
Talita menatap photo yang diunggah Nick beberapa saat lalu. Karena penasaran untuk memastikan Talita memperbesar gambar itu dan menerka siapa wanita yang hanya nampak kepala dan rambut saja. Tapi anehnya di juga sudah melihat unggahan Maudi yang sepertinya berbanding terbalik dengan unggahan Nick. Maudi mengunggah photo kebersamaannya beberapa saat sebelum Nick mengunggah photo bersama wanita yang menurut keterangan adalah istrinya.
Talita mengigit kuku ibu jarinya karena bingung, bahkan beberapa bulan terakhir dia seperti orang gila, dia tidak tenang karena setiap mau tidur dia selalu mengecek unggahan Maudi, lalu minat unggahan Nick. Pernah sekali Nick mengunggah photo secangkir kopi, sedangkan Maudi mengunggah segelas jus strawberry. Entah hanya kebetulan saja, atau mereka sengaja menutupinya serapat mungkin, ataukah bukan Maudi istri dari Nick?
Sudah larut malam, tapi Talita tak bisa tidur gara-gara memikirkan photo yang di unggah oleh Bosnya. Apalagi melihat Bosnya bertelanjang dada, Talita malah jadi merasa tak tenang, seperti perasaan tidak terima pria idolanya memiliki hubungan dengan seorang wanita. Sebenarnya Talita juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti sekarang ini, tapi semua terjadi seolah diluar dugaannya dan mengalir begitu saja.
" Sebenarnya Maudi atau bukan ya istrinya Bos Nick? " Gumam Talita seraya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Entah akan sampai kapan dia menjadi seperti ini, mungkin akan berakhir jika dia tahu siapa istri dari pria yang dia kagumi, ataukah perasaan itu akan semakin lancang melebihi batas juga dia tidak tahu.
Pagi hari.
Alenta terbangun dari tidurnya, perlahan dia bangkit seraya menahan perih bagian inti yang jelas sekali terasa. Benar-benar tidak waras! Apalagi saat kakinya menyentuh lantai dan dia bangkit untuk berdiri, kedua kakinya gemetar seperti kebas. Sialan! Kalau begini bagaimana dia bisa bekerja dan menggunakan sepatu tinggi seperti biasanya?
Alenta menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nick, tapi pria itu tidak ada di dalam kamar, mungkin dia ke kamar sebelah karena semua barang miliknya kan ada disana, terutama baju ganti. Perlahan Alenta menjalankan kakinya, tapi karena dia lihat tidak ada orang, Alenta meregangkan kedua kakinya lebar-lebar menuju kamar mandi seperti robot berjalan tanpa busana.
" Memang benar-benar seperti singa jantan! Badanku seperti macan tutul begini! " Kesal Alenta mendapati banyak sekali tanda merah karena ulah Nick. Di leher, dagu, pundak, dada, bagian benda kembarnya, perut, paha, bagian itu juga! Belakang juga ada! Hoh! Apa mulut Nick tidak kram membuat sebanyak itu?!
Alenta keluar dari kamar dengan jubah mandi, lengkap juga dengan handuk yang melilit rambutnya yang basah. Perlahan dia berjalan untuk sebentar duduk di tepian ranjang. Benar-benar sih, kenapa juga rasa perihnya masih belum hilang?
" Sayang? " Nick tersenyum seraya berjalan menuju Alenta, ada sebuah nampan yang berisi nasi goreng lengkap dengan telur ceplok, sosis, acar, juga kerupuk udang di pinggirnya. Tak hanya itu, teh manis hangat juga ada disana.
" Bos, kenapa bawa makanan kesini? " Tanya Alenta bingung.
Nick tersenyum seraya duduk disebelah Alenta, lalu meletakan nampan berisi makanan di sampingnya.
" Sarapan disini saja, Ayah bilang supaya kita istirahat saja dulu dirumah. Besok baru mulai bekerja lagi. "
Alenta mengeryit menerka di dalam hati. Kenapa? Padahal Ayah mertuanya itu sangat tahu kalau Alenta sama sekali tidak membuang waktu untuk berlibur santai begini.
" Semalam apa Ibu kemari? " Tanya Alenta.
" Kata Bibi tidak ada yang kemari. " Jawab Nick yang sebenarnya tidak bertanya apa-apa kepada pembantunya, dia hanya meminta pembantu untuk membuatkan nasi goreng dan dia membuat teh untuk Alenta.
