My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Terimakasih, Pembuat Takdir


__ADS_3

Nick dan Alenta kini terduduk dengan wajah lelah dan lemas. Kenapa? Itu karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat menu makan siang, tapi hasilnya malah jauh sekali dari perkiraan, telur sudah hampir sepuluh biji terbuang sia-sia, sayuran sudah matang tapi rasanya aneh, ikan goreng juga hambar dan gosong, maklum saja, mereka berdua kan tidak bisa memasak sama sekali.


" Bos, kita makan roti saja ya? " Ucap Alenta masih dengan wajah lelah yang belum menghilang.


" Aku takut mataku berubah jadi biru, lagi pula pagi tadi kan sudah makan sandwich juga. "


Alenta dan Nick kompak menghela nafas. Tubuh mereka lelah, tapi barang-barang di dapur hampir semua kotor, makanan yang mereka masak tidak ada satupun yang bisa mereka makan.


" Jadi bagaimana dong? " Tanya Alenta yang sebenarnya juga sudah sangat lapar.


" Kita makan di luar saja, sekalian beli untuk Ibumu. "


" Dapur bagaimana? "


" Kita hubungi home servis saja, aku tidak sanggup lagi kalau harus mengerjakan pekerjaan bersih-bersih begini.


Seperti yang dikatakan Nick, mereka akhirnya memutuskan untuk makan ditempat makan yang paling dekat dengan rumah Alenta, sementara pekerjaan rumah sudah ditanami oleh orang dari home servis.


Untung saja tidak terlalu ramai karena ini juga sudah lewat jam istirahat, makan siang untuk Ibunya Alenta juga sudah dikirim menggunakan jasa pengantar yang tersedia di restauran itu.


" Bos, apa perlu kita duduk sedekat ini? " Tanya Alenta dengan wajah yang sepertinya terlihat keberatan karena Nick menggeser bangkunya dan membuat lengan mereka bersentuhan dan jelas itu membuat Alenta tidak nyaman.


" Iya lah! Percaya deh Alenta, makan di dekatku akan membuat pencernaan mu menjadi lancar nantinya. "


" Iya, karena aku akan langsung mulas begitu? "


Nick tersenyum memamerkan deretan giginya, tapi juga enggan untuk menjauh.


" Kau kan suka sayur, untukmu saja nih! " Ucap Nick seraya memindahkan semua sayur ke piring Alenta.


" Cobalah untuk menyukai sayur. " Ucap Alenta, lalu memindahkan lagi sayur yang tadi diberikan Nick kepadanya. Belum selesai dengan urusan sayur, tiba-tiba dua orang gadis menyapa dengan suara yang lembut.


" Nick? "


Sontak Nick dan Alenta menatap ke arah sumber suara.


" Apa kabar, Nick? "


" Baik. " Ucap Nick sebentar menelan salivanya sendiri karena saat menatap ke arah gadis itu, bagian dada gadis itu sangat besar dan menyembul sebagian ke atas baju agak terbuka yang dia pakai.


" Boleh aku dan temanku bergabung? "

__ADS_1


Nick sebentar berpikir.


" Tidak boleh! " Ucap Nick.


" Silahkan duduk. " Ucap Alenta.


Gadis itu bingung, lalu menatap Nick dan Alenta bergantian untuk menanyakan yang mana yang sebenarnya.


" Alenta kau tahu dia siapa kan? Jangan aneh-aneh, Alenta! " Bisik Nick.


" Memang kenapa? Mereka hanya ingin bergabung untuk makan kok. " Alenta kembali tersenyum lalu mempersilahkan gadis itu duduk di depan mereka.


" Apa kabar Nick? Sudah setahun lebih ya kita tidak bertemu. " Ujar salah satu gadis itu, atau lebih tepatnya adalah salah satu mantan pacar Nick yang bernama Zahra.


" Ah, iya aku baik-baik saja. " Jawab Nick sebentar melirik ke arah Alenta yang terlihat tak perduli dan sibuk dengan kegiatan makan siangnya.


" Nick, disebelah mu itu Sekertaris Alenta kan? "


" Iya. "


" Kalian terlihat dekat ya? Padahal dulu kalian seperti Tom dan Jerry di tokoh Kartun favorit ku. "


Alenta agaknya sedikit kesal, bagaimana bisa mereka diamankan dengan Tom dan Jerry? Apakah tidak ada tokoh yang manusiawi? Hah! Kesal sekali, tikus dan kucing kan?


