
Reiner, itu adalah nama pria yang telah menolong Talita. Pada awalnya sungguh Talita tidak perduli, tapi karena ada seorang pria baru muncul, dan menyebut nama pria itu dengan sopan, Tuan Reiner. Entah dari mana, tali sepertinya nama itu tidak asing, tapi Talita juga tak mau memikirkannya.
Tak mengatakan terimakasih telah diselamatkan, dia justru pergi dengan wajah kecewa dan marah yang tak bisa untuk dia tahan. Tidak apa-apa gagal mati hari ini, toh masih ada hari esok, dan esok lagi nanti. Sebenarnya bunuh diri bukanlah tindakan untuk melarikan diri, hanya saja Talita merasa semua masalah itu akan berhenti saat dia mati, dan berhenti pula dia terus menekan dirinya sendiri untuk membahagiakan orang lain.
Talita berjalan dengan tatapan kosong setelah berapa saat lalu nampak kesal dan kecewa karena keinginannya untu mati tak terlaksana. Sudah dua puluh menit, mungkin saja juga lebih, Talita terus berjalan tanpa alas kaki, matanya juga tak henti-hentinya menitihkan air mata. Berat, sungguh angkat berat jalan hidup yang ia lalui selama ini. Haruskah dia kembali ke kehidupan sebelumya dan menghadapi saja keluarganya? Jika tidak, kemana kakinya harus melangkah saat ini? Adakah orang yang perduli akan hal ini? Tidak! Tidak ada!
" Dimana kau tinggal? Biarkan aku mengantarmu sampai ke rumahmu. "
Talita menoleh ke arah sebuah mobil yang kini berhenti disampingnya. Kaca mobil itu turun hingga munculah wajah pria yang beberapa saat lalu menggagalkan percobaan bunuh dirinya.
Talita tak menjawab, dia kembali melajukan langkahnya dan mengacuhkan saja Reiner seolah tak perduli dengan tawarannya.
" Benar-benar luar biasa! Aku tidak menyangka kalau akan ada masanya juga aku bertemu dengan gadis yang mirip seperti Alenta. " Gerutunya saat Talita beranjak pergi dengan wajah dinginnya.
***
__ADS_1
Nick, pria dua puluh delapan tahun itu nampaknya semakin di mabuk asmara. Bagaimana tidak? Media sosial milik ya dipenuhi photo-photo Alenta, dan memamerkan momen mereka bersama. Mulai dari bangun tidur, sampai akan bangun tidur kerjaan Nick hanya pamer kemesraan dengan Alenta.
Hari ini, Nick juga dengan semangat menemui Mr Zerg bersama Alenta, Maudi, dan juga Dimas. Dengan percaya diri Nick merangkul Alenta dengan mesra, terus menggenggam erat tangan Alenta saat Mr Zerg terus mengeryit menatap bingung kedekatan Alenta dan Nick. Dia pikir hubungan Nick dan Alenta hanyalah gosip semata, tapi melihat sendiri bagaimana Nick seperti ingin menunjukkan bahwa Alenta hanya miliknya, tak dipungkiri dia mulai merasa yakin jika hubungan mereka memang sungguh real adanya.
" Sayang, dingin tidak? " Nick memeluk Alenta karena hembusan angin yang terlalu kencang, bahkan bukan hanya rambut Alenta saja yang bergerak, tapi baju Alenta juga berterbangan.
" Berhentilah menempel seperti ini, apa kau tidak malu? "
Sebenarnya Alenta agak bingung dengan Nick pada awalnya, tapi karena sadar benar ada Mr Zerg yang sedari tadi terus menatapnya, Nick pasti sengaja ingin memamerkan hubungan sesungguhnya untuk memperingati Mr Zerg yang terus menatap Alenta penuh cinta.
