My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Rasa Kehilangan Dalam


__ADS_3

Alenta meletakkan seikat bunga yang ia bawa tadi. Tatapan matanya masih tertuju kepada nisan bertuliskan nama Talita. Rasanya masih tidak percaya jika gadis yang membuat sebal dan terus memanggilnya kakak itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jika boleh jujur, Alenta sebenarnya menyesal juga dengan apa yang sudah terjadi. Beginilah kehidupan, semua tidak bisa ditebak bagaimana akan berakhir.


Alenta mengusap papan nama Talita, tak terasa air matanya jatuh dengan sendirinya. Dia merasa bersalah karena ikut andil dalam memberikan beban kepada adik tirinya itu, dia juga sudah mendengar cerita dari Nick bahwa Talita lah yang sudah menolongnya saat dia Alenta pingsan beberapa hari yang lalu.


" Talita, maafkan aku. " Air mata Alenta mulai deras mengalir.


" Aku tahu aku egois karena terlalu mementingkan kebencian dan rasa sakit di hatiku, karena hanya itulah satu-satunya yang bisa membuatku bertahan dengan membenci kalian. Aku tahu seharusnya tidak ikut membencimu, jadi maafkan aku. Aku tidak bisa memahami mu, karena aku bahkan tidak mampu melakukanya. Kau menyayangi adikmu bukan? Maka aku akan memperlakukan dia dengan baik, aku akan berusaha menyayangi dia meski aku tidak janji apakah rasa sayang yang aku miliki akan sebesar rasa sayang mu atau tidak. "


Nick mengusap punggung Alenta sembari memegang payung yang mereka gunakan agar terlindung hari derasnya air hujan yang membasahi bumi.


" Kita pulang ya sayang? Sampai disini dulu, hujan sudah semakin deras. Lain waktu kita datang lagi, ajak Damar. " Alenta mengangguk, segera dia merapat ke Nick, dan Nick memeluk pinggang Alenta.


Selamat tidur panjang, adikku. Tenang lah disana, jika ada kehidupan kedua untuk kita, semoga kau dan aku bisa jadi dua manusia yang saling menyayangi.


Alenta mengikuti langkah kaki Nick membawanya menjauh dari kuburan Talita. Sebentar Alenta berbalik. Dia melihat ke makan Talita lagi, nampak seperti bayangan Talita di tengah guyuran hujan deras, dia tersenyum dan melambaikan tangan. Alenta kembali menitihkan air mata, dan menatap ke arah depan mengabaikan karena dia yakin jika itu hanya halusinasinya saja.


***


Tuan Baskoro duduk di lantai kamar Talita sembari menatap kosong. Dia sungguh masih tidak bisa percaya jika Talita kini sudah tidak ada lagi di dunia ini, sepanjang perjalanan menuju tempat pemakaman dia selalu berdoa di dalam hati agar putrinya terbangun, tersenyum. Tapi bahkan sampai sudah di kuburkan putrinya tak kunjung terbangun. Hilang sudah harapannya untuk hidup setelah tak mendapatkan pengakuan dari Alenta. Dia seperti sudah kehilangan dua putri yang membawa pergi semua keinginannya untuk sebentar saja bertahan berdiri di atas tanah bumi dan menikmati hidup.


Hari sudah mulai sore, tapi Tuan Baskoro masih tidak bisa lepas dari kesedihannya. Ibu Rahayu juga sama, dia semakin menjadi sedih karena ucapan suaminya tadi yang akan segera meninggalkannya. Mungkin dia bisa sedikit lebih kuat jika suaminya ada, tapi siapa yang akan menguatkannya? Bahkan tidak ada siapapun sekarang ini didekatnya.

__ADS_1


Tuan Baskoro bangkit perlahan, dia menjalankan dua kaki yang sebenarnya sama sekali tak bertenaga untuk masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang dilakukan Rahayu, dia sama sekali tidak perduli. Dia meraih sebuah koper, memasukkan semua pakaian yang bisa tangannya raih. Entah sudah meraung seperti apa istrinya itu, nyatanya air mata yang membanjiri wajah Ibu Rahayu tak sedikitpun membuat hati Tuan Baskoro Iba seperti dulu lagi. Iya, pria itu kehilangan hatinya, dia kehilangan empati seolah mati rasa yang begitu kuat.


Bruk!


