
Tuan Baskoro memandangi gundukan tanah dengan mata yang tak henti-hentinya menitihkan air mata. Sakit, bahkan jauh dari kata sakit untuk menggambarkan bagaimana lara nya hati ketika melihat anak pergi menghadap Tuhan lebih dulu dari pada dirinya. Talita Pricilia, anak yang lahir dengan segala kebimbangan, anak yang ia besarkan dengan kedua tangannya juga kasih sayangnya kini tak bisa ia lihat lagi karena sudah menyatu dengan tanah. Tidak akan ada anak gadisnya yang akan memanggilnya Ayah dengan nada yang begitu manis, tidak akan ada lagi Talita yang mengingatkan untuk jangan lupa makan dan jangan lupa minum obat.
Hanya sebuah papan bertuliskan nama Talita yang terlihat, keindahan dari seorang Talita sudah tak bisa dia lihat lagi sekarang. Hancur, sakit, kecewa, hingga sedari tadi dia terus menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dengan putrinya. Dia adalah seorang Ayah yang gagal dengan putri pertamanya, tapi nyatanya dia juga gagal dengan putri keduanya. Apakah ini adalah hukuman untuknya? Ataukah ini memang sudah jalan terbaik untuk semua? Tapi, kenapa rasanya sangat menyakitkan? Bukannya yang sakit adalah dia? Lalu kenapa putrinya yang mati?
" Talita, maafkan Ayah. Ini terjadi semua karena Ayah, ini bukan salah mu. " Ucap Tuan Baskoro lalu kembali terisak tak tertahankan. Ibu Rahayu juga sama, sedari di beritahu jika Talita meninggal, dia bahkan sudah empat kali pingsan, dan pingsan terakhirnya adalah sebelum tubuh Talita dikebumikan.
" Talita.... " Ibu Rahayu sedari tadi teruskan di tanah karena tak sanggup untuk berdiri. Sama, dia sangat sedih, juga marah dan menyalahkan diri sendiri atas tindakan fatal yang dipilih putrinya. Dia pikir putrinya akan menurut seperti sebelumnya, dia pikir putrinya hanya akan mengangguk dan tersenyum patuh ketika mendengar kata demi Ayahnya. Tapi dia lupa jika Talita adalah manusia biasa, dia memiliki rasa lelah, tertekan, terluka, sedih, dan juga putus asa. Pada akhirnya semua telah terjadi, dan dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun, bahkan kenangan terakhir yang ia berikan kepada putrinya adalah sebuah tamparan, tatapan tajam, juga kata-kata tegas yang menyakitkan.
Ibu Tina, seorang nenek yang biasanya akan jauh lebih menyayangi cucu ketimbang anaknya kini mulai merasakan perasaan bersalah. Dia sadar benar jika dia terlaku mendesak Talita melakukan apa yang seharusnya bukan tugasnya. Hanya karena ingin diringankan dalam keuangan dan mendapatkan bantuan pasokan dana, dia telah membuat cucunya berbaring kaku tak bernyawa. Sudah tidak bisa ia lihat lagi gadis manis bernama Talita yang tak lain adalah cucu kandungnya sendiri. Sudah tidak bisa meminta maaf secara langsung, dia bahkan tidak ingat lagi kapan dia memperlakukan Talita penuh kasih seperti dulu.
" Baskoro, kita kembali ya nak? Langit sudah mulai gelap. " Ajak Ibu Tina seraya memegang satu pundak Tuan Baskoro yang kini tengah bersimpuh di samping pusara sang putri. Tuan Baskoro menepis tangan Ibu Tina, jelas Ibu Tina kaget, tapi dia tak marah karena tahu jika kemarahan putranya itu sudah tidak bisa dibendung lagi.
" Ibu, mulai hati ini aku tidak akan datang kepada Ibu. Dan kau, Rahayu. Aku juga tidak akan menemui mu, surat cerai akan aku urus secepatnya. " Tuan Baskoro bangkit setelah mengusap air matanya.
