My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Satu Tujuan


__ADS_3

Nick terdiam tanpa bicara melihat bagaimana Arkan dan Alenta yang terlihat begitu akur. Sangat aneh bagi Nick karena merasa kesal tidak jelas seperti ini hanya karena Alenta dan Arkan saling bergandengan tangan, saling tersenyum dengan lembut, bahkan Nick juga merasakan hal yang tidak biasa saat Arkan terus mengelus kepala Alenta. Entah itu kesal karena di merasa cemburu dengan sikap Arkan yang jauh berbeda dengan Rebecca?, huh! Kalau mengingat-ingat bagiamana marah dan ocehan Rebecca, dia jadi merasa sebal dibuatnya. Apakah tidak bisa bersikap seperti Arlan yang yang pengertian saat dia beralasan tadi? Eh! Apakah malah Arkan itu bodoh sampai bisa sebodoh itu dan percaya saja dengan apa yang dikatakan Alenta tadi.


" Cih! Enak saja pamer kemesraan di depanku terus menerus. Sudah ya! Jangan pikir kalau kalian akan bahagia dengan waktu yang lama. " Gumam Nick, lalu tersenyum miring seraya bangkit mendekati Alenta dan Arkan yang kini tengah menikmati eskrim mangga kesukaan mereka.


" Bos? Ada yang bisa aku bantu? " Arkan tadinya akan bangkit demi menghormati Nick sebagai Bosnya, tapi kagetnya dia saat Alenta menahan pergelangan tangan Arkan, sedikit menariknya agar Arkan kembali duduk di tempat semula. Iya, semua itu dia lakukan ya tentu saja karena dia tahu kalau Nick pasti akan membuat ulah.


" Arkan, di kantor dia memang Bos, kalau diluar panggil saja namanya, menggunakan bahasa santuy juga bisa, iya kan, Nick? " Alenta tersenyum menatap Nick yang kini sudah duduk di hadapannya dengan terlihat sedikit kesal hingga sisi bibir sebelahnya sedikit naik.


Alenta, jika saja di dunia ini hanya kau betinanya dan satu lalat betina, aku sungguh akan memilih lalat betina di bandingkan dengan wanita jahanam sepertimu.


Nick memaksakan senyumnya, lalu menggerakkan tangan seolah santai saja dan dia tidak menganggap gelar Bosnya itu ada. Padahal sih, dia maunya panggilan Bos melekat padanya bahkan saat dia nongkrong di kubangan sekalipun.


" Benar apa yang dikatakan Alenta, santai saja, dan duduk dengan nyaman. Aku kesini karena bosan saja menunggu Rebecca datang. Yah maklum saja, Rebecca itu sangat feminim dan mementingkan sekali penampilan, jadi butuh waktu yang lama untuk bersiap. " Nick melebarkan senyumnya seolah begitu bangga dengan Rebecca sebagai kekasihnya.


" Ah, begitu ya Bos? " Arkan tersenyum untuk menanggapi ucapan Bosnya yang jelas dia tahu kemana arah bicara pria itu setelah dia melihat mata Bosnya melirik beberapa detik kepada Alenta yang saat itu sibuk menyedot jus mangga miliknya seolah tak tertarik dengan ucapan Bosnya itu.


" Ngomong-ngomong sudah berapa lama kalian menjalin hubungan? " Tanya Nick, duh! Tapi sebenarnya dia menyesal loh bertanya hal yang beginian. Bukankah sama saja seperti menunjukkan kepada Alenta dan Arkan kalau dia memperdulikan mereka? Mereka? Malah takutnya Alenta yang dituduhkan padanya.

__ADS_1


Arkan tersenyum, lalu merangkul pundak Alenta yamg kini menatapnya sembari tersenyum dengan manis.


" Satu tahun empat bulan Bos. Saya berharap, hubungan kami akan sampai ke tahap pernikahan, lalu memiliki anak-anak yang lucu. "


Ah.....! Sialan! Pernikahan?! Anak-anak?! Kenapa sih kata-kata Arkan barusan malah membuat Nick dan Alenta jadi ingat kalau mereka suami istri?! Ternyata banyak berbohong memang cukup ampuh untuk membuat hati tidak tenang.


