
Sebuah buket bunga, dengan sekeranjang kecil buah-buahan, itu adalah bawaan dari Ibunya Alenta saat mengunjungi mantan suaminya, yaitu Tuan Baskoro. Bukan karena merindukannya, bukan pula karena merasa iba. Dia ada disana tepat disaat mantan Ibu mertuanya datang untuk menjenguk Tuan Baskoro, benar-benar sangat kebetulan, tapi juga membuat Ibunya Alenta merasa lega karena setidaknya wanita yang dulu pernah menjadi Ibu mertuanya sudah sehat. Disana bukan hanya ada Tuan Baskoro dan Ibu Tina saja, Tapi juga ada Ibu Rahayu. Maklum saja, sampai detik ini dia masih saja ketakutan kalau suaminya akan kembali kepada Ibunya Alenta dan meninggalkan dia beserta anak-anaknya.
" Lama tidak berjumpa, kalian semua. " Kata-kata inilah yang keluar dari mulut wanita berusia empat puluh enam tahun itu. Tidak ada senyum, tidak ada emosi yang tercetak disana, dia terlihat biasa saja, seolah orang yang ada disana hanyalah orang asing saja.
" Maksud ku datang kesini, selain menjenguk dan mendoakan kesembuhan mu, aku juga ingin mengemis sedikit saja kebahagiaan untuk putriku Alenta. "
" Apa maksudmu? " Tanya Nenek Tina dengan intonasi sedikit terdengar emosi, wajar saja sih kalau dia emosi, selain kata-kata Ibunya Alenta begitu menyudutkan, dia yang pernah berselisih paham dengan Ibunya Alenta tentu akan sensitif dengan kata-kata yang keluar dari mulut Ibunya Alenta.
" Aku dengar, beberapa kali setelah kalian bertemu dengan putriku, putri kalian terus mengganggunya. Aku hanya ingin memohon dengan sangat, tolong jauhi putriku, dia akan baik-baik saja saat kalian tidak menampakkan diri. "
" Kau jangan gila ya! Biar bagaimanapun Baskoro adalah Ayahnya, dia wajib menerima bakti dari Alenta! "
Ibunya Alenta menghela nafas, dia menatap sebentar dia bola mata yang sedari dulu tak sekalipun menatapnya dengan kasih. Seperti seorang wanita yang selalu menunjukkan betapa marahnya dia karena pernah mencuri putranya, dan dengan gagah berani membela putranya yang berselingkuh hingga memiliki anak.
" Nyonya Tina, anda tahu benar perlakuan anda, Baskoro, dan juga Rahayu sendiri kan? Anakku mengalami penderitaan yang parah, dia kehilangan sosok Ayahnya yang sedari awal hanya sesekali bersamanya, sesekali tersenyum padanya, tapi dia selalu memberi kan seluruh kasih sayang untuk putrinya yang lain. Putriku tumbuh dengan tetesan keringat ku, dia bersekolah dengan usahanya sendiri hingga satu rupiah saja aku tidak mengeluarkan uang karena dia begitu berprestasi. Dia kuliah sembari bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, berusaha agar tidak selalu menyusahkan ku karena dia tahu bagaimana sulitnya mencari uang. " Ibunya Alenta menatap manik mata Tuan Baskoro, Ibu Rahayu, dan juga Ibu Tina.
" Aku tahu kalian baru saja menikmati uang putriku untuk kepentingan kalian, aku dengar juga putriku memberikan semua uang tabungannya untukmu, Baskoro. Jadi tahu malu lah sedikit, jangan ganggu dia, jangan ingatkan dia dengan kenangan-kenangan menyakitkan yang kalian berikan untuknya. Dia adalah putriku satu-satunya, dia adalah keluargaku satu-satunya, dia anak yang aku perjuangkan tidak perduli sakit, panas, atau hujan badai sekalipun. Tapi kalian? Kalian siapa ingin memanfaatkannya begitu? Kalian adalah orang yang tidak menginginkannya dari awal, jadi tolong jangan mendekatinya hanya demi uang. "
__ADS_1
Tuan Baskoro mencengkram kain selimut yang ia gunakan untuk menutupi sebagai tubuhnya. Benar, apa yang dikatakan mantan istrinya itu memang sangat benar. Sebagai seorang Ayah dia hampir tidak pernah memberikan waktu untuk Alenta karena Talita saat itu sangat mudah sakit, dan terus mencarinya kalau dia tidak ada dirumah. Uang, dia juga tidak pernah memberikan kepada Alenta karena selalu habis untuk kebutuhan Talita dan istri barunya.
