
Pemotretan berjalan lancar berkat cara kerja Ethan dan Grace yang profesional. Ketika model lain menghabiskan waktu seharian untuk bergaya, Grace bisa menyelesaikan tugasnya dalam kurun setengah hari. Nyonya Coco melipat kedua tangannya di dada memperhatikan berlangsungnya kegiatan mereka. Grace memang lain dari pada yang lain, wanita itu memiliki aura tersendiri saat bergaya di depan kamera.
"Stylist, tolong beri tambahan lipstik di bibir model kita. Warnanya terlalu pucat." Ethan memerintahkan Sia memberi sentuhan pada make up Grace. Dengan langkah cepat Sia mendekat ke tempat Grace berdiri.
"Sepertinya kau sedang sakit Grace? Sejak tadi keringat dingin membasahi keningmu." Ucap Sia, tangannya fokus mengoleskan lipstik berwarna merah maroon di bibir Grace.
"Aku harus segera menyelesaikan ini, kepalaku pusing sekali." Ternyata benar dugaan Sia kalau Grace memang tengah merasakan sesuatu tak nyaman. Hecan yang sejak tadi setia menemani Sia juga ikut cemas.
"Baik, kita selesaikan sesi terakhir." Teriak Ethan memacu semangat modelnya. Ini merupakan pemotretan istimewa baginya karena Ethan bisa menyentuh Grace demi memperbaiki gerakan tubuhnya. Mulai dari mengarahkan dagu, pundak, lengan bahkan pinggangnya. Pantas saja Liam melarang keras Grace bekerja dengan fotografer pria dulu. Tapi sebisa mungkin Grace mencoba profesional.
"Ok good... It's a Wrap." Berakhir sudah kegiatan melelahkan itu, Grace berjalan cepat mencari letak toilet di gedung milik ibu sambung Ethan.
Di toilet Grace kembali memuntahkan sisa makanannya tadi siang. Sejak pagi ia memang sudah merasa kurang sehat. Namun pekerjaannya tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Grace apa kau di dalam? Apa perlu aku membuat reservasi ke dokter? " Sia menggedor pintu satu satunya yang tertutup. Grace menyalakan air untuk menyamarkan suara muntah nya agar Sia tidak khawatir.
Keluar dengan wajah pucat Grace masih berusaha tersenyum pada Sia.
"Aku sangat takut mengidap anorexia, beberapa hari ini setelah makan aku selalu memuntahkannya." Mendengar keluhan Grace Sia lantas mengambil sapu tangan dari saku celananya, mengelap kening Grace penuh kelembutan.
"Kau sebaiknya periksa ke dokter, tidak baik menyepelekan masalah kesehatan." Grace mengangguk menerima saran dari rekan kerja sekaligus sahabatnya.
Grace sudah berganti pakaian mengenakan dress selutut berwarna lilac berlengan ukuran tiga perempat. Ia hendak pamit pada nyonya Coco namun pemilik tas branded itu sudah pulang sejak tadi. Tinggallah Ethan di ruang kerjanya masih memeriksa beberapa hasil jepretan nya. "Ethan aku akan pulang sekarang." Grace pamit tanpa masuk ke dalam, ia berdiri di ambang pintu.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mentraktir mu makan siang Grace." Tersenyum manis Ethan kecewa karena Wanita itu memilih pulang cepat.
"Mungkin lain kesempatan, aku ada pekerjaan lain. Sampai jumpa Ethan." Sejak dulu Ethan memang sudah menyukai Grace namun tidak ada keberanian mengungkapkan nya, Ethan takut malah membuat Grace menjauh darinya. Sekarang setelah memiliki rasa berani, Ethan seolah selangkah lebih dekat meraih tangan Grace. Dia tidak menolak walaupun belum tentu menerima perjodohan mereka.
