My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Hutang ciuman


__ADS_3

Alenta terdiam dengan segala pemikiran yang rumit. Di dalam hati dia menggerutu, beginilah rasanya patah hati, dan putus cinta? Hah! Benar-benar menyebalkan, kalau tahu begini untuk apa juga segala jatuh cinta? Dulu dia pikir kalau jatuh cinta adalah hal menyenangkan karena teman-teman nya selalu terlihat bahagia saat jatuh cinta, rupanya dia melewatkan satu hal, yaitu akan merasa sedih saat putus cinta. Kalau begitu bukannya lebih baik kalau dari awal tidak jatuh cinta saja?


Alenta menghela nafas panjangnya, sudah dua jam setelah bicara dengan Arkan, dia memilih duduk di ujung tempat yang lumayan sepi agar pikirannya tenang. Tidak tahu apa yang sedang dilakukan para pegawai saat ini, tapi sungguh dia sedang ingin sendiri dan membutuhkan ketenangan.


Nick, pria itu rupanya sedari tadi berada tak jauh dari Alenta, dan sebisa mungkin Alenta tak melihatnya. Dia juga mendengar semua pembicaraan antara Alenta dan Arkan tadi, maklum saja, semenjak dia mulai terbuka dengan perasaannya, dia mulai posesif meski tak begitu jelas ia tunjukkan, jadi secara diam-diam Nick mengikuti Arkan dan menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya kalau boleh jujur, dia sangat bahagia saat Alenta memilih untuk mengakhiri hubungan dengan Arkan, tapi melihat wajah Alenta sedih seperti sekarang ini, dia malah menjadi ikut sedih. Sok baik ya? Tapi memang begitulah yang ia rasakan.


Nick membuang nafas panjangnya, dia memperbaiki ekspresi wajahnya yang sempat hanyut ingat wajah Alenta. Segera dia bangkit, berjalan untuk menuju Alenta.


" Hoi, Alenta! Aku mencari mu sedari tadi loh. Sudah sampai menyeberang lautan, melewati lembah, mendaki gunung, menggelinding pula saat turun gunung, rupa-rupanya kau ada disini? "


Alenta menghela nafas sebalnya, Nick lagi Nick lagi, batinnya sebal.


" Dramatis sekali, semut saja bisa jantungan karena kaget tidak percaya dengan ucapan aneh mu barusan, Bos. "


Nick terkekeh, tak lama dia duduk di samping Alenta.


" Alenta, kita camping disini saja yuk? Disini tidak banyak orang, pegawai juga kan ada di ujung sana, jadi kau bisa nyaman disini karena tidak terlalu ramai. "


" Aku membenci camping, tidak ada hubungannya sepi atau ramai. " Ujar Alenta tak berekspresi.


" Aku tahu, tapi dimana kita akan tidur? Motel yang kau maksud itu aku sudah meminta orang untuk mencari tahu, ternyata jauh dari sini, dan juga kalau malam jarang mau ojek datang menjemput karena penerangannya yang tidak mendukung. Apa kau ingin tidur di saung seperti semalam? Lihat tuh! Badan mu merah-merah bekas gigitan nyamuk kan? "


Alenta terdiam karena tidak mampu menjawab ucapan Nick.


" Alenta, aku tahu yang kau benci bukan camping, tapi ingatan saat kau camping kan? Aku tidak tahu apa yang kau alami sampai kau begitu enggan untuk bergabung, tapi percayalah padaku, jika kau bisa mengalahkan ingatan tidak menyenangkan saat kau camping, maka kau adalah pemenangnya. "


" Jangan sok tahu! " Alenta menatap sebal Nick yang kini tersenyum padanya. Entah kerasukan iblis apa sampai-sampai dia terus bersikap aneh belakangan ini. Apakah efek dari putus cinta dengan Rebecca? Heh! Tidak tahu lah, mau bagaimanapun Nick adalah pria manja yang tidak banyak pengalaman hidup, jadi ucapannya tentu saja hanyalah omong kosong saja.


" Ikut aku! " Nick meraih tangan Alenta, membawanya untuk menuju suatu tempat. Masa bodoh dengan Alenta yang terus saja menolak dengan kata-kata dan tindakan, karena Alenta harus merasakan bagaimana bahagianya hidup tanpa mengenang luka lama yang tak kunjung bisa ia relakan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, sampailah mereka di sebuah kios yang menjual ikan. Sebenarnya bukan hal aneh, karena disana adalah tempat wisata untuk camping, maka penjual makanan semacam itu adalah hal lumrah. Bukan hanya ikan saja, tapi ada jagung, juga makanan dari daging olahan, juga ada buah-buahan.


" Aku beli dua ikan yang berukuran sedang. " Ucap Nick kepada penjual ikan. Lalu setelah itu, Nick membeli jagung, minuman, dan juga makanan ringan.


