grace memberi semangat. Grace perempuan baik dan energik, kecerdasannya dalam menguasai pekerjaan sangat memuaskan baginya. pekerjaan jadi cepat selesai apa lagi Liam jadi lebih tenang sejak Grace hadir.


"aku akan berlatih di rumah supaya bisa menolong Liam. " batin Grace menguatkan rasa percaya dirinya. Grace meminta pulang sendiri tanpa diantar Liam. ia merasa malu berhadapan dengannya. ternyata perkara pemilihan model saja berakibat fatal. "jangan terlalu di pikirkan Grace." pesan Liam sebelum mereka berpisah di lobby.


__ADS_2