My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Camping 2


__ADS_3

Alenta menghela nafas panjangnya menunggu Arkan untuk bicara. Sementara Arkan sendiri, dia sedari tadi terus menatap Alenta berharap cukup untuk menghilangkan kerinduannya. Akhirnya, Alenta bersedia untuk bicara dengannya, batin Arkan.


" Alen, maaf karena aku membuatmu tidak senang belakangan ini. Aku salah, dan aku minta maaf ya? "


Alenta menatap Arkan yang masih terus menatapnya. Marah? Iya memang itu lah yang dia rasakan, tidak tahu bagaimana harus menjawab ucapan Arkan barusan, nyatanya Alenta malah semakin ragu karena lagi-lagi dia harus menyadari begitu baik Arkan kepadanya.


" Alen, jangan mengabaikan ku lagi ya? Aku sangat merindukanmu, aku ingin kita seperti dulu lagi. Tidak apa-apa kalau kau semakin sibuk, tidak apa-apa juga kalau tidak memberitahu kau tinggal dimana, bahkan juga kalau kita hanya bisa mengobrol lewat panggilan video aku juga akan coba memaklumi. Aku hanya ingin kita baik-baik saja, karena aku sungguh menginginkan hubungan kita ini sampai ke pernikahan. "


Pernikahan? Alenta semakin terdiam tak berani berkata-kata. Tahukah bahwa sekarang dia sedang terbelit dengan tali pernikahan? Membicarakan pernikahan dengan Arkan kenapa malah jadi mengingatkan dia kepada Nick? Pria itu, pria yang membuat emosinya baik turun bak roller coaster, kenapa malah jadi mengingat si brengsek itu sih?!


" Alen, kau diam saja apakah sungguh sedang sariawan? "


Alenta menghela nafas, lalu dia memberanikan dirinya untuk menatap kedua bola mata Arkan yang sedari tadi tak beralih pandang darinya.


" Maaf, Arkan. Sebenarnya akulah yang egois, aku tidak ada di samping mu saat kau butuh. Iya, aku terlalu sibuk dan terlalu mencintai pekerjaanku, jadi jangan terus memaklumi ku karena aku tidak begitu pantas diperlakukan sebaik itu. "


Maaf, Arkan. Jika saja aku tidak sedang dalam sebuah hubungan pernikahan yang tidak bisa aku ceritakan padamu, aku mungkin akan menuntut mu, mengekang mu karena ketakutanku akan masa lalu. Sekarang aku sadar bahwa akulah yang banyak melakukan kesalahan.


" Kenapa bicara seperti itu? Kau sibuk bukanlah salahmu. " Arkan memeluk tubuh Alenta, lengan kekar itu boleh saja terlihat besar dan terasa hangat, tapi kenapa sekarang tak bisa memberikan kenyamanan seperti pelukan Nick? Hah! Tidak! Kenapa lagi-lagi mengingat pria itu? Segera Alenta membalas pelukan Arkan demi menghilangkan pikirannya yang terus tertuju kepada Bos sekaligus suaminya sendiri.


Tak jauh dari mereka, tepatnya di semak-semak, Nick tengah mengintip, sekaligus mencuri dengar apa yah dibicarakan oleh Arkan dan Alenta. Sungguh dia amat kesal karena kata-kata Arkan itu sangat lembut, seperti tukang merayu saja. Oke! Itu masih bisa dia maklumi, tapi kenapa harus segala pakai peluk-pelukkan? Huh! Kalau sudah begini mana mau dia mengalah dan diam saja?


" Ah......! Alenta! Alenta! Alenta! " Nick berlari, lalu memisahkan tubuh Alenta dan Arkan dengan paksa, tapi jelas dia mendorong Arkan jauh lebih kuat hingga Arkan mundur beberapa langkah.


" Ular, ular, Alenta! " Nick melemparkan ular daun yang tidak sengaja dia lihat tadi ke punggungnya, lalu berlari, begitu sudah memisahkan Arkan dari Alenta, segara Nick membuang ular daun ke arah Arkan.


" Ih! Aku takut Alenta! " Nick memeluk erat tubuh Alenta yang jelas tidak bisa digunakan untuk melindungi dirinya.


Alenta, gadis itu hanya bisa terperangah kaget dengan hadirnya Nick yang begitu tiba-tiba seperti sengaja memisahkan Arkan yang tengah memeluknya, lalu melemparkan ular daun dari punggungnya tepat di tubuh Arkan. Sementara Arkan sendiri, dia hanya bisa terdiam meski beberapa saat sempat terkejut dengan hadirnya Nick, ditambah lagi sekarang memeluk Alenta dengan begitu erat. Aneh? Iya! Dia merasa takut, tapi kenapa dia mendekap Alenta, membawa wajah Alenta ke dadanya seolah-olah Alenta yang sedang ketakutan? Lagi pula ular itu hanyalah ular daun saja, apa sih yang ditakuti dari ular imut tak berbisa itu?


