My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Benci Level Atas


__ADS_3

Alenta kini tengah duduk diruang tamu bersama Ayah Baskoro dan juga istrinya yang bernama Rahayu, Nick juga berada disana, begitu juga dengan Talita, sedangkan Damar sudah masuk ke kamarnya karena harus segera tidur agar besok tidak kesiangan saat bangun pagi untuk bersekolah.


" Tuan Nick, benar-benar terimakasih karena datang kesini. Maaf kami tidak menyiapkan apapun, maaf juga karena melayani Tuan Nick dengan seadanya. " Ujar Ayah Baskoro lalu tersenyum sopan. Sementara Alenta, gadis itu sedari tadi diam, dan hanya akan menjawab saat ditanya saja.


" Tidak masalah, saya seharunya yang meminta maaf karena datang tanpa memberitahu terlebih dulu. "


" Tidak apa-apa, Tuan Nick, kami sekeluarga bahagia karena kedatangan Tuan Nick. " Ujar Ayah Baskoro.


" Oh iya Ayah, kak Alenta di kantor punya kekasih loh, namanya kak Arkan. Dia orangnya sangat baik, dia juga yang sudah menasehati sehingga aku tahu harus melakukan apa. " Ucap Talita dengan wajah manjanya. Tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak, tapi Talita dengan percaya diri memeluk lengan Ayahnya dan menyender manja disana. Alenta masih bisa menahannya, tapi saat matanya melihat Ayahnya mengusap kepala Talita dengan lembut, bibirnya juga tersenyum seolah begitu memanjakan Talita.


" Benarkah, Alenta? " Tanya Ayah Baskoro, dan pertanyaan itu justru semakin menyulut kekesalan Alenta.


" Maaf, urusan pribadiku tidak sepatutnya di bahas disini. " Ujar Alenta yang sukses membuat Tautan dan Ayah Baskoro terdiam karena merasa bersalah sudah membahas tentang hal pribadi Alenta. Tapi, sebagai seorang Ayah dia juga ingin mengetahui dengan siapa anak nya berhubungan agar anaknya tidak bertemu pria seperti dirinya.


" Alenta, Ayah hanya ingin tahu saja, dan juga Ayah ingin kau tidak menemui pria seperti Ayah. "


Alenta terdiam sesaat, habis sudah rasanya kesabarannya. Kenapa? Karena saat Ayah Baskoro berucap, Talita seperti gadis kecil manja yang menggenggam tangan Ayahnya seolah takut Ayahnya akan diambil orang, juga sekaligus ingin menunjukkan betapa dekatnya dia dengan Ayahnya.


" Tenang saja, setelah hari dimana pria yang katanya Ayahku meninggalkanku dan Ibuku karena memilih wanita yang sudah dia simpan hingga memiliki anak yang usianya lebih muda dariku dua tahun, aku membentengi diriku dengan baik agar tidak bertemu dengan pria seperti itu. " Alenta tersenyum setelah selesai bicara, dan perkataan Alenta itu membuat Istri dari Ayahnya menunduk tak berdaya, sementara Talita menatap marah Alenta yang jelas sekali kalau kata-katanya barusan sudah membuat hati Ibunya tersakiti. Bukan hanya Ibunya, tapi juga Ayahnya yang ia rasakan tangannya gemetar, dan ini adalah kebiasaan Ayahnya saat menceritakan Alenta, dan merindukannya.


" Kak, jagalah ucapan mu, setelah bertahun-tahun kakak menghindar dari Ayah, apakah pantas menyakiti Ayah, bahkan di hari ulang tahun Ayah? "

__ADS_1


Alenta tersenyum miris. Dia membuang nafas kasarnya, lalu menatap Talita, Ayahnya, juga Ibu tirinya.


" Aku membicarakan Ayahku yang dulu, bukan membicarakan Ayahmu. "


" Tapi Ayahku, juga Ayahmu! "


" Talita! " Ayah Baskoro memegang lengan Talita berharap putri keduanya itu lebih bersabar karena Alenta memiliki sikap seperti ini juga adalah karena kegagalan dirinya sebagai seorang Ayah.


