
Ibu Rahayu kembali ke rumah dengan air mata yang tak berhenti menetes sama sekali. Rasanya sakit sekali mendengar kata-kata Ibunya Alenta, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia sudah berada dirumah, memandangi setumpuk uang yang kira-kira berjumlah seratus jutaan di hadapannya. Uang itu mungkin memang menyakitkan saat mendapatkannya, tali dia juga merasa bersyukur karena setidaknya suaminya bisa mulai mengobati tumor secepatnya.
Biarkan lah harga dirinya hancur, yang penting suaminya tetap bersamanya agar tak ada satupun orang yang akan menggunjinginya, dan mereka masih bisa terlihat bahagia nantinya. Kepalsuan, ya! Kira-kira seperti itulah gambaran rumah tangga yang selama ini ia bina bersama Tuan Baskoro. Di depan banyak orang, dan juga anak-anak mereka, mereka sebisa mungkin menunjukkan betapa mereka saling mengasihani dan mencintai satu sama lain. Tapi kalau mereka hanya tinggal berdua saja, Tuan Baskoro hanya akan memilih untuk diam seolah pikirannya lagi-lagi akan kembai kepada Alenta dan juga Ibunya. Kesimpulannya adalah, Ini Rahayu menciptakan sebuah keluarga harmonis untuk dilihat orang lain, tapi tetap pada nasibnya kalau dia sama sekali tidak sekalipun merasakan apa arti dari hubungan harmonis.
" Uang apa itu, Ibu? " Tanya Talita ya g entah sejak kapan berada di ruang keluarga. Padahal jelas sekali Ibu Rahayu sudah memastikan bahwa kedua anaknya tidak ada dirumah tadi. Anak sulungnya pergi latihan basket, sementara Talita bekerja.
" Bu bukan apa-apa. " Segera Ibu Rahayu membenahi uang itu, memasukkan ke dalam amplop coklat yang tadi digunakan untuk membungkus uang, lalu segera memasukkannya ke dalam tas yang ia pakai tadi.
" Itu uang siapa, Ibu? "
" Ibu pinjam punya teman, nanti akan Ibu kembalikan saat sudah siap. "
Talita tak lagi bertanya, tali melihat bagaimana gugupnya, serta tatapan mata Ibunya yang tak berani menatapnya, tentu Talita paham kalau Ibunya sedang berbohong. Talita hanya bisa diam membatin curiga di dalam hati, tapi dia juga tidak berani bertanya karena bisa saja Ibunya marah, juga akan terus berbohong.
" Aku sudah mendapatkan uang, kita obati tumor mu ya? " Ucap Ibu Rahayu setelah membuka pintu kamarnya. Pria yang selama ini selalu duduk termenung di dalam kamar, sekarang juga masih saja sama. Justru akhir-akhir ini dia malah jadi lebih parah karena sedari pagi, sampai malam dia benar-benar hanya akan melamun. Makan hanya sedikit, minum sedikit, bicara juga cuma sedikit.
" Sayang, jangan seperti ini terus ya? Anak-anak pasti akan sangat sedih kalau Ayah mereka terus-terusan begini. "
Tuan Baskoro menghela nafas panjangnya.
" Apa kau ingin tahu apa yang aku pikirkan, Rahayu? " Sebentar Tuan Baskoro menjeda ucapannya. Sementara Ibu Rahayu hanya bisa terdiam tak menjawab. Tentulah karena dia sudah tahu apa yang dipikirkan suaminya, jadi untuk apa dia mengiyakan pertanyaan suaminya itu?
" Aku memikirkan banyak hal, memikirkan tentang semua anak-anak ku, memikirkan tentang kita, memikirkan tentang kehidupan kalian jika aku mati nanti. "
" Berhentilah membahas tentang kematian. "
" Pada akhirnya semua manusia juga akan mati, Rahayu. Jadi aku benar-benar ingin melakukan apa yang aku inginkan sebelum aku mati. "
" Apa yang kau inginkan? "
__ADS_1
" Melihat Alenta bahagia dengan suaminya kelak, anak-anak kita juga bahagia dengan kehidupannya. Aku sudah tidak ingin memiliki pencapaian apapun, karena sejak awal aku sudah gagal dalam banyak hal, jadi aku seperti sudah tak menginginkan pencapaian apapun selain kebahagiaan Alenta dan anak-anak kita. "
" Alenta pasti bahagia, tapi anak-anak mu tidak bahagia jika tidak ada Ayahnya! "
Tuan Baskoro membuang nafas kasarnya.
