
Lagi-lagi niat Liam mendatangi Grace terhenti ketika seseorang menelponnya. Liam berdecak kesal membaca nama kontak yang tertera di layar ponsel miliknya. "Ada apa dad? Aku sibuk saat ini? " Tanya Liam tak sabar ingin segera mengakhiri percakapan yang baru saja di mulai.
"You son of bitchh Liam, kenapa kau malah mengekspos Grace? Apa kau tidak tahu Rodrigo memarahiku tidak Terima karena Grace tampil di depan umum." Kata kata ayahnya berhasil membuat Liam tersadar. Jika mereka sampai tahu identitas Grace maka hidup perempuan itu tidak akan tenang ke depannya.
"Dad dengarlah, Grace sendiri yang menginginkan nya. Aku tidak memaksa bahkan berusaha mencegahnya. Nanti aku dan Grace akan bicara pada tuan Rodrigo." Liam memutus sambungan secara sepihak. Selesai masalah satu tumbuh masalah lainnya, Liam mengusap wajahnya kasar.
Harusnya ia memikirkan konsekuensi keputusan yang Liam ambil. Apa lagi kalau ayahnya sampai tahu Grace pernah di culik oleh Peter, anak pemegang saham berbadan gembul musuh bebuyutan nya. "Ada apa Liam? " Grace yang berniat pulang melihat kegelisahan Liam. "Sebaiknya kau bicara pada tuan Rodrigo, dia terkejut karena kau menjadi model perusahaan ku." Titah Liam.
"Tapi aku ingin ikut kalian berpesta,,, " Sungguh Liam tidak tahan dengan ekspresi murung Grace. Hatinya seolah selalu luluh dengan mudahnya.
"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi besok kita harus menemui ayahmu." Mendengar jawaban Liam seketika merubah raut wajah Grace. Saking gembiranya Grace memeluk Liam yang terkejut mendapat serangan mendadak.
"Maaf, aku terlalu bahagia." Grace mundur selangkah menyadari dirinya telah lancang. "Baiklah kita pergi sekarang atau mereka akan menunggu dengan bosan." Liam mengajak Grace pergi ke klub malam di sekitar kasino.
Kedatangan Liam dana Grace di sambut meriah oleh karyawan La collection. Mereka bergembira bisa mendapat jamuan untuk pertama kalinya selama bekerja dengan Liam Arthur Junior.
"Selamat sir, penjualan musim panas tahun ini kembali mencetak rekor tertinggi." Cathy mengacungkan gelas berisi minuman memabukkan mengajak bersulang. "Gracia, untuk calon model papan atas." Bianca menambahkan alasan mereka berpesta.
"Cheers,,, " Semua kompak berteriak kemudian mulai meneguk Champagne yang sengaja di pesan Liam.
"Aku ingin kesana. " Teriak Grace entah pamit pada siapa, tapi langkah kakinya cepat menuju lantai tempat menari. Berjingkrak, meliuk-liuk hingga merasakan kebebasan Grace menikmati alunan musik. Seumur hidupnya baru kali ini Grace masuk ke klub malam.
Liam terkekeh gemas memperhatikan tingkah Gracia tak jauh dari tempatnya berdiri. Grace tidaklah sendiri, Bianca, Cathy dan Andy menyusulnya untuk bergabung. Ketiga perempuan seumuran mudah bergaul dengan Grace yang notabene gadis muda dan energik.
Seseorang sejak tadi mengawasi pergerakan Grace yang asik menari tanpa peduli sudah berapa banyak pria mencoba mendekatinya namun gagal. Karena tak tahan akhirnya dia berjalan mendekati Grace. Tarian Grace terhenti seketika mendapati pria di hadapannya.