" Setelah Ayahku keluar dari rumah, aku masih mengejarnya dan ingin bersujud memohon agar dia tidak meninggalkan ku dan Ibuku, tapi begitu aku melihat seorang anak perempuan, dan juga perempuan simpanannya menunggu di halaman rumah, aku kehilangan keinginanku untuk memohon, aku memutuskan untuk tidak lagi menganggap dia di hidup ku. "


" Kak Alenta! " Talita bangkit dari duduknya dengan tatapan marah, tapi Ayah Baskoro masih mencoba untuk menenangkannya, begitu juga dengan Ibunya Talita.


" Semuanya sudah berlalu, cobalah untuk memaafkan kami, Alenta. " Ucap Ibunya Talita yang untuk pertama kali dia mendengar kata maaf setelah puluhan tahun semua ini terjadi.


Nick, pria itu hanya bisa terdiam membiarkan saja Alenta mengatakan apa yang dia pendam agar hatinya bisa lebih lega, tapi dia juga tetap berjaga di samping Alenta.


Alenta terkekeh seraya menggeleng tak percaya. Sebentar dia menghapus air matanya yang keluar saat ia tertawa dan menatap wanita yang katanya adalah seorang Ibu tiri untuknya.


" Semua kejadian itu memang sudah berlalu, tapi sakit yang kalian berikan untukku, juga untuk Ibuku tidak pernah bisa hilang. Jadi, setelah puluhan tahun hidup bersama, mengorbankan aku juga Ibuku, seharusnya kalian hidup bahagia kan? Oh, apakah kalian juga terperangkap oleh rasa bersalah? "


" Semua adalah kesalahanku, aku terlalu mencintai Baskoro waktu itu sehingga tidak rela untuk melepaskannya, jadi jangan salahkan dia, salahkan saja aku. " Ibu tiri Alenta menu Duk seolah dia terintimidasi dengan ucapan serta tatapan Alenta, tapi Talita, gadis itu masih terus melotot marah karena merasa tak terima dengan Alenta yang terus saja mempermalukan Ibunya di hadapan Nick.

__ADS_1


" Nyonya Baskoro, apakah anda pernah dengar istilah ini? Kucing jalanan hanya akan memakan tulang di tumpukan sampah. Saat diberi makanan sehat dan bergizi, dia akan tetap mengorek sampah untuk mendapatkan tulang karena merasa makanan bergizi itu bukan seleranya. "


" Alenta, jangan lanjutkan lagi ya? Kau tahu bukan hanya ada keluarga kita kan? Ada Bos Nick juga. " Ujar sang Ayah yang merasa semakin tak enak situasi kacau keluarganya di dengar oleh orang asing.


" Maaf, Pak Baskoro. Saya juga menempatkan diri saya sebagai orang asing. Keluarga, hanya ada Ibu kandung bagiku, jadi mohon jangan menangkap namaku sebagai keluargamu lagi ya? " Alenta tersenyum dengan begitu manis, tapi tangannya bergetar seperti menahan diri untuk memikul.


" Jangan khawatir, Pak Baskoro, santai saja. "


Ayah Baskoro memaksakan senyumnya. Sakit, sungguh sakit sekali mendengar kata-kata Alenta yang begitu menusuk, menekan seperti tanda celah baginya untuk bernafas. Setelah beberapa tahun berlalu, dia pikir bisa memperbaiki hubungan buruknya dengan Alenta, tapi nyatanya kebencian Alenta terhadapnya sudah berada di puncak maksimal seakan sulit baginya untuk bisa kembali memenuhi tugasnya sebagai Ayah bagi Alenta.


" Ah, Bos, ada telepon dari Klien, ini adalah hal yang jauh lebih penting dan tidak bisa aku tinggalkan. Aku keluar dulu untuk mengangkatnya ya? " Nick mengangguk.


Sementara Ayah Baskoro, dia tahu benar bahwa alasan itu adalah sindiran baginya karena dulu dia pernah menggunakan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan untuk mangkir dari ajakan camping Alenta di hari ulang tahunnya, tapi malah bertemu disana, jadi wajar saja kalau Alenta tidak akan bisa melupakan kata-kata itu.


" Tuan Nick, apakah saya bisa meminta tolong? " Tanya Ayah Baskoro setelah Alenta tak lagi berada disana.


" Tentang apa? "


" Bisakah membujuk Alenta agar saya bisa berdua saja dengannya? "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2