" Sayang, nanti kalau sudah di kantor aku tidak akan lagi menempel kok, sumpah deh! "
Maudi dan Dimas, sepasang manusia yang setiap saat bisa di anggap mahkluk halus tak terlihat itu kadang hanya bisa berpura-pura saja tidak melihat kemesraan yang diluar akal sehat mereka. Ini sudah hampir satu bulan setelah hubungan mereka di umumkan kepada publik, tapi yang dirasakan keduanya hanyalah kekesalan tak berujung. Sebentar bilang ingin membahas dokumen penting hanya dengan Alenta, tapi saat keluar penampilan keduanya akan terlihat agak berantakan, dan anehnya mereka berdua benar-benar tidak terlihat telah terjadi apapun, setelah itu juga mereka bekerja lebih serius dari sebelumnya.
" Dimas, kakiku lemas. " Ujar Maudi dengan tatapan melas.
__ADS_1
" kalau boleh jujur, sebenarnya aku mulai tidak tahan dan muak dengan sikap Bos Nick. Mereka yang mesra tapi jantungku yang berdebar setiap kali melihatnya. "
Maudi mengangguk seraya menelan salivanya sendiri. Memang kalau dipikir-pikir setelah hubungan pernikahan mereka di umumkan, Bos Nick seperti memiliki kepribadian ganda. Dia akan menjadi sangat dingin kepada para pegawai, terlebih para pegawai yang amat menyukai bergosip. Dan semenjak itu tidak ada satupun ruang chat yang digunakan para pegawai untuk bergunjing. Belum lagi sekarang Bos Nick sangat tegas, dan sangat kompeten hingga mau mengatai dia raja bucin se-angkasaraya pun Maudi tidak mampu melakukannya.
***
Ibu Rahayu terdiam dengan pemikirannya sedari tadi sembari menatap ke arah halaman rumahnya. Dia merasa sepi, karena rumah yang biasanya akan ramai dengan suara gelak tawa Talita dan anak bungsunya saat bermain menggema memenuhi rumah, sekarang tidak ada lagi hal seperti itu. Talita semakin hari menjadi semakin dingin, bukan hanya mimiknya saja, tapi cara dia menatap, berbicara, bahkan saat dia bernafas pun seperti sangat berbeda dari Talita yang dia kenal dulu.
Suaminya Tuan Baskoro, dia yang tadinya akan mencairkan suasana dan membuat hangat keluarga kecilnya juga lebih sering terdiam di kamar. Entah akan jadi seperti apa rumah yang seperti itu, tapi sebagai seorang Ibu dan seorang istri, bukan salahnya jika merindukan kehangatan di tempat dia tinggal bersama dengan keluarga kecilnya.
" Ibu, ini gaji bulanan ku. " Ucap Talita seraya meletakkan sebuah amplop coklat berisi uang gaji bulanan nya. Masih sama seperti sebelumnya, wajah Talita masih saja tetap dingin tak terlihat sedikitpun keramahan khas Talita yang dulu.
Ibu Rahayu segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Talita. Dia menatap Talita yang diam tak bicara.
" Talita, jika kau marah pada Ibu, maka lampiaskan saja. Tidak masalah jika kau ingin memaki Ibu, memukul Ibu juga akan Ibu terima. Tapi jangan diamkan Ibu, rumah ini sudah sangat aneh sekarang, rumah ini seperti tidak berpenghuni, nak. "
__ADS_1
" Maaf, Ibu. Aku tidak ingin memaki, tidak ingin memukul. Ini bukan salah Ibu, ini adalah salahku yang terlaku bodoh, ini salahku karena aku tetap hidup dengan tidak tahu malu. Ibu, jika aku boleh meminta sesuatu pada Ibu, maka permintaanku hanyalah satu, Ibu. Berhentilah memaksakan segalanya hanya untuk memuaskan keinginan Ibu, aku, Ayah, kami semua lelah Ibu. Sama seperti Ayah, aku juga sudah tidak ingin hidup lagi, jadi berhentilah melakukan apa yang sebenarnya tidak kami butuhkan. "
Bersambung.