My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Nick Sudah Menikah?


__ADS_3

Alenta, gadis itu masih terus menekan kepala Rebecca, bahkan semakin kuat setiap kali dia ikut mencelanya. Sebenarnya dia juga sekalian melampiaskan segala kekesalan dengan gadis itu, yah siapa tahu dengan semua yang dia dengar hari ini, di masa mendatang nanti Rebecca tidak lagi membuat ulah, terutama bermanja-manja dengan berlebihan karena itu semua akan membuat Nick menjadi tidak fokus untuk bekerja.


" Oh, Rebecca itu sangat buruk rupa ya? Untung saja Nick sudah menikah, jadi tidak akan ada kesempatan untuk si buruk rupa itu menjadi menantuku. Lagi pula, menantuku kan sudah sangat sempurna, iya kan, Alenta? "


Bubar! Bubar sudah konsentrasi mereka. Menikah? Menantu? Ini tidak bisa di sensor ya kata-katanya? Tapi untunglah karena Ivi tidak meyebutkan Alenta sebagai menantunya, karena kalau sampai tersebut bisa-bisa hancur sudah kedamaian dunianya Alenta.


Sementara Rebecca, dia masih berusaha bangkit karena tidak tahan lagi terus mendengarkan namanya digambarkan dengan sebegitu buruknya. Tapi lagi-lagi tangan Alenta terus menekannya semakin kuat, bahkan kaki Alenta juga menimpa jemarinya dan bersiap menginjak dengan kuat kalau sampai Rebecca berani bersuara.


" Ibu, jangan bicara lagi ya? Aku lihat mulut Ibu sudah bergetar lelah tuh, bagaimana kalau aku antar Ibu ke kamar? " Nick berjalan mendekati Ibunya, merangkul pundaknya, lalu bersiap untuk mengajak Ibunya pergi.


" Nick, kenapa aku mengendus bau curut busuk? Apa kau baru saja berdekatan dengan curut yang biasa tinggal di tong sampah? "


" Ibu, barusan kan aku hanya dekat dengan Alenta. " Nick tersenyum menatap Alenta dengan tatapan senang. Senang? Iya dia senang karena pada akhirnya bisa mengejek Alenta juga.


" Alenta bahkan melebihi wanginya bunga lili, Bagaiamana bisa kau menyamakan harum bunga lili dengan bau curut got? Ditempat ini pasti ada curut itu! "


Apa-apaan?! Ini apakah Ibunya dan Alenta satu pemikiran? Bagaimana bisa setiap kali bicara malah dia dan Rebecca yang tertindas?! Tidak, tidak! Ini bukan waktunya memikirkan hal itu, tali sekarang dia harus bisa menghentikan Ibunya yang sudah akan melangkahkan kaki menelusuri ruangan.


" Alenta, biarkan aku bangkit! Aku ingin tahu kejelasan dari ucapan calon Ibu mertuaku. " Ucap Rebecca berbisik. Tapi sayangnya bukan persetujuan yang dia dapatkan, melainkan nyerinya jemari tangan yang ditekan oleh kaki Alenta. Rebecca tentu saja kesakitan, dia bahkan sampai menangis tanpa suara karena takut kalau bersuara Alenta akan menguatkan tekanan kakinya.


" Ibu, coba lihat lukisan itu! Dia terlihat seperti hidup, Ibu! " Nick membawa tubuh Ibunya untuk menghadap ke samping kiri atau lebih tepatnya di hadapan lukisan seorang wanita tengah mengendarai seekor kuda. Setelah itu Nick memberi kode kepada Alenta untuk segera menyingkirkan Rebecca dari jendela kaca yang berukuran sebesar pintu tengah terbuka sekarang ini. Paham dengan maksud Nick, Alenta segera membawa tubuh Rebecca untuk bangkit, lalu mendorongnya segera hingga keluar dari sana.

__ADS_1


" Aw! "


Ivi sontak menoleh begitu mendengar suara wanita memekik.


" Aw! Benar-benar nyamuk nakal! " Alenta tersenyum sembari menepuk-nepuk udara dengan kedua telapak tangannya.


Dasar bodoh! Kalian pikir sudah sangat hebat ya?


