
Alenta tersenyum sembari melipat kedua lengannya. Rupanya sedari tadi Rebecca belum menyadari ada ya Alenta disana. Heh! Biarkan saja dulu Rebecca bermanja-manja disana, toh sebentar lagi dia tidak akan bisa melakukannya. Oh, sepertinya setelah ini juga dia tidak akan lagi datang ke kantor deh.
" Rebecca, tolong jangan terlalu menempel dong! Kita kan sudah putus. " Ujar Nick seraya menjauhkan tubuh Rebecca yang melekat seperti lem perekat.
" Putus kita tidak sah! Kan aku tidak setuju! " Rebecca kini malah semakin memeluk erat-erat lengan Nick dan mencoba menjatuhkan kepalanya disana untuk bermanja-manja. Sementara Nick, dia terus mendorong kepala Rebecca agar tak bergelayut dan membuatnya pusing. Pusing, kalau saja Alenta jadi semakin tidak mau dengannya, kan bisa gagal total cita-cita punya anak dengan Alenta.
" Setuju atau tidak, bagiku kita sudah tidak punya hubungan lagi! " Kesal Nick dengan sedikit kasar menepis tangan Rebecca, lalu menjauhkan tubuhnya dan duduk di kursinya.
" Babe, kita sudah sering melakukan itu, bagaimana bisa kau bicara seolah-olah aku tidak berati apa-apa. Kau mana boleh lepas tanggung jawab dan meninggalkanku begitu saja? "
Nick menghela nafas sebalnya.
" Rebecca, dulu saat kau mendekatiku, dan mengatakan jatuh cinta denganku, kau bahkan masih memiliki pasangan. Kau ingat benar berapa kali aku menolak mu waktu itu kan? Lagi pula, saat kita melakukannya, aku tahu benar bukan hanya aku seorang pria yang sudah tidur dengan mu. Jangan lupa juga, aku selalu menggunakan pengaman jadi jangan bersikap seolah-olah kau adalah seorang gadis yang aku tinggalkan saat sedang hamil. "
" Wah, seru juga ya perjalanan cinta kalian? " Sela Alenta lalu terkekeh setelahnya. Sungguh diluar dugaan, ternyata orang pertama yang mendekati adalah Rebecca, yang mengatakan cinta berkali-kali juga Rebecca, bahkan sampa ditolak juga sebelumnya. Hah! Benar-benar membuat bibir tak bisa berhenti tersenyum menahan tawa karena ternyata Rebecca itu sangat agresif sekali ya?
" Alenta? Kenapa kau ada disini? " Rebecca menatap kesal, tapi sejujurnya dia sangat malu karena Alenta harus mendengar cerita lama yang sudah pasti akan membuat orang membatin heran padanya.
" Saya ada disini ya karena saya bekerja disini, tapi saya jadi penasaran deh, kok Nona Rebecca ada disini? Memang ada keperluan apa? Bukannya akses untuk Nona Rebecca keluar masuk degan lancar sudah di tutup? "
Rebecca menatap sebal Alenta yang kini berjalan menuju ke arahnya. Tak mau kehilangan kesempatan, Rebecca segera berjalan menuju Nick lalu berdiri di samping Nick tengah duduk di kursinya.
" Alenta, jangan karen aku menikah dengan Nick kau bisa sembarangan bicara. Kau ingat terakhir kali aku menamparmu kan? " Rebecca menatap dengan maksud mengancam, takut? Boro-boro merasa takut, yang ada tangan Alenta semakin gatal ingin memberikan sedikit sentuhan di pipi Rebecca.
" Aduh, ingat aku ingat sekali! Aku jadi takut nih, tapi juga harus menunggu dokumen selesai baru akan keluar. " Alenta tersenyum manis seperti biasanya, ah! Maksudnya senyum palsu yang biasa ia tunjukkan kepada orang yang tidak ia sukai.
" Bos, mau teh hangat tidak? Takutnya Bos ingin mengobrol lama, jadi aku buat ya? "
__ADS_1
" Tidak usah, Alenta! Kita kan seharian ini sudah minum teh berkali-kali, kalau minum teh lagi bisa-bisa aku ngompol nanti malam. " Ujar Nick yang sebenarnya asal bicara saja, ditambah dia juga tidak ingin Alenta pergi dan salah paham dengan apa yang dia dan Rebecca lakukan nanti. Padahal sih, Alenta juga masa bodoh tentang itu.
" Oh begitu ya Bos? Oke lah. " Alenta tersenyum, sementara Nick, pria itu berpura-pura saja sibuk bekerja agar tak lagi mendengarkan rengekan Rebecca yang membuatnya pusing. Sial! Memang Rebecca tahu dimana kelemahannya, tangan nakal Rebecca justru mengelus paha Nick, dan hampir saja sampai ke bagian tongkat ajaibnya kalau saja Alenta tidak bersuara.
