
Nick menyender di senderan tempat tidur sembari mengusap punggung Alenta. Sudah sembilan bulan kehamilan Alenta, dan tinggal sedikit lagi masa ngidam yang membuatnya menderita akan selesai. Tapi, semenjak masuk ke trisemester ke tiga, Alenta kembali menjadi jutek. Dia sangat tidak suka disentuh sembarangan, mau cium kening saja izinnya sampai sepuluh menit kadang juga mulut Nick sudah akan kejang baru di izinkan.
Sudah dua bulan ini Nick kembali berpuasa, maksudnya tongkat ajaibnya yang puasa ya! Sedih sih setelah merasakan bagaimana indahnya kikuk kikuk dengan Alenta yang super dominan, lalu tiba-tiba dia harus stop karena mood Alenta kembli berulah. Dari ujung rambut hingga ke ujung kepala, bagian yang sering Nick sentuh hanya punggungnya saja. Pernah beberapa kali Nick memijat pelan-pelan hingga di sengaja kan untuk menyentuh bagian itu nya Alenta, tapi lagi-lagi Alenta melotot tajam, dan marah besar saat Nick sedikit memaksa ketika di rasa tidak tahan dengan bagian bawahnya yang terus meronta.
Seperti dua jam yang lalu.
Nick yang semakin tidak tahan dengan tongkat ajaibnya perlahan menarik tubuh Alenta untuk dia kungkung, tapi baru saja menyentuh lengan, Alenta sudah marah.
" Nick, kalau kau macam-macam aku akan kabur dari rumah. "
Nick hanya bisa membuang nafas kasarnya, sungguh sangat menyebalkan Alenta saat hamil. Tapi mau bagaimana lagi karena yang ada di perut Alenta kan anaknya, benihnya sendiri.
Nak, aku ini Ayahmu. Sudah mau sembilan bulan, tapi menyiksa tidak juga selesai. Huh... Aku jadi punya niat balas dendam saat kau sudah besar nanti.
Setelah Alenta benar-benar tidur, barulah Nick beranjak pergi karena harus menyelesaikan pekerjaan yang tidak selesai di kantor tadi. Jangan tanya kenapa bisa tidak selesai, karena jawabannya adalah Alenta. Di pertengahan trisemester, dia bisa merasa senang karena meskipun harus bolak balik dari rumah ke kantor nyatanya dia bisa merasakan bagaimana enaknya masa itu. Sekarang? Dia bolak balik ke kantor hanya untuk dimarahi, dan untuk mengusap punggung Alenta.
Pagi hari.
Nick menikmati sarapannya bersama dengan Alenta tentunya. Setelah itu dia bergegas untuk segera ke kantor karena dia juga sudah keuangan gara-gara tidak bisa tidur semalaman untuk mengusap punggung Alenta, juga bekerja di rumah setelahnya. Tidak ada drama romantis seperti suami mengecup istrinya sebelum berangkat bekerja, karena Alenta masih tidak mau kalau Nick menciumnya walaupun hanya di kening.
Sibuk seperti biasanya, kegiatan yang pada adalah hal yang sudah menjadi rutinitas bagi Nick. Pria itu sudah tak lagi kenal main-main dalam bekerja, sebisa mungkin juga sama sekali gak lembut karena dia tahu bagaimana Alenta saat ini.
" Bos, aku butuh tanda tangan. " Ucap Maudi yang baru saja datang. Nick megambil dokumen dari Maudi, sebentar dia membacanya terlebih dulu. Belum juga selesai dia membaca, telepon dari Alenta sudah harus dia angkat.
" Ada apa, sayang? " Tanya Nick.
Maudi, gadis itu hanya bisa memutar bola matanya jengah. Sudah pasti Nick diminta untuk pulang, dan dia harus menyelesaikan pekerjaannya bersama Dimas.
" Iya, sebentar lagi ya sayang? "
Nick mengakhiri sambungan teleponnya, dia segera melanjutkan kegiatannya tadi, lalu setelah merasa yakin dia baru menandatangi dokumen itu.
" Bos mau pulang dulu ya? " Tanya Maudi.
__ADS_1
" Iya lah, kemana lagi? " Ujar Nick setelah menghela nafas.
" Semangat sekali ya Bos? Sepertinya setelah bayi ini lahir, tahun depan juga akan melahirkan lagi deh. "
Nick menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Tidak, aku tidak mau ada kehamilan lagi. Sudah cukup saja aku cuma punya anak satu. " Jawab Nick dengan tatapan yang terlihat putus asa.
