
Alenta terdiam dengan tatapan mata yang tak biasa melihat Nick dan Rebecca duduk berdampingan di sofa ruang kerja yang biasanya digunakan untuk menerima tamu bisnis. Bukannya cemburu, hanya saja dia merasa sangat membenci kebiasaan buruk Bos dan kekasihnya yang selalu saja memilih kantor untuk mendiskusikan masalah percintaan mereka.
Aleta menghela nafasnya, dia berjalan mendekati meja Nick yang kini kosong karena si pemilik masih saja duduk di sofa sembari menatapnya, begitu juga dengan Rebecca.
Tanpa bicara Alenta meletakkan satu persatu dokumen yang ada ditangannya tadi. Memisahkan menjadi dua bagian, satu untuk di tanda tangani, satu lagi untuk dibaca terlebih dulu karena itu adalah dokumen penting, yah meksipun dia sudah memeriksanya secara teliti sebelum mengantarkan ke ruangan Nick.
" Bos, ini dokumen periklanan, dan yang ini dokumen penting dari kantor cabang. Saya tahu anda sedang sibuk dengan kegiatan pasangan kalian, tapi di jam kantor mohon untuk mengutamakan pekerjaan terlebih dulu. " Ucap Alenta dengan wajah dingin.
" Iya aku tahu! " Nick bangkit dari duduknya, sementara Rebecca masih menatap Alenta dengan tatapan tak terbaca. Ini adalah untuk pertama kali mereka bertemu lagi setelah rahasianya terbongkar. Rasanya sakit, juga tak bisa menerima, tapi tentu perasaan itu hanyalah milik Rebecca, karena Alenta sendiri, dia sama sekali tidak perduli dengan hubungan suami istrinya bersama dengan Nick. Bahkan, dia juga sering lupa kalau dia sudah menikah dengan lelaki yang adalah Bosnya sendiri.
" Ini, sudah selesai! " Tanpa membaca satu kalimat pun dari dokumen itu, Nick dengan cepat menandatanginya, dan menyerahkan kepada Alenta dengan wajah polosnya. Sementara Alenta, gadis itu menatap dokumen yang diserahkan Nick kepadanya tanpa mau menerimanya terlebih dulu.
" Anda sadar dengan apa yang anda lakukan ini, Bos? "
Nick menelan salivanya karena gugup melihat tatapan dingin Alenta. Tidak tahu sedang menstruasi atau apa, tapi semenjak kemarin Alenta memang terlihat garang, yah meskipun biasanya juga garang, tapi sekarang ini dia benar-benar terlihat sangat menakutkan.
Apa dia sedang patah hati dan suasana hatinya menjadi buruk?
" Bos, biarkan saya bertanya sekali lagi, ada sadar dengan apa yang anda lakukan ini? "
Hah?! Anda, saya? Ini sungguhan sih kalau Alenta sedang sangat marah. Tapi apa?! Kalau dia putus cinta kan bukan salah Nick? Kok galak sekali sih, batin Nick.
" Aku kan sudah menandatanginya, memang apanya lagi yang salah dariku? " Nick menatap bingung dengan dahi yang sedikit mengeryit.
Alenta membuang nafas kasarnya, kembali menatap Nick seolah kesal tapi juga harus dia tahan sekuat tenaga.
" Anda tahu bahwa tanda tangan anda adalah arti dari sebuah persetujuan, atau bisa dikatakan iya kan? "
" Tahu sih. " Jawab Nick mengangguk paham.
" Anda adalah pemilik perusahaan, anda adalah pewaris satu-satunya Chloe. Seharusnya anda tidak gegabah dan asal tanda tangan saja sebelum membaca, mencermati, dan menimbang apakah anda perlu menandatangi atau tidak. "
__ADS_1
Nick menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingat sih kalau Alenta sering sekali menasehati Nick agar jangan asal tanda tangan saja, tapi kan Nick pikir kalau Alenta sudah mengeceknya jadi dia tidak perlu lagi membacanya.
" Anu, aku pikir kau sudah mempelajari dokumennya sebelum dibawa padaku, Alenta. "
" Lalu, bagaimana kalau saya menaruh satu dokumen pengalihan seluruh kekayaan anda kepada saya? Jangan lupa, di dunia bisnis tidak ada yang tidak mungkin. Sekarang saya ada di pihak anda, tapi jangan kira kalau saya tidak akan menusuk anda dari belakang, lalu menjadi pihak yang untung. "
Nick panik dan langsung membuka satu persatu dokumen untuk dia baca. Tak cukup satu kali karena merasa takut apa yang dikatakan Alenta benar, Nick bahkan sampai tiga atau empat kali untuk membacanya.
" Untunglah.... " Ucap Nick lega karena tidak ada satupun dokumen yang di katakan Alenta tadi.
