
Setelah tubuhnya kembali pulih, Nick kini hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Alenta yang membawanya kesana kemari, mencari wahana lain yang ingin dia naiki dan juga makanan Nusantara yang sudah lama ingin Alenta makan.
" Alenta, sampai kapan kita akan terus berada disini? Bukannya lebih baik kita bertemu dengan pacar kita saja? "
Alenta menghela nafasnya, dia melirik sebentar melihat bagaimana wajah Nick yang nampak lelah. Sebenarnya dari pada bersama Nick di tempat yang menyenangkan itu, dia juga merasa kalau akan lebih baik bersama Arkan yang juga sangat menyukai apa yang dia sukai.
" Kalau begitu, Bos pergi saja. " Ucap Alenta seraya menyeka keringat di wajah menggunakan satu tangannya. Tak ada yang aneh dari ucapan Alenta barusan, hanya saja Nick merasa agak tidak suka melihat cincin yang melingkar di jari Alenta. Dia ingat benar, Alenta adalah gadis yang tidak terlalu menyukai perhiasan, ditambah lagi dia juga tahu kalau Aleta hampir tidak memiliki waktu untuk pergi ke toko perhiasan.
" Tumben sekali kau memaki cincin. " Nick melengos saat mengatakan itu.
" Iya, ini dari Arkan. " Alenta tersenyum memandangi jemarinya yang dihias sebuah cincin berwarna perak dan ada sedikit berlian sebagai pemanisnya. Alenta boleh merasakan bahagia, tapi Nick justru merasa agak kesal meski dia belum paham kenapa dia merasakan kesal padahal jelas yang ia tahu dia tidak tertarik dengan Alenta.
" Ibuku pasti melihat cincin yang kau pakai, apakah kau bisa melepaskannya terlebih dulu saat akan bertemu Ibuku? "
Alenta terdiam sesaat. Bukanya tidak bisa memahami kondisi dan bagaimana Ibu mertuanya itu, hanya saja Alenta tidak bisa melepaskan cincin itu karena hatinya yang terus merasakan tidak rela.
" Cincin ini Arkan membelinya dengan susah payah, dan dia juga yang memakaikannya. Aku tidak sanggup kalau harus melepaskan cincin ini dari jariku, jadi maaf mengecewakanmu, Bos. Lagi pula cincin pernikahan kita juga tidak jauh berbeda dengan ini kan? Aku rasa Ibu tidak akan memperhatikannya se-detail itu. "
Nick tentu saja langsung terdiam, biarpun dia masih ingin melihat cincin itu lepas dari jemari Alenta, tapi kalau Alenta sudah berbicara seperti itu mana bisa dia membantahnya. Lagi, dia tidak sanggup kalau harus melawan dan menghadapi tampang sinis Alenta.
" Bos jadi pergi menemui Rebecca? Eh, maksudnya nona Rebecca, kalau jadi aku juga akan menghubungi Arkan untuk menusukku disini. "
Nick mengeryit seolah keberatan, lalu dengan segera dia meraih lengan Alenta dan membawanya untuk masuk ke wahana yang lain.
" Kita akan mengunggah photo kita yang ada disini, lalu kau bersama Arkan di sini di hari yang sama juga? Kau pikir Ibuku tidak akan tahu? "
__ADS_1
Alenta sebenarnya masih bingung dan masih ingin membantah tak setuju dengan ucapan Nick, tapi dari pada bertengkar dan menjadi tontonan tidak layak, diam saja lah dan nikmati apa yang sedang terjadi hari ini.
Setelah cukup puas bermain dengan apa yang mereka sukai, kini keduanya berada di sebuah restauran sembari menatap ponsel mereka dengan perasaan gugup dan takut. Tentu semua itu terjadi karena mereka kan harus mengunggah photo mereka berdua di media sosial mereka masing-masing.
" Bos, kenapa aku merasa jika apa yang di minta Ibumu ini seperti sedang memaksa kita mengumumkan hubungan melalui media sosial. " Alenta masih menatap ponselnya yang kini hanya tinggal satu kali tekan saja layar ponselnya, maka photo itu akan terunggah di media sosialnya.