"Kau,,, "
"Hai Grace, kita bertemu lagi." Ucapnya tersenyum semenarik mungkin agar mangsanya terpesona. Tapi dirinya malah mendapat hadiah tak terduga dari Grace. Sebuah dorongan cukup kuat dari perempuan tangguh seperti Grace, mengingat dirinya terluka gara-gara kabur darinya. Grace membalas Peter dengan hanya mendorong tubuh kekar itu menjauhinya.
"Shitt,,, " Umpat Peter bergegas mendekat kembali, tangannya melayang berniat menampar Grace. Liam cekatan menahan tangan kasar pria itu.
__ADS_1
Dan perkelahian sesama pria tak bisa di hindari lagi. Liam begitu gagah memukuli wajah Peter yang tak berdaya di lantai. "Berhenti Liam ! " Teriak Grace melihat wajah Peter sudah di penuhi darah segar. Liam dejavu, dia tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dia langsung berhenti sesuai perintah Grace. Lantas menarik tangan Grace meninggalkan klub malam yang ternyata milik ayahnya Peter.
"Kalian lanjutkan saja pestanya, semua tagihan aku yang bayar." Kata Liam pada semua karyawannya sebelum membawa Grace pergi. Mereka hanya bisa terperangah melihat sisi lain seorang Liam. Dia habis-habisan membela perempuan bernama Grace. Alasannya tentu hanya satu, Liam menyukai Grace. Dia tidak rela miliknya di sentuh pria lain apa lagi Peter seorang brengsek.
"Kita mau kemana? " Tanya Grace karena Liam melajukan mobilnya ke arah berlawanan dari arah rumahnya. Liam diam, dia tak ingin berdebat dengan Grace. Amarahnya tengah berada di puncak ubun-ubun.
Saat turun di basement bahkan Liam meninggalkan Grace begitu saja. Susah payah Grace mengejar langkah cepat Liam. Ternyata Liam membawa Grace pulang ke apartemennya.
Pintu terbuka setelah Liam menekan enam digit kata sandi rumahnya. Grace terengah-engah berada di belakang Liam. Kali ini Grace menahan laju Liam yang hendak mengambil air.
"Kau ini kenapa, jangan mendiamkan aku Liam ! Memang apa kesalahanku? " Grace sudah bisa menebak kalau Liam sedang marah karena dirinya. Tapi ia tidak tahu apa alasannya.
"Aku yang salah Grace, seharusnya aku tidak membawamu kedalam hidupku." Bentak Liam tidak bisa mengontrol emosinya membuat Grace terperanjat kaget.
"Kau menyesal bertemu denganku? " Tanya Grace memastikan maksud ucapan Liam. "Apa aku membebani hidupmu Liam? " Lagi Grace bertanya seakan Liam membenci kehadirannya. Liam tetap saja membisu, Grace akhirnya mengambil kesimpulan dari apa yang ia pikirkan.
Sejurus kemudian Grace membalikan badannya menyembunyikan setetes air mata yang sudah sejak tadi ia tahan. Ternyata sakit bagi Grace ketika Liam membentak bahkan membenci kehadirannya.
"Peter mengganggumu karena diriku. Aku juga menempatkanmu dalam bahaya Grace." Lirih Liam menyampaikan maksud hatinya.
"Itu konsekuensi dari keputusan yang ku ambil Liam. Aku ingin menemukan jalan hidupku sendiri. Aku berterima kasih karena kau sudah membantuku." Grace menjawab tanpa berbalik, ia masih membelakangi Liam. Karena ingin melihat wajah Grace lantas Liam menarik kedua pundak Grace untuk menatap dirinya.
"Grace aku minta maaf, aku tidak bermaksud mematahkan semangatmu. Aku hanya khawatir akan keselamatan mu itu saja." Dengan lembut Liam menarik Grace masuk kedalam pelukannya.
"Kenapa kau sangat memperdulikan aku Liam? Aku hanya seorang asisten." Lirih Grace merasakan kenyamanan saat mereka saling memeluk.
