My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Gangguan


__ADS_3

Dua hari sudah Nick pergi, tapi bagi Alenta benar-benar sudah seperti satu bulan lamanya. Entahlah, kenapa juga dia begitu merindukan Nick? Padahal baru dua hari tapi sudah membuatnya tidak semangat. Apakah karena tidak ada yang bisa di marahi, apa dia merasa begitu sepi karena dia terbiasa banyak mengomel kepada Nick? Hah! Selain dari Nick kan memang tidak ada yang bisa di omeli.


Alenta meraih ponselnya yang setelah lelah ditubuhnya sedikit berkurang, dia melihat satu persatu pesan yang masuk ke ponselnya. Ada kesan dari Arkan, dari Klien, Ayahnya, juga ada Nick yang ikut mengirimnya pesan namun dia baru bisa melihatnya sekarang.


Alenta, selamat pagi? Hari aku bangun lebih awal, tapi maaf baru mengabarimu. Aku akan pergi ke perusahaan paman Sammy sebagai karyawan biasa, tepatnya aku menjadi asisten sekretarisnya.


Pesan kedua.


Alenta, kau pasti sibuk kan? Jangan lupakan maka siang mu, aku juga akan pergi makan siang.


Nick mengirimkan photonya kepada Alenta. Sangat berbanding terbalik dengan penampilan saat berada di Chloe, Nick menggunakan kemeja polos, dasi yang bisa dibilang agak. Irak, rambut di potong sangat pendek, juga kaca mata bulat Teba menghiasi wajahnya. Alenta tersenyum, padahal penampilannya bisa dibilang norak, tapi tetap saja Nick terlihat tampan. Yah, dulu memang enggan sekali mengakui jika Nick tampan, tali melihat penampilan aneh yang tidak menghilangkan ketampanannya, Alenta bisa apa kalau tidak mengakui kebenaran itu?


Pesan ketiga, sampai dengan ke delapan semua tentang kegiatannya, dan terakhir berkesan agar Alenta berhati-hati saat pulang dan jangan lupa makan malam terlebih dulu sebelum tidur.


" Apakah kau juga seperti ini dengan wanita sebelumya? " Alenta meletakkan ponselnya, beralih kini menatap photo pernikahannya yang ada di atas meja. Alenta meraih photo itu lalu menghela nafasnya.


" Sudahlah, kali ini aku akan percaya padamu. "


***


Ini sudah pukul delapan, tapi Nick masih betah dengan tumpukan-tumpukan buku tentang bisnis. Tentu tujuannya adalah agar lebih cepat memahami dan tidak seperti hati ini, selain di marahi habis-habisan oleh Sammy, dia juga harus membuat kopi, tali karena tidak pernah bisa membuat kopi, ya bukan salahnya juga kalau rasanya aneh dan yah, apa lagi kalau tidak lagi-lagi kena marah?


" Nick? " Sapa Reiner seraya berjalan menuju ke arahnya.


" Kau sungguhan akan mempelajari ilmu bisnis ini? Memang kau bisa paha hanya dengan membaca saja? "


Nick berhenti sejenak, kalau menatap Reiner yang juga menatapnya.


" Membaca buku dulu, lalu esoknya bisa terjun untuk praktek kan juga lebih bagus. "


Reiner mengangguk paham.

__ADS_1


" Nick, aku benar-benar bisa melihat kesungguhanmu. Aku harap kau berubah menjadi lebih baik. "


Nick tak menjawab ucapan itu lantaran fokusnya dengan buku tak bisa teralihkan. Reiner tersenyum, beginilah seharusnya seorang penerus Chloe. Selain memiliki wajah tampan dan tubuh yang bagus, dia juga harus memiliki isi kepala yang cemerlang, juga sikap yang tegas dan teguh pendirian.


Pagi harinya.


Seperti biasa, Nick akan mengirim pesan kepada Alenta, baru dia akan berangkat ke kantor. Entah bagaimana harus menyembunyikan wajahnya, tapi masih saja ada orang yang mengatakan jika dia mirip penerus Chloe, hah! Padahal kan sudah berpenampilan aneh seperti itu? Bahkan baru dua hari masuk kerja saja sudah ada beberapa gadis yang terus mengajak makan siang bersama, makan malam bersama, mungkin seminggu lagi ada yang mengajaknya bobo bersama. Duh! Kalau saja tidak ada Alenta di hidupnya, jangan sepuluh, lima puluh wanita juga tidak masalah untuk dia libas.


" Selamat pagi, Rezef? " Seorang gadis cantik, dia adalah kepala Divisi perencanaan yang begitu jelas menunjukkan ketertarikan dengan Nick. Oh iya, Nick disana menggunakan nama Rezef demi menyembunyikan identitas aslinya.