__ADS_1
" Tidak, tidak! Mana boleh kau meninggalkan ku! Kau tidak boleh melakukan itu! Aku juga sedih! aku juga sangat kehilangan! Aku mohon jangan di saat seperti ini, tolong! " Pinta Ibu Rahayu makin tersedu-sedu dia menangis.
" Aku tidak tahan melihat wajahmu, aku selalu teringat gambaran saat putriku berdarah-darah, dan mati karena ulah mu dan juga Ibuku. Aku tidak akan sanggup sedetikpun melihat wajahmu, juga Ibuku. Kau hiduplah sendiri, jangan pernah ganggu aku, jangan juga berani muncul di hadapan ku. Rumah ambillah untukmu, ambil semua yang kau inginkan tapi aku tidak akan menjadi siapapun selain pembencimu. " Tuan Baskoro pergi meninggalkan Ibu Rahayu yang semakin kuat menangis, sementara Ibu Tina juga hanya bisa diam tak berdaya karena semua ini juga terjadi karena dirinya.
Beberapa saat saudara dari Ibu Rahayu datang dan membawanya pergi karena langit semakin mendung, Ibu Tina juga ikut bersamanya.
Damar, seorang remaja empat belas tahun yang tak lain adalah adik dari Talita kini terdiam memandangi nisan sang kakak. Sekarang kemana lagi dia akan mengadu? Ibu bisanya hanya akan sibuk dengan apapun tentang Ayahnya, Neneknya juga selalu marah-marah untuk alasan yang tidak jelas, sementara Ayahnya yang memang biasanya perhatian sekarang sedang marah bahkan ingin bercerai dari Ibunya. Jadi harus kemana sekarang dia pergi?
" Kak, apa aku harus ikut mati bersama kakak saja? " Damar mulai menangis sesegukan, tidak perduli derasnya air hujan menyerbu tubuhnya, dia tetap disana karena tidak tahu kemana dia akan pergi ketika tidak ada kakak ya dirumah.
" Kakak, kenapa tidak mengajak aku saja? Aku tidak mau tinggal dirumah lagi, aku tidak mau? " Damar terus menangis sekuat-kuatnya, tapi air hujan yang tiba-tiba tak mengenai tubuhnya membuat Damar mendongak ke atas, dia melihat sebuah payung hitam, dan saat dia melihat siapa yang memegang payung itu, Damar langsung saja bangkit dan memeluknya.
" Kak Alenta! " Damar dengan erat memeluk tubuh Alenta, dia melanjutkan tangisnya bahkan semakin pecah dari sebelumnya. Semetara Alenta yang datang bersama dengan Nick juga Reiner hanya bisa terdiam. Dia membiarkan saja Damar memeluknya erat karena setidaknya dia tahu rasa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang disayangi untuk memilih yang lain sudah sangat amat sakit, apalagi kalau ditinggalkan karena maut, pasti akan jauh lebih menyakitkan. Benar, Alenta sama sekali tidak pernah dekat dengan Damar, tapi melihat remaja itu menangis dengan amat pilu entah menatap hatinya bergetar ingin memeluk dan menenangkan.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, ini adalah pilihan kakak mu. Dia pasti tidak ingin kau juga yang lain menangis. Dia memilih ini, dia pasti akan puas dan bahagia. " Ucap Alenta seraya menepuk-nepuk punggung Damar pelan.
" Tolong bawa aku pergi, kak Alenta! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu. "
Alenta terdiam tak bisa berkata. Sebentar dia melihat ke arah Nick, saat Nick mengangguk dia paham apa yang harus dia katakan.
" Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang ikutlah paman itu dulu. " Alenta menunjuk kepada Reiner. Dengan patuh Damar mengikuti apa yang diperintahkan Alenta, dan kini hanya tinggal Nick dan Alenta saja di sana dan hujan juga masih deras.
" Kau lemah, Talita! Kenapa memilih ini? " Alenta menyeka air matanya yang jatuh.
" Aku memang tidak tahu seberapa beratnya menjadi dirimu, tapi kehidupan memang sering kali tidak adil, tapi kehidupan juga memberimu banyak jalan kan? "
Bersambung.
__ADS_1