" Nick, Minggu besok ada acara tidak? " Gadis cantik bernama Zahra itu tersenyum dengan begitu menggoda, tapi jujur saja Nick malah menjadi semakin ngeri kelepasan, dan nantinya Alenta malah akan meminta cerai.


" Banyak, dai bangun tidur sampai mau tidur aku ada banyak acara. " Jawab Nick dengan cepat dan tegas.


" Sayang sekali ya? Padahal aku berniat ingin mengundangmu ke pesta pernikahan ku loh. "


Nick sebentar tersentak, lalu tersenyum setelahnya.


" Oh, Zahra sudah akan menikah, oke lah! Besok Minggu aku akan datang. " Ucap Nick lalu tersenyum dengan lega.


Zahra dan sahabatnya terkekeh geli.


" Ah...! Aku kenyang! " Ucap Alenta lalu bersendawa dan tersenyum setelahnya.


" Apa kabar, Sekretaris Alenta? Tadi aku ingin menyapamu, tapi melihatmu yang seperti sangat kelaparan aku jadi menunda dulu dan menunggu sampa kau selesai makan baru akan menyapa mu. " Zahra tersenyum, begitu juga dengan Alenta yang langsung menyodorkan tangannya dan segera disambut hangat oleh Zahra.


" Aku baik, maaf juga karena aku sempat lupa denganmu. "

__ADS_1


" Tidak apa-apa, kau hanya pernah bertemu denganku sekali, tapi aku sering melihatmu jadi aku hafal wajahmu meski jauh lebih cantik saat kau tidak menggunakan make up. "


Alenta tersenyum dan mengangguk.


" Kalian sudah berkencan? " Tanya Zahra seraya menatap Nick dan Alenta bergantian.


" Sudah berkencan? Apa maksudnya? Apa kamu terlihat begitu jatuh cinta sedari dulu? " Tanya Alenta bingung, sementara Nick hanya diam saja tak bisa melarang Zahra untuk bertanya.


Zahra menghela nafasnya, lalu tersenyum menatap Alenta dan Nick bergantian.


" Dulu aku selalu cemburu karena setiap waktu kami berkencan, Nick hanya sibuk menceritakan tentang betapa cerewetnya dirimu, kau yang tegas melebihi seorang Bos, dia menceritakan tentang dirimu seolah-olah dia begitu terganggu dengan dirimu, tapi kenyataannya adalah, Nick hanya bisa melihatmu dan menutupinya dengan sifat yang menyebalkan darimu. Aku rasa itu juga terjadi dengan gadis lain yang Nick kencani. Nick, dia jatuh cinta denganmu sejak awal, tapi dia terus menyangkalnya dengan mengencani beberapa gadis agar bisa melupakan perasaan itu. Tapi lihatlah sekarang, kalian seperti pasangan kekasih. " Zahra kembali tersenyum, sementara Nick hanya bisa diam menunduk karena malu. Alenta, gadis itu hanya bisa terdiam tak menjawab apapun.


Ternyata begitu?


" Nick, berhentilah untuk berkencan dengan gadis manapun, kau tidak akan bisa melupakan sekretaris mu ini. " Zahra menghela nafas lalu tersenyum.


" Ah, sepertinya aku sudah banyak bicara ya? Maaf. "


" Tidak apa-apa kok, kalau kau tidak mengatakan itu, aku tida tahu kapan aku tahu tentang Nick. " Ucap Alenta.


" Ngomong-ngomong, selamat untuk kemajuan hubungan kalian ya? Jadi, kapan kalian berencana menikah? " Tanya Zahra.


" Kami sudah menikah. " Ucap Nick dengan tegas.


Zahra kaget, tapi dia juga tersenyum bahagia.


" Wah, Nick! Ternyata kau sangat cepat ya? "


Nick tersenyum, lalu meraih tangan Alenta dan menggenggamnya.


" Aku harus berterimakasih kepada si pembuat takdir yang sudah menyatukan kami. "


Di kediaman Chloe.


" Uhuk uhuk uhuk " Ivi terbatuk-batuk karena tersedak makanan yang sedang ia makan.


" Sayang, tidak apa-apa? Ini minum dulu. " Ucap Nathan kepada Ivi seraya menyodorkan segelas air kepadanya.


" Nick, apa dia sedang mengumpat padaku ya? " Gerutu Ivi setelah menenggak air yang diberikan Nathan padanya.


" Mulutnya jarang mengumpat kita, tapi hatinya mana kita tahu. " Ujar Nathan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2