My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Menantu Yang Selalu Salah


__ADS_3

Ibu Tina menggerakkan kakinya perlahan dengan sudah payah. Sudah satu bulan sakitnya makin parah, mulai dari tekanan darahnya yang naik, kolestrol dan juga gula darahnya ikut naik. Untuk hitungan orang tua Ibu Tina bisa dibilang bandel dan susah diberi tahu. Selera makannya yang sulit untuk di atur pada akhirnya membuat sakitnya semakin parah. Dengan alasan tidak bisa menelan makanan kalau yang di makan hanya rebusan sayuran, buah, dan gandum, dia selalu memaki menantu perempuannya, atau istri dari Tuan Abimana yang memang tinggal disana untuk membantu suaminya menjaga Ibu Tina sekaligus menyiapkan menu makanan untuknya.


Bukan sekali dua kali memarahi dengan kasar, sehingga istri dari Tuan Abimana kerap kali menangis karena tak tahan. Sebagai seorang menantu yang tinggal di rumah mertuanya dengan alasan ekonomi tentu harus siap dengan batik yang akan terus tersiksa bukan? Meskipun tahu kalau itu akan terjadi, tetap saja rasanya sangat menyakitkan saat dijalani secara langsung. Ini sudah entah berapa kali Istri Tuan Abimana meminta untuk pindah dari rumah Ibu Tina. Sebagai seorang suami tentu ini menjadi dilema berat baginya. Jika menuruti istrinya, bagaimana Ibunya akan hidup saat sakit-sakitan seorang diri? Kalau menuruti Ibunya, dia juga tidak tega dengan istrinya yang hampir tak pernah terlihat tenang.


" Lastri! " Panggil Ibu Tina setelah dia berhasil keluar dari kamarnya. Ini sudah hampir siang, tapi makanan belum juga di antar ke kamarnya, jadi Ibu Tina ingin mencari Lastri dan memarahinya karena berpikir jika Lastri tidak mau melayaninya lagi.


" Iya Bu? " Ibu Lastri berjalan cepat menghampiri Ibu Tina, meraih lengannya membantu Ibu Tina agar tidak kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


" Apa kau tidak lihat sekarang jam berapa?! Aku belum makan apa kau lupa?! "


Ibu Lastri terdiam sebentar.


" Dasar menantu tidak tahu di untung! Sudah bagus aku mengijinkan mu tinggal di rumahku secara gratis. Bukanya melakukan tugas menantu yang benar, malah asik melamun di dapur! "


" Ibu, di dapur tidak ada makanan yang Ibu suka untuk di olah. Daging, ayam, juga ikan kan mahal, mas Abimana sudah tidak punya uang untuk membeli itu. Aku sudah memasak sayur kacang panjang, ada goreng tahu dan tempe, tapi aku belum berani memberikannya pada Ibu. "


Ibu Tina menepis tangan Ibu Lastri, sialnya Ibu Lastri yang kurang keseimbangan kemudian terjatuh, lalu pelipisnya terbentuk sudut meja makan.


" Ah! " Pekik Ibu Lastri sembari memegangi pelipisnya.


" Ibu! " Anak dari Ibu Lastri berlari menghampiri Ibunya. Gadis berusia delapan belas tahun itu menangis pilu melihat darah Ibunya keluar dari kulit pelipis yang robek. Dia ingin menatap marah kepada sang nenek, tapi wanita tua itu selalu menakutkan hingga dia tidak sedetikpun berani menunjukkan kemarahannya.


" Cuma begitu saja sudah jatuh, kau sengaja menjatuhkan diri supaya Abimana marak padaku ya?! "


Ibu Lastri bangkit dari posisinya di bantu oleh sang putri. Dia yang sudah tidak tahan lagi akhirnya menatap tajam Ibu Tina. Sudah cukup, selama ini dia hanya bisa diam dan menangis saja saat di maki, di sindir, bahkan bukan juga sekali dua kali dia melihat putri satu-satunya di bentak dengan alasan yang tidak jelas.


