My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Tiket Liburan


__ADS_3

Ibunya Alenta terdiam memandangi langit malam yang kini sudah semakin gelap. Dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya, hari dimana sudah dua puluh tahun lebih dia habiskan dan lalui bersama Alenta seorang. Ini bukan soal rindu masa-masa yang dulu, hanya saja setiap ulang tahunnya dia akan mengingat satu peristiwa yang sangat melekat di ingatannya hingga sampai detik ini tak mampu untuk ia lupakan. Tepat dua luluh empat tahun lalu di saat dia ulang tahun, itu adalah hari dimana dia mengetahui tentang perselingkuhan suaminya dengan rekan kerjanya, bahkan mereka baru saja dikaruniai seorang anak. Sebagi seorang Ibu, juga seorang istri tentulah sebuah perselingkuhan adalah hal yang paling di takuti. Selain keharusan kehilangan suami, seorang Ibu juga harus mendoktrin sang anak agar tidak terluka. Setahun dua tahun usahanya untuk menyembunyikan kebenaran dari Alenta yang masih sangat kecil itu berhasil meski dia terus menyembunyikan tangisnya di dalam kamar mandi, atau di saat Alenta tertidur pulas.


Usaha tentu hanyalah usaha semata karena pertengkaran yang semakin meluap-luap diantara keduanya sulit untuk dihindari. Suatu hari Ayahnya Alenta yang tidak tahan lagi dengan pertengkaran dengan Ibunya Alenta memutuskan untuk keluar dari rumah, tali yang membuat Ibunya terkejut bukan main adalah, tekan kerjanya yang sudah lama berselingkuh dengan Baskoro menunggu di teras rumah dengan bibir tersenyum seolah dia bahagia dengan keputusan yang di ambil oleh Baskoro. Tak hanya wanita itu saja, tapi disana juga ada seorang gadis kecil yang ikut menunggu seolah-olah ingin menunjukkan kepada Ibunya Alenta bahwa mereka adalah keluarga yang sesungguhnya.


Tangis Alenta yamg terus memanggil Ayahnya seolah tak terdengar, di depan matanya dan di depan Alenta dia menggendong putrinya dari wanita itu, lalu memeluk, dan mengusap kepalanya dengan lembut. Sakit? Iya rasanya sakit sekali. Bukan cemburu karena pria itu telah mengkhianati dan memilih wanita lain, tapi dia merasakan sakit melihat tangan kanan Alenta terulur meminta Ayahnya kembali. Tapi punggung pria itu terus menjauh, tidak ada lambaian tangan, tidak ada senyum lembut seperti yang ia tunjukkan kepada putrinya yang lain. Kenapa? Apa kurangnya Alenta? Apakah karena Alenta begitu sering merengek saat Ayahnya memberikan jutaan janji saat dia meminta sedikit saja waktu untuk bermain?


Jika membicarakan tentang masa lalu memang tidak akan ada habisnya karena rasa sakit itu akan terus terasa entah sudah berdamai dengan masa lalu atau belum. Ada masanya baik-baik saja Sebentar lupa dengan luka lama, tapi saat sendiri di tempat yang hening, apa lagi yang bisa dipikirkan oleh otak selian masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Untuk seorang janda muda jelas masih banyak pria yang menginginkannya, bahkan sudah dua beberapa pria yang datang tiba-tiba dan melamar. Tapi hati seorang ibu dan wanita korban perselingkuhan suaminya tak bisa disamakan dengan wanita biasa yang hanya tahu putus cinta saja.


Ada luka, trauma, bahkan tidak hanya sekali dua kali menduga hingga pada akhirnya menuduh orang lain akan melakukan hal yang sama seperti pasangan yang sebelumnya.


" Sudah puluhan tahun, Baskoro. Tapi aku bisa melihat sorot matamu yang masih begitu mencintaiku. Aku penasaran bagaimana seseorang bisa hidup bersama dengan wanita lain tapi hatinya malah mencintai mantan istrinya. Kau bukan hanya bodoh, Baskoro. Tapi kau juga sudah membuat dirimu terluka serta melukai wanita lain selama bertahun-tahun. "


Ibunya Alenta menghela nafas, lalu menutup tirai jendelanya.


