
Alya kembali ke flat milik Christian setelah menyempatkan mampir di panti jompo. Ia hanya membantu beberapa pasien minum obat dan menyiapkan makan malam. Betapa terkejutnya Alya melihat penampakan sosok pria yang keluar kamar dengan hanya mengenakan handuk saja. Tubuh kekarnya menampilkan bagian perut kotak-kotak nya.
"Dari mana kau? " Christian berjalan menghampiri Alya yang masih berdiri di depan pintu.
"Volunteer, kenapa pulang kemari? " Tanya Alya blak-blakan.
"Ini rumahku, aku bebas datang dan pergi kapanpun. " Christian tak mau kalah meladeni Alya.
"Maaf aku lupa. " Tak ada lagi perdebatan, Alya memilih membuka isi lemari pendingin untuk membuat menu makan malam.
Sementara Christian memakai pakaiannya di kamar dengan pintu terbuka. Ia jadi bingung kenapa suasana malah canggung diantara mereka. Padahal apa yang Christian katakan sepenuhnya tidak salah.
"Arghh,,, "
Ketika Alya mengiris beberapa jenis sayur, tanpa sengaja jarinya teriris pisau yang tajam karenakarena baru ia asah .
Christian mendengar pekikan suara Alya bergegas keluar, ia meraih jari telunjuk gadis di hadapannya. Menghisap darah yang mengalir cukup banyak.
Alya terkesima, kenapa ada pria sebaik dan menyebalkan secara bersamaan seperti Christian.
"Sudah." Kata Christian menyadarkan lamunan Alya.
"Thanks." Lirih Alya pelan dengan tatapan tertunduk.
"Kau mau buat apa? Biar aku yang melanjutkan. " Christian menawarkan diri menggantikan tugas Alya membuat makan malam.
"Hanya rebusan sayur, mashed potato dan grilled salmon. " Mendengar tiga menu itu Christian hanya bisa menganga, Alya menyadari hal itu.
"Kau seperti cenayang Al, aku sedang ingin makan semua itu. " Bibir Christian tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Kau sedang tidak berbohong kan? Aku pikir kau keberatan membuatnya. " Alya membantu menumbuk kentang yang sudah di rebus tadi. Mencampurkan dengan butter, full cream dan keju pharmesan.
Tangan Christian begitu cekatan memanggang ikan salmon diatas pan. Alya tersenyum simpul menikmati acara masak mereka.
"Done." Ucap Christian penuh rasa bangga. Keduanya duduk berhadapan di meja makan, Alya menuangkan anggur merah ke gelas milik Christian. Sementara ia memilih minuman bersoda.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu? " Di sela makan Christian membuka suara memecah keheningan.
"Asal jangan yang aneh-aneh! " Pinta Alya.
"Kau dan Theo pernah berhubungan ? " Maksud dari kata berhubungan menurut Christian semacam menjadi sepasang kekasih. sayang Alya menyalah artikan dengan berhubungan badan.
"Tidak, aku belum pernah melakukannya dengan siapapun. " Jawaban Alya membuat Christian menahan tawa dalam hatinya. Jelas gadis di hadapannya masih polos.
__ADS_1
"Kau berbeda Al,,, " Batin Christian.
Dan pembahasan itu menggantung seperti tak akan di lanjutkan lagi oleh keduanya. Alya maupun sibuk menikmati makan malam ya bisa di bilang romantis.
Alya pov
Seseorang pernah menanyakan kepribadian ku yang terlalu membentengi diri, aku pikir akan acuh terhadap hal tersebut. Sial sekali, kini aku mulai memikirkan hal-hal tidak bermanfaat. Christian berhasil menguasai isi kepalaku akhir-akhir ini. Jangan sampai aku kalah dalam pertarungan. Aku harus menjauhi Christian atau semua akan terlambat dan sia-sia.
Sesuai janjiku, setelah semua mata kuliahku berakhir aku dan Luke berencana pergi ke toko buku terbesar di kota. Dia mengajakku menaiki mobil Rubicon berwarna putih suusuu. Jelas semua orang berdecak kesal melihatku bisa dekat dengan Luke. Seolah mereka tidak Terima gadis seperti ku naik ke mobil mewah milik Casanova kampus.
"Jangan hiraukan mereka Al. " Sudah membelah jalanan, Luke memintaku agar acuh terhadap ejekan para fans tim basket.
"Tentu. Lagi pula aku melakukan ini demi tugas kuliahku. " Jawabku apa adanya, sepintas aku melihat Luke menatapku penuh arti.
"Benarkah, jadi kau tidak mau berteman denganku Al? aku pikir kita bisa jadi teman." Aku meringis dalam hati, bahkan Theo awalnya teguh pendirian dan meyakinkanku bahwa kami akan selalu menjadi teman nyatanya dia malah menaruh hati padaku.
"Tidak ada pertemanan sukses antara pria dan wanita Luke. " Ucapku memberi penilaian, Luke terdengar terkekeh entah apa maksudnya.
"Kau benar Al, aku suka kau berterus terang. Baik, kita tidak akan berteman. Aku memberi peringatan untuk bisa mendekatimu Al. " Eh Luke kenapa malah semakin melenceng, aku pikir dia laki-laki yang cerdas bisa menangkap perkataanku.
"Terserah kau saja Luke. " Demi menghentikan omong kosongnya aku memilih diam tak lagi memperpanjang topik. Hingga mobil berhenti di tepi jalan, kami berdua turun dan masuk ke dalam toko perlengkapan.
"Wah, ini lengkap sekali. " Aku menatap toko buku dengan takjub. Bukan hanya menjual buku saja, di sana ada banyak jenis perlengkapan.
