My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Tidur Bersama?


__ADS_3

Rebecca terdiam menahan amarah yang seakan meledak dari dadanya. Sakit, kecewa, marah, semua rasa itu bercampur menjadi satu seolah membulat menjadi sebuah bom yang telah meledak di dalam hatinya dengan meninggalkan rasa sakit yang begitu terasa. Sudah tujuh bulan dia bersama Nick dengan harapan-harapan indah, mimpi akan dijadikan nyonya muda Chloe, menjadi pendamping Nick dan semakin di kenal banyak orang, serta bisa dengan bangganya mengenalkan Nick kepada kerabat, teman, bahkan dunia sekalipun bahwa dia memiliki suami dari penerus Chloe. Tapi, harapan hanyalah harapan, mimpi indah yang terasa sulit baginya malah menjadi milik Alenta dengan begitu mudahnya. Iya, Nick sudah menceritakan segalanya karena dia terus menekan meminta jawaban dari segala pertanyaannya.


Alenta menghela nafasnya, sadar benar jika itu salahnya karena lupa melepas cincin pernikahan tadi, tapi mau bagaimana pun pada akhirnya nanti semua akan terungkap kan? Sekarang boleh saja dia merasa agak lega karena Arkan belum tahu, tapi bagaimana dengan besok, lusa, dan di kemudian hari? Sanggupkah dia menghadapinya jika waktu itu tiba? Jika Rebecca yang biasanya sangat banyak bicara, memaki, dan mengomel protes kepada Alenta saat hatinya merasa tidak tenang kini tiba-tiba diam seribu bahasa dengan mata yang bercucuran air mata, lalu bagaimana dengan Arkan nantinya?


Sejenak Alenta tertunduk setelah semua tragedi bagaimana mereka menikah sudah selesai diceritakan oleh Nick. Tidak tahu apakah dia harus minta maaf, atau bagaimana? Di situasi sekarang ini entah dia berada di posisi salah atau benar juga masih tidak bisa dia jelaskan. Mungkin benar pernikahan ini terjadi secara tiba-tiba seolah semuanya serba kebetulan. Prosedur menikah yang sangat mudah, tiba-tiba sudah tersedia gedung kosong padahal tempat mereka menikah di sebuah gedung bintang lima meski tamunya sangat sedikit. Aneh? Iya! Kalau dipikir-pikir memang sangat aneh dan terlaku banyak kebetulan hingga dia sendiri kebingungan, tapi ya mungkin saja ini karena keluarga Chloe, yang berarti juga tergabung dengan keluarga KBR yang banyak uang itu bukan mustahil melakukan hal sepele semacam ini.


" Aku, tidak ingin putus darimu Nick. Aku tidak bisa, aku juga tidak akan mau. " Ucap Rebecca setelah lama terdiam dan menangis.


Nick dan Alenta tanpa sadar menghela nafas bersamaan, karena mereka terkejut, jadi mereka sebentar saling menatap dan membuang pandangan setelahnya.


" Pernikahan di keluargaku bukanlah hal yang main-main, Kalaupun harus bercerai aku dan Alenta juga harus memiliki alasan yang kuat. " Ujar Nick seraya memijat pelipisnya. Sebenarnya bukan pusing dengan hubungannya dan Rebecca semisal mereka berpisah, hanya saja dia tidak tahan melihat Rebecca menangis dengan begitu menyedihkan di hadapannya.


" Aku tidak akan minta kalian bercerai secepatnya, tapi aku tidak akan mau menjauh darimu, dan kau harus berjanji akan menikahi ku segera setelah kalian bercerai. "


Nick terdiam tak bisa berbicara lagi. Bercerai? Sebentar dia melihat ke arah Alenta yang duduk di samping Rebecca, haruskah? Tapi kenapa kata bercerai begitu berat saat memikirkannya? Bukankah awalnya memang dia ingin bercerai?


" Kenapa kau diam? Jangan bilang, kau sudah jatuh cinta dengan Alenta? " Rebecca menatap Nick dengan tatapan menyelidik, lalu bergantian menatap Alenta yang terlihat malas sekali membicarakan topik cinta-cintaan apalagi lawan tuduhannya adalah si brengsek Nick.


Jatuh cinta? Iya kah?


" Nick, kau tidak menjawab berarti kau sungguh mencintai Alenta? "


Alenta menghela nafas sebalnya, cinta? Cinta, cinta, cinta?! Bosan sekali mendengar kata itu!