" Kenapa kau baru sadar sekarang? Itu lah sebabnya aku belum mengunggah di media sosialku karena takut wajahmu akan mengotori halaman media sosial, juga tidak mau Rebecca salah paham. "
Alenta tersenyum miring dengan tatapan sinis yang begitu jelas terlihat, untungnya sih Nick tidak melihatnya karena masih terus menatap layar ponsel yang ada wajah Alenta tersenyum dengan begitu manis. Tidak tahu itu perasaan apa, tapi senyum Alenta di photo itu benar-benar terlihat sangat cantik juga sangat manis hingga membuatnya terus menatap meski bibirnya terus beralasan dengan mencemooh Alenta.
" Bos, wajah nona Rebecca juga tidak ada di media sosialmu, apa kau juga takut kalau wajah si bunga mawar berduri akan menaburkan racun dan juga mengotori? "
Hilang! Hilang sudah kekaguman Nick kepada Alenta dan kini sontak berwajah jengah ia tunjukkan. Wajah boleh cantik dan manis, tapi kenapa mulut berbisanya masih tidak mau hilang dan menjadi cantik seperti wajahnya?
Alenta tersenyum, sungguh dia tidak takut sama sekali mau bagaimanapun Nick melotot dan memarahinya.
" Aku hanya bertanya kok, kalau ucapan ku benar dan menyinggung, ya aku minta maaf deh... " Alenta kembali tersenyum dengan begitu manis lagi setelah selesai bicara.
Nick, pria itu terperangah kesal dibuatnya.
" Alenta, bagaimana kalau kita melakukan ritual malam pertama? Aku benar-benar pemasaran bagaimana rasanya wanita yang suka sekali tersenyum manis tapi bicaranya sangat pahit sepertimu. "
Astaga, benar-benar Alenta sudah tidak lagi bisa tersenyum apalagi bicara. Malam pertama apaan?! Mati tersambar petir sampai gosong dan menjadi Alenta bakar sambal ijo malah akan jauh lebih baik dari pada di cicipi oleh pelanggan WC umum!
" Aduh, bagaimana ya? Aku kalaupun mau anu anuan sama seseorang juga harus memastikan kualitasnya terlebih dulu Bos. Pertama, aku tidak suka dengan laki-laki yang memiliki tongkat mungil, kedua aku tidak suka yang durasinya singkat, ketiga aku tidak mau kalau bekas masuk WC umum. " Mampus! Batin Alenta kesal, se-enaknya saja membicarakan malam pertama yang tidak mungkin terjadi antara mereka berdua.
__ADS_1
Nick menatap Alenta sembari tersenyum miring penuh ancaman.
Dasar pengguna WC umum! Apa-apaan tatapan seperti itu?!
" Alenta, mungil atau tidak, dan durasi mana bisa dibuktikan tanpa melakukannya dulu? Kau mau mencobanya agar tahu bagaimana rasanya milikku? "
Ingin sekali rasanya Alenta meremas mulut sialan itu, lalu menjahitnya dengan benang terbaik di dunia agar tidak lagi bicara yang macam-macam seperti ini.
" Tapi Bos agak bah WC umum, jadi aku bisa mual nantinya dan tidak konsentrasi untuk menilai. "
Nick mengeraskan rahangnya karena merasa kesal sendiri. Memang dasar mulut kobra, mau bagaimana pun tetap saja bahaya dan lebih baik kalau di lakban saja agar tidar bersuara.
" Alenta, apa kau tahu betapa kasarnya bau WC umum yang keluar dari mulut mu? "
" Oh, maaf aku salah bicara Bos. Aku salah mengira, tapi sekarang aku sudah tahu benar kok. Ternyata Bos itu bau bunga mawar. "
Ya ampun! Memang sialan, dasar mulut yang tidak disekolahkan! Kesal Nick yang terpaksa harus ia tahan dan bergerundel saja di dalan hati.
" Ya ampun! " Pekik Nick seraya menatap ponselnya kaget.
" Ada apa,Bos? "
" Photo! Photonya aku tidak sengaja sudah mengunggahnya! Komentarnya juga sudah mulai banyak. "
Bersambung
__ADS_1