" Apa-apaan ini? " Tanya Alenta menatap kantung plastik di tangannya yang bersisi ikan segar yang masih bergerak-gerak.


" Kau harus tahu bahwa camping adalah hal yang menyenangkan, jadi nanti kau tidak akan malas lagi untuk camping. "


" Aku tidak mau camping! "


Nick menghentikan langkahnya, lalu menatap Alenta dengan senyum penuh maksud, dan itu cukup membuat Alenta merasa kesal.


" Jadi, kau lebih ingin tidur di saung seperti kemarin? Aku sih tidak masalah, selain disana jauh dari keramaian, disana sudah pasti sepi dan gelap, dengan situasi semacam itu, aku tentu tidak bisa menjamin tongkat ajaib nan sakti milikku tidak akan bangun dan mencari wadahnya. "


Alenta menelan salivanya sendiri, sialan! Kata-kata Nick sebenarnya bukan hal aneh untuk dia dengar, tapi sekarang yang dia ingat malah bentuk tubuh Nick, bahkan saat dia melihat anu nya Nick juga muncul di pikirannya. Hah! Benar-benar membuat tidak tenang, bahkan dia juga merasa panas tanpa sebab.


Ini, apakah karena aku sudah mulai tua? Apakah aku terlalu lurus saat pacaran jadi tiba-tiba penasaran bagaimana rasanya? Eh! Tapi aku dan Nick bukannya sudah pernah melakukannya ya? Hah! Tapi sampa sekarang aku tidak ingat sama sekali. Eh! Tunggu! Kenapa juga aku ingin mengingat saat malam itu sih?!


Alenta tak menjawab, tapi dengan cepat dia melangkahkan kaki menuju tempat semula dia duduk.


" Pft! " Nick menahan tawanya melihat wajah Alenta yang memerah meski dia tutupi dengan ekspresi kesal.


Setelah sampai disana, Nick niatnya ingin membersihkan ikan dan membakarnya, tapi oh tapi, ikan itu malah tidak mati-mati dan masih saja bergerak melompat kesana kemari.


Duk! Duk! Duk!


" Ikan bodoh! Kenapa tidak mati juga sih! " Maki Nick yang tak berani memegang ikan itu, dan hanya mengayunkan pisaunya beberapa kali, tapi tak juga mengena ikan yang masih tak mau diam.


" Bos, kalau menunggu ikan ini mati, bisa-bisa keburu lebaran monyet. "

__ADS_1


" Kalau begitu, nih! Kau saja yang membunuh mereka. "


Alenta melongo heran, membunuh? Apa-apaan bahasa itu! Padahal niatnya dia ingin mencoba menangani ikan itu, tapi mendengar kata membunuh, dia jadi takut sendiri dan tidak berani melakukannya.


" Aku bukan pembunuh! " Alenta menjauhkan pisau yang disodorkan Nick padanya.


Nick menelan salivanya sendiri. Padahal lapar, tapi ikan yang dia beli tidak kunjung mati, mau membunuhnya tapi takut, jadi harus bagaimana?


" Alenta, atau kita bakar hidup-hidup saja? "


" Bos mau memegang ikan itu? "


" Tidak, tubuh ikan itu sangat licin, aku geli! Alenta, kau kan wanita, wanita biasanya memasak kan? Ambil ikannya, laku bakar saja hidup-hidup! " Nick mendorong tubuh Alenta untuk segera mengambil ikan itu.


" Ah! Aku juga takut! "


Jadilah mereka hanya membakar jagung dan memakan makanan ringan ditemani minuman kaleng yang mereka berdua beli tadi.


" Untung saja sudah selesai membakar jagungnya, kalau tidak aku tidak jamin makanan ringan ini bisa membuat kita kenyang. " Ucap Nick seraya menutup tenda kecil yang mereka tempati karena hujan deras tiba-tiba saja datang.


Alenta menghela nafas, dia terdiam karena tak percaya bahwa dia akan berada di dalam tenda setelah hari itu.


" Makanlah jagung mu Alenta, kalau sudah dingin tidak enak dimakan. " Ucap Nick seraya menyodorkan jagung bakar kepada Alenta.


Tak lagi bicara, tapi Alenta merasa tidak keberatan dengan adanya Nick disana. Tidak tahu kenapa, tapi setiap kali dia merasa sedih, Nick selaku datang membuatnya kesal, tapi juga membuatnya lupa dengan kesedihannya.


Terimakasih, Bos.


" Oh, ngomong-ngomong kau berhutang ciuman denganku loh. "

__ADS_1


Baru saja Alenta berterimakasih di dalam hati, sekarang di buat mengumpat di dala hati juga.


Bersambung.


__ADS_2