My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
suka x duka


__ADS_3

Berkat kekuasaannya, Christian di izinkan masuk ke kamar Alya dengan alasan darurat. Ia merasa teriris ketika melihat Alya meringkuk, bibirnya bergetar menahan rasa dingin menjalar meski suhu tubuhnya tinggi.


"Alya, kau demam." Duduk di tepi ranjang, Christian memegang kening Alya untuk mengecek. Selain itu Christian juga meraba ceruk leher Alya yang masih memerah. Bisa di tebak itu akibat perbuatan Sera.


"Ayo Al, kau harus ikut denganku." Kemudian Christian berusaha menggendong Alya. Alya meracau menolak ajakan Christian.


"Bereskan perlengkapannya, bawa ke apartemen ku." Perintah Christian pada penjaga Alya, dia mengangguk patuh dan masuk ke dalam.


Tempat yang di maksud Christian adalah apartemen yang pernah Alya tinggali dulu. Tidak mungkin Christian membawa ke hotel, dia takut Sera akan mengejarnya. Christian merawat Alya sebelum dokter datang, mengompres keningnya menggunakan handuk basah.


"Jangan pergi, maafkan mommy." Terdengar lirih Alya mengigau dalam tidurnya. Hati Christian serasa direm as mendengar perkataan Alya.


"Permisi tuan, aku akan memeriksa nona." Minta izin lebih dulu, Christian bangun dari duduknya membiarkan Alya di periksa.


"Nona mengalami tekanan darah rendah, sepertinya penyakit sejak lama. Jangan biarkan nona stres tuan, aku akan memberi resep vitamin penambah darah. " Ya, sejak dulu Alya memiliki kelemahan dalam hal tekanan darah.


Christian baru tahu dari Liam Alya mengalami darah tinggi hingga kontraksi dan keguguran. Mungkin saat itu Alya sangat tertekan dengan semua masalahnya.


Selepas kepergian dokter, Christian ikut berbaring di sebelah Alya. Menariknya ke dalam pelukan dengan hati-hati. Tangan Alya terpasang jarum infus. Sejak lama, mereka tidak pernah sedekat ini. Namun perasaan Christian masih tetap sama. Memandangi wajah Damai Alya saat terlelap adalah kegemarannya.


"Maafkan aku Al, aku membuat posisimu sulit." Gumam Christian menempelkan tangannya di pipi Alya. Pergerakan itu berhasil membangunkannya. Alya membuka mata, ia terlalu lemah untuk memberontak.


"Christian, aku ingin hidup bersamamu. Memiliki anak darimu, tapi aku takut menyakiti Theo. " Jujur Alya, Christian tercengang bukan main mendengar ucapan Alya.


"Al, jangan berpikir yang tidak tidak! Sebaiknya kau kembali istirahat." Dan sekarang keadaan berbalik, Alya mengejar Christian yang menghindari nya.


"Bisakah kau membantuku? " Tanya Alya. Kerutan di dahi Christian pertanda ia penasaran apa yang Alya inginkan darinya.


"Aku sangat merindukan sentuhanmu, I want you so badly." Tak ada lagi rasa malu di diri Alya, Alya hanya ingin membuktikan apa yang di katakan Sera salah. Jika Christian memperlakukannya sama seperti Sera jelas Alya akan menjauh dari Christian.


Sialnya, Christian menjamah dan memberi kenikmatan pada Alya dengan penuh kelembutan. Alya sempat berhenti karena ragu, sayang Christian tidak bisa menundanya lagi.


Christian menumpahkan segala kerinduan yang ia pendam selama ini. Menuntaskan keinginan hanya bersama Alya. Alya pun sama, pikirannya tidak waras. Theo memberinya kepercayaan tapi Alya gagal menjaganya.


"Ah Al, kau masih tetap sempit." Ke sekian kalinya Christian meniduri Alya, sepertinya Alya tidak pernah melakukannya dengan siapapun selain dirinya.


"Christian, please please. " Cengkraman di bahu Christian semakin erat ketika Alya hampir menuju puncak. Dan di hentakan terakhir Christian menyemburkan bibit miliknya ke dalam Alya.


Keduanya terjaga hingga fajar hampir menyingsing. Alya bercerita tentang kebiasaan mimpi buruknya setelah mengalami keguguran.


"Aku minta maaf Al, aku pergi meninggalkan mu begitu saja. Tapa perduli bagaimana perasaanmu. " Satu kecupan mendarat di kening Alya, turun ke kedua matanya, hidung lalu bibirnya.


