My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Hello, Wife?


__ADS_3

Hari sudah berganti, tapi Nick masih saja belum memberikan kabar apapun. Tidak tahu apakah dia sibuk, atau mungkin dia sedang mengabaikannya karena tengah bersenang-senang dengan wanita seksi seperti kebiasannya dulu. Alenta membuang ponselnya ke tepat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya disana. Kali ini Alenta benar-benar kesal dengan Nick, padahal Alenta sudah puluhan kali mengirim pesan, bahkan juga dua kali menghubungi Nick, tapi masih tetap tak ada balasan.


Alenta menghembuskan nafas kasarnya seraya mengusap wajahnya yang masih tak bisa menghilangkan kekesalan. Dia kembai mengingat beberapa waktu lalu Nick tengah di dekati wanita, bahkan pernah juga ada seorang gadis yang mengakui sebagai sekretaris Tuan Sammy mengangkat teleponnya, benarkah dia begitu sibuk hingga mengangkat telepon saja tidak ada waktu? Ini sudah satu Minggu, apakah Alenta harus lebih bersabar lagi?


" Nick, apa kau sudah mati? Hah?! " Maki Alenta kesal sendiri jadinya. Padahal Nathan sudah memberi izin kalau Alenta mau libur dan menemui Nick, tapi karena malu juga gengsi, dia hanya bisa menolaknya dengan sopan Meksi hatinya merutuki dan memaki karena menyesal telah menolak tawaran itu.


" Apa wanita yang menggodanya sudah hamil anaknya Nick, jadi dia memutuskan untuk mengabaikan ku? " Alenta mengeryit menebak-nebak apakah benar atau tidak dugaannya. Ah! Sialan! Semakin menebak-nebak dia malah jadi semakin emosi dan sakit kepala.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Aleta mencoba membuka media sosial milik ya demi untuk melihat aktivitas Nick di sana. Tidak ada yang aneh, selama Nick pergi hanya tiga photo saja yang dia unggah, pertama photo jarinya yang dihiasi cincin pernikahan, kemudian tumpukan buku tentang bisnis, dan terakhir adalah segelas kopi.


" Cih! Dia mengunggah gambar kopi tiga hari yang lalu, dan sengaja mengabaikan pesan dari ku?! Benar-benar brengsek! Awas saja kalau sampai kau pulang nanti, aku akan menendang bokong mu, mematahkan kedua lenganmu, mencolok matamu, hidungmu juga akan aku colok! Oh, anu mu yang imut itu juga akan aku tendang! " Alenta terdiam karena terkejut dengan ucapannya sendiri. Anu? Tongkat ajaibnya Nick? Imut? Tidak! Jauh sekali dari kata imut. Haruskah dia ulang dengan mengatakan tongkat ajaib mu yang besar? Hah! Tidak, tidak mau! Memalukan sekali meski tidak akan ada yang mendengar, sepertinya kata-kata memalukan itu tidak usah disebut lagi.


Alenta menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan berharap kekesalan yang melanda hatinya itu segera menghilang, maksudnya berkurang meskipun sedikit saja.


" Sudah Alenta, tidak perlu memikirkan si brengsek sialan itu! Masih banyak kok pria tampan berserakan di pinggir jalan. Bila perlu kau bisa pakai sekali dan buang! " Kesal Alenta, lalu merebahkan tubuhnya, meraih selimut, dan mulai memejamkan mata.


Ditempat lain.


Nick tersenyum, bahkan sesekali dia tertawa karena membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Alenta padanya.


Bos, apa kau tidak punya pulsa?


Bos, apa kau baik-baik saja?


Bos, apa jari-jari mu putus?


Bos, ponselmu retak?

__ADS_1


Bos, apa kau jatuh di kamar mandi dan mati duduk?


Bos, apa kepalamu terbentur lantai dan mati?


Bos, apakah yang membaca pesan ini adalah arwah mu dan kau tidak bisa membalas?


Bos, apakah aku harus mengadakan upacara kematian mu?


Nick! Matilah sana kalau tidak mau membalas tapi tetap membaca pesan ku!


Nick, aku mengutuk mu jadi abu!


Jangan pulang, atau aku akan pergi dari rumahmu!


Besok kita bercerai!


Bos, apa kau tidak ingin membalas pesanku? Balas saja setidaknya satu kata agar aku bisa tenang.


Dasar brengsek! bajingan! Aku mau cerai!


Nick menghela nafas lalu kembali tersenyum seraya menjauhkan ponselnya. Benar, sudah satu Minggu, dan setiap membaca pesan dari Alenta dia benar-benar merasa sangat senang. Awalnya dia selalu mengirim pesan kepada Alenta, sehari bisa sepuluh sampai lima belas pesan, bahkan pernah dua puluh lima pesan dengan gambar dirinya. Tapi Alenta hanya membalas satu kata saja, Ya. Bukan berniat balas dendam, tapi Nick ingin tahu apakah Alenta akan menanyakan kabar jika dia tidak mengirim pesan? Satu dua hari memang tidak, tapi setelah masuk tiga hari, pesan dari Alenta benar-benar membuatnya merasa sangat senang dan tenang.


Sebentar marah, lalu terlihat khawatir dan perduli, lalu marah dan mengutuk lagi. Benar-benar sifat Alenta yang membuatnya semakin jatuh cinta.


" Aku merindukanmu, aku juga semakin merasakan cinta yang kumiliki semakin bertumbuh besar beriringan dengan rasa rinduku, Alenta. " Nick mengusap photo Alenta yang terletak di meja samping tempat tidurnya.


Esok harinya.

__ADS_1


Alenta dan Maudi datang ke kantor tak sengaja berbarengan, dan mereka tentu saja berjalan masuk bersamaan.


" Alenta, hari ini pagi sekali? " Sapa Maudi, lalu meraih lengan Alenta dan menggandengnya.


" Aku tidak bisa tidur semalaman, jadi untuk apa berlama-lama dirumah? " Ucap Alenta masih saja terlihat tak semangat seperti beberapa hari sebelumnya.


" Mau menginap di tempatku tidak? Atau biarkan aku tidur di tempatmu nanti malam, siapa tahu kau bisa tidur nyenyak. "


Alenta menghela nafasnya, kalau saja dia tidak tinggal dirumah Nick, iya tentu saja dia mau-mau saja. Kalaupun tidur di tempat Maudi, dia juga khawatir kalau mertuanya akan datang berkunjung. Maklum saja, Ibu mertuanya itu sangat rajin, oh bisa dibilang sangat baik karena dua hari sekali akan datang untuk mengisi lemari pendingin dengan buah, sayur, susu, jus, roti, biskuit, lengkap dengan toping, belum juga selalu menyiapkan vitamin, bahkan sering ditanyai apakah ingin pakaian baru? Luar biasa kan? Kalau ada mertua seperti ini, kalau belum mati mah tidak perlu dikubur dulu.


" Aku tidak bisa, Maudi. Kapan-kapan saja deh. " Ujar Alenta yang tidak tahu lagi ingin menggunakan alasan apa untuk menolak.


" Ya sudah lah kalau begitu, ayo kita masuk! "


" God morning? " Seorang pria memakai topi hitam terbalik, kaca mata hitam, masker hitam, kaos berwarna abu-abu dan celana jeans pendek berwarna hitam tiba-tiba merangkul leher Alenta dari sebelah kanan karena Maudi ada disebelah kiri Alenta.


Bukan hanya Maudi yang terkejut, Alenta juga terkejut hingga lupa untuk menepis tangan pria itu dan malah menatapnya dengan dahi mengeryit untuk mengetahui siapa pria yang sok kenal bahkan sampai merangkulnya.


" Hello, wife? " Ucapnya berbisik kepada Alenta seorang.


Alenta terdiam karena terpaku dengan suara pria itu yang mirip sekali dengan Nick. Masih tidak ingin percaya, tapi saat Nick menurunkan kaca mata hitamnya sedikit agar matanya terlihat oleh Alenta, barulah Alenta percaya jika itu adalah Nick.


" Kau, kenapa kau ada disini? " Tanya Alenta spontan karena dia masih saja kaget. Tak mau menjawab dulu, Nick menepis tangan Maudi, lalu membawa Alenta tanpa melepas rangkulannya.


" Hello wife? " Maudi memegangi dadanya yang degup jantungnya begitu terasa.


" Bos, apa kau sudah mulai transparan? Sok berbisik, tapi aku kan dengar. Tuhanku, perkuat jantungku, sepertinya mulai sekarang imanku akan sangat di uji untuk tidak boleh memakai.

__ADS_1


Nick memojokkan tubuh Alenta setelah mereka masuk ke dalam lift, menurunkan maskernya dan mencium bibir Alenta untuk sebentar melepaskan rindu.


Bersambung.


__ADS_2