
Nick dan Alenta terperangah melihat serta membaca satu persatu komentar yang sudah memenuhi kolom komentar dari unggahan yang Nick lakukan secara tidak segala beberapa saat lalu. Bingung, juga kesal sendiri tapi ya mau bagaimana lagi kalau sudah begini? Selain mencari alasan yang paling masuk akal, mereka juga harus memikirkan bagaimana menjelaskan agar pasangan mereka berdua merasa yakin dengan alasan yang akan mereka berikan nanti.
Apakah Sek Al dan Bos berpacaran? Tidak heran sih, mereka kan memang serasi dari wajah, tapi bukanya Bos punya kekasih? Apa aku tidak salah lihat postingan ini? Aduh!, Aku ketinggalan gosip terbaru ya?, Apakah mereka sengaja mendatangi tempat wisata permainan untuk berkencan?, Wajah mereka memang cocok, tapi kepribadian kan sangat berbeda. Apakah tidak apa-apa berkomentar seperti ini di kolom komentar Bos kita sendiri?, Aku tidak berani bicara!, Ah padahal ingin sekali menyampaikan maksud hati, Hiks!
Kira-kira seperti itulah bunyi komentar yang ia baca sebagiannya. Tak bisa bicara untuk beberapa saat, tapi juga tidak bisa menghapusnya karena ini juga permintaan dari Ibunya sendiri. Sementara Alenta, gadis itu masih enggan mengunggah photo bersama Nick, dan dengan segera mematikan layar ponselnya sebelum dia tanpa sengaja menekan tombol yang akan membuat photo itu terunggah ke media sosialnya.
" Bos, aku mengunggahnya kapan-kapan saja deh, setidaknya setelah aku mengunggah photo bersama Arkan dulu. " Ujar Alenta yang tentu saja tidak siap kalau harus membaca komentar-komentar seperti yang ada di kolom komentar Nick tadi.
Nick, pria itu masih syok rupanya hingga tanpa sadar tangannya gemetar dengan tatapan kosong. Sebenarnya memang hanya mengunggah sebuah photo, tapi tetap saja ini tidak bisa ia tahan lebih lama lagi. Ah! Anda saja bukan Ibunya yang meminta hal ini, mana mungkin Nick akan mengunggah photo wanita setelah beberapa photo cool style tanpa ada wajah siapapun selain dirinya disana.
" Aku benar-benar ingin gantung diri saja rasanya. " Ujar Nick yang belum juga hilang shock dari wajahnya.
Untuk sesaat mereka berdua kompak duduk di salah satu tepat makan dan mengabaikan saja makanan yang mereka pesan demi memikirkan alasan apa yang masuk akal dan bisa dengan mudah dipercaya oleh keduanya. Huh! Belum juga terpikirkan, dering ponsel Nick sudah lebih dulu terdengar nyaring, dan itu adalah panggilan masuk dari Rebecca.
Nick menelan salivanya begitu melihat layar ponselnya, benar-benar cepat sekali reaksinya.
" Bos, bisa angkat saja tidak? Atau kalau tidak mau bicara tolong matikan saja, aku benar-benar pusing sekarang ini. "
Nick yamg sejatinya sedang gugup dan bingung kini malah dibuat kesal oleh Alenta. Memang yang pusing hanya dia seorang? Dia juga pusing! Ditambah lagi kalau Rebecca marah, bagaiamana dia bisa membuang cairan bawahnya? Masa iya olah raga jari? Ya kalau saja Alenta mau menggantikan Rebecca sih tidak terlaku dipikirkan oleh Nick, eh! batin apa sih ini? Protes Nick di dalam hati.
" Aduh, kalau tidak ke angkat begini pasti pikirannya sedang kemana-mana. " Ucap Nick lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Mau di angkat bingung mau mengatakan apa, tidak di angkat juga bingung kalau sampai Rebecca marah dan mengajak mereka putus. Sekarang ini Nick sedang sayang-sayangnya dengan Rebecca, jadi kalau bisa jangan putus dulu, batin Nick.
" Mau aku bantu angkat dan bicara Bos? " Alenta tersenyum meski hatinya tengah memaki dengan segudang, oh! Maksudnya se-isi kebun binatang spesial untuk mengatai Bosnya yang berisik mulut juga ponselnya. Padahal sudah tahu tidak tahu mau bilang apa, ya tinggal biarkan saja dan cukup mode silent saja agar tidak bersisik dan tidak menganggu konsentrasi mereka kan?
" Maksudmu, kau mau membantu ku mati lebih cepat begitu? " Kesal Nick yang paham benar jika Alenta tengah meledeknya.
