My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Cincin Pasangan


__ADS_3

" Jangan lupakan cincin pernikahan kita, nanti akan jadi pertanyaan Ayah dan Ibumu lagi, mengerti tidak? " Ucap Alenta kepada Nick yang masih sibuk dengan kegiatan rapih-rapihnya. Memang sudah seperti istri kebanyakan di luar sana, mengomel ini itu kesana kemari tidak tentu arah, semua selalu di akhiri dengan omelan-omelan Alenta. Uh... Padahal di kantor dia juga sudah lumayan puas kok mendengar omelan, masa iya di rumah juga harus mendengar lagi? Kalau begini melulu, bukannya Nick akan lebih cepat mati karena darah tinggi? Tolong ya, dia kan belum punya anak, usianya juga masih kurang dua tahun untuk mencapai tiga puluh, tidak rela rasanya kalau mati gara-gara darah tinggi, stres memiliki sekretaris sekaligus istri seperti Alenta. Yah, meskipun dia menganggap istri bohong-bohongan, tapi tidak ada salahnya disebut istri di dalan hati saja kan?


" Bos, kenapa lama sekali? Kalau begini terus, kita bisa telat datang ke kantor. " Alenta berjalan mendekati Nick yang tengah memasang dasi, mengambil alih dasi itu setelah dia berdiri dengan jarak yang lumayan dekat dengan Nick.


Deg!


Degup jantung Nick lagi-lagi tak bisa terkontrol, padahal dia sengaja tidak ingin bicara dengan Alenta sebagai aksi ngambeknya. Tapi kalau jantungnya berdebar kencang seperti ini, apakah mungkin dia masih sanggup melanjutkan aksi ngambek itu?


" Subuh tadi Maudi sudah mengirimkan jadwal mu padaku, jadi kita tidak boleh telat karena kita harus mendatangi langsung lapangan, dan menanyai apa masalahnya sehingga proyek kita berjala melambat dua hari terakhir ini. "


Boleh saja mulut Alenta terus bicara dengan serius, tapi siapa yang akan tahu kalau Nick malah sama sekali tidak mendengarkan dan justru semakin mengamati pergerakkan bibir Alenta yang membuatnya tergoda.


" Sudah! " Ucap Alenta saat dasi yang melingkar pada kerah kemeja Nick terpasang dengan rapih. Tak mau membuang lagi waktu, Alenta mengambilkan jas yang akan dipakai Nick, lalu membantu untuk memakainya. Sungguh ini tidak biasa, tapi Nick merasa bahagia juga diperlakukan seperti itu oleh Alenta.


" Cincin! Jangan lupa, karena ada Ayah dan Ibumu dirumah ini. " Alenta berjalan untuk mengambil kotak kecil berisi cincin mereka yang biasanya terletak di laci.


" Aku sudah pakai, jadi tinggal Bos yang pakai. " Alenta meraih jemari Nick, lalu memasangkan cincin itu.


" Sudah selesai semua, kita turun sekarang Bos. " Alenta berjalan keluar lebih dulu, sementara Nick, pria itu kini tengah memandangi cincin yamg melingkar di jarinya. Dia tersenyum tipis dengan tatapan bahagia. Tidak apa-apa kan kalau dia merasa bahagia? Meski tidak tahu apa alasan dia bisa sebahagia ini, setidaknya tang harus dimaklumi adalah, kebahagiaan bisa muncul dari mana saja, jadi dia pantas juga merasakannya kan?


Setelah mereka turun kebawah, sarapan pun sudah menanti. Tak banyak yang dibicarakan, hanya sekedar sarapan, lalu bertanya bagaimana perkembangan perusahaan.


Beberapa saat kemudian, atau lebih tepatnya setelah mereka sampai di perusahaan.


Nick, Alenta, dan juga Maudi ikut menghadiri rapat bulanan di pagi hari, istirahat sebentar sembari mengecek kembali beberapa dokumen, lalu segera menyambangi lapangan, dan tentu saja mereka bertiga datang bersamaan.

__ADS_1


" Jangan lengah, kesulitan kita mendapatkan batu mulia pasti ada sebab yang tidak biasa. Aku dengar perusahaan Anth jewelry mengumumkan produk mereka yang terbuat dari batu mulia berkualitas terbaik, cari tahu saja kenapa mereka bisa mendapatkan batu mulia kualitas terbaik yang biasanya mereka hanya akan menggunakan kualitas sedang. " Ucap Alenta kepada salah satu pegawai yang berada disana.


