My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Aku Ikut!


__ADS_3

Setelah kedatangan Rebecca, suasana kini semakin terasa aneh bagi Alenta dan Arkan. Bagiamana tidak? Rebecca sepertinya merasa takut setelah Nick membentaknya tadi, dan terus-terusan bersikap sok manja dan sok manis yang malah membuat Alenta ingin muntah dihadapan mereka semua. Sebenarnya sah-sah saja mau melajukan apa? Eh, tidak ya? Kan bukan suami istri? Oh, jadi ini memang harus Alenta yang bertindak deh.


" Babe, kita pergi berduaan saja yuk? Untuk apa juga sih kita bersama mereka? Mana makanannya cuma ada popcorn, minumannya juga hanya ada soda, ini kan bukan makanan yang sesuai selera kita. " Rengek Rebecca, lalu menjatuhkan kepalanya di lengan Nick dan bergelayut manja disana.


Cuih! Benar-benar iblis penggoda yang luar biasa! Hoho.... Mungkin lebih tepatnya Iblis penggoda yang liar biasa. Terus saja, nanti kalau sudah gatal mulut Alenta juga nanti akan membisu kok mereka berdua.


" Babe, kenapa diam saja? Masih marah? Bagaimana kalau nanti kita.... " Rebecca membisikkan sesuatu ke telinga Nick, lalu tak lama Nick tersenyum tipis.


Benar-benar pasangan rubah yang serasi kan? Alenta tersenyum miring seraya meletakkan popcorn yang sedari tadi ia makan dan sebentar meminum minuman soda miliknya.


" Arkan, kau pasti tidak nyaman kan? Tapi aku harap kau terbiasa karena yang ada di otak Bos dan pacarnya hanyalah kegiatan ranjang. "


Uh! Dasar mulut anaconda! Nick menatap Alenta kesal, padahal mood nya sudah agak membaik karena rayuan Rebecca, tapi gara-gara mulut si curut rasa anaconda itu dia jadi kembali merasa kesal, bahkan ingin sekali menjitak kepala jadinya. Ngomong-ngomong Rebecca mau tidak ya di jitak? Kan kalau Alenta dia tidak berani melakukannya, batin Nick sebentar melirik Rebecca yang kini tengah menatap sebal Alenta. Iya, wajar saja sih dia sebal, memang mulut Alenta kan sangat berbakat kalau untuk menyindir orang. Bahkan kalau saja perang masih ada seperti jaman dulu, Alenta pasti bisa membunuh lawannya hanya dengan mengoceh seperti itu.


" Tidak apa-apa kok, kalau Bos dan nona Rebecca mau pergi menjalankan rencananya mereka, kita kan bisa pergi ke- "


" Jangan omong kosong! Siapa yang mau pergi untuk kikuk kikuk?! Aku masih ingin disini! Nanti kalau Ibuku telepon dan menanyakan Alenta bagaimana?! " Nick reflek mengoceh dengan tatapan yang amat tajam hingga mengabaikan Rebecca yang tersinggung karena merasa Nick lebih memperdulikan Alenta di banding dirinya.


" Babe, ini kan sudah mau sore, jadi mana mungkin Ibumu akan menelepon? " Protes Rebecca, dia juga menahan lengan Nick karena takut kalau saja Nick tiba-tiba kabur meninggalkan dirinya disana.


" Anu, Bos, aku tidak menuduh anda akan melakukan yang ada bicarakan tadi kok, lagi pula aku hanya akan pergi ke tempat makan langganan kami tidak jauh dari sini. " Ucap Arkan setelah menggaruk tengkuknya karena dia merasa tidak enak sendiri. Sedangkan Alenta, gadis itu tersenyum miring seolah ingin menunjukkan seberapa jauh perbedaan Arkan dengan Nick.


" Bos, aku dan Arkan sama sekali tidak pernah membahas soal ranjang, karena kami selalu menghabiskan waktu kencan kami untuk makan makanan kesukaan kami, mengunjungi tempat yang bisa membuat kami tersenyum bahagia. Gaya pacaran kami masih sangat kuno, jadi kami tidak terlalu paham maksud ucapan Bos dan nona Rebecca tadi, tolong maafkan kekasihku yang polos ini dan mulutku yang blak-blakkan ya? " Alenta tersenyum dengan begitu manis. Duh elah, biang gula juga bisa kalah manis sepertinya. Tapi, yang bisa dilihat oleh dua orang yaitu Nick dan Rebecca tentu hanyalah hinaan terhadap mereka yang selalu saja memikirkan ranjang saat mereka bersama.


Nick, pria itu hanya bisa mengerakkan bibirnya karena kesal tapi juga tidak berani berkata secara langsung kepada Alenta. Sejujurnya kalau begini terus dia juga takut akan terkena darah tinggi sih, tapi terlalu berbahaya kalau sampai Alenta mengamuk resikonya kan malah lebih cepat hancur dari pada mati karena darah tinggi.