Grace meminta Hecan dan Sia langsung pulang, ia ingin ke klinik sendiri naik taksi. Klinik itu berada di sekitar The Marais, kawasan ramai dimana toko berjejer menjual berbagai macam kebutuhan. Ada juga cafe terkenal di sana. Sekalian Grace ingin santai sore setelah memeriksa kesehatannya.
Dahinya mengkerut setelah Grace tiba di depan klinik praktek dokter spesialis organ dalam. Grace sebelumnya menelpon membuat janji di klinik baru itu, ia menyampaikan keluhan sehingga petugas penerima telpon menyarankan untuk datang ke klinik mereka.
__ADS_1
"Selamat sore nona, apa sudah membuat janji? " Dari suara nya Grace menebak dialah petugas penerima telpon.
"Ya, atas nama Gracia." Sedikit terkejut perawat itu mendapati seorang model mendatangi klinik mereka. Karena sudah di sumpah maka perempuan sebaya dengan Grace itu bungkam menjaga privasi pasien. "Silakan, dokter Veronica sudah menunggu di dalam." Grace mengikuti langkah kaki perawat, dia gamang masih belum bisa menerka bagaimana kondisi tubuhnya.
Kedua wanita itu terkejut menatap satu sama lain. Yang Grace tahu dokter spesialis di hadapannya merupakan teman kencan Liam. Sementara Veronica tahu kalau Grace adalah seseorang spesial di hidup Liam mantan kekasihnya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sampai perawat menyadarkan.
"Silakan nona, dokter Veronica akan memeriksa anda." Ekspresi Grace masih datar namun tubuhnya tetap mengikuti arahan sang perawat.
"Jadi apa keluhanmu nona Gracia Rodrigo." Dokter Ve tentu di tuntut profesional menghadapi pasien VIP nya. Grace menjadi takut melihat papan nama Veronica dengan title dokter spesialis organ dalam. Biasanya merujuk pada masalah rahim perempuan bukan?
"Aku sering mual dan muntah setelah makan, biasanya terjadi di pagi hari." Menjawab dengan pandangan ke arah lain Grace merasa malu mengatakannya. Mengingat Veronica dan Liam nampak akrab, tapi ia mencoba menepis pertanyaan di benaknya.
"Boleh aku tahu kapan periode terakhir nona? " Tanya Veronica hati hati.
"Tidak mungkin, aku hanya melakukannya dua kali." Grace mulai mengerti arah percakapan mereka menuju kemana. Veronica tersenyum simpul mendengar kejujuran dari Grace.
"Kita perlu memeriksanya kalau begitu." Ve bangkit dari kursi goyangnya lalu mempersilahkan Grace berbaring di atas ranjang pasien.
Veronica menyelimuti Grace sebatas perut, ia membuka dress secara sopan lalu mulai memberikan gel ke atas permukaan perut pasiennya.
"Look at that, ukurannya sebesar buah aratiles." Veronica menunjuk gambar di layar komputer, Grace memandangi sebuah titik yang di tunjuk Veronica di sebelah kanannya.
"Oh my god,,, " Gumam Grace tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"usianya tujuh minggu Grace, kau harus menjaga kandungan mu dengan baik. Tri semester awal masih rawan bagi ibu hamil muda." Selesai memeriksa isi rahim Grace Dokter Ve membersihkan perut Grace menggunakan tisu.
"Aku sudah mengantongi lisensi aborsi, bukan maksud menghina. Aku tahu kau seorang model, jika kamu,,, "
"Tidak dok, aku sangat menginginkannya." Segera Grace memotong asumsi dari dokter wanita di hadapannya. Mereka duduk saling menatap intens. Grace emosi mendengar ucapan Veronica seolah dirinya tidak menginginkan makhluk kecil di dalam perutnya.
"Aku salut, tapi bukankah ayah dari janin di perutmu juga berhak tahu? " Veronica sengaja memancing Grace membahas lebih jauh hubungannya dengan Liam.
__ADS_1
"Dia anakku, selebihnya aku tidak peduli." Jawab Grace tegas menolak memberi tahu Liam perihal kehamilannya.