Setelah lelah meraung tak mendapatkan respon dari Tuan Baskoro, dia juga sudah mulai menyerah begitu tangannya terus di tepis oleh Tuan Baskoro hingga pada akhirnya dia lagi-lagi jatuh pingsan. Masih tak perduli, Tuan Baskoro menyeret keluar kopernya dan pergi keluar dari rumah itu. Sebentar dia menghela nafas, dia mecari keberadaan Damar yang sedari tadi tak terlihat. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi beberapa kali tapi tak mendapat jawaban, pada akhirnya dia putuskan untuk mengirim pesan bahwa dia menunggu Damar di restauran mereka.


Di rumah Nick dan Alenta.


Damar terduduk dengan tatapan kosong setelah mengganti pakaian dengan pakaian Nick yang terlihat kebesaran. Dia sama sekali tak bicara sesampainya disana. Nick dan Alenta sebenarnya ingin menegur, tapi Ivi menyarankan untuk membiarkan saja dulu Damar sampai dia merasa lebih tenang.


" Sayang, dia bengong terus apa tidak lelah ya? " Ujar Nick keheranan.


Alenta menghela nafas. Tidak tahu ingin berkata apa, kakek dan nenek buyut mereka sudah meninggal saat Nick masih berusia dua tahun, keluarganya juga masih lengkap sekarang jadi dia belum tahu bagaimana rasanya kehilangan.


Nick menelan salivanya sendiri. Kenapa arah pembicaraannya jadi ke sana?


" Iya sih, kita saja kikuk kikuk setiap hari, kadang juga pagi siang malam, subuh tidak lelah ya? "


Duh! Ingin sekali memukul kepala Nick, bisa-bisanya malah membicarakan hal aneh disaat begini.


" Makanan untuk Damar sudah di siapkan? " Tanya Alenta kepada Nick.

__ADS_1


" Sudah sih sepertinya. "


" Ya sudah, aku mabuk dulu untuk Damar. Dia kelihatan pucat sekali. "


" Aku aja sayang! " Ujar Nick segera mencegah Alenta, lalu dengan cepat dia berjalan menuju dapur.


" Ini sayang, aku antar ke dia nih? " Tanya Nick sembari memperlihatkan nampak yang bersisi nasi dan lauk, serta sayuran, ada juga teh hangat untuk minumnya.


" Jangan! Antar ke pos ronda! " Kesal Alenta.


Nick tersenyum lucu, di dalam hati dia membatin senang karena Alenta sudah tidak terlihat sedih lagi seperti beberapa saat lalu. Maklum saja, semenjak hamil Alenta ini jadi lebih galak dari sebelumnya.


" Damar, makan dulu ya? " Ucap Nick seraya meletakkan nampan berisi makanan ke meja yang ada di dekat Damar.


Remaja itu memaksakan senyumnya, tapi kesedihan mendalam masih begitu jelas terlihat dari sorot matanya. Nick memang tidak tahu, tali dia juga tidak mau tahu, dan dia menolak untuk memikirkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang tersayang oleh kematian. Tapi Nick juga paham benar bahwa itu pasti sangat berat dan tidak semua orang sanggup merelakannya dalam waktu yang singkat.


" Damar, kakak mu menyayangi mu kan? Dia pasti tidak ingin kau sedih seperti ini, dia pasti ingin kau makan banyak, jadi anak yang sehat, kuat dan pintar. Jadi cobalah untuk makan, kau sangat pucat. "


Damar menatap sepiring makanan itu, tangannya gemetar meraih piring bersisi makanan tapi untunglah dia kuat memegangnya. Dia mengarahkan suapan makanan ke mulutnya. Enak, tapi dia malah jadi semakin teringat dengan Talita dan sanggup lagi menahan tangis lebih lama.


Nick segara mendekat, dia merangkul Damar dan menepuk punggungnya beberapa kali. Alenta, sosok yang selama ini begitu acuh dengan keluarga baru Ayahnya juga tak sanggup membenci Damar yang terlihat sangat menderita itu. Alenta berjalan mendekat tapi sebelumya dia sudah menyeka air matanya. Alenta mengambil piring itu dari tangan Damar, lalu meyiapkan makanan itu kepada Damar.

__ADS_1


" Makan ya? Masakannya jelas enak, tapi aku tahu hatimu yang sedang sakit menolak untuk menelan makanan ini. Cobalah pelan-pelan untuk menelannya ya? "


Bersambung.


__ADS_2