"Karena kau penting bagiku, Grace apa kau sudah menyukaiku? " Tiba-tiba Liam teringat hal itu lagi, tujuan utama nya membuat Grace mencintai dirinya lalu Liam akan meninggalkan Grace.
"Mungkin ya, mungkin juga belum. Aku takut dan tidak ingin berharap apapun. Aku suka kita seperti ini." Jawab Grace apa adanya, ia mengungkapkan apa yang sedang di rasakannya saat ini.
"Baik lah kalau begitu, karena kau yang pertama dekat denganku Grace." Kata Liam berbohong, padahal dia terluka dan membenci perempuan karena mantan kekasihnya dulu.
__ADS_1
"Benarkah, maka aku merasa tersanjung." Aku Grace, baru pertama kali dirinya dekat dengan seorang pria. Pengalaman pertamanya hanya sebatas di jodohkan dengan laki laki di masa lalu.
Ketika hening menyapa, perut Grace berseru meminta asupan. Rasanya ia ingin bersembunyi di lubang terdalam, demi apa pun Grace sangat malu.
"Kau pasti lapar, aku akan buatkan makanan." Liam merapatkan bibirnya agar tidak tertawa lepas atau Grace akan merajuk.
"Kau bisa masak? " Tanya Grace mengikuti langkah kaki Liam yang lebar menuju dapur. "Terbiasa hidup sendiri aku harus bisa memasak." Tangannya sibuk mengeluarkan bahan mentah dari freezer ke dekat kompor listrik. Sementara Grace duduk manis di sebrang island.
"Berapa umurmu sekarang? " Grace penasaran karena sejujurnya dia tidak tahu tentang Liam sedikitpun.
"Saat kau berusia delapan belas, saat itu aku menginjak dua puluh empat. Tahun pertamaku menjabat sebagai CEO La Collection." Tanpa hilang fokus, Liam mulai memanggang dua potong daging dengan Marbling sempurna.
"Medium well please,,, " Grace meneriakan tingkat kematangan yang ia inginkan. Selain memanggang Liam juga menghangatkan sayuran campuran yang beku di microwave. "Apa dari sekian banyak daftar teman kencan butamu tidak ada yang menarik perhatianmu Liam? " Kini Grace berpindah kesamping Liam mulai membantunya.
Liam nampak berpikir sebentar lalu,,,
"Aaa,,,, " Grace berteriak kaget melihat kobaran api menghiasi saucepan.
"Tentu ada Grace, tapi dia malah menolak ku mentah-mentah. Aku merasa tersinggung." Liam menengok menampilkan seringai yang Grace tidak mampu artikan. "Dia perempuan bodoh, kenapa malah menolak pria seperti mu."
"Seperti apa Grace? " Grace tercekat mendapat pertanyaan menohok dari Liam. "Ehem,,, " Grace menerima piring berisi steak untuk ia isi dengan sayuran.
"Kau pengusaha kaya, cerdas, dan,,, " Penilaian Grace terhenti ketika Liam melingkarkan kedua tangannya di pinggang Grace.
"Dan aku dingin terhadap perempuan. Seharusnya dia merasa beruntung mendapatkanku." Liam menambahkan poin plus dirinya.
"Jadi, apa kau menyukai perempuan itu?" Grace terus dihantui rasa penasaran, siapa gadis yang sudah berhasil memikat hati seorang Liam Arthur Junior.
"Entahlah, karena dia tergantikan oleh dirimu." Liam mulai berani menggoda Grace, sengaja ia membelai leher jenjang perempuan yang sejak tadi mereka bahas. "Liam,,, " Lirih Grace merasakan sensasi merinding sekaligus tertarik seakan meminta lebih.
"Ayo Grace! " Perintah Liam ambigu. "Maksudmu apa? " Tanya Grace polos. Dalam hati Liam tertawa melihat kepolosan Gracia. "Ayo duduk, aku juga sangat lapar." Liam menuju kursi di depan island menyisakan Grace yang kikuk.
__ADS_1