" Baik, Sekretaris Alenta. Seperti yang sudah dijadwalkan, saya dan tim akan segera menyelesaikan sesegera mungkin tanpa mengabaikan ketelitian dan kehati-hatian. " Ucap pegawai itu.


Alenta tersenyum lalu mengangguk paham.


" Terimakasih, jika ada masalah lagi, langsung saja hubungi aku, atau Maudi. Jangan ragu-ragu, karena produk terbaru kita ini sangat penting. Selain demi masa depan Chloe, ada beberapa perusahaan yang terlibat kerja sama di dalamnya, jadi tolong jangan kecewakan kami ya? "


" Baik, siap, saya dam tim akan berusaha sebaik mungkin. "


Alenta kembali tersenyum, lalu menepuk pundak pria itu.


" Alenta! " Nick memanggil dengan nada agak tinggi karena merasa kesal melihat Alenta sebarang menyentuh pria lain di hadapannya dan membuat yang lain menoleh kaget.


" Iya? Ada apa, Bos? " Alenta mengeryit bingung sembari menatap Nick.


" Oke, terimakasih, kami pamit dulu ya? " Ucap Alenta seraya menyelipkan anak rambutnya yang tidak ikut terikat kebelakang telinga. Biasa saja sih hal seperti itu bagi para hadis, hanya saja satu orang yang kini tengah terkaget-kaget dan menelan salivanya saat merasa kering di bagian itu karena melihat hal yang membuatnya amat sambat terkejut. Siapa? Dan kenapa? Dia adalah Maudi, jantung gadis itu sontak berdegup kencang melihat cincin di jari Alenta yang mirip seperti kebanyakan cincin pernikahan lainnya. Tak sampai disitu, saat Muadi melirik ke arah Nick yang sedang menjabat tangan, dia bisa melihat cincin yang sama di jari Nick.


Masa iya Alenta dan Bos suami istri? Tidak mungkin kan? Selama ini Alenta kan selalu memaki Bos di belakang bersamaku, menggunjing, dan juga mengejek Bos juga adalah hobi kami. Ta tapi, cincin yang mereka pakai itu, apa maksudnya? Apa kebetulan saja?


Maudi kembali menelan salivanya karena teringat dengan banyak sekali ungkapan-ungkapan jahat, makian, gunjingan, dan juga kutukan yang sering ia lontarkan untuk Bosnya saat berada bersama Alenta.


Mampus! Kalau mereka beneran menikah, apakah posisiku aman setelah semua ucapan burukku untuk Bos?


" Maudi? Maudi! " Entah sudah berapa kali Alenta memanggil, hingga akhirnya dia tersadar saat Alenta menggoyangkan lengan Maudi.

__ADS_1


" Hah? "


" Kau tidak mau menjabat tangan dan pergi? "


" I iya! "


Di dalam perjalan kembali, Alenta meminta sopir untuk berhenti disebuah tempat makan karena teringat dengan ucapan Nick bahwa dia lapar.


" Maudi, kenapa dari tadi kau aneh sekali? Sekarang kau lun masih saja aneh. Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Alenta yang mendapati Maudi sangat aneh begitu kembali dari peninjauan tadi.


" Ti tidak kok! "


" Kalau begitu, kenapa kau terus melotot dengan makananmu? "


" A aku, se sedang berdoa. " Maudi memaksakan senyumnya, meraih sendok dan garpu, lalu menyendok apapun yang bisa ia sendok di hadapannya. Makan saja apapun, mau tertelan atau tidak, itu urusan belakang. Huhuhu..... siapa tahu besok aku sudah tidak bisa makan apapun, batin Maudi.


" Maudi! " Panggil Alenta dengan nada suara yang tinggi.


" I iya?! A aku minta maaf, sungguh minta maaf atas semua ucapan ku! "


" Eh? Kau bicara apa sih? "


" Memang tadi kau tanya apa? "


" Tidak bertanya, tapi aku sedang mengingatkan mu, yang kau makan sedari tadi adalah saus cabai! "

__ADS_1


" Ha? Ah! pedas! Pedas! "


Bersambung.


__ADS_2