My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Luka Saat Itu


__ADS_3

Alenta yang terbangun beberapa saat setelah Nick pergi, kini hanya bisa duduk ditempat tidur dengan pandangan kosong. Bukan lemah sehingga dia tidak bisa lepas dai masa lalu menyakitkan itu, hanya saja ada satu hal yang selama ini Alenta sembunyikan serapat mungkin, bahkan dia masih menyangkal seolah itu tidak pernah terjadi. Dulu saat kecil mungkin dia tidak terlalu memikirkan hal itu karena dia masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Tapi usianya yang semakin dewasa dari tahun ke tahun membuatnya sadar bahwa masa kecilnya adalah masa yang paling berat dan masa yang tidak ingin dia ulang kembali.


Nyatanya Alenta bisa berdiri di kakinya sendiri juga karena usahanya yang terbentur dengan keadaan. Sekolah dasar hingga lulus kuliah yang biasanya akan dihadiri kedua orang tuanya saat dia mendapatkan juara hingga sarjana, nyatanya tak sekalipun sosok Ayah datang memenuhi kewajibannya. Ibu, wanita itu adalah wanita yang paling hebat menurut Alenta. Beberapa tahun lalu saat dia lulus sekolah menengah atas, Ibunya datang ke sekolah membawa sebuket bunga dengan lutut dan sikut yang berdarah, serta pelipisnya juga berdarah meski sudah dia sembunyikan dengan terus menyeka darah yang keluar dari pelipisnya. Seorang Ibu yang rela tak merasakan sakit demi memenuhi kewajibannya, dan demi melihat putrinya tersenyum, ia begitu rela datang dengan bibir tersenyum disaat dia kesakitan setelah terserempet sepeda motor ketika berangkat untuk menghadiri acara kelulusan di sekolah menengah Alenta.


Lalu kenapa dia harus memenuhi keinginan Ayahnya yang selama ini mengabaikannya? Benar, dia adalah manusia yang seharusnya memiliki hati sedikit lembut dan mencoba untuk memaafkan kesalahan Ayahnya yang dianggap adalah hal yang seharusnya. Tapi, pernahkah membayangkan bagaimana rasanya menjadi Alenta? Dia dulu terus mengabaikan Ibunya, menyalahkan Ibunya karena Ayahnya meninggalkannya, dia juga selalu marah saat Ibunya melarang untuk bertemu Ayahnya. Sampai hari itu tiba, hari dimana dia melihat Ibunya tersenyum lebar, membawa sebuket bunga dengan jalannya yang kesulitan karena kedua lututnya berdarah. Hari itu, detik itu juga Alenta seperti dipukul oleh beton raksasa. Ibu, wanita itu melakukan segala cara untuk membuat Alenta bahagia, menerima saat disalahkan, selalu ada kapanpun Alenta membutuhkan karena tidak ingin Alenta merasa kekurangan kasih sayang.


Alenta memegang erat pinggiran tempat tidur dengan mata yang tak tahan lagi menahan tangis. Mungkin Ayahnya sesekali juga merindukannya, tapi kenapa tidak sekalipun melihat bagaimana keadaannya? Kenapa tidak datang di saat semua orang menggosipkan Ibunya karena memiliki anak tapi tidak memiliki suami? Lalu, kemana sosok Ayah saat dia di buli teman-temannya karena tidak memiliki Ayah? Kemana pria yang katanya sudah sakit dua hari ini dan terus memanggil namanya saat Alenta sedang demam tinggi hingga tidak bangun selama empat hari? Kenapa sekarang dia bersikap seolah selama ini dia amat sangat merindukan Alenta, tapi Alenta seolah tak sekalipun merindukannya?


" Kalau ingin mati ya mati saja, jangan libatkan aku lagi. " Ucap Alenta tertunduk membiarkan air matanya jatuh. Alenta memang sosok yang tangguh, dia juga disiplin, juga rajin dan pintar. Tapi dia juga tidak selalu sempurna seperti itu, dan ini adalah salah satu kekurangan Alenta sebagai seorang manusia biasa. Pendendam, juga tidak mudah memberikan ungkapan maaf, maupun menerima ucapan maaf dari siapapun saat dia merasa tidak penting.