Pov end
Sepertinya Luke sudah terhipnotis oleh pesona Alya yang tersembunyi. Dengan penuh keberanian dia mendatangi Luke di lapang basket. Padahal sebelumnya tidak ada perempuan yang berani mendekatinya secara terang-terangan. Mereka hanya akan puas memandang Luke dari jauh.
"Kau suka tempat ini Al? " Luke menemani Alya melihat-lihat seluruh penjuru toko. Keduanya memiliki kesamaan yaitu pelukis amatir.
"Tentu, Terima kasih sudah mengajak ku kesini. " Alya melayangkan senyum manisnya dibalik kacamata. Kali ini rambut Alya dibiarkan lurus sebagai mana mestinya.
"Aku sudah mengambil keperluan ku, setelah ini aku ingin mentraktir mu jajan ice cream. " Alya mengambil buku mewarnai untuk ia kerjakan jika sedang suntuk.
"No, aku bukan anak kecil Luke. Belikan aku kopi saja. " Keduanya tertawa lepas mendengar rengekan Alya, dia menolak sesuatu berbau anak-anak.
"Ok, let's Go. " Ajak Luke, Alya kemudian membayar belanjaannya di kasir.
Mereka berjalan menuju taman yang tak jauh dari toko buku dengan menenteng kopi masing-masing. Luke juga membawakan barang milik Alya dan punyanya di satu tangan. Sudah seperti sepasang kekasih tengah berkencan.
"Kau seperti orang yang berbeda Al,,, " Luke membuka percakapan setelah sibuk menikmati aiced americano nya. Kening Alya mengkerut mendengar penilaian Luke.
"Maksudku, di kampus kau sangat pendiam dan jarang tersenyum seperti tadi. Tapi Terima kasih, kau sudah menunjukkan nya padaku. " Mereka duduk di bangku kayu sebelah pohon rindang, memandangi keramaian pengunjung taman.
__ADS_1
"Karena kau sudah berbaik hati mengajak ku berjalan-jalan Luke. Seharusnya aku yang berterima kasih. " Alya memangku totebag dan kopinya, menikmati semilir angin menjelang sore.
"Luangkan waktumu, aku butuh pendapat mu soal tema lukisan ku Al. " Luke menatap Alya cukup lama, melihat kecantikannya dari dekat.
"Baiklah." Jawab Alya, karena itu memang sudah menjadi tugasnya.
Menjelang matahari terbenam, Luke baru tiba di depan halaman flat milik Christian. Alya turun sesudah mengucapkan terimakasih pada Luke. Sejujurnya Luke sangat ingin bertamu namun Alya beralasan dia tinggal dengan saudara. Merasa tidak enak jika mengajak teman saat ada tuan rumah.
"See you tomorrow at college Al. " Kaca mobil di buka, Luke mengucapkan salam perpisahan pada Alya yang hanya membalas dengan anggukan.
Setelah mobil Luke pergi Alya naik ke lantai atas dimana Christian sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya lewat jendela.
Pria itu sendiri tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini ia malah semangat pulang ke flat di banding menetap di kamar hotel.
"Kau menjalin hubungan dengannya? " Baru saja Alya masuk ke dalam Christian menyambutnya dengan pertanyaan konyol.
"Not your business sir. " Tatapan Alya terasa berbeda menurut Christian, tadi dia melihat Alya tersenyum ramah pada Luke.
"Bersiap lah, aku mengajakmu mengunjungi suatu tempat. " Christian bukan meminta persetujuan Alya, melainkan menyampaikan sebuah perintah. Helaan nafas Alya terdengar pelan dan menusuk hati Christian.
"Kenapa ? kau bahkan pergi dengannya sampai sore, jadi mulai detik ini waktumu giliran untuk ku. " Seringai Christian berhasil membuat nyali Alya menciut.
"Baiklah tuan, seperti yang kau inginkan." Rasanya Alya tidak bertenaga untuk berdebat dengan Christian. Ia pun bergegas ke kamar untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
"Sial, kenapa aku selalu menginginkan Alya?" Gerutu Christian mengusap wajahnya kasar.
Christian duduk di sofa, tangannya mulai mengusap benda pipih berlogo apel satu gigitan.
"ada apa Chris? " terdengar suara Daniel menyapa di sebrang sana.
"Niel apa yang harus aku lakukan sekarang?" Christian menahan gejolak nya, ia mulai merasa tidak bisa mengontrol diri. berdekatan dengan Alya sama saja menyiksa hasrat, mengajaknya menikah pun begitu mustahil. akan ada penolakan besar dari gadis itu.
"kau cobalah mengutarakan perasaanmu dulu Chris, siapa tahu Alya gadis berpendirian. atau apa perlu aku melamarnya untukmu pada tuan Rodrigo? "
"itu gila Niel, aku bisa-bisa di bunuh oleh nya dan juga Theo. " saran Daniel jelas sangat di hindari oleh Christian.
"tidak ada cara lain lagi Chris, buatlah dia terikat olehmu apapun caranya."
Di dalam mobil, Christian memberi Alya sebuah amplop berisi undangan. ternyata Christian mengajak Alya menghadiri pameran lukisan sekaligus acara pelelangan untuk amal.
"bagaimana bisa kau tahu,,, " ucapan Alya menggantung seraya menatap tulisan yang berada di atas kertas tebal itu.
"aku tahu Al, acara seperti ini bisa membantu menambah wawasan mu. " Christian menengok ke sebelah kanan guna melihat ekspresi Alya.
__ADS_1
Alya memalingkan wajahnya agar Christian tidak menyaksikan betapa senangnya Alya saat ini. sayangnya Christian masih bisa melihatnya melalui pantulan kaca mobil. ternyata usahanya berhasil. mungkin benar, menghadapi Alya harus penuh rasa sabar.