__ADS_1
Drt....
Alenta kini teralihkan dengan ponselnya yang bergetar, dan ini giliran Alenta kebingungan sendiri. Iya, seseorang menghubunginya, dan orang itu adalah Arkan. Sejenak Alenta menatap layar ponselnya dengan perasaan bingung lalu menelan salivanya sendiri. Sebenarnya dia ingin sekali membuatkan saja Arkan hingga pria itu lelah sendiri, barulah besok dia akan mencuri waktu demi bisa menjelaskan kepada kekasihnya itu.
" Heh! Kau juga tidak bisa bicara kan? Mau aku bantu untuk bicara? " Nick tersenyum miring dengan mata mengejek seperti yang biasa dilakukan pria itu. Uh.. Rasanya ingin sekali menari-nari bahagia melihat bagaimana wajah Alenta yang panik dari pada biasanya yang selaku saja serius di kantornya.
Mampus! Ini ya yang namanya senjata makan tuan? Oh, memang memusingkan dunia percintaan terbalut kucing-kucingan semacam ini. Sudahlah, mau lari kemanapun, mau menghindar sepintar apapun semua yamg sudah terjadi ini hanya bisa ia hadapi, dan sekarang dia hanya menjawab sekenanya saja terlebih dia juga harus bisa berbicara dengan tegas agar tidak terlibat berbohong. Pada panggilan kedua, Alenta akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan telepon dari Arkan.
" Arkan? " Sapa Alenta begitu sambungan telepon mereka terhubung.
Alen, apa aku mengganggu?
" Tidak, aku hanya sedang berada di taman bermain bersama Bos, ada apa? " Kalimat ini sungguh membuat Nick melotot tak percaya. Padahal dia pikir Alenta akan berbohong kesana kemari agar pacarnya tak salah paham, tapi bagaimana bisa dia berbicara sejujur ini dan tidak takut hubungan mereka terancam putus?
Alenta terdiam sebentar. Sungguh sangat lembut cara bicara Arkan, dia bertanya tanpa terdengar kesal seolah dia hanya ingin tahu saja alias dia lebih percaya kepada Alenta sendiri. Jadi apakah Alenta harus lebih banyak berbohong lagi? Tidak, dia perlu sedikit jujur agar Arkan tidak terlaku membencinya jika nanti semua kebenaran akan terungkap.
" Nyonya Ivi, dia merasa kalau aku kesusahan dan terlalu bekerja keras selama ini, jadi dia meminta Bos Nick untuk mengajakku sebentar menghilangkan penat. Maaf tidak memberitahumu, Arkan. "
Tak ada suara sejenak.
Baiklah, jam berapa kau akan pulang? Mau aku jemput tidak?
Alenta menahan tangis karena merasa begitu jahat kepada pria sebaik Arkan. Padahal bukan maksudnya ingin mengkhianati Arkan, tapi kenapa dia begitu merasa sesak dan sakit saat Arkan memperlakukannya sebaik itu?
" Kau tidak marah dan cemburu? " Tanya Alenta setelah berhasil menguasai dirinya lagi.
__ADS_1
Aku cemburu, tapi aku lebih percaya padamu.
" Terimakasih Arkan, kalau begitu jemput aku sebentar lagi ya? "
Baik, aku siap-siap dulu.
Nick, pria itu nampak tak suka mendengar tiap kata yang begitu lembut seolah penuh cinta dari keduanya. Tapi karena ponselnya sudah berdering hingga enam kali dan itu panggilan dari Rebecca, mau tidak mau dia mengangkat saja dan berbicara seperti yang dibicarakan Alenta tadi.
" Babe? " Sapa Nick.
Babe! Kenapa kau mengunggah photo bersama Alenta?! Padahal tidak satu pun photo bersamaku kau unggah!
" Ibuku meminta untuk mengajak Alenta berlibur karena di merasa aku terlalu membuat Alenta kesulitan selama ini. "
No reason! Delete sekarang!
" Tapi itu juga maunya Ibuku, Babe. "
No! Kau hanyalah milikku! Jangan perdulikan yang lain!
Alenta tersenyum saat manik mata Nick menatapnya tanpa sengaja. Terlihat melas? Tidak dong! Yang ada Nick malah jadi kesal melihat wajah mengejek Alenta yang begitu jelas diperlihatkannya. Karena tak tahan dengan kekesalan itu, lada akhirnya dia tanpa sengaja membentak Rebecca yang terus saja mengoceh tidak jelas.
" Diam kau! Dari tadi terus mengoceh seperti bebek kelaparan! Kalau tidak percaya ya sudah! "
Bersambung.
__ADS_1