Ivi tak lagi ingin bicara setelah melihat tirai di samping sofa bergerak seolah baru saja tertabrak sesuatu. Iya, tentulah si rubah itu sudah out dari rumah Nick, jadi sekarang dia tidak perlu ikut bermain-main karena dia juga sudah lelah terus mengomeli suaminya hari ini hingga kembali ke rumah Nick agak malam.


" Sudah ah, Ibu lelah dan ingin istirahat. " Ujar Ivi seraya. berjalan meninggalkan Alenta dan Nick.


Oh iya, masalah menikah, apakah gosip yang selama ini beredar dan aku anggap hanya gosip murahan itu sebenarnya adalah sungguhan? Apakah Nick sungguh sudah menikah? Dengan siapa?


Rebecca mengeryit memikirkan dan menebak-nebak siapa wanita yang menjadi istri Nick kalau sungguh gosip itu nyata.


" Alenta? " Rebecca menggeleng tidak ingin percaya dengan ucapannya sendiri.


" Mana mungkin Alenta? Wanita gila dan bermulut tajam itu kan selalu saja membuat Nick merasa tertindas, jadi tidak mungkin Alenta. Tapi siapa lagi kira-kira? Tidak! Aku tidak boleh memikirkan hal ini, Nick tidak mungkin mengkhianatiku. Semua itu pasti hanya gosip! Aduh! Ah! " Pekik Rebecca pelan seraya mengendap-endap agar tidak terlibat oleh calon Ibu mertuanya yang masih kekeh belum merestui hubungannya dengan Nick. Pelan Rebecca berjalan, akhirnya kini dia bisa keluar dari rumah Nick dan itupun juga karena bantuan satpam rumah Nick yang mungkin saja sudah Nick kirimi pesan.


" Oh iya pak, apa Nick sungguhan sudah menikah? " Tanya Rebecca yang tak bisa menahan penasarannya meski hatinya tidak siap kalau sampai mendapatkan kata iya dari orang yang ia tanyai sendiri.

__ADS_1


Satpam rumah Nick nampak sejenak berpikir. Bagaimana tidak berpikir? Ibunya Nick mengatakan untuk menjawab dengan benar saat ada yang menanyakan apakah Nick sudah menikah atau belum, tapi Nick berpesan bahwa tidak boleh mengumbar apapun tentang dirinya kepada orang lain, terutama wanita yang sedang menjalin hubungan dengan majikannya itu.


" Saya, tidak tahu nona. " Benar, hanya jawaban seperti inilah yang bisa menyelamatkannya dari dua orang yang dia anggap sulit dihadapi kalau sudah mengomel. Maklum saja, Nick dan Ibunya adalah orang yang hobi sekali mengoceh, bisa dibilang mereka berdua seperti kembar sifat.


" Tidak tahu? Bapak yakin? "


" Yakin. "


Rebecca sejenak menjadi lebih tenang, mungkinkah itu berarti kemungkinan bahwa gosip itu hanyalah sekedar gosip saja jadi lebih besar?


" Oh ya, bagaimana dengan Alenta? Apa dia sering berada dirumah ini? "


" Itu, iya sepertinya begitu, nona. "


" Jadi, apa jangan-jangan mereka menikah? " Rebecca bertanya dengan wajah sedih dan tidak soap kalau saja iya kemungkinannya.


" Tidak tahu nona, soalnya saya tidak melihat mereka menikah, dan juga saya tidak pernah bertanya. Nona bertanya tentang menikah apa nona mau menikah? Pakah nona mau menikah dengan saya? " Satpam itu tersenyum genit yang sebenarnya bertujuan agar Rebecca segera terhempas dari hadapannya dan membuatnya tak lagi pusing dengan pertanyaan yang hanya berputar-putar saja dengan satu tujuan.


" Ih, dasar genit! " Rebecca sontak berjalan cepat meninggalkan satpam rumah dengan perasaan jengkel. Padahal niatnya hanya ingin memberikan perhatian kepada Nick yang ia tahu kalau Nick pasti sedang sakit perut. Tapi siapa sangka kalau pada akhirnya dia akan kembali dengan perasaan bimbang, ditambah lagi bokong serta jarinya yang sakit.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2