__ADS_1


" Bos hanya mencintai dirinya sendiri, kalau begitu curiga, bagaimana kalau belah saja dada Bos, dan lihat saja sendiri! Tidak akan ada aku, eh! Maksudku namaku disana. Paling tida sih, tersimpan delapan, atau sembilan nama gadis selain nama mu. " Alenta bergumam pada kalimat terakhir, tapi ya tentu saja bisa di dengar oleh Rebecca hingga gadis itu tambah saja terlihat kecewa. Tahi sih, Nick memang memiliki banyak mantan pacar, tapi hanya dengan kata-kata Alenta di menjadi terpancing untuk semakin marah dan merasakan cemburu. Ini sih bisa jadi Alenta sebenarnya sedang menabur garam di atas luka bacok yang sedang menganga dan tengah mengalirkan darah disana.


Mendengar kalimat Alenta rupanya bisa membuat mood nya membaik dan memiliki semangat lagi.


" Hanya orang bodoh yang akan mempercayai ucapanmu, Alenta. "


" Rebecca percaya, berarti dia bodoh? " Ujar Alenta melengos tak perduli.


" Iya, kau tahu itu kan? Eh! " Nick tak sengaja menjawab tanpa dia sadari kalau Rebecca masihlah disana menyimak ucapan mereka berdua.


" Maksudku, jangan sembarangan bicara kau, Alenta! Mana mungkin gadis cantik, dan manis seperti Rebecca bodoh?! "


Iya memang bodoh sih, tapi aku tidak berani mengakuinya kalau langsung secara sadar di depan orang nya!


" Kalian, kenapa aku merasa kalian sudah sangat dekat? " Ucap Rebecca dengan tatapan pilu.


" Tidak kok! " Jawab Nick dan Alenta kompak, dan ya tentu saja membuat Rebecca semakin kecewa, marah dan juga sedih pastinya.


" Kalian, sudah seberapa dekat dalam hubungan pernikahan paksa ini? "


Alenta menghela nafas sebalnya. Sungguh sih dia benar-benar malas menjawab pertanyaan yang seolah-olah sedang di interograsi sebagai penjahat. Yah, tapi baiklah, sabar saja dan biarkan Rebecca mendapatkan apa yang ingin dia ketahui.


" Tidak dekat kok, karena aku juga tidak suka dekat dengan orang asing. " Ujar Alenta dan yang pasti dia masih enggan menatap Nick, apalagi Rebecca.

__ADS_1


Woi! Aku suamimu! Kalaupun mau memberi label asing, tolong ingat saja kalau aku ini Bos! Aku Bos mu tahu! Yah, meskipun aku selalu tertindas oleh mu, tetap saja mana boleh kau mengatakan asing kepada Bos mu sendiri! Dasar landak!


" Jadi, kegiatan suami istri apa yang sudah kalian lakukan? "


Cih! Sudah tahu pernikahan paksa, memang apa lagi yang bisa dilakukan?


" Tidak banyak kok, selain hanya tinggal dirumah yamg sama, kami selalu ada di tempat kami sebagai Bos, dan juga Sekretaris, iya kan, Alenta? "


" Hem... "


" Rumah? Lalu, kegiatan rumahan apa saja yang kalian lakukan sehari-hari bersama? " Tanya Rebecca sembari meremas kain bajunya.


" Em, " Sejenak Nick nampak berpikir.


" Pertama, kami sarapan, dan makan malam bersama kalau ada Ibu. Kedua, kami juga berdiskusi tentang pekerjaan, sesekali hanya tidur bersama juga kalau Ibu menginap. "


" Apa?! " Rebecca bangkit dari duduknya dengan tatapan kaget. Sementara Alenta, gadis itu menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan mencemooh kebodohan Nick dalam bicara. Huh! Memang dasar dua rubah yang serasi, satu lagi mendengar kata tidur bersama saja pikirannya sudah jorok, benar-benar dua orang dengan otak yang tida tertolong lagi.


" Kalian bahkan tidur bersama, tapi masih beralasan jika kalian dipaksa menikah?! " Rebecca mendelik marah.


" Hanya tidur bersama saja kok, memang salahku dimana? " Tanya Nick dengan tatapan heran kepada Rebecca.


Oh, Alenta! Lihatlah rubah jantan dan rubah betina ini yang sedang bertengkar, terlihat aslinya juga bahwa ternyata mereka adalah sepasang keledai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2