" Bos, ularnya sudah pergi! " Alenta mendorong tubuh Nick agar melepaskannya, benar-benar aneh sekali!


" Oh, sudah kabur ya? " Nick menghembuskan nafas lega, dia mengusap-usap dadanya seolah benar-benar terlihat lega. Heh! Masa bodoh mau aktingnya payah atau tidak, tapi sepertinya dia harus berakting lagi dan membawa Alenta menjauh dari mulut madu yang menyesatkan itu.

__ADS_1


" Bos, anda baik-baik saja sekarang? " Tanya Arkan yang sepertinya sudah bisa menebak kalau Nick juga baik-baik saja sedari tadi.


Heh! Mau melanjutkan adegan yang tertunda tadi? Iya boleh! Tapi lakukan dalam imajinasi mu saja!


" Alenta, temani aku bergabung dengan yang lain, aku tidak mau jalan sendiri nanti kalau ada ular lagi bagaimana? "


" Disini aman, Bos. " Ujar Arkan.


Diam kau bedebah!


" Alenta, kau tahu kan aku mudah ketakutan?ingat nih! " Nick menunjukkan kedua lengannya yang merah karena banyak di gigit nyamuk.


" Nyamuk saja begitu tergoda olehku, apalagi ular? Aku yakin sih tadi ular betina, nanti kalau ada ular cobra betina bagaimana? Masa aku mati sendirian tanpamu sih Alenta? "


Alenta menaikan sisi bibirnya dengan wajah kesal.


" Bos, kita memang selalu bersama kalau sedang bekerja, tapi kalau mati tentu saja harus masing-masing! "


Nick mengabaikan kata-kata itu, lalu segera merangkul Alenta dan memaksanya untuk mengikuti langkah kakinya.


Alenta menepis dengan kasar tangan Nick.


" Tidak perlu merangkul ku juga kan?! "


" Ah, tapi aku takut, Alenta! " Nick merangkul lagi Alenta yang terus berjalan dengan kesal hingga melupakan Arkan disana.


" Aku ada disini, Bos! Jangan merangkul seperti ini! " Lagi, Alenta menepis tangan Nick dengan kasar.


" Aku bilang aku takut! " Nick merangkul lagi Alenta, namun kali ini dia merangkul dengan kuat.


" Aku tidak perduli, Bos! "


" Kasihani saja aku, Alenta! "

__ADS_1


" Mukamu selalu membuatku kesal, bagaimana aku bisa kasihan? "


Arkan menatap Nick dan Alenta dengan tatapan kecewa. Padahal dia sungguh berharap banyak dengan Alenta, tapi kenapa di saat dia begitu yakin akan perasaannya justru ada penghalang yang jelas akan sulit untuk disingkirkan.


Sekembalinya Nick dan Alenta di tempat semula, mereka segera bergabung bersama para pegawai, begitu juga dengan Arkan meski kedua bola matanya tak bisa teralih dari Alenta yang selalu berada di samping Bosnya.


Malam hari, tepatnya pukul sembilan malam setelah acara selesai, kini sebagian pegawai sudah mulai akan tidur di dalam tenda, sementara Alenta bersiap untuk ke motel.


" Motel yang kau maksud ada di sebelah mana? " Tanya Nick yang tentu saja akan ikut Kemanapun Alenta pergi.


" Lumayan jauh dari sini, makanya aku sudah memesan ojek untuk menjemput, tapi anehnya belum datang juga. Padahal aku sudah minta untuk menjemput sebelum pukul setengah sembilan malam. "


Nick menghela nafasnya.


" Jangan bilang ojeknya cuma satu! "


" Iya, kan cuma aku yang akan tidur di motel. "


" Aku? Aku bagaimana? "


" Bos kan tidur di tenda. "


" Tidak mau! "


Setelah perdebatan panjang, ditambah lagi ojek yang tak kunjung datang, Alenta dan Nick memutuskan untuk berjalan kaki saja.


" Ternyata jauh juga ya? " Ucap Nick setelah melihat Alenta terlihat kelelahan. Maklum saja, jalanan yang berbatu, sekaligus menurun itu pasti tidak semudah berjalan di jalanan yang rata kan?


" Alenta, ada saung disana! Kita tidur di sana saja bagaimana? "


" Berdua? " Tanya Alenta.


" Bertiga dengan setan! "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2