"Kalau begitu aku akan bicara bukan sebagai dokter. " Kata Veronica berhasil membuat Grace bingung.
"Aku dan Liam memang masih berteman baik, dia mantan kekasihku sebelum kalian di jodohkan. Jadi jangan berpikir Liam tidak berhak atas bayi kalian." Lanjutnya menjelaskan posisi mereka.
"Aku menuntut sumpah profesimu dokter Veronica, rahasia pasien tidak bisa di bicarakan pada orang lain." Grace beranjak dari kursinya kemudian keluar dari ruang praktek Veronica.
Saat hendak ingin pergi Grace menangkap sosok pria yang sangat ingin ia hindari, berjalan ke arah klinik. Grace kelabakan harus bersembunyi dimana hingga akhirnya ia memutuskan kembali ke dalam ruang kerja Veronica.
"Ada apa? " Veronica bingung melihat sikap aneh Grace dengan raut wajah ketakutan. "Bantu aku bersembunyi." Sayup-sayup semakin jelas terdengar Liam menanyakan keberadaan Veronica. Perawat yang mengira Grace sudah keluar membiarkan Liam masuk begitu saja.
"Kemarilah! " Perintah Veronica menyuruh Grace kembali berbaring di ranjang, lalu ia menutup tirai agar bisa melindungi Grace.
"Apa aku mengganggu? " Liam masuk tanpa mengetuk karena pintu memang sudah terbuka.
"Ah tidak, pasien ku baru saja pergi tadi." Veronica mampu menguasai kegugupan dirinya di hadapan Liam.
"Duduklah, aku sebentar lagi selesai. Kita bisa makan siang setelah ini." Liam duduk sambil mengamati ruangan itu. Matanya fokus melihat layar komputer dimana biasanya menampilkan isi rahim seorang perempuan.
"Apa kau tertarik memiliki anak Liam? " Entah dorongan dari mana tiba-tiba Veronica melayangkan pertanyaan itu.
Liam terkekeh pelan menanggapinya lalu berkata " Aku bahkan tidak berniat menikah Ve, bagaimana mungkin aku siap menjadi seorang ayah." Pernyataan Liam sangat menyayat hati Grace, andai saja Liam tahu kalau dirinya tengah mengandung buah hati mereka apa Liam masih memiliki pemikiran seperti itu?
"Kenapa? " Ve penasaran alasan terkuat Liam membenci pernikahan.
"Ibuku meninggalkan aku dan daddy hanya karena dia tak tahan melihat daddy bekerja dengan beberapa desainer wanita. Aku terlantar Ve, dia memilih membangun karirnya demi membalas kelakuan daddy. Kegagalan pernikahan orang tuaku membuatku menjauhi ikatan bernama pernikahan. Kalaupun aku memiliki anak aku takut dia bernasib sama denganku, besar tanpa kehadiran seorang ibu. Dan aku juga tidak bisa menjanjikan kehidupan rumah tangga yang selalu mulus, apa salah aku berpikir realistis ?"
Akhirnya Grace tahu alasan sebenarnya seorang Liam tidak ingin berkomitmen. Ia menutup mulutnya takut menimbulkan suara tangis yang tertahan.
"Pikiranmu tidak salah, hanya saja kau perlu tahu Liam. Tidak semua nasib pernikahan berakhir menderita. Kalau kalian saling cinta pasti rumah tangga akan terus bertahan." Veronica menyesal membahas soal pernikahan dengan Liam, dia tahu Grace pasti sangat kecewa dan sakit hati mendengarnya.
__ADS_1
"Entahlah Ve, aku pusing saat membahas pernikahan." Liam menanggapi obrolan serius Veronica dengan malas.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, aku takut pasien ku akan datang lagi. Dia melupakan vitaminnya, biar aku titipkan di perawat depan." Veronica melepas jaket kebesarannya dan mengambil tas jinjing di gantungan. Liam mengikuti langkah Veronica yang tergesa-gesa.