"Christian, semua salahku. Andai saja aku berpikir jernih, mungkin semua akan lebih baik. " Alya menyelusup mencari kehangatan saat tubuh mereka masih dalam keadaan sama-sama polos.


"Aku akan bicara pada Theo, kita pulang bersama ke Paris." Menaruh dagunya di atas kepala Alya, Christian bertekad ingin mengambil Alya dari adiknya sendiri.

__ADS_1


"Itu menjadi urusanku Christian, kau hanya perlu minta maaf pada Sera dan orang tuanya. Aku tidak rela kau menjadi pria jahat. " Jawab Alya protes.


" Hem, sebenarnya ada satu alasan aku melakukan hal itu Al. " Mencoba berbicara jujur, Christian menyiapkan kata-kata untuk menjelaskannya.


"Sera berkata padaku dia masih belum tersentuh, nyatanya aku bukan yang pertama. Dia juga terbukti sering tidur bersama pria lain setelah maupun sebelum menikah denganku." Christian menjeda ucapannya, membiarkan Alya memahami.


"Aku kesal, karena seumur hidupku tidak pernah merasa di bohongi. Ya meski aku juga melakukannya bersamamu, tapi Sera tahu dan menerimanya." Kali ini Alya setuju dengan pendapat Christian.


"Tapi kenapa Daniel membela Sera? Sepertinya dia berkhianat darimu." Alya mencebik meragukan pertemanan mereka.


"Itu merupakan bentuk peduli Daniel padaku. Dia ingin aku berhenti berbuat gila. Daniel siap membela Sera dengan syarat dia tidak akan memenjarakan ku." Alya bangun dari tidurnya, ia menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya.


"Aku sangat lapar Christian,,, " Keluh Alya, menghentikan obrolan mereka yang sudah cukup lama.


"Biar aku yang membuat makanan, kau tunggu saja di sini." Tanpa rasa malu, Christian berjalan menuju kamar mandi dengan telanjang bulat.


"Christian, kau menodai penglihatan ku." Alya menutup wajahnya malu, Christian hanya tertawa geli melihat tingkahnya.


"Haha kau ini Al, bukankah kau sudah melihat semuanya? " Setelah menggoda Alya Christian segera membersihkan diri.


Ia memasak sarapan di pagi buta sekali untuk Alya. Tidak banyak, hanya omelet paprika dan roti panggang selai stroberi. Alya mengenakan pakaiannya berupa dress warna hitam tanpa lengan.


"Bagaimana rasanya? " Jarang masak, Christian takut malah merusak masakannya.


"Duduklah, kita makan bersama. " Ajak Alya saat Christian masih sibuk mengaduk kopinya.


"Aku akan menyusulmu beberapa hari lagi, lalu kita bicara pada Theo." Di tengah suasana sarapan Christian menyampaikan rencananya. Alya akan terbang ke Paris siang ini.


"Just take your time Christian, biar aku mengurus masalah dengan Theo. Asal kau jangan lupa meminta maaf pada Sera." Kembali mengingatkan, Alya berharap Christian menyesali perbuatannya.


"Baiklah Al, jadi apa kita kembali bersama?" Sejak mereka melakukannya kembali Christian berharap Alya dan dirinya menjadi sepasang kekasih lagi.


"Aku takut menyakiti Theo, kita tunggu bagaimana reaksinya ok? " Sekali lagi, Christian merasa semua ini tidak akan mudah sama seperti lima tahun yang lalu. Tapi dia berharap semua akan berjalan sesuai harapan mereka.


"Ok baby, cup. " Christian mengecup bibir Alya secepat kilat.


Karena ada beberapa pekerjaan penting Christian tidak bisa menemani Alya pergi ke bandara. Padahal Christian sudah menawarkan untuk Alya menggunakan pesawat pribadi yang akan ia sewa. Alya menolak, dia lebih suka terbang dengan pesawat komersil.


Menyentuh dadanya, Alya merasa gugup dan cemas. Dia takut apa yang akan terjadi tidak sama seperti bayangan indah mereka. Sepanjang penerbangan Alya terus merapalkan do'a agar dirinya sedikit lebih rileks.


Kepulangan Alya sama sekali tidak di ketahui siapapun. Theo mengatakan pada keluarga Rodrigo Alya memilih menghabiskan sisa waktu liburannya di London. Jadi tidak ada yang menjemput Alya ketika dirinya mendarat.