" Selamat pagi, Bu Dinda. " Jawab Nick sopan.


" Rezef, parfum yang kau pakai hati ini benar-benar sangat wangi dan memikat. Aku jadi segar bugar karena aromanya. " Goda Dinda wanita tiga puluh dua tahun itu.


" Terimakasih, Bu Dinda. " Nick tadinya akan segera menyingkir dan masuk ke ruangan asisten sekretaris Sammy karena harus merapihkan ruangan, dan menyiapkan apa saja yang perlu ia kerjakan sebelum sekretaris Sammy datang sebentar lagi.


" Rezef kenapa buru-buru sekali? Kita sarapan dulu yuk? " Dinda menahan lengan Nick yang akan menghindar darinya. Sebenarnya Nick tahu benar arti dari tatapan Dinda sekarang ini, karena mantan kekasihnya yang dulu-dulu juga akan menatapnya seperti ini. Keinginan melakukan hal yang tidak pantas, itulah yang sangat jelas terlihat dari tatapan Dinda. Wanita itu sebenarnya bukan tipe yang bergelayut manja, tapi sepertinya dia sangat mementingkan fisik seseorang sehingga minat Nick dia jadi tidak bisa menahan diri.


" Rezef, kenapa kau terus menolak? Itu hanya alasan saja kan? "


Nick menghela nafasnya, lalu menatap Dinda dengan tegas.


" Maaf Bu Dinda, saya memiliki istri yang mempercayai saya dengan sepenuh hati, jadi saya tidak tega kalau mengkhianatinya. "


" Jangan bohong, aku tahu kau tinggal di apartemen sendirian. "


Sialan! Jadi Dinda sudah sampai membuntutinya? Tidak, ini tidak akan baik. Sekarang dia boleh saja mengabaikan hal ini, tapi kalau terjadi masalah di kemudian hari bagaimana? Iya tidak masalah sih kalau Alenta tidak salah paham, tapi kalau sebaliknya bukannya akan tewas dia di tinggalkan Alenta? Nick membuang nafasnya,aku mengangkat tangannya untuk menunjukkan jemarinya.


" Ini adalah cincin pernikahan saya, istri saya bekerja di kota lain, jadi tidak bisa berkumpul untuk sementara waktu. "


" Hanya cincin tida bisa membuktikan apapun. "

__ADS_1


Nick menahan dirinya yang ingin marah, kalau saja dia bukan kepala Divisi perencanaan, rasanya ingin sekali dia mengikat mulut sialan yang sedari tadi mengintrogasi nya. Nick meraih ponselnya, lalu menghubungi Alenta Melalui panggilan video.


" Sayang! " Panggil Nick buru-buru sebelum Alenta memanggilnya Bos.


Alenta nampak bingung, tapi sebentar saja dia sudah terlihat seolah tak mendengar apa yang diucapkan Nick tadi.


" Kau belum berangkat ke kantor? " Tanya Nick.


Sebentar lagi, aku baru selesai mandi. Kau sudah sampai di kantor?


" Iya, aku baru sampai. Oh iya, ini namanya Ibu Dinda, dia kepala Divisi perencanaan. "


Alenta mengeryit bingung sebentar, tapi sepertinya dia paham setelah mengingat kembali saat Nick dengan cepat langsung memanggilnya sayang begitu sambungan telepon terhubung tadi.Alenta tersenyum manis lalu menyapa dengan sopan.


Halo, Ibu Dinda?


Dinda memaksakan senyumnya.


Mohon bimbingan untuk suami saya, juga tolong jaga dia ya? Soalnya dia sering kali digoda wanita, aku jadi takut kalau dia pulang dengan membawa virus.


Dinda mengangguk dengan senyum yang lagi paksakan. Nick mengarahkan layar itu kepadanya, lalu tersenyum menatap wajah Alenta yang nampak sangat cantik tanpa make up.


" Bagaimana tidur mu semalam? Apa kau melewatkan makan malam? "


Berhentilah membahas itu, kau tahu resikonya kalau kau macam-macam kan? Aku bisa membuat lumpuh bagian bawahmu kalau kau tidak bisa menepati janji!


Nick tersenyum kikuk, dia menatap Dinda sebentar.


" Inilah alasannya aku tidak bisa memenuhi ajakan Ibu Dinda, istriku memang cantik, tapi dia selalu menepati ucapannya sendiri, jadi biarkan saya hidup lebih lama ya, Bu Dinda? Saya permisi dulu. " Ucap Nick lalu segera beranjak pergi.


Pantas saja di menolak terus, ternyata istrinya sangat cantik.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2