" Kalai begitu, kami pergi duluan ya Bos? " Izin Arkan seraya bangkit dari duduknya, tangannya juga sudah mulai menggenggam tangan Alenta untuk menuntunnya pergi dari sana.


" Semoga kegiatan kalian menyenangkan. " Ucap Alenta lalu seperti biasa, dia akan berpura-pura tersenyum manis meski tersampaikan kepada Nick lain pula rasanya.

__ADS_1


Rebecca kini mulai bisa menarik nafas tenang karena Alenta sudah pergi dan tidak akan mengganggu waktunya berduaan dengan Nik saja. Tapi, ternyata hanya bisa sebentar merasa lega karena setelahnya di luar dari apa yang dia pikirkan.


" Tunggu! " Nick bangkit dari duduknya dan membuat tiga orang lain menoleh kearahnya dengan wajah kaget dan bingung.


" Iya Bos? " Ucap Arkan. Tapi Alenta malah memiliki perasaan tidak enak begitu melihat wajah Nick barusan, sama juga seperti yang dirasakan Rebecca.


" Aku juga! "


Semua orang mengeryit bingung menatapnya.


" Aku juga, apa? " Rebecca bertanya Karena tidak paham apa yang dimaksud Nick.


" Aku juga mau makan, jadi aku akan ikut bergabung denganmu. " Nick benar-benar hebat sekali dalam menyembunyikan maksudnya, tapi sungguh dia hanya merasa tidak rela Alenta bahagia setelah mengacaukan moodnya.


Arkan menatap Alenta karena ingin menanyakan pendapat kekasihnya sebelum mengiyakan ucapan Bosnya yang sebenarnya juga tidak mungkin dia mengatakan tidak.


" Oh, boleh-boleh saja. Tapi yakin nona Rebecca di bunga mawar di tengah hutan salju ini sudi makan bersama dengan kami? " Alenta tersenyum menatap Rebecca yang kini mendelik seolah tidak ingin pergi, tapi dia juga tidak ingin berpisah dengan Nick karena bisa saja Nick tergoda oleh Alenta nantinya.


" Ikut! Aku akan ikut kemanapun priaku pergi. "


" Benarkah? Benar-benar Romeo and juliet di dunia nyata ya? "


" Bos dan nona Rebecca benar-benar serasi ya, Alen? " Ucap Arkan lalu tersenyum kagum.


" Iya, aku sampai-sapai merasa kasihan. "


" Eh? " Arkan menatap Alenta yang kini sudah berbalik seraya menggandeng tangannya untuk segera menjalankan kakinya.


" Kok kasihan? "

__ADS_1


" Iya lah, nanti kalau Bos mati dia apa juga akan ikut mati? Ucapan bohong seperti itu anak sekolah dasar juga tidak akan percaya. "


Arkan tersenyum, lalu mengubah tangannya dan merangkul pundak Alenta.


" Kau benar-benar pandai sekali mengacaukan keromantisan seseorang. "


" Oh, mereka orang? Aku pikir rubah jantan dan rubah betina. "


" Hus, pelan kan suaramu, dia adalah Bos kita dan calon Nyonya Bos. "


Maaf sekali Arkan, tapi wanita yang sedang kau rangkul ini adalah Nyonya Bos!


Di balik punggung mereka, Nick dan Rebecca hanya bisa kesal dengan perasaan mereka masing-masing. Rebecca, dia kesal mendengar ucapan Alenta dan Arkan, sementara Nick, dia merasa kesal karena Alenta terlihat bahagia.


Tidak bisa dibiarkan!


Nick berjalan cepat hingga membuat tangan Rebecca terlepas dari tangannya, lalu menabrak Alenta dan Arkan, lalu menjauhkan tubuh mereka agar berhenti saling merangkul seperti itu.


" Aduh! Maaf sekali, cuaca sangat panas jadi aku tidak sabar kalau jalan kaki pelan sekali seperti ini. "


" Oh, tidak apa-apa Bos. " Ujar Arkan, lalu kembali mendekati Alenta untuk merangkulnya lagi.


" Oh, Babe! Kau ketinggalan? " Nick kembali berjalan berbalik dan kembali memisahkan tubuh Alenta dari Arkan yang merangkulnya, dan meraih tangan Rebecca untuk dia bawa bersamaan.


Alenta, gadis itu hanya bisa mendengus kesal dengan tatapan mata tajam. Sudah cukup, dia benar-benar tahu sekali kalau Bosnya itu sengaja melakukan itu. Dengan cepat juga Alenta berjalan, dan menabrak lengan Nick dengan kuat.


" Ah, panas! Maaf! " Ucap Alenta, sementara Nick, pria itu tersenyum tipis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2