
Tiga hari libur, tiga hari pula Alenta harus merasakan buasnya Nick yang tiada henti. Padahal dia kira Nick adalah pria manja yang tidak akan begitu perkasa Meksi memang tubuh Nick terbilang bagus. Tapi tiga hari ini Nick benar-benar menunjukkan siapa dia yang sebenarnya, Nick yang kompeten, Nick yang pengertian, Nick yang mengalah dengan senyuman, semua itu benar-benar membuat Alenta takjub. Padahal sempat dia berpikir bahwa mungkin setelah beberapa kali melakukannya Nick akan merasa bosan dan mengabaikannya seperti para pria bajingan di luar sana, tapi yang ada Nick malah semakin menempel padanya.
Sudah malam, tapi Nick masih belum memberikan waktu untuk Alenta tidur. Ini adalah libur terakhir, tapi tubuhnya malah sangat kelelahan seperti kerja rodi setahun tanpa istirahat. Memang sih Nick yang lebih aktif di atas ranjang, tapi walaupun hanya diam dan menerima hujaman tongkat ajaib milik Nick, tetap saja tubuhnya lelah tak karuan.
" Bos, maksudku, sayang. Kalau kau masih ingin membangunkan ku subuh nanti, dua jam setelah itu aku pasti sudah metong! " Ujar Alenta setelah Nick selesai dengan urusannya, bahkan dia juga masih berada di atas Alenta.
Nick terkekeh, dia sebenarnya juga tidak tega karena hampir tidak membiarkan Alenta tidur dengan nyenyak. Jangan tanya kenapa, itu semua ya karena dia kesulitan menahan diri setelah merasakan bagaimana indahnya melakukan kikuk kikuk bersama Alenta, wanita yang sudah lama mencuri hatinya. Sudah tiga hari terhitung dengan hari ini, tapi rasanya Nick masih belum rela untuk bekerja besok pagi. Dia masih ingin merengkuh tubuh Alenta, menghirup aroma dari tubuhnya, dan merasakan hangat yang menyeruak dari kulit Alenta.
Gila? Mungkin iya, karena sampai detik ini Nick seperti kehilangan akal sehat. Alenta, apapun posisinya, apapun yang sedang dia lakukan, rasanya Alenta begitu cantik, dan menggoda. Tiga hari mereka selalu bersama dirumah, tapi kalau dihitung sudah lebih sepuluh kali mereka melakukannya. Lelah? iya jelas dia lelah! Tapi sebentar dia sudah bereaksi padahal Alenta sama sekali tidak melakukan hal yang menggoda. Pernah saat hari kedua di makan malam mereka, hanya karena melihat bibir Alenta mengunyah makanan, Nick tiba-tiba bereaksi dan melakukan itu di meja makan. Tidak tahu lah, pokoknya Alenta sekarang sudah seperti sesuatu yang melekat dengannya dan tidak akan mungkin untuk dia hilangkan lagi.
" Sayang, besok biar aku saja yang bekerja. Kau istirahat seharian di rumah. " Ucap Nick seraya memindahkan tubuhnya, lalu berbaring di samping Alenta dan memeluknya.
" Tidak bisa, ini sudah tiga hari. "
" Tidak apa-apa, Ayah pagi tadi telepon saat kau mandi. Dimas kan sudah dipindahkan ke Chloe untuk membantu, jadi kau bisa bersantai dengan baik dirumah. "
Alenta bangkit dengan tatapan seolah dia tidak setuju.
" Ini, apakah aku dipecat? "
" Pft! Mana mungkin kau dipecat? Aku kan hanya minta untuk agak bersantai. " Nick meraih tangan Alenta dan menggenggam nya.
__ADS_1
" Alenta, aku mungkin belum sehebat Ayahku, atau kakek ku. Tali percayalah aku bisa melakukannya, biarkan aku membuktikan padamu bahwa aku bisa untuk kau andalkan. Biarkan aku membuktikan padamu bahwa aku layak menjadi pria mu yang bisa melindungi mu. "
Alenta terdiam tak lagi bisa berkata-kata, padahal mulut Nick biasanya digunakan hanya untuk membahas hal mesum, membantahnya, juga memerintah tidak masuk akal. Tapi, Nick kali ini benar-benar terlihat sangat berbeda, Nick memiliki aura seperti Ayahnya.