" Ibu, sudah cukup! Aku sudah sangat lelah terus menerima makian yang tidak pantas setiap waktu. Sebenarnya apa salahku sehingga perlakuan Ibu mertua sangat jahat padaku? Padahal Ibu bisa begitu baik kepada Rahayu, tapi kenapa denganku yang sudah sebisa mungkin melayani dan memenuhi keinginan Ibu tidak bisa sedikit saja di perlakukan dengan pantas. "


" Itu karena mau sangat lambat, kau juga tidak hanya lulusan sekolah dasar jadi kau tidak cekatan. "


" Nenek, kualitas seseorang mana bisa ditentukan hanya karena pendidikan?! Kalau nenek menganggap Ibu ku seperti itu, aku tidak terima! " Protes anaknya Ibu Lastri.


" Kau anak kecil! Tidak tahu apa-apa jangan ikut campur! "

__ADS_1


Putrinya Ibu Lastri menangis karena tak tahan lagi.


" Ibu, ayo kita pergi dari sini saja ya? Kita tinggal dengan paman dan bibi saja dulu, aku tidak tahan lagi. "


Ibu Lastri menyeka air mata putrinya dengan sebelah tangannya, dia mengangguk sembari menangis.


" Iya, kita pergi nak. "


Ibu Tina memandangi menantu dan cucunya yang pergi dari rumah itu tanpa membawa apapun. Ada rasa menyesal yang tak bisa dia sampaikan, padahal itu juga adalah salahnya yang terlalu pemilih makanan.


Tak lama Tuan Abimana pulang kerumah dengan satu kantung plastik di tangannya.


" Bu? Ibu makan dengan itu saja mau? " Tanya Tuan Abimana yang heran melihat Ibunya memakan makanan yang sederhana.


" Istrimu tidak memberikan Ibu sarapan tadi, jadi mau tidak mau makan ini saja terpaksa. Ibu tidak tahan dengan rasa lapar. "


Tuan Abimana menghela nafasnya.


" Ini, Bu. Aku beli satu ayam goreng untuk Ibu. " Tuan Abimana menggeser kantung plastik bersisi Ayah goreng kepada Ibunya.


" Iya. "


" Kenapa? "


Tuan Abimana menghela nafasnya lagi.


" Karena cuma Ibu yang tidak bisa makan tanpa lauk hewani kan? Kalau kami bertiga memang makannya sederhana seperti ini setiap hari. "


Ibu Tina terdiam tak bisa bicara. Kalau di ingat lagi memang benar juga sih, tempo hari Abimana membeli satu kilo ikan basah yang khusus hanya untuk dia makan saja.


" Dimana Lastri dan Kinan Bu? "


Ibu Tina menelan salivanya.

__ADS_1


" Bu? Kok diam saja? "


" Mereka pergi. "


" Apa?! "


Tuan Abimana menatap Ibu Lastri dengan mata membelakak kaget.


" Pergi kemana? "


" Tidak tahu. "


Merasa tidak percaya dengan Ibunya, Tuan Abimana ingin melangkahkan kaki untuk mecari istri juga anaknya. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, dia minat setetes darah di lantai yang jelas sekali kalau darah itu masih baru.


" Ibu, darah siapa ini? "


Ibu Tina terdiam tidak berani menjawab.


" Ibu? Tolong jawab, Ibu! "


" Itu bukan salahku, Abimana! Istrimu saja yang tidak hati-hati jadi pelipisnya terbentur pinggiran lemari. "


Tuan Abimana menatap Ibunya dengan tatapan terkejut juga tak percaya. Dia tahu benar kalau Ibunya sedang berbohong, tapi apakah mungkin Ibunya sekejam itu?


" Ibu, sekali lagi aku tanya, kemana anak dan istriku pergi?! "


" Tidak tahu, Abimana! " Jawab Ibu Tina kesal.


Dengan perasaan sedih Tuan Abimana berjalan keluar untuk menyusul istrinya, siapa tahu belum terlalu jauh pergi.


" Abi! Abimana! Tunggu! " Ibu Tina dengan susah payah menjalankan kakinya, tapi tentu saja tidak secuil pun bisa mengimbangi Tuan Abimana yang gesit berlari.


" Aduh! " Ibu Tina jatuh tersungkur, ingin bangkit lagi tapi dia tidak bisa, meminta tolong tapi gak ada yang datang menolong.

__ADS_1


" Aduh sakit! Kakiku tidak bisa bergerak. " Rintih Ibu Tina mengusap kakinya sembari menangis. Cukup lama dia berada di posisi itu, hingga dia tidak tahan lagi dan pingsan.


Bersambung.


__ADS_2