
Nick, pria itu tak bisa berhenti tersenyum melihat bagaimana wajah Alenta yang jelas sekali merasa tidak nyaman dengan adanya Arkan dan juga Talita. Tidak ada senyuman malu malu meong seperti biasa saat ada Arkan di dekatnya, yang ada malah wajah datar dengan tatapan menahan kesal.
Makanan sudah akan tiba, tapi sepertinya Alenta tak bisa menelan makanannya dengan baik deh. Hihi,,.. Tawa Nick di dalam hati, sungguh menakjubkan bisa melihat wajah seperti ini.
" Silahkan menikmati. " Ucap si penjual makanan setelah meletakkan masing-masing makanan sesuai dengan pesanan mereka.
Talita tersenyum kepada si penjual sebagai bentuk penyampaian rasa terima kasih nya, lalu meraih botol air mineral karena seperti kebiasaan saat dia akan makan, dia akan lebih dulu meminum air. Talita mencoba membuka tutup botol, tapi sepertinya itu tidaklah mudah karena terbukti dia terlihat kesulitan.
" Biar aku membukakan untukmu. " Ucap Arkan, lalu mengambil botol air mineral dari tangan Talita, dan langsung membukanya.
" Ini! " Ucap Arkan seraya menyodorkan air mineral yang sudah selesai ia buka penutup nya.
" Terimakasih. " Ucap Talita.
Heh! Benar-benar ide yang sangat luar biasa membuat mereka berdua berada disana.
Sementara Alenta, gadis itu semakin masuk kedalam perasaan kesal meskipun masih bisa ia tahan dengan baik. Tapi adanya Nick benar-benar sukses membuat keadaan semakin menekan Alenta.
" Alenta, mau aku bukakan tidak penutup botolnya? " Goda Nick seraya menatap Alenta yang ada disampingnya, lalu tersenyum seolah jelas sekali menunjukkan sindiran untuk Alenta.
Tak mau menerima perlakuan aneh dari Nick, segera Alenta meraih botol air mineral yang sudah di pegang Nick, lalu membuka nya sendiri. Duk! Alenta meletakkan botol ya sedikit kuat menghantam meja.
" Tangan ku berfungsi dengan baik, mohon jangan meremehkan kemampuan seorang Alenta. Jangankan membuka penutup botol, membuka kulit kepala juga aku bisa. " Alenta tersenyum manis seperti biasa, tapi lihatlah! Matanya benar-benar memperlihatkan bagaimana dia sedang marah besar sekarang ini. Sementara Arkan, pria itu sontak terdiam tak bicara karena tahu apa yang dilakukannya barusan sudah membuat Alenta tidak senang.
" Ah, seram sekali! Ngomong-ngomong, kau kan tidak suka kacang, kenapa memesan sate ayam dengan saus kacang? "
Sialan! Alenta menghela nafas kesalnya. Iya lah dia kesal, apa tidak bisa sih jangan banyak bicara? Dia ini sedang lapar dan butuh makan! Sudah di hadapannya ada Arkan dan Talita, ditambah mulut Nick yang tidak bisa diam, benar-benar ingin menghancurkan dunia rasanya.
" Hem! " Jawab Alenta singkat meski malas dan berharap mulut sialan Nick segera bungkam dan fokus untuk makan.
__ADS_1
Arkan, pria itu sebentar menatap Alenta dan Nick yang jelas sekali memiliki kedekatan yang tida biasa. Padahal Alenta tidak pernah memperlihatkan sisinya yang ketus seperti ini dengannya, tapi kenapa dengan Bosnya sendiri Alenta begitu terbuka? Apalagi, Alenta dengan jelas memperlihatkan tatapan tajam seolah itulah dirinya yang sesungguhnya.
" Alenta, biarkan aku memisahkan daging ayam dari tusuknya. " Ucap Arkan karena memang seperti itulah kebiasaan yang sering ia lakukan saat mereka sedang makan berdua.
" Tidak usah, makan saja makananmu nanti keburu dingin. " Ujar Alenta menolak tanpa menatap mata Arkan yang terus menatap nya dengan perasaan bersalah.
Alenta melanjutkan kegiatan makanya, mengabaikan tatapan Talita yang merasa tidak enak karena kekesalan Alenta pasti karena sikap baik Arkan padanya.
Sementara Nick, pria itu nampak begitu senang hingga tak hentinya tersenyum sembari menikmati sup ayam pesanan nya.
" Uhuk! Uhuk! " Nick terbatuk-batuk karena terus saja membatin bahagia hingga tersedak pada akhirnya. Segera Alenta menyodorkan minuman miliknya yang sudah terbuka, sungguh dia tidak berniat memberikan bekas minumnya kepada Nick, hanya saja kebiasaan yang sering dia lakukan dalam melayani Nick selama tinggal bersama mertua tanpa dia sadari secara otomatis tangannya bergerak menyambar air yang paling dekat dengannya untuk di berikan kepada Nick. Tak menunggu lama, Nick langsung saja menerima botol itu dan meminumnya hingga sedikit tersisa di sana.