" Tidak berselingkuh adalah satu-satunya ha yang aku butuhkan, jadi jangan terlalu menuntun dirimu melakukan banyak hal ya g sebenarnya kita bisa lakukan bersama. "
Nick tersenyum lalu mengangguk. Ucapan Alenta barusan sudah mejelaskan bahwa dia mencintai pekerjaannya, jadi dia tidak akan begitu saja bersantai. Ya sudahlah, biarkan saja dia bekerja sebelum dia hamil nanti, batin Nick.
Nick memeluk tubuh Alenta, mengajaknya untuk tidur karena malam semakin larut.
Pagi harinya.
Sesampainya di sana, Nick dan Alenta berjalan bersama. Sesuai juga dengan keinginan Alenta untuk tetap bersikap layaknya Bos dan Sekretaris, Nick berjalan satu langkah di depan Alenta seperti sebelumnya. Talita dan juga Arkan yang tidak sengaja datang bersamaan juga melihat itu. Agak tidak terbiasa memang melihat Alenta membiarkan rambutnya terurai, tapi dibanding memikirkan itu mereka memilih untuk segera menyapa Nick sopan seperti kebiasaan mereka.
" Aku benar-benar tidak terbiasa dengan rambut seperti ini di kantor. " Ujar Alenta yang merasa risih. Mungkin untuk sebagian pegawai mengurai rambutnya seperti itu terlihat cantik, tapi Bai Alenta itu seperti sebuah gangguan karena bisa jadi dia tidak konsentrasi karena terganggu dengan rambutnya.
Di lobby kator, Talita sebenarnya sengaja menunggu Maudi karena harus menemuinya demi satu urusan. Untunglah tak lama setelah Nick datang bersama dengan Alenta, Maudi yang terburu-buru karena merasa kesiangan itu berjalan dengan cepat.
" Asisten, Maudi! " Panggil Talita seraya berlari mendekati Maudi.
" Ada apa? " Tanya Maudi sedikit terlihat sebal karena merasa terganggu di saat buru-buru begini.
__ADS_1
" Boleh minta nomor telepon kak Alenta yang baru tidak? Ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting. "
Maudi menghela nafasnya, memang sih Alenta mengganti nomor teleponnya karena tidak ingin terganggu dengan orang-orang yang terus menghubungi dan membuatnya risih. Lalu kalau dia memberikan nomor telepon Alenta kepada Talita, apa gunanya Alenta mengganti nomor telepon?
" Aduh, maaf sekali ya Talita. Aku tidak berani memberikan nomor telepon Alenta tanpa persetujuan darinya. Maaf, aku buru-buru! " Maudi meninggalkan Talita yang menatapnya dengan mimik kecewa. Padahal jelas sekali mereka bekerja di satu gedung perusahaan, tapi kenapa sulit sekali untuk bicara dengan Alenta?
" Kak, apa yang aku bicarakan ini sangat penting, hanya kau yang bisa memenuhinya, jadi tolong jangan menghindar terus. " Ujar Talita dengan mata memerah menahan tangis.
Seperti sebelumya, saat pagi hari Alenta akan menyusun dokumen, juga membereskan beberapa barang yang ada di meja Nick. Padahal Nick bilang bisa melakukannya sendiri, tapi kalau Alenta sudah melotot apa bisa menolak?
" Sayang, ini sudah cukup. Kau duduklah saja, atau kalau tidak keruangan mu saja ya? "
" Alenta! Panggil Alenta kalau di kantor. "
Nick menghela nafas sebalnya. Sudah tidak boleh bergandengan tangan di kantor, tidak boleh dekat-dekat, memanggil sayang juga tidak boleh, kalau begini apa indahnya bekerja bersama dengan istri?
" Sayang, maksudku, Alenta. Sudah dong beres-beres nya, kalau tanganmu banyak tenaga simpan saja buat suamimu, kan kalau kau tidak mau di ajak ewita alias kikuk kikuk, bisa gunakan tanganmu untuk bantu aku colai. "
Alenta menatap marah, dia menarik tangannya yang tengah Nick pegang. Segara dia berjalan keluar dari ruangan dengan perasaan kesal. Dasar gila! Otak ya cuma itu saja isinya! Batin Alenta menepuk-nepuk pipinya yang merona malu.
Bersambung.
__ADS_1