My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Memutuskan


__ADS_3

Alenta terdiam memikirkan ucapan Ibunya yang sungguh sama sekali dia tidak akan pernah menduga. Sejenak dia menghela nafas, tapi pikirannya seolah tak bisa mengabaikan begitu saja apa yang di ucapkan Ibunya. Aleta melirik melihat Nick yang tidur disampingnya, tadinya tangannya ingin bergerak menyingkirkan rambut Nick yang menutupi dahinya, tapi karena pikirannya yang tak henti mengingat ucapan Ibunya beberapa saat lalu, Alenta mengurungkan niatnya dan bergerak mengubah posisi untuk membelakangi Nick.


Aku harus bagaimana?


Beberapa saat lalu.


" Cobalah untuk menjadi istri yang sesungguhnya, Alenta. Jalani kehidupan rumah tangga mu dengan benar, mungkin kau belum mencintai suamimu sekarang, tapi kalau kau coba membuka hati, pada akhirnya perasaan itu akan tumbuh. "


" Kenapa Ibu tiba-tiba mengatakan ini? Ibu tahu benar kenapa ada Bos menikah kan? Perceraian di antara kami cepat atau lambat akan terjadi, Ibu. "


" Alenta, kau terlalu pesimis. Pikirkanlah sejenak Alenta, betapa kau begitu kejam terhadap dirimu sendiri, kau bukan hanya menghukum Ayahmu dengan kebencian mu, tapi kau juga begitu egois terhadap dirimu sendiri. Kau juga pantas bahagia nak, jangan begitu memikirkan egomu sampai kau lupa bahwa kau juga harus bahagia. "


Alenta menghela nafas sebalnya. Iya dia sangat sebal karena tidak bisa mengatakan hal kotor kepada Ibunya, tapi juga merasa penat jika terus menahan diri.


" Bu, dia itu Nick. Dia tidak akan bisa hanya cukup dengan satu wanita saja, dia itu lebih parah dari pada pria itu. "


Ibunya Alenta kembali menggenggam tangan Alenta erat.


" Alenta, Ibu juga tahu bagaimana masa lalu suamimu itu, tapi Ibu memiliki keyakinan padanya. "


Alenta tersenyum miris.


" Bu, saat Ibu akan menikah dengan pria itu, Ibu pasti yakin kan? Tapi apa yang terjadi? pasti saat Ibu hamil aku pria brengsek itu juga sudah mulai berselingkuh Kan? "


" Alenta, kali ini saja, tolong penuhi permintaan Ibu nak. Jagalah suamimu baik-baik, memang benar perselingkuhan itu terjadi bila kemauan ada, sekuat apapun kau menjaga juga tidak akan menutup kemungkinan, tapi sampai kapan kau akan terus dihantui masa lalu? Nick mengingat masa lalu sebagai pembelajaran, tapi jangan mengingat masa lalu sebagai alasan menolak kebahagiaan, cobalah Alenta, hasil akhirnya kau sendiri yang akan menentukan. Ibu sudah mengatakan jika Ibu memiliki keyakinan, percaya atau dengan feeling seorang Ibu, itu terserah padamu. "


" Aku paham maksud Ibu, tapi aku sulit menentukan dan ragu-ragu kalau tentang hal seperti ini. "


" Alenta, jawab pertanyaan Ibu dengan jujur sekarang. " Ibunya Alenta menatap Alenta dengan tegas.


" Apakah Nick pernah memaksamu melakukan hubungan suami istri? " Alenta menggeleng.


" Apa dia pernah melecehkan mu seperti memegang bagian penting secara sengaja? " Alenta kembali menggeleng, memang pernah sekali Nick memegang dadanya, tapi itu jelas dia tahu bahwa tidak sengaja.


" Alenta, jika itu pria lain, dia pasti akan memanfaatkan status pernikahan kalian dan memaksamu, tapi Nick tidak begitu kan? "


Alenta terdiam tak menjawab. Jika dipikirkan, memang Nick tidak begitu, tapi apakah sungguh mempertahankan hubungan suami istri ini adalah hal benar? Lalu, apakah Nick sendiri memiliki niat untuk bertahan? Bagaimana kalau tidak?

__ADS_1


" Ibu- "


" Nick sudah bicara dengan Ibu, dia akan tetap berusaha mempertahankan pernikahan ini sebisanya, jadi berhentilah ragu-ragu dan putuskan pilihanmu. "


" Aku mengerti. " Ujar Alenta masih terlihat tak berdaya.


Nick, pria itu rupanya belum tidur sama sekali, tadi dia sempat mendengar pembicaraan antara Alenta dengan Ibunya karena Alenta tak kunjung kembali ke kamar, jadi dia memutuskan untuk menyusul ke dapur, tapi siapa sangka kalau dia malah akan mendengarkan obrolan anak dan Ibu yang tengah membahas hubungan rumah tangganya bersama Alenta. Nick menatap lekat punggung Alenta, rasanya sungguh ingin memeluk tubuh langsing itu, tapi dia juga takut kalau akan membuat Alenta marah.


