
" Bos! " Alenta benar-benar tak bisa melanjutkan ucapannya karena Nick sama sekali tak membiarkannya bicara, malah semakin memperdalam ciumannya.
" Bos! " Alenta menahan bibir Nick yang sudah akan kembali menyerang bibirnya.
" Bos, lift kan ada CCTV nya! "
Nick menelan salivanya sendiri, gila! Dia benar-benar lupa karena terlalu semangat saat bersama Alenta, hingga lupa kalau harus mengontrol diri. Tak mau terlalu lama menempel dengan Nick, Alenta dengan buru-buru mendorong Nick hingga jarak mereka bisa dibilang cukup jauh.
" Alenta, sebentar lagi berita pasti akan tersebar. Nick dan Alenta berciuman di lift. " Ujar Nick yang sebenarnya juga sama sekali tidak perduli, toh mereka adalah suami istri, jadi bukan masalah kan?
" Bukan Bos Nick, dan Alenta! Tapi sekretaris Alenta berbuat mesum dengan pria tidak dikenal! "
Nick mengeryit menatap Alenta tanpa melepas kaca mata hitamnya. Ah, benar saja! Dia kan memakai topi, juga kaca mata hitam, kalaupun bagian wajah yang terbuka pasti tidak akan mudah menebak bahwa itu adalah dirinya. Nick menggaruk tengkuknya, lalu kembali mendekati Alenta dan memeluknya.
" Nanti bilang Maudi untuk menghapus rekaman CCTV pagi ini. " Ucap Nick, lalu mengecup singkat pipi Alenta yang kini kembali berada di pelukannya.
" Kenapa tidak memberitahu kalau kembali? " Protes Alenta seraya menjauhkan tangan Nick tapi tak berpengaruh karena Nick malah semakin mempererat pelukannya.
Nick menatap Alenta yang kini juga menatapnya dengan jarak yang begitu dekat, bukan ingin menciumnya, tapi Nick masih ingin melihat wajah Alenta yang dua bulan, hampir tiga bulan tak bisa ia lihat secara langsung. Benar-benar cantik, dan tidak bosan untuk dia pandang selama apapun.
Ting!
Pintu lift terbuka, Nick dan Alenta bergegas untuk keluar.
" Bos, hari ini sudah mau langsung bekerja? " Nick tak menjawab, tapi dia terus tersenyum dan mengikuti langkah kaki Alenta yang kini tengah menuju ruangannya untuk meletakkan tasnya terlebih dulu, batu dia akan ke ruangan Presdir untuk merapihkan dokumen karena kalau OB yang melakukannya pasti akan salah menyusun nantinya. Sebenarnya Alenta tahu kalau Nick mengikutinya, tapi jantungnya yang berdebar kencang tak mengizinkannya menoleh dan menatap Nick sementara ini. Entah bagaimana mendeskripsikan perasaannya, yang jelas dia benar-benar bahagia minat Nick menemuinya, seolah kemarahannya seminggu ini tak ada artinya dan tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan Alenta yang juga sekaligus ruangan Maudi, Alenta masih saja berpura-pura seolah tenang dan tak menganggap keberadaan Nick. Berbeda dengan Nick yang terus tersenyum memandangi tubuh Alenta, bukan ingin melakukan hal mesum, hanya saja lucu sekali melihat Alenta sok tenang padahal dia tadi sempat melihat pipi Alenta merona seperti menahan malu.
" Bos, aku keruangan- " Ucapan Alenta terhenti saat Nick tiba-tiba sudah ada di hadapannya saat dia berbalik karena berniat menghindari Nick dulu dan membereskan ruangan Presdir.
" Alenta, aku tidak tidur semalam karena ingin cepat-cepat pulang dan bertemu denganmu, jadi jangan meninggalkan aku dengan alasan sibuk ya? Maudi kan bisa membereskan ruangan Presdir. "
Alenta menelan salivanya sendiri, gugup? Iya lah! Belum lagi lagi jantung nya benar-benar berdegup sangat kencang. Dia sungguh sangat bahagia karena Nick kembali, tapi dengan sifatnya yang dingin dia tidak mungkin mengekspresikan nya secara langsung dengan memeluk Nick erat-erat sampai mereka jatuh ke lantai, berguling ke sana ke kemari, lalu mencium wajah Nick sebanyak yang dia inginkan kan?
