
Sekembalinya Alenta, Nick, dan Maudi, mereka langsung kembali ke pekerjaan mereka. Ini sudah akan mendekati waktunya pulang, tapi pekerjaan mereka yang masih menumpuk dan di kejar deadline juga masih harus menahan mereka disana.
Alenta memukul-mukul punggungnya menggunakan kepalan tangan karena merasa begitu pegal seluruh tubuhnya. Sementara Maudi yang bekerja satu ruangan dengan Alenta, fokusnya justru terganggu terus menerus tak seperti biasanya. Matanya selalu saja ingin melihat ke arah jemari Alenta dan memastikan lagi apakah benar atau salah penglihatannya tadi. Brnar-benar tidak bisa di percaya, ternyata cincin Alenta dan Nick sangat mirip seperti cincin pasangan pada umumnya.
Sebentar Maudi menggelengkan kepala untuk mengusir pikirannya karena dia mulai sadar kalau dia sudah membuang banyak waktu, dan membuat pekerjaannya menumpuk.
Tidak apa-apalah, berpikir positif saja, siapa tahu hanya kebetulan, dan lagi Alenta mana mungkin mau menikahi Bos yang sangat tidak kompeten itu? Ditambah lagi Alenta kan masih menjalin hubungan dengan Arkan, pasti cincin itu hanya kebetulan saja, batin Maudi.
" Maudi, aku ingin minum kopi, kau mau sekalian aku buatkan tidak? " Tanya Alenta yang mulai merasa ngantuk, dan membutuhkan kopi untuk mengusir rasa ngantuk itu.
" Aku saja yang buat, Alenta! Kau kan sudah sangat lelah seharian ini. " Ucap Maudi seraya bangkit dari posisi duduknya.
" Tidak apa-apa, aku ingin membuat sendiri, kau duduklah lagi. "
'' Sungguhan nih? "
" Iya, kau duduk saja disini. " Maudi tersenyum lalu mengangguk patuh.
Setelah selesai membuat kopi di pantri, sebenarnya Alenta berniat langsung kembali ke ruangannya. Tapi saat tidak sengaja melihat ke arah kopi yang ia pegang, dia jadi berhenti karena terkejut. Iya, seharian ini dia lupa melepas kembali cincin pernikahannya dengan Nick, dengan segera dia meletakkan dua gelas kopi yang ada ditangannya berniat melepas cincin dari jemarinya. Tapi belum juga terlaksana niatnya, suara Rebecca sudah terdengar jelas di telinganya tengah berbincang dengan seseorang yang ada di teleponnya.
" Tidak, Ibu! Nick pasti akan bersedia menikahi ku kok, jangan menyetujui perjodohan itu ya? Aku tidak mau menikah dengan pria cupu itu! "
Alenta mengeryit sebentar, lalu menghela nafas. Apa-apaan sih?! Sejak kapan juga dia jadi suka menguping seperti ini? Alenta lupa kalau tadi berniat melepas cincin yang melingkar di jarinya, dia kembali meraih dua kopi yang sempat ia letakkan lalu keluar dari pantry.
" Selamat sore, nona Rebecca? " Sapa Alenta saat melewati Rebecca yang masih belum masuk keruangan Nick karena tengah berbicara di telepon.
" Tunggu, Alenta! " Ucap Rebecca, lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Iya, ada apa nona Rebecca? " Alenta mencoba untuk tersenyum sebaik mungkin. Sudahlah, seperti itu juga bagus kan? Ini sudah sore, tidak usah lagi mencari gara-gara karena dia juga sudah sangat lelah hari ini.
__ADS_1
" Bisa buatkan aku teh? Nanti sekalian antar ke ruangan Nick ya? Soalnya ada hal yang harus aku bicarakan, dan membutuhkan waktu agak lama, bisa kan? "
Bisa? gigimu gondrong!
Alenta memaksakan lagi senyumnya meski memaki dengan isian para penghuni kebun binatang. Lelah juga sih berpura-pura, tapi ya mau bagaimana lagi? Jaman sekarang memaki sedikit juga bisa kena sangsi, atau bahkan bisa saja jadi tinggal di bui kan?
" Baik, segera setelah saya meletakkan kopi ini ya? "
" Oke, jangan terlalu lama soalnya aku juga sudah haus."