" Kau selalu mengatakan asal-asalan jika tentang Alenta. Kau inga tidak? Kau selalu mengatakan apapun agar aku bisa tenang tanpa melihat langsung bagaimana keadaan Alenta, menahan ku dengan Talita, lalu semenjak ana kedua kita lahir, kau semakin menekan dan menguasai waktuku dengan alasan anak-anak. Apakah kau sengaja membuatku semakin jauh dengan Alenta? "
Ibu Rahayu Sinta terdiam.
***
Nick, pria itu semakin hari semakin terlihat mempesona. Apalagi saat sedang serius bekerja, Nick benar-benar terlihat bersinar, aura Chloe sungguh terlihat nyata. Hari ini, Nick dengan mudah memecahkan masalah tentang kebocoran desain produk, memberi sangsi kepada pegawai yang berkhianat dengan tegas, lalu dia sedikit mengubah desain dan pada akhirnya masalah desain produk terbaru mereka akan rampung tepat dengan jadwal yang sudah ditentukan.
Alenta, wanita yang selama ini hanya bisa melihat Nick sebagai pria manja akhirnya mulai berubah pandangan. Nick, dia adalah suaminya yang sangat mempesona dengan karisma yang kini semakin terpancar. Cara dia tersenyum kepada lawan jenis juga sudah tidak lagi seperti pria kecentilan, dia mampu mengontrol diri, memposisikan sebagai seorang pemimpin dan suami yang baik. Memang sih, mesumnya pria itu tida bisa hilang, tali setidaknya Nick hanya melakukan itu kepada Alenta saja.
" Hanya tinggal bagian akhir saja, tunggu sebentar ya? " Nick menjawab, tapi matanya benar-benar fokus tak teralihkan. Jujur saja, Alenta benar-benar merasa sangat kagum dengan cara Sammy mendidik keponakannya sehingga Nick bisa menjadi sosok yang pantas untuk disebut penerus Chloe.
" Kalau begitu, aku tunggu di ruangan ku saja ya? "
" Oke, sayang! "
Alenta terperanjak kaget, tapi dia juga menghela nafas setelahnya. Benar-benar sekarang Nick sangat romantis.
Grep!
" Kenapa? " Tanya Alenta bingung, bagaimana tida bingung? Tiba-tiba saja Nick bangkit dan memeluknya erat-erat saat Alenta akan meninggalkan ruangan itu.
" Mr Zerg selalu saja ingin mencuri mu dariku, bagaimana aku bisa tenang? Dia itu kan tampan, uangnya juga lumayan banyak, bagaimana aku menenangkan diriku kalau begini? "
__ADS_1
Alenta menghela nafas, lalu menepuk pelan punggung Nick.
" Sayangnya aku tidak tertarik dengan Mr Zerg. "
" Tapi dia pintar mengatakan kata-kata manis, nanti kalau kau bertemu dengannya dan terpesona bagaimana? "
Alenta menahan tawanya, memang tidak masuk akal sih. Tapi memang lucu sekali cara berpikir Nick yang seperti ini.
" Aku tidak tertarik dengan laki-laki yang pintar berbicara manis, tapi aku suka pria yang- "
" Yang apa? " Tanya Nick penasaran.
" Tidak, tidak ada. "
" Beri tahu aku, aku akan menjadi pria itu! "
" Tidak perlu! "
" Ayo beritahu, sayang! "
" Baiklah baiklah! Aku suka yang sepertimu, apa sudah puas? "
Nick tak bisa menahan senyum bahagianya, segera dia memeluk Alenta lebih erat, mencoba menyatukan bibir mereka.
" Kau mau apa?! " Protes Alenta.
" Memberimu hadiah, dan menunjukkan rasa terimakasih ku dong! "
Bersambung.
__ADS_1