***

__ADS_1


" Sayang, aku sudah menyiapkan hadiah untuk Ibu mertua. Bagaimana menurutmu? " Nick tersenyum seraya memamerkan sebuah tiket ke Eropa.


" Itu untuk Ibuku? " Tanya Alenta dengan mimik yang terlihat semangat. Sebenarnya dia dulu sudah pernah menawarkan liburan untuk Ibunya, tapi karena Ibunya terus menolak dengan alasan untuk menggunakan uang dengan baik dan jangan boros, dia jadi tidak berani membantah ucapan Ibunya itu. Sekarang kan Nick yang membelikannya, jadi tidak mungkin Ibunya kan mengomel kan?


" Ini asli? "


" Sayang, apa menurutmu aku sangat miskin sampai harus memberikan kado tiket palsu? "


Alenta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Padahal dia bertanya hanya karena ingin memastikan saja meski tahu itu asli.


" Jadi, kira-kira istriku akan berterimakasih dengan cara apa ya? "


Kan? Memang dasar otak bajingan itu sama sekali tidak mau hilang! Padahal Nick baru saja mengerjakan pekerjaan yang tertinggal di kantor sebelum menunjukkan tiket itu. Seharusnya otaknya lelah kan karena pekerjaan yang tidak tampung itu memang membutuhkan ketelitian yang tinggi karena banyak sekali angka nol yang hampir sama beda satu atau dua tmdi tiap kolom, bahkan biaya iklan yang melebihi target juga seharusnya dia selesaikan, tali sekarang Alenta mulai percaya dengan Nick karena terbukti Nick tidak pernah melakukan kesalahan, juga sangat teliti saat akan menandatangi dokumen apapun.


" Tidurlah, sayang! Besok kita harus bekerja. Pagi tadi kan kita kikuk kikuk, siang juga sempat-sempatnya kau memaksaku melakukan itu, malam juga tidak mungkin kan? Apa kau mau samakan dengan minum obat? " Protes Alenta.

__ADS_1


" Sayang, padahal aku hanya ingin minta dicium pipi saja sih, tapi karena pikiranmu sudah sampai disana, ya sudah sekalian saja aku wujudkan deh. Sebenarnya aku ini lelah, tapi demi memenuhi kebutuhan istriku, aku tidak akan membiarkan rasa lelahku mengalahkan keinginan mu, sayang. " Ucap Nick seraya megambil posisi untuk segera menindih tubuh Alenta.


Alenta terperangah tak percaya. Padahal jelas-jelas arahnya akan kesana kan? Tapi berani-beraninya membuatnya menjadi tokoh yang begitu berkeinginan?!


" Nick, aku beritahu ya? Lebih baik kau tidur saja! aku tidak membutuhkan kikuk kikuk sekarang! "


" Ah, sayang jangan malu-malu begitu ah! Perempuan kan biasanya bilang tidak mau di mulut saja, padahal hatinya bilang mau! mau! Mau! Aku tidak bisa loh membiarkan istriku kekurangan apapun. "


" Oh, kalau begitu, biarkan aku istirahat! Aku kekurangan istirahat! " Ucap Alenta menahan dirinya dengan menyilangkan kedua lengannya.


" Iya, iya aku tahu kok sayang. Makanya kau diam saja, cukup tengkurap, angkat sedikit pinggul mu dan biarkan saja aku yang bekerja. Bagaimana sayang? Adil kan? "


" Adil kepalamu! Nick aku tidak mau! , Ah..... " Sialan! Padahal dia benar-benar tidak mau pada awalnya, tapi tangan Nick sudah lebih dulu menyusup masuk dan memainkan jarinya di bagian bawah sana, sementara satunya lagi tengah memainkan niple merah jambu milik Alenta.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2