__ADS_1
" Aneh. " Ujar Alenta masih tak percaya.
" Sudah lah, ini sarapan dulu. Nanti bau lanjut istirahat lagi. Semalam sudah membuatmu lelah, maaf ya? "
Hah? Alenta terperangah heran melihat cara Nick meminta maaf padanya. Bagaimana bisa orang meminta maaf dengan senyum aneh seperti mengisyaratkan bahwa sebentar lagi akan melakukan kesalahan itu.
" Ngomong-ngomong, semalam aku ingin mengatakan sesuatu padamu tapi lupa karena terlalu bersemangat untuk melakukan itu. "
" Ada apa? "
" Alenta, semalam itu mu berdarah. "
Alenta melotot kaget.
" Aku kan baru datang bulan seminggu yang lalu, aneh! "
" Bukan begitu, tapi sepertinya waktu itu kita tida melakukan apa-apa, jadi kau sebenarnya masih orisinil. "
Sebentar Alenta terdiam untuk berpikir, kalau di ingat-ingat memang agak tidak masuk akal sih, masa iya mabuk sampai lupa ingatan seperti itu, tapi bagaimana ceritanya dia dan Nick bisa berada di ranjang yang sama tanpa busana.
" Kalau begitu, kenapa juga kita menikah? " Ujar Alenta yang sukses membuat mata Nick membelakak kaget.
" Alenta, maksudnya kau menyesal menikah denganku? "
Alenta melirik ke arah Nick sebentar, mengedipkan kedua matanya beberapa kali sembari berpikir. Kalau bisa diulang sih, maunya tidak terikat dengan pernikahan, bebas tanpa batas seperti seekor burung, Eh! Burung juga kan pasti akan memiliki pasangan dan bertelur kan? Memang sih, untuk apa juga menyesal kalau sudah sejauh ini hubungan mereka.
" Yah, sedikit lah Bos. " Ucap Alenta enggan untuk menatap Nick yang terlihat sebal.
" Alenta, sarapannya nanti saja ya? Sepertinya kau masih punya banyak tenaga, jadi sembari menunggu tenaga mu berkurang, bikin anak dulu supaya cepat jadi, sehingga kau tidak punya alasan untuk kabur dariku. "
Alenta tercekat tak bicara karena Nick sudah bangkit dan merentangkan tangan bersiap untuk menerkamnya dengan buas.
__ADS_1
" Bos! "
Masa bodoh! Pokonya harus buat anak sesering mungkin supaya cepat ada anak jadi Alenta tidak akan memiliki pemikiran kabur dari nya. Baik, sepertinya mulai sekarang buat anaknya harus dua jam sekali deh, lebih sering lebih bagus kan? Eh, benar atau salah ya?
" Bos, menyingkir atau aku tendang cucung mu! " Ancam Alenta menahan tubuh Nick yang sudah akan menyergap dirinya.
" Kalau kau menendang tongkat ajaib nan sakti ini, masa depan kita hancur, Alenta. "
" Minggir! Atau aku tidak akan mau tidur denganmu lagi. "
Nick nampak lemas, dengan segera di bangkit menjauhi Alenta.
" Ya sudahlah, aku keluar dulu ya? Mau cari perempuan yang bisa di ajak- "
Belum selesai Nick bicara, Alenta sudah meraih kerah belakang Nick dan menariknya kembali menjauhi pintu. Tentu saja senyum penuh kemenangan terbit bersinar indah di wajahnya. Ah, bikin anak lagi! Yes! Kamu kamu orang telan saja ludah banyak-banyak, kami mau ewita dulu, hehe.....
***
" Asisten Maudi, kak Alenta dimana? " Tanya Talita yang sebenarnya hanya bosa-basi saja.
" Alenta cuti tiga hari ini. " Jawab Maudi tak menghentikan langkahnya yang sudah akan sampai ke lobby.
" Oh begitu, ngomong-ngomong Bos Nick sudah lama sekali perginya ya? "
" Dia nanti juga muncul kalau Alenta muncul. " Jawab Maudi cuek.
Deg!
Talita terdiam menatap Maudi yang terus berjalan meninggalkannya yang terdiam disana.
Bersambung.
__ADS_1