Plak Plak
Alenta menepuk-nepuk udara seperti tengah menangkap nyamuk, dan itu sukses membuat Rebecca berhenti sejenak.
" Nyamuk disini benar-benar sangat aktif sekali ya? "
Tahu, tahu sekali malah kalau kata-kata itu untuk menyindir Rebecca. Tapi ya mau bagaimana lagi kalau yang disindir justru tidak menyadari sindiran itu, dan malah kembali melanjutkan tangannya, dia juga sudah membungkuk menyesuaikan posisinya sejajar dengan Nick seolah-olah dia tengah melihat pekerjaan Nick, padahal tangannya lagi-lagi menjalar menuju benda pusaka paling berharga milik Nick.
Nick, pria itu menatap Alenta seolah minta tolong karena tidak tahan lagi. Tentu sebagai pria dia jelas merasakan keinginan kalau diraba seperti itu, tapi akal sehatnya mengatakan bahwa tidak boleh! Pokoknya cuma boleh kikuk kikuk dengan Alenta!
Alenta tersenyum, pas sekali posisi wajah mereka berdampingan seperti itu.
" Aduh, Bos ada nyamuk di wajahmu! " Alenta mengangkat tangannya, kalau melihat dari ekspresinya barusan, jelas lah Lantai sudah mengumpulkan banyak energi disana, dan bisa jadi tidak bisa berbalik kepalanya, maka dengan segera Nick memundurkan wajahnya sebelum tangan Alenta mendarat di pipinya.
" Ah! " Pekik Rebecca, lalu degan cepat bangkit dari posisinya.
" Alenta! " Rebecca melotot marah, bahkan kedua bola matanya benar-benar terlihat merah ingin menangis, heh! Tamparannya itu bisa dibilang tiga kali lebih kuat dari tamparan yang dia dapatkan dari Rebecca tempo hari.
Alenta berpura-pura terlihat kaget, dia menutup mulutnya yang menganga persisi seperti orang yang terkejut.
" Nona Rebecca, aku benar-benar minta maaf! Aku tidak sengaja! Tadi itu aku benar-benar melihat nyamuk di wajah Bos, tapi Bos malah menghindar jadi Nona Rebecca yang kena deh. "
" Alenta! Mana ada menepuk nyamuk sekuat ini! Ah, sakit! " Pekik Rebecca saat merasakan perih dan ngilu ketika dia membuka mulutnya untuk berteriak.
__ADS_1
" Aduh! Maaf, maaf, Nona Rebecca. Bagaimana kalau aku antar kerumah sakit saja? " Alenta menyentuh lengan Rebecca dengan tatapan khawatir.
Belum selesai, sekali lagi ya?
Nick menelan salivanya sendiri, dengan perasaan takut dia memegangi tongkat ajaibnya yang seperti ingin kencing rasanya melihat Alenta menampar dengan begitu kuat. Kalau melihat mata Rebecca merah sekali, pipinya juga langsung bengkak begitu, ah! Pasti sangat meyakinkan ya?
Semoga tongkat ajaibku aman-aman saja, apa kikuk kikuknya tunggu Alenta yang minta saja ya? Hah! Kalau aku paksa, bisa-bisa buntung cucungku!
" Alenta, aku tidak akan menerima ini! Aku akan membalasnya nanti. "
Alenta tersenyum manis.
" Baik, saya akan menunggu kedatangan Nona Rebecca. Tapi yang tadi itu saya tidak sengaja, tidak tahu bagaimana kalau saya memakai persiapan matang ya? "
Rebecca menelan salivanya sendiri. Alamak, tidak sengaja saja tamparannya sudah membuatnya sulit membuka mulut, apakah kalau Alenta sudah menggunakan tenaga sungguh-sungguh dia akan sanggup menerima tamparan itu? Hah? Kalau kepalanya putus bagaimana bisa?
" A aku mau pulang dulu! " Rebecca meraih tasnya, lalu bergegas untuk keluar.
" Biarkan saya membuka pintunya, Nona Rebecca! " Alenta sengaja menunggu Rebecca hingga dekat pintu, lalu segera mengambil arah handle pintu dan membukanya dengan kuat.
Dug!
" Ah! " Pekik lagi Rebecca karena dahinya terbentur pintu yang tiba-tiba dibuka oleh Alenta.
" Alenta! "
" Selamat sore, semoga hari anda menyenangkan, dan semoga anda tidak datang lagi. " Alenta mendorong keluar Rebecca lalu menutupnya dengan wajah tersenyum seolah tanpa dosa.
__ADS_1
Nick lagi-lagi menelan ludahnya dan semakin erat memegangi miliknya.
Bersambung.