" Kau, Ibumu, juga wanita itu sudah memberikan luka yang sangat tidak bisa aku lupakan. Jadi biarkan saja aku membencimu sampai puas, setidaknya sampai aku merasa sudah tidak mengenal kalian lagi. "


Alenta bangkit dari atas tempat tidur, dia berjalan mendekati jendela yang ada di kamar Nick, lalu membuka tirai nya. Alenta menyeka air matanya, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, semoga saja itu bisa mengurangi kesedihannya.

__ADS_1


Malam yang gelap dan mendung, sama seperti malam itu. Malam dimana dia lari dari rumah Ibunya untuk datang kerumah nenek, atau Ibu dari Ayahnya. Di dalam perjalanan Alenta kesana, dia yang saat itu masih kecil dan tidak memiliki uang untuk naik ojek hanya bisa menerima saja saat hujan deras mengguyur tubuhnya, bahkan kilatan serta petir berisik di atas langit tak membuatnya merasa takut. Sesampainya di rumah sang nenek, hal pertama yang Alenta lihat dan rasakan adalah kekecewaan yang sangat besar. Neneknya duduk di halaman rumah sembari memangku Alenta, dia memeluk sesekali sembari tertawa bersama Talita. Mengecup kepalanya dan mengatakan hal-hal manis yang dia sendiri belum pernah mendengar dari mulut neneknya.


Cucuku yang paling cantik, paling manis, kenapa kau membuat nenek ingin selalu mencubit pipimu? Hari ini tidur bersama nenek ya? Nenek akan menceritakan dongeng untukmu.


Alenta sesegukan di bawah pohon tanpa ada yang melihatnya. Dia ingin dipeluk, dicium, dimanjakan seperti Talita, dia juga ingin merasakan bagaimana rasanya tidur bersama neneknya dengan mendengar dongeng yang akan diceritakan oleh neneknya. Tak berhenti sampai disitu, karena tak lama Rahayu dan Tuan Baskoro keluar untuk membawa Talita masuk ke dalam.


" Ibu, ini sedang hujan. Kita ajak masuk Talita ya? Dia ini sangat mudah sekali flu. " Ujar Tuan Baskoro seraya mengangkat tubuh Talita dan mencium keningnya.


" Ibu, nanti Ibu akan repot. Oh iya, besok kita kan mau jalan-jalan ke pantai, bagaimana kalau besok ajak Alenta saja? " Ujar Ibu Rahayu.


" Alenta itu sangat tidak suka pantai, jadi dia tidak akan senang kalau di ajak kesana. " Ujar Tuan Baskoro.


" Lagi pula Alenta itu sangat manja dan pemilih. Makan pilih-pilih, mau tidur juga repot, beberapa waktu lalu saja dia ngompol. Lebih baik tidak usah di ajak dari pada nanti repot. " Timpal sang nenek.

__ADS_1


" Alenta masih kecil Bu, Jai wajar kalau mengompol. " Ujar Tuan Baskoro.


" Apanya yang masih kecil? Dia waktu kesini kan usianya sudah lima tahun. Lihat Talita, dia saja sudah tidak mengompol lagi, tadi siang dia mau buah air kecil juga bilang dulu. "


" Talita memang sangat patuh, dia juga sangat mudah memahami saat kita menasehati. " Ujar Ibu Rahayu.


Bagaimana? Masihkah ada yang ingin menjadi Alenta? Tidak kan?


Setelah kejadian itu Alenta kembali ke rumah Ibunya. Memang jarak rumah mereka tidak begitu jauh, cukup dua puluh menit kalau berjalan kaki. Saat Alenta sampai kerumah, Ibunya ternyata tidak ada dirumah. Sembari menunggu Ibunya pulang, Alenta hanya bisa duduk menunggu di teras rumah dengan sekujur tubuh yang menggigil kedinginan. Kenapa tidak masuk? Itu karena Ibunya Alenta tengah mencari Alenta dan pintu terkunci.


Tak lama Ibunya kembali ke rumah sembari menangis memanggil nama Alenta. Ibunya terlihat kacau, seluruh tubuhnya basah, bahkan Ibunya juga tidak memakai alas kaki demi untuk mencarinya. Sehari setelah kejadian itu Alenta panas tinggi, bahkan sampai kejang beberapa kali, dan empat hari juga Alenta tidak sadarkan diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2