" Apa kalian tahu bagaimana Alenta di gosip kan di kantor sekarang? " Ibunya Alenta membuka berita lokal tentang Chloe.
" Lihatlah! Alenta ku sedang digunjing seluruh pegawai karena putri kalian. " Mungkin kalian merasa biasa-biasa saja, tapi sebagai seorang Ibu aku terhina, juga merasa sangat membenci kalian. Dulu aku memang marah saat kalian semua mengkhianati ku dan juga Alenta, tapi apa yang kalian lakukan pada Putriku kali ini sudah membuatku sangat membenci kalian. Jika saja membunuh seseorang itu legal, maka aku benar-benar akan membunuh kalian semua demi putriku. "
" Dasar gila! " Maki Ibu Tina.
" Benar, dan kalian lah yang membuatku gila. "
" Aku tidak punya banyak uang, karena aku hanya penjual roti dan bukan pemilik restauran seperti kalian. Ini adalah uang yang aku miliki, aku serahkan kepada kalian, dengan syarat jangan lagi mengganggu putriku, apalagi sampai melakukan ucapan yang Ibumu katakan tadi. Kau bisa saja nekat, tapi demi Tuhan aku akan mengutuk mu dengan semua rasa sakit yang kau berikan padaku, juga kepada Alenta ku. " Ibunya Alenta menatap Tuan Baskoro yang kini menahan tangis hingga matanya memerah. Tubuh Ibunya Alenta gemetar, matanya juga memerah seperti menahan kemarahan yang amat besar.
Tuan Baskoro menatap amplop yang bersisi uang dari Ibunya Alenta degan seluruh tubuh yang gemetar hebat.
" Aku rasa aku sudah banyak bicara, aku harus kembali dan mengais rupiah. Semoga kau segera sembuh, dan bisa bekerja untuk menghidupi keluarga tercintamu dengan tenaga mu sendiri agar mati meninggalkan martabat yang baik untuk anak-anak mu. " Ibunya Alenta berbalik ingin meninggalkan kamar rawat Tuan Baskoro, tapi dengan segera Tuan Baskoro bangkit, menahan tangan Ibunya Alenta. Dia mengembalikan amplop yang diberikan padanya tadi, lalu meyerahkan kartu debit milik Alenta yang diberikan padanya kemarin oleh Talita.
" Ambil semua ini, kau tidak perlu berbuat sampai sejauh ini. Aku sudah paham, aku tidak akan melakukan apa yang kau katakan. Uang Alenta terpakai lima puluh enam juta, aku akan segera mengembalikannya. Jaga diri kalian baik-baik, semoga kalian selalu bahagia. "
__ADS_1
Ibunya Alenta menarik tangannya yang dipegang oleh Tuan Baskoro. Dia tak berekspresi, bahkan sampai Tuan Baskoro menangis di hadapannya dia juga masih tak berekspresi.
" Kau sudah melewatkan banyak uang, Baskoro. " Ucap Ibunya Alenta.
" Aku tahu, tapi aku adalah seorang Ayah. Aku mencintai Alenta meski aku tidak pernah ada untuknya. Dia adalah putri pertamaku, gadis kecil yang membuatku bahagia hanya dengan membayangkan wajahnya. Aku tidak akan menyakiti dia agar dia bisa selalu tersenyum. Aku janji, jadi jangan melakukan sampai sejauh ini. " Tuan Baskoro membiarkan saja air matanya jatuh.
" Baiklah, semoga kau menepati ucapannya barusan. " Ibunya Alenta keluar dari ruangan itu tanpa sekalipun menoleh padanya.
" Kau gila! Kau gila, Baskoro! " Ucap Ibu Tina marah.
" Aku sudah tidak waras saat aku mengkhianati dia karena rasa kasihan yang berlebihan kepada Rahayu. Jadi Ibu jangan merasa heran lagi. " Ucap Tuan Baskoro seraya mengusap wajahnya menyingkirkan air mata yang membasahi wajahnya.
" Kau punya tumor! Bagaimana bisa kau mengembalikan uang itu! Apa kau tidak sayang nyawamu hah?! "
" Nyawaku bukan apa-apa lagi, Ibu. Selama ini aku juga hidup seperti tidak memiliki arti kan? "
Bersambung.
__ADS_1