" Pft! " Maudi menahan tawanya. Dia memang tidak tahu benar bagaimana kehidupan Alenta dan Nick selama Alenta hamil, bahkan bertemu langsung dengan Alenta pun tidak. Alasannya sih Alenta pusing kalau terkena sinar matahari, ah! Jangan-jangan Alenta sudah berubah menjadi vampir.
Begitulah keseharian Nick selama kehamilan Alenta, angan-angan yang tadinya ingin memiliki banyak anak sudah tak dia inginkan lagi. Sebenarnya itu terserah Alenta sih, tapi dia tetap akan berusaha agar Alenta tidak hamil lagi.
Nick kembali ke rumah seperti biasanya, dia mencuci tangannya dulu baru menemui Alenta yang pasti berada di dalam kamar. Nick tersenyum melihat Alenta yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar.
" Sayang? " Nick tadinya ingin mendekat, tapi lagi-lagi Alenta melarang dengan mengamati tangannya.
" Peluk saja kok, sayang. "
Alenta tak menjawab, dia mengeryit tanpa bicara seperti sedang merasakan sesuatu.
" Nick, perutku! "
Nick menatap bingung, perut? Kenapa perutnya? Hilang? Tidak kok, itu masih ada disitu, ujar Nick di dalam hati.
" Perutku, Nick! "
" Perutnya mau di elus? "
" Sakit! Elus kepalamu! "
" Maaf, sayang. Ya sudah kamu pup saja dulu sana, aku tunggu disini. " Ucap Nick santai sembari megambil posisi duduk di pinggiran tempat tidur.
" Bukan pup! Ah, sakit! "
__ADS_1
Nick bangkit dengan wajah terkejut karena baru kali ini Alenta berteriak kesakitan.
" Kenapa bisa sakit sayang? Tadi kau ketiduran sampai tengkurap ya? "
" Jangan banyak omong kosong! perutku sakit! "
" Aku harus bagaimana ini sayang?! " Nick yang melihat Alenta panik kesakitan jadi ikut panik dan tidak bisa berpikir.
" Mobil! Mobil, cepat! "
" Mobil tidak bisa di bawa ke dalam, sayang! Aduh, perutku ikut sakit! " Nick memegangi Alenta, dia juga ikut berkeringat dingin entah mengapa.
" Aduh, bayi kita mau keluar bodoh! "
" Hah?! Mana? Aku tangkap ya sayang takut jatuh ke lantai. "
" Matamu! Bawa aku ke rumah sakit! "
" Ya ampun! Aku lupa sayang! "
Nick mengangkat tubuh Alenta dengan hati-hati, lalu membawanya masuk ke dalam. mobil. Ah, tubuhnya gemetar! Nick menarik nafas dan menghembuskan perlahan dan mulai menjalankan mobilnya. Benar-benar di luar dugaan, padahal Dokter bilang akan lahir di lima belas atau dua puluh harian lagi, mana orang tuanya sedang keluar kota, Ibunya Alenta juga sedang flu jadi tidak menemui Alenta dulu. Ada si Bibi dapur, tapi dia sepertinya sedang di atas untuk menjemur jadi tidak dengar. Damar juga sedang sekolah, untung saja Nick pulang ke rumah, kalau tidak benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya Alenta tadi.
" Apa-apaan Nick?! kau salah jalan! " Teriak Alenta sembari menahan sakit, untunglah dia juga masih bisa fokus.
" Aduh, aku kebingungan sendiri sampai tidak ingat jalanan. " Nick menarik nafas dan membuangnya lewat mulut berharap kegugupannya akan segera menghilang, juga gemetar tubuhnya segera berhenti.
Sesampainya di rumah sakit, Alenta segera ditangani oleh Dokter yang biasanya memeriksa kandungan Alenta. Rupanya Alenta siang tadi mandi karena dia merasakan basah di bagian intinya yang dia kira dia mengompol, ternyata itu adalah air ketuban yang pecah jadi harus segera dilahirkan.
Ah, sakit!
Batin Nick saat menemani Alenta yang kini tengah menunggu pembukaan lengkap. Bukan hanya menunggu diam saja tentunya, Nick harus merasakan bagaimana Alenta menarik rambutnya, menggigit lengan dan pundaknya.
Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkan mu hamil lagi, Alenta.
__ADS_1
Bersambung.