Baru mengaktifkan ponsel saat di dalam taksi menuju rumah, Alya mendapat beberapa panggilan tak terjawab juga pesan beruntun. Dari Grace maupun Liam.


"Alya, daddy di rawat di rumah sakit."

__ADS_1


"Pulang lah Al, keadaan daddy sangat buruk."


"Ku harap kau segera membaca pesanku."


Pikiran Alya berkecamuk, dia segera meminta supir taksi merubah tujuannya yaitu ke rumah sakit. Menangis pelan, Alya di liputi perasaan takut kehilangan daddy nya. Waktu yang Alya miliki bersamanya terlalu singkat.


"Oh God, please save him. " Tidak tahu apa yang terjadi pada tuan Rodrigo, selama ini Alya tahu kesehatan daddy selalu normal tanpa ada keluhan berarti. Pertanyaan tentang kondisi ayahnya Alya kesampingkan sesaat.


Tak beselang lama, taksi sudah berhenti di area parkir rumah sakit. Berlari seperti sedang di kejar sesuatu, Alya mencari keberadaan ruang rawat sang ayah. Alya berderai air mata sepanjang jalan menuju intensif care unit.


"Alya,,, " Sambut Grace tak kalah hebat menangis. Alya melemas dalam pelukan Grace kakaknya.


"Daddy baik-baik saja kan kak? Daddy orang yang sangat kuat, aku takut kehilangan dia Grace. " Tersedu-sedu Alya membalas pelukan Gracia erat. Meminta dukungan dan saling menguatkan satu sama lain.


"Daddy akan bangun, daddy masih harus melihatmu berbahagia Alya. Aku tidak akan membiarkan daddy tega meninggalkan kita." Mengurai pelukan, Grace mengusap air mata yang membasahi pipi putih mulus adiknya.


"Tell me, what's going on? " Tak sabar mendengar kronologi yang menyebabkan Tuan Rodrigo terbaring koma. Grace menuntun Alya duduk di kursi tunggu.


"Alya, seseorang menyabotase mobil daddy. Menyebabkan kecelakaan parah, saat itu daddy berniat pergi ke perusahaan. "


"Mommy, bagaimana dengan mommy kak? Kak cepat katakan! " Alya mengguncang tubuh Grace meminta penjelasan sedetail mungkin.


"Untungnya mommy mendapat luka ringan, uncle Jack dan Zen masih menjaga mommy di ruangannya."


Alya berdiri, dia berjalan mondar-mandir mencerna kejadian tragis yang di alami orang tuanya. Setelah melewati kehidupan damai, kini keluarga mereka harus di terpa masalah berat.


"Mommy sempat kehilangan banyak darah, syukurlah ada Theo yang bersedia mendonor. Kami tidak bisa menunggu kedatanganmu Al, atau mommy dalam bahaya sama seperti daddy." Bagai di sambar petir, satu masalah menambah beban pikiran Alya.


Alya berhutang nyawa pada Theo yang sudah menyelamatkan ibunya. Apakah bisa Alya meninggalkannya demi bersama Christian?


"Lebih baik temui mommy Pat dulu Al, biar daddy kami yang jaga. " Saran Liam menepuk pundak Alya. Alya mengangguk lalu pergi ke ruang rawat ibunya.


Zen dan Jack memberi Alya waktu untuk berdua bersama Patricia. Alya duduk di kursi sebelah brankar. Menggenggam tangan Patricia yang baru saja beristirahat.


"Mom,,, jangan tinggalkan aku. Aku bisa apa tanpa kalian. " Menempelkan punggung tangan Patricia di pipinya, Alya merasa sedih melihat orang tuanya terbaring lemah.


"Alya,,, " Panggil Patricia lirih, Alya segera menghapus air matanya.


"Aku di sini mom, aku akan menjagamu." Jawab Alya mengecup kening sang ibu.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu merengek. " Perintah Patricia, Alya tersenyum lega karena ibunya bisa bergurau. Artinya dia sudah merasa baik-baik saja saat ini.


"I won't, promise." Ucap Alya meyakinkan. Tak lama, Patricia kembali tertidur efek obat yang di masukkan ke dalam cairan infus.


Alya merasa dunianya hancur, tak ada yang lebih pedih dari pada melihat mereka jatuh sakit. Apa lagi ada yang berani mencelakai mereka dengan sengaja. hidupnya jungkir balik dalam waktu singkat. semalam dia merasa bahagia bisa kembali bersama Christian. dan sekarang Alya harus membayar mahal untuk itu.

__ADS_1


__ADS_2