Nick meraih wajah Alenta dan menjalankan untuk ke arah tengkuknya. Sungguh, pada awalnya Nick hanya berniat melihat wajah Alenta dengan jarak yang sangat dekat, tapi menahan diri selama hampir tiga bulan di saat cinta dihatinya sedang berbunga-bunga, maka itu adalah kesulitan yang amat sangat tidak mudah untuk dilalui, jadi jangan salahkan Nick yang sulit mengontrol diri kali mulai sekarang.
" Aku sangat merindukanmu, Alenta. " Ucap Nick, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Alenta dengan lembut. Alenta yang terperdaya dengan perasaannya juga tak mampu berbuat apa-apa karena nyatanya dia juga menginginkan lagi ciuman dari Nick meski terasa agak kasar dan memaksa, tapi entahlah karena perasaan untuk lagi tak bisa ia redam.
Tangan Nick sudah memeluk tubuh Alenta, dan disusul Alenta kini memeluk Nick tanpa sadar dan terus melanjutkan ciuman mereka.
" Aku bisa mati muda kalau begini terus. " Maudi yang lemas kakinya terpaksa berjongkok menunggu mereka yang di dalam selesai berciuman.
" Alenta, kita pergi sarapan dulu yuk? " Ajak Nick setelah mereka cukup puas dengan ciuman pelepas rindu beberapa saat lalu itu.
" Aku tidak bisa Bos, jam kerja sudah akan mulai. " Alenta kini semakin enggan menatap Nick karena dia semakin malu. Tidak tahu apakah setan dalam diri Nick ikut merasukinya, bisa-bisanya dia juga begitu proaktif dan terlihat seperti kelaparan saat ******* bibir Nick tadi.
Nick sebenarnya juga merasa agak malu malu bahagia semacam itu lah, tapi demi bisa mengimbangi Alenta, di harus bersikap agak santai dan tidak semakin membuat Alenta malu. Nick mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, lalu menunjukkan layar ponsel yang sudah menyala.
" Aku sudah minta izin dengan Ayah, dia bilang tidak apa-apa kau absen hari ini. " Nick tersenyum manis seraya menoel dagu Alenta karena masih saja Alenta ingin menghindarinya.
" Begitu ya? " Nick mengangguk dengan bibir yang masih tersenyum.
__ADS_1
" Jadi, hari ini kau adalah milikku seratus persen. Ah, seterunya juga harus begitu. " Nick meraih tangan Alenta, dan menggenggam untuk dia tuntun keluar ruangan.
" Maudi? " Ucap Nick dan Alenta yang terkejut mendapati Maudi berjongkok di depan pintu menatap lantai dengan mimik sedih.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Alenta karena merasa bingung.
" Menghitung bintang. " Jawab Maudi seraya bangkit dari posisinya.
" Kau menghitung bintang atau menghitung debu? "
Maudi menghela nafasnya.
" Selamat bersenang-senang, Sekretaris Alenta, semoga hari anda menyenangkan. " Ucap Maudi lalu menerobos masuk karena tidak sanggup lagi melihat Alenta terlalu lama. Maklum saja, dia juga masih jomblo sampai sekarang ini, maksudnya dia jomblo sejak kecil, jadi melihat adegan ciempok ciempok secara langsung dia terus saja merinding sendiri.
" Maudi, apa dia melihat kita tadi? " Tanya Alenta dengan wajah khawatir.
" Biarkan saja, anggap saja dia sedang belajar cara berciuman dari kita. " Alenta terkejut dengan wajah bengong tak tahu harus bagaimana menatap Maudi sekarang.
Disepanjang perjalanan menuju Lobby, semua mata kini melihat Nick yang tak dikenali, dan juga Alenta yang tengah bergandengan tangan. Termasuk Arkan dan Talita juga melihat itu secara langsung.
Apa itu kekasih kak Alenta yang baru? Batin Talita.
Apa itu Bos Nick? Batin Arkan.
Bersambung.
__ADS_1