
Arkan terdiam dengan tatapan kosong setelah Alenta menceritakan segala yang terjadi hingga dia dan Nick terikat dalam sebuah hubungan pernikahan. Hancur, kecewa, sakit hati, perasaan itu menjadi satu membuat hati ya terasa begitu sakit seakan dia tengah merasakan hantaman keras di dadanya. Padahal dia sudah banyak berharap, berhemat agar bisa segera menikahi Alenta, bahkan dia juga sudah banyak mengalah, tak pernah sekalipun komplain saat Alenta tak ada waktu untuk bersamanya. Tapi kenapa? Pengorbanan itu seolah tak ada arti dan tujuan, setelah Alenta menceritakan semuanya, dia merasa kalau hanya dia yang berkorban dan mencintai Alenta sendiri.
" Arkan, aku tahu kau kecewa padaku, tapi aku tidak menceritakan ini padamu karena aku pikir, kami akan segera bercerai saat situasinya tenang. Tolong maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud menipumu. " Alenta menatap Arkan yang sedari memilih untuk diam dengan wajah syok. Paham sekali bahwa dia telah menyakiti dan mengecewakan pria yang sudah satu tahu menemaninya itu, tapi mau bagaiman lagi? Segala yang terjadi hingga ia menikah dengan Nick juga bukan keinginannya.
" Arkan, kau masih ingin diam? " Tanya Alenta yang tentu saja merasa bingung saat yang dia ajak bicara malah memilih untuk diam saja seperti ini.
" Mulutnya lumpuh, mungkin. " Sela Nick yang duduk tak jauh dari mereka. Alenta menoleh ke arah Nick, menatap sinis karena sebal. Bisa-bisa nya ikut campur seperti ini!
" Alen, sekarang aku benar-benar bingung dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. " Ucap Arkan dengan wajah yang masih terlihat syok dan tak percaya
" Bingung? Pusing tidak? Perlu aku pegangi? "
Hah! Benar-benar tidak punya perasaan! Padahal Alenta sudah melotot tapi masih saja ikut campur dan menyela setiap ucapan mereka.
" Aku minta maaf. " Ucap Alenta tadi.
" Aduh! Kupingku pegal mendengar kata maaf dari mulutmu, kau sendiri apa tidak pegal mengatakan maaf sampai berkali-kali? "
Alenta, gadis benar-benar hanya bisa melotot dengan tatapan tajam karena harus menahan amarahnya kepada Nick. Apakah pria itu sungguh tidak tahu malu? Ini adalah obrolan privasi, tapi kenapa dengan tidak tahu malu nya dia menyela terus menerus?!
Arkan juga merasa kesal meski tak ia tunjukkan sama sekali. Entah apa yang dipikirkan Bosnya itu, yang jelas adanya Nick benar-benar membuatnya tidak nyaman untuk bicara dengan Alenta. Sebenarnya tempat ini adalah tempat kedua mereka berpindah, tapi lagi-lagi Nick malah mengikuti dengan percaya diri. Uh! benar-benar ingin mensleding wajah sok tak berdosa itu!
__ADS_1
" Alen, kalian sungguh akan bercerai? " Arkan menatap Alenta seolah penuh harap. Sementara Alenta, gadis itu kini malah dilema, bingung harus menjawab apa.
" Kantor sipil sedang sibuk, mereka tidak ada waktu senggang untuk mengurus perceraian kami. " Sela Nick lagi.
Arkan mengerti dengan wajah sebal. Andai saja Nick bukan Bosnya yang sudah memberikan gaji besar, sungguh tidak ingin dia menahan diri lagi dan memukul mulut sialan yang sedari tadi menyela dengan bunyi yang menyakitkan.
" Bos, diam dong! "
" Tapi mulutku gatal, Alenta! " Bantahnya.
" Mau aku garuk? " Tanya Alenta dengan tatapan mengancam seperti biasanya kalau dia sedang marah kepada Nick.
" Mau dong, garuk nih! "
***
Setelah kembali bersama ke area camping, Arkan langsung bergabung bersama rekan-rekannya karena dia merasa butuh berpikir jernih untuk masalah ini. Sementara. Nick, pria itu tentu saja mengikuti kemana Alenta pergi. Masa bodoh saja mau Alenta marah atau tidak, yang penting adalah Arkan tidak boleh memiliki niat untuk terus bersama dengan Alenta.
Beberapa kegiatan mulai berlangsung, mulai dimulai, dan untuk lomba ini adalah lomba kerja sama yang sudah menjadi trend sepanjang waktu. Dua orang dengan sebelah kaki diikat satu sama lain, lalu berjalan beriringan mengambil bendera yang sudah ada di depan sana.
" Alenta, duduk yuk! Kita lihat saja dari sini. " Ujar Nick. Tapi belum juga sempat dia mendapat jawaban, Alenta justru berjalan cepat untuk menghampiri Arkan. Iya, umatnya dia ingin ikut bergabung dalam lomba dan mengajak Arkan untuk menjadi rekannya. Tindakan ini tentu saja ia lakukan agar Arkan memaafkannya. Sayang sekali, belum sempat dia mendekat, Talita sudah lebih dulu menghampiri Arkan dan mengajaknya untuk menjadi partner.
__ADS_1
" Kak, kita ikut yuk? Aku ingin ikut tapi aku kan belum kena siapapun, jadi mau ya? Please.... Aku benar-benar menginginkan hadiahnya! " Talita memohon dengan semangat, bahkan dia juga tersenyum untuk mendapatkan kata iya dari Arkan. Sebenarnya Arkan tahu kalau Alenta sudah akan mendekat padanya, tapi karena hatinya tengah tidak baik-baik saja, maka dia putuskan untuk menyetujui ajakan Talita. Dengan perasaan kecewa Arkan meraih tangan Talita dan mendaftarkan nama mereka ke panitia lomba.
Mungkin jika itu adalah gadis lain, maka Arkan hanya akan diprotes, atau kekasihnya akan merajuk. Tapi itu berbeda dengan Alenta, kenapa? Karena cara Arkan menggandeng tangan Talita mengingatkan tentang Ayahnya yang pergi meninggalkan rumah lalu meraih tangan Talita yang saat itu menunggu di depan rumah, dan mereka pergi tanpa menoleh kepadanya yang saat itu meraung, meronta meminta Ayahnya untuk tetap tinggal.
Sakit? Iya! Karena lagi-lagi dia harus melihat pria yang ia cintai lebih memilih bersama Talita. Benar, dia memang bersalah, dia memang memiliki banyak kekurangan, semua itu karena dia adalah manusia kan?
Alenta mengepalkan kedua tangannya, menatap marah tanpa suara, dia masih tetap menatap Arkan yang sesekali menoleