
" Hai istriku? Sudah tidur kah? " Ucap Nick setelah membuka pintu kamar Alenta, dan tersenyum menatap Alenta yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan kaos polos berwarna putih, serta celana pendek berwarna abu-abu. Nampak sederhana, tapi Alenta justru terlihat sangat cantik dengan penampilan biasa seperti itu.
" Mata sebelah mana yang mengira aku tidur sembari berdiri? " Menoleh sebentar ke arah Nick, lalu menghela nafas sebal karena ketenangannya akan segera berakhir. Maklum saja, Nick kan memang tidak ada habisnya membuat ulah, jadi jangan harap ada waktu tenang kalau dia sudah muncul.
Nick terkekeh geli, lalu berjalan mendekati Aleta yang berdiri ke arah jendela kamarnya yang kini terbuka.
" Sedang memikirkan Ayahmu? " Tanya Nick ikut berdiri disebelah Alenta.
" Tadi itu alasan untuk mengajak pulang sangat aneh loh, besok kan hari Minggu, semua pegawai libur. "Nick tersenyum mengingat kembali saat itu. Sementara Alenta, dia hanya bisa menggaruk tengkuknya karena jujur saja, dia benar-benar lupa kalau besok adalah hari Minggu.
Sebentar Nick melihat ke arah samping dimana ponsel Alenta terus bergetar, dan itu adalah Arkan. Nick menghela nafas sebal, sementara Alenta memilih tak memperdulikan ponselnya. Sebenarnya sangat wajar sih kalau banyak laki-laki yang tertarik dengan Alenta, termasuk Mr Zerg, Arkan, bahkan beberapa kenalan bisnisnya juga tertarik dengan Alenta. Entah bisa atau tidak dia mempertahankan Alenta, yang pasti dia akan berjuang sekuat tenaga agar Alenta tetap menjadi istrinya, sampai suatu saat nanti Alenta juga mencintai dirinya.
" Aku ambil air dulu di dapur, Bos. Mau? " Ucap Alenta.
" Iya, aku mau air hangat saja. "
" Iya. " Alenta melenggang meninggalkan ponselnya disana. Sementara Nick, tangannya sudah sangat gatal ingin mengangkat telepon itu dan berbicara sembari menegaskan Arkan bahwa dia dan Alenta tidak akan bercerai. Tapi oh tapi, bagaimana kalau Alenta marah? Hah! benar-benar sangat sulit ingin bertindak sembarangan kalau istrinya adalah Alenta.
Di dapur.
" Alenta? "
" Ibu? " Alenta tersenyum menatap sang Ibu yang berjalan ke arahnya, lalu mengembalikan wadah air ke dalam lemari pendingin, dan mengambil satu gelas lagi bersisi air hangat untuk Nick.
" Bisa Ibu bicara sebentar? "
__ADS_1
Alenta terdiam sesaat bertanya-tanya di dalam hati, apakah Ibu ingin membicarakan tentang Ayahnya? Tapi sudahlah, apapun yang ingin dibicarakan tidak pantas juga kalau dia menolak.
" Baik, Ibu. "
Di sebuah sofa tak jauh dari dapur, Alenta dan Ibunya duduk disana untuk mengobrol.
" Kau baik-baik saja? "
Alenta memaksakan senyumnya lalu menggeleng. Iya, di depan Ibunya dia merasa kalau tidak perlu berbohong karena Ibunya tahu benar dia jujur atau tidak. Paham sekali bahwa anaknya tidak akan mungkin merasa baik setelah bertemu Ayah kandungnya, Ibunya Alenta meraih tangan sang anak dan menggenggamnya dengan lembut.
" Nak, masa lalu memang tidak akan bisa kita lupakan begitu saja seolah tidak ada yang terjadi, Ibu tahu kau masih merasakan kekecewaan yang begitu besar hingga kebencian di hatimu semakin bertumbuh besar, bahkan sekarang kau mulai sulit mengendalikan kebencian itu kan? Alenta, cobalah untuk melepaskan semuanya, kebencian yang kau berikan kepada mereka semua hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Ibu tidak ingin kau terjebak dengan rasa benci yang menyakitkan itu, Nak. "
Alenta membuang nafas panjangnya seraya mengusap air matanya yang jatuh. Membicarakan Ayahnya sebenarnya adalah hal yang begitu berat bagi Alenta, atau bahkan juga Ibunya Alenta sendiri. Bukan untuk mengorek luka lama, tapi Alenta perlu seseorang yang dia percaya agar bisa membagi beban dan tak terlalu lama terperangkap degan situasi yang sudah membelenggunya selama ini.
" Ibu, Ayah bukan hanya meninggalkan kita saja, tapi Ayah dengan jelas menunjukkan padaku betapa pentingnya anak itu baginya. Ibu ingat saat aku kecil aku pernah meminta Ayah untuk membelikan ku sepeda elektrik? Ayah mengatakan banyak alasan, tapi saat Ayah membawaku datang kerumahnya dimana dia dan keluarga barunya tinggal, aku melihat dengan jelas banyaknya mainan untuk anak itu, sepeda elektrik, boneka yang sudah lama aku inginkan, juga banyak barang mahal yang lain. " Alenta tersenyum miris.
" Wajah pria itu, aku mengingat dengan jelas senyum manisnya saat menggandeng tangan anak itu dan memintaku memanggilnya sebagai adik, lalu dia mengatakan seperti ini, Alenta, adikmu memiliki sepeda seperti yang kau inginkan dulu, kau ingin mencobanya? Hah! Bajingan itu sama sekali tidak bertanya padaku apakah aku ingin dibawa kerumahnya, bajingan itu tidak bertanya apakah aku bahagia disana? Bajingan itu terus tersenyum dan memintaku untuk bermain dengan anaknya seolah-olah kami begitu akrab. Menjijikkan! Setiap kali aku melihat wajahnya yang tersenyum dengan begitu lembut seolah-olah dia adalah Ayah terbaik di dunia, aku benar-benar ingin menginjak-injak wajahnya sampai hancur dan membuat dia tidak lagi bisa tersenyum seperti itu. "
" Alenta! Tenangkan diri mu, Nak. "
Alenta mengusap air matanya yang bercucuran begitu banyak. Nafasnya menderu seolah kekesalan yang sempat ia tahan beberapa saat lalu itu membuncah tak tertahankan.
" Ibu, jangan kira aku tidak tahu seberapa menderitanya Ibu karena trauma dengan hubungan pernikahan, aku tahu Ibu menolak banyak pria karena tidak ingin mengalami hal itu lagi kan? "
Ibunya Alenta terdiam sesaat, lalu kembali meraih tangan Alenta dengan erat.
__ADS_1
" Benar, tapi alasan itu tidak cukup, saat itu, hingga sekarang ini yang Ibu inginkan adalah hidup bersamamu sampai kau dewasa dan menikah, Ibu tidak ingin membagi cinta Ibu dengan siapapun, karena bagi Ibu, kau adalah dunia Ibu. "
" Ibu, dulu saat aku ulang tahun ke delapan belas, aku diam-diam mendatangi Ayah karena aku merindukannya, aku ingin sekali meniup lilin ulang tahun bersamanya, aku bahkan menyiapkan kue untuk diriku sendiri. Aku mengabaikan ucapan Ibu untuk tidak menemuinya, dan itu adalah salahku, juga takdir untukku karena hari itu mengubah diriku sepenuhnya. Pria brengsek itu, aku melihat dia begitu bahagia bersama anak-anaknya, tersenyum seolah-olah dunia juga bahagia saat mereka bahagia, padahal aku sudah mengirim pesan bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku, tapi ternyata anak keduanya juga memiliki tanggal yang sama denganku saat lahir, dan dia memutuskan untuk menghabiskan hari itu bersama anak kedua, dan juga keluarganya. Jadi apa salahku kalau aku semakin membenci dia? Apakah aku harus berlapang dada seolah-olah aku adalah manusia yang bijak? Heh! Aku tidak bisa, meksipun bisa aku juga tidak akan melakukannya. Ibu, aku bisa sekuat sekarang ini karena aku hidup dengan kebencian, jadi maaf aku tidak akan bisa mengabaikan kebencian itu walaupun sedetik. "
" Alenta, kalau kau seperti ini, bagaimana kau akan bertahan dalam rumah tanggamu nak? "
Alenta membuang nafas kasarnya.
" Aku dan Bos cepat atau lambat pasti akan bercerai, setelah kami bercerai aku putuskan tidak akan menjalin hubungan apapun dengan pria. "
Ibunya Alenta menggeleng tak setuju.
" Alenta! Sadarlah! Ayahmu boleh bajingan, tapi tidak semua laki-laki seperti Ayahmu, nak. Kalau kau terus seperti ini, mati pun Ibu tidak akan tenang. "
" Kalau begitu, Ibu jangan mati. "
" Semua orang akan mati, Alenta! "
Alenta terdiam tak berani menjawab karena melihat Ibunya sudah mulai kesal sampai menangis.
" Cobalah buka hatimu, Alenta. Ibu boleh ditinggalkan suami, tapi kau tidak boleh! Jagalah suamimu dengan baik, Alenta! Nick memang pernah memiliki hubungan dengan beberapa wanita, tapi sekarang dia adalah suamimu, jagalah dia dengan baik, penuhi kebutuhannya agar kau tidak merasakan apa yang Ibu rasakan. "
" Aku tidak paham apa yang Ibu katakan. "
Bersambung.
__ADS_1