" Saya ingatkan sekali lagi, Bos. Jika masih saja anda teledor dan mementingkan hubungan cinta di jam kerja, tolong jangan salahkan saat saya berbicara kasar, dan bertindak tegas. "
" Iya, aku tahu. Maaf deh. "
Alenta kini menatap Rebecca dengan tegas.
" Nona Rebecca, aku tahu kau adalah wanitanya Bos. Tapi mohon untuk mengerti bahwa Bos juga harus menjalankan tugasnya, karena bekerja dengan benar sama artinya menyelamatkan muka pemimpin Chloe sebelumnya, keluarganya, harga dirinya, juga banyak manusia yang selama ini, bahkan ada turun temurun setia bekerja pada Chloe. Mohon untuk mengesampingkan urusan hati anda, tunggu sampai jam kerja selesai, dan setelah itu kalian bisa melakukan apa yang kalian tahan sedari pagi. "
Rebecca tadinya masih ingin diam saja, tapi kata-kata Alenta barusan sungguh-sungguh membuatnya kesal hingga kekesalan, kemarahan, kecemburuan, dan perasaan ingin memberontak sudah tak bisa lagi ia tahan lebih lama. Dengan tatapan tak terima Rebecca bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Alenta dan menamparnya.
" Tutup mulutmu yang sok jagoan itu, Alenta! Kau hanyalah sekretaris, tapi kau selalu menindas Nick yang adalah Bosmu! Sekarang kau begitu bangga karena aku tahu kau sudah menikah dengan Nick lalu bisa mengaturku sesukamu?! Ingat, kalian bisa menikah juga bukan kemauan dari Nick! Kalian akan bercerai secepatnya, jadi jaga bicaramu! "
" Rebecca! " Nick berjalan mendekat, lalu menjauhkan tubuh Rebecca dengan kasar. Kenapa? Itu semua karena dia tidak terima Alenta di tampar, juga dimaki do hadapannya.
" Ah! Babe! "
" Jaga ucapanmu, Rebecca! " Bentak Nick dengan wajah marah yang selama tujuh bulan mereka bersama tak sekalipun wajah itu ditunjukkan oleh Nick. Tapi sekarang, hanya untuk membela Alenta, Nick sama sekali tak ragu-ragu untuk melakukannya.
" Kau ini kenapa, Babe? Kau begitu marah hanya karena aku memberikan pelajaran kepada sekretaris mu? "
Nick menelan salivanya sendiri. Kenapa? Kenapa dia melakukan itu? Dan kenapa juga dia merasa sakit dan tidak terima melihat Alenta hanya diam dibentak dan ditampar seperti tadi?
__ADS_1
" Tentu saja, karena Bos tidak ingin aku mengadu dengan taun Nathan. " Jawab Alenta menyela.
" Nona Rebecca, tamparan anda barusan, akan anda dapatkan kembali suatu hari nanti. " Ucap Alenta dengan wajah datarnya.
Tok Tok
" Maaf mengganggu, tapi tuan Han terus menghubungi karena Alenta tidak menjawab teleponnya. Alenta maaf, tapi tuan Han sudah sangat marah. Sekarang dia bilang akan melayangkan gugatan kalau tidak mendapatkan jawaban dan penjelasan yang sebenarnya. " Ucap Maudi dengan mimik yang tak enak.
" Tuan Han? Kenapa dia marah? " Tanya Nick bingung.
" Itu, dua hari yang lalu saya memberikan dokumen kepada Bos, tapi tahunya saya salah ambil, dan dokumen yang dikirimkan kepada tuan Han, dan sudah ditanda tangani Bos ternyata ada pengetikan nominal yang salah. Pihak tuan Han merasa dirugikan kalau perjanjiannya tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Jadi dia merasa dipermainkan, dan meminta tanggung jawab sesegera mungkin. Alenta sudah menjelaskan tadi pagi dan mencoba menenangkan tuan Han, tapi tetap saja dia masih belum bisa terima. "
Nick terdiam lalu menatap Alenta yang juga terdiam dengan tatapan datarnya.
" Ayo kita selesaikan masalah ini berdua, Maudi. Kita temui tuan Han secara langsung. "
" Tali Alenta, bukannya akan lebih baik kalau pergi dengan Bos juga? "
" Dia tidak punya waktu, bahkan untuk membaca dokumen saja dia tidak bisa. "
Eh? Maudi terdiam kikuk karena jelas sekali Alenta sedang kesal dengan Bos sekarang.
" Eh, pipimu kenapa merah, Alenta? " Tanya Maudi seraya membarengi langkah Alenta yang akan keluar dari ruangan Nick.
" Tertabrak jin. "
" Eh? "
" Babe, aku minta maaf ta- "
Nick menepis lengan Rebecca yang akan melingkar di lengannya.
__ADS_1
" Aku harus pergi, oh ya! Mulai besok tolong jangan datang lagi ke kantor. "
Bersambung.