" Ehem! " Nick menoleh ke arah lain sebentar sembari mengumpat.


Menikah? Anak-anak apanya? Kalau kau tahu Alenta adalah istriku, bisa-bisa kejang semua gigimu, lalu lari dari gusi mu!


" Iya. " Jawab Alenta sebisa mungkin agar tidak gugup. Bagaimana mungkin Alenta tidak menginginkan pernikahan dengan seorang laki-laki yang begitu mencintainya, dan memperlakukannya bak tuan putri? Tapi sayangnya niat itu harus di tunda terlebih dulu setidaknya sampai urusan pernikahannya dengan Nick diselesaikan sebelum Arkan mengetahuinya suatu hari nanti.


Nick, pria itu nampak sebal terlihat dari lirikan matanya yang sinis serta bibirnya yang menjebik spontan.


" Menurutku, laki-laki lemah lembut sepertimu akan lebih baik kalau menikah dengan wanita yang feminim, juga manja. Alenta yang seperti ini, aku rasa kurang cocok denganmu. "


Alenta menatap marah dengan bibir tergerak komat kamit entah apa itu tak jelas. Sementara Nick, pria itu malah tersenyum seolah puas dengan apa yang di katakan.

__ADS_1


" Jadi aku terlihat lemah lembut ya Bos? Syukurlah kalau begitu, karena aku hanya bisa memperlakukan Alenta dengan cara itu. Kalau saja itu wanita lain, mungkin aku tidak akan bisa berperilaku seperti yang Bos katakan tadi. " Arkan menatap Alenta yang kini tersenyum bahagia padanya, lalu mengusap wajahnya pelan.


Sialan! Apakah Arkan memang naif dan polos? Polos dan bodoh kan agak susah dibedakan, jadi ya kalau sudah akut seperti Arkan ini termasuk bodoh kan? Heh! Nick mengejek di dalam hati.


" Iya kau adalah pria yang baik dan sangat kompeten dalam pekerjaan. Tapi bukankah ada baiknya mencari wanita yang diam dirumah dan menunggu saja suaminya pulang? "


Alenta terdiam dengan hati yang kesal. Iya, bisa saja wanita hanya fokus dengan hubungan rumah tangga, menjadi istri yang selalu ada dirumah dan kesehariannya digunakan untuk menunggu suami pulang, dan mengurus rumah saja. Tapi, bukankah wanita yang bekerja tanpa henti di rumah akan disepelekan laki-laki saat tak bisa memenuhi satu saja keinginan seorang suami? Alenta tahu benar seperti apa, dan bagaimana sesaknya melihat Ibunya menderita bertahun-tahun. Mengurus rumah, suami, anak, mertua, semuanya dia urus seorang diri. Tapi apa yang didapatkan oleh Ibunya sungguh tidak terduga dan pada akhirnya, Ibunya kalah dengan seorang wanita yang hanya sibuk memegang kuas make up dan berstatus karyawan kantoran.


Nick, pria itu boleh saja menganggap kata-katanya adalah hal yang benar. Tapi apakah Nick tidak memahami jika tidak semua orang tumbuh dilingkungan yang harmonis seperti yang selama ini ia rasakan?


" Aku menjalin hubungan dengan Alenta karena aku sungguh menyayangi dan mencintai Alenta. Aku tidak perduli seberapa banyak yang harus aku berikan, juga tidak akan menahan Alenta hanya untuk mengerjakan tugas rumah padahal dia bisa menjadi istri dan wanita karir secara bersamaan. Tidak apa-apa kalau dia sibuk, toh kalau kami menikah kami juga akan pulang kerumah yang sama kan? " Arkan membuka perlahan kepalan tangan Alenta yang begitu kuat hingga gemetar.


" Bos, sekretaris Bos ini adalah wanita yang paling ingin aku bahagiakan selain Ibuku. Jadi apapun yang bisa membuat Alenta bahagia, aku tidak akan keberatan melakukannya. " Arkan tersenyum kepada Alenta yang menahan tangis dengan mata memerah.


Matamu! Sok manis sekali bicaranya! Sekarang boleh saja bicara dengan begitu lembut, nanti kalau sudah menikah juga akan seperti Ayah dan Ibuku yang seperti anjing dan anak monyet!


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2