" Alen, itu botol milikmu. " Ujar Arkan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan apa maksudnya.
" Eh? " Alenta dan Nick sebentar saling menatap, lalu segera saling membuang wajah setelahnya.
Ini aku berarti, berarti sudah berciuman dengan Alenta dong? Hehe....
" Maaf Bos, jiwa budak ku tiba-tiba saja bangkit saat melihat majikannya dalam masalah. Jadi bukan maksudku memberikan bekas ku, kalau Bos tidak Sudi, boleh kok di muntahkan saja. " Ucap Alenta lalu segera melanjutkan kegiatan makannya. Sudahlah, mau bekas lap ketiaknya juga dia yakin dan tahu benar bahwa tidak akan ada penyakit yang ditularkan dari tubuhnya yang super sehat dan bersih itu.
" Jiwa budak, atau jiwa istri? " Bisik Nick dengan jarak yang begitu dekat dengan Alenta, dan sukses besar membuat semua orang yang berada di sana terbengong-bengong dengan sikap Nick yang tidak seperti Bos kepada bawahannya.
Alenta tersenyum, lalu menatap Nick dengan jarak wajah mereka yang terbilang lumayan dekat.
" Sekarang ini, jiwa Iblis ku sudah akan bangun. Bagaimana kalau dicoba saja membuat Iblis ini meradang? "
" Ah! Aku takut! " Nick terkekeh lalu mengambil lagi sendok untuk melanjutkan makannya.
" Kakak dan tuan Nick sangat akrab ya? " Ujar Talita.
__ADS_1
Alenta menghela nafas, lalu memasang wajah jengah. Padahal sate ayam yang sedang dia makan itu sangat enak loh, tapi semenjak gara-gara suara Talita barusan, kenapa juga rasa sate ayamnya jadi sangat asam? Belum lagi si Talita terus memanggil namanya dengan sebutan kakak, uh! Benar-benar Bolot! Padahal sudah di ingatkan beberapa kali setiap bertemu, tapi kupingnya yang lengkap ada dua itu kok ya masih tidak mau dengar. Rasa sudah akan kesemutan bibirnya hanya untuk mengingatkan akan hal itu, tapi sepertinya kali ini dia akan memilih untuk diam saja karena malas berbicara.
" Kakak, bagaimana kalau minum air mineral ku saja? Sepertinya kakak sulit menelan makanan ya? " Ucap Nick seraya mendekatkan airnya kepada Alenta, dan sudah jelas sekali kalau kata-kata itu ya untuk membuat Alenta lebih kesal lagi tentunya.
" Ayo, di minum, Kakak! '' Nick menebalkan ucapannya saat mengatakan kata kakak, lalu tersenyum setelahnya.
Alenta, gadis cantik yang selalu mengikat rambutnya seperti buntut kuda itu hanya bisa lebih menahan kekesalannya, menyibakkan rambutnya yang sebagian jatuh ke pundaknya, lalu tersenyum dengan begitu manis.
" Adik, bagaimana kalau lanjutkan saja makan mu? Kalau tidak mau, bagaimana kalau kakak menyuapi mu saja? "
" Aduh! Aku takut sekali melihat senyuman mu itu, kakak! Aku makan sendiri saja deh! "
Alenta tersenyum miring, mengambil satu tahu isi dengan Baluran tepung diluarnya dan itu adalah milik Maudi yang baru akan dia makan.
" Buka mulutmu, Adik! " Alenta menyodorkan tahu itu ke mulut Nick.
" Tidak mau! " Nick melengos karena memang dia tidak mau, tapi tak lama Aleta meraih dagunya, menakan di sisi kanan dan kiri wajahnya dengan satu tangan hingga membuat mulutnya terbuka, dan memasukkan tahu berukuran lumayan besar itu ke dalam mulut Nick.
Makan tuh tahu! Mau makan saja tidak konsentrasi karena harus mendengar ocehan gila mu!
Tatapan semua orang kini benar-benar tak bisa lagi terelak dari Nick dan Alenta.
Hubungan seperti apa sebenarnya? Batin Arkan.
Bos dan Sekretaris memang bisa se dekat ini? Batin Talita.
Alenta, Bos, please... Apakah kalian sungguh-sungguh adalah suami istri? Kalaupun iya, tolong jangan seperti ini di depan orang lain, mereka pasti sedang membatin heran. Bagaimana bisa sekretaris memperlakukan Bosnya seperti ini?
Bersambung.
__ADS_1