Benar-benar minta di sedot embun-embunnya! Kau pikir aku ini OB apa?!
Alenta berbalik seraya menarik nafas dalam-dalam karena tetap saja dibuat kesal oleh Rebecca. Tidak tahu lah kenapa, dari awal bertemu Rebecca, Alenta seperti tidak suka. Bukan cemburu sih, hanya saja Alenta merasa kesal setiap kali dia harus bertanggung jawab atas kelalaian Bosnya yang pasti saja gara-gara Rebecca. Dulu, Nick bisa-bisanya memilih untuk menonton film bersama Rebecca dibandingkan dengan meeting penting dan harus merugi sekitar empat miliaran. Semenjak dari itu juga, Alenta jadi semakin tidak suka karena Nick semakin menjadi dengan segala permintaan, juga kemnajaan Rebecca yang begitu berlebihan.
" Babe? " Panggil Rebecca seraya berjalan cepat untuk memeluk Nick yang kini tengah duduk dan fokus dengan pekerjaannya.
" Aku merindukanmu! " Ucap Rebecca, lalu mencium pipi Nick beberapa kali.
" Kok cuma iya saja? Nanti malam pulang ke apartemen ku ya? " Ajak Rebecca seraya duduk di kursi yang sudah ia pindahkan agar bisa duduk disamping Nick dan bergelayut manja.
Nick menghela nafas panjangnya, sekarang ini dia sedang tidak mood untuk kikuk kikuk, jadi apa gunanya juga dia memanjakan Rebecca? Tapi kalau gadis itu ngambek, malas juga dia harus mencari kekasih yang baru karena dia meyakini kalau rasanya akan sama saja.
" Nanti malam? Tapi seharian ini aku sudah sangat lelah karena pekerjaan yang begitu banyak. Bisa lain kali tidak? "
Rebecca menjebik sedih dengan tatapan pilu. Seperti kebiasaan yang biasa dia lakukan kalau Nick menolak permintaannya, dan biasanya sih akan berhasil seribu persen.
" Babe, kok sekarang ini kau begitu berubah? Aku salah apa? Katakan saja agar aku bisa memperbaiki diri khusus untuk dirimu. "
Hah! Lagi-lagi begini! Tahu tidak sih?! Setiap kali Rebecca merajuk dengan wajah seperti itu Nick selalu saja ingin menenggelamkan Rebecca? Tapi ya karena Rebecca bisa dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan ranjangnya, mau tidak mau dia segera memenuhi permintaan Rebecca agar tidak melihat wajah menyebalkan dan membuat lahir serta batinnya merasa kesal tak tertahankan.
__ADS_1
Merasa lelah karena harus menahan diri, Nick menyeka keringat di dahinya menggunakan tangannya. Biasa saja sih apa yang dia lakukan, tapi cincin yang melingkar di jarinya tentu saja membuat Rebecca melotot kaget hingga ekspresi itu bertahan sampai beberapa detik.
" Babe? "
" Iya, ada apa lagi? "
Dengan wajah masih shock Rebecca menatap Nick yang menatapnya dengan datar.
" Kenapa, kenapa kau menggunakan cincin seperti itu? Cincin yang kau gunakan kenapa seperti cincin pernikahan? " Alenta menatap Nick masih saja dengan tatapan terkejut dan menolak untuk percaya meski wajahnya malah jadi terlihat seperti bingung.
Nick sontak melihat jemarinya dengan kaget juga. Ya Tuhan! Dia lupa melepas cincinnya!
" Aku- "
Tok Tok
" Selamat sore, ini teh yang diminta nona Rebecca. "
Jangan bilang, Alenta juga lupa melepas cincinnya?
Deg!
Benar saja! Saat Alenta meletakkan teh dengan tangannya, cincin itu masih melingkar di jari indahnya.
" Kalian? Kalian, jangan bilang dugaan ku benar! " Rebecca bangkit dengan mata memerah seperti menahan tangis.
Alenta mengeryit bingung, sementara Nick terdiam tanpa suara.
" Ada masalah apa, nona Rebecca? "
__ADS_1
" Masalah apa kau bilang? Menurutmu, bagaiamana perasaanku saat melihat cincin yang sama dijari kalian berdua?! "
Bersambung.