Alenta, aku harus melakukan apa agar kau bisa melihat ku dan percaya padaku?


Nick melihat punggung Alenta yang tergerak menghela nafas panjang karena jelas sekali Nick bisa mendengarnya. Sudahlah, coba saja peluk dia siapa tahu bisa membuat Alenta sedikit lebih tenang.


Greb!


Alenta sempat terkejut, dia mencoba menyingkirkan tangan Nick yang memeluknya, tapi saat dia merasakan sulit, dia tahu benar jika Nick sengaja memeluknya dan dia juga tidak tidur tadi. Sudahlah, Alenta juga sedang tidak ingin bertengkar, jadi biarkan saja selama tangannya tidak berpindah ke tempat lain.


Pagi harinya.


Alenta terbangun saat matahari menyusupkan cahaya dari dinding kamarnya hingga mengenai wajahnya. Sayup-sayup matanya terbuka, dia bangun dari posisinya untuk duduk sebentar di tempat tidur. Tidak ada Nick disana, karena penasaran kemana perginya Nick, Alenta memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencarinya. Ternyata bukan hanya Nick saja, tapi Ibunya juga tidak ada dirumah.


Alenta yang saat itu sedang berada di dapur akhirnya memutuskan untuk meminum segelas air hangat. Baru saja habis air hangatnya, suara Nick dan Ibunya mulai terdengar, mereka masuk ke dala rumah seraya membawa belanjaan, sepertinya mereka pulang dari pasar. Batin Alenta.


" Ibu kenapa tidak membangunkan ku? Kalau tahu Ibu akan ke pasar, aku pasti akan menemani Ibu. " Ucap Alenta.


" Tidak apa-apa, Nick bilang agar membiarkanmu istirahat lebih lama karena hanya hari Minggu saja kau bisa istirahat dengan tenang. "


Tak lama setelah itu, Alenta, Nick, juga Bunya Alenta memasak bersama di dapur untuk sarapan mereka semua. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Nick dan Alenta karena mereka memang tidak tahu bagaimana caranya memasak, tapi setidaknya mereka berguna kalau untuk memotong sayuran, dan cuci mencuci sayuran.


" Alenta, Ibu akan ke toko dulu, ada dua kue pesanan yang harus Ibu buat sebelum sore nanti. Kau dan Nick dirumah saja dan istirahatlah dengan baik ya? " Pamit Ibunya Alenta untuk pergi ke toko roti miliknya.


" Aku ikut Ibu, siapa tahu aku bisa membantu. " Ujar Alenta yang sebenarnya tidak ingin hanya berduaan saja dengan Nick disana.


" Ibu kan sudah punya satu karyawan, jadi tidak membutuhkan mu. Kau saja menyalakan kompor tidak bisa. "


Alenta terdiam dengan tatapan sebal, bisa-bisa nya seorang Ibu begitu kejam dengan menegaskan bahwa dia jauh sekali dari pekerjaan dapur.


" Nih, aku beli saat lewat mini market tadi. " Ucap Nick seraya menyodorkan minuman kaleng non alkohol kepada Alenta.

__ADS_1


Alenta menerimanya, dan langsung membuka penutup kalengnya.


" Semalam, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Ibumu. " Ucap Nick setelah menenggak sedikit minumannya.


Alenta terdiam, tapi diamnya juga tengah berpikir.


" Jangan terbebani, aku memang mengatakan pada Ibumu kalau aku ingin mempertahankan pernikahan kita, jika kau begitu tidak ingin, aku juga akan mengerti dan mencoba menerimanya. "


Alenta memegang erat minuman kaleng miliknya, lalu menatap Nick yang terlihat tidak semangat seolah takut jika ucapannya itu benar.


" Aku benci perselingkuhan, kau tahu kan Bos? "


" Aku juga tidak berniat selingkuh kok. "


" Aku juga benci laki-laki yang genit. "


" Aku genit hanya denganmu saja. "


" Aku tidak suka lelaki yang suka berbohong. "


" Aku tidak tidak akan berbohong kalau tidak terpaksa. "


Alenta menatap sebal, tapi Nick malah tersenyum dengan begitu lebar.


" Kau sungguh ingin bertahan dengan pernikahan ini? "


" Iya, begitulah! "


" Seberapa besar tekad yang kau miliki? "


" Seribu, sejuta, semiliar persen. " Nick menatap Alenta dengan tatapan menyelidik.


" Kau banyak bertanya seperti ini, apakah sudah memutuskan untuk bertahan juga? "


" Sedikit. "


" Bagus! Bagus sekali! Hahaha.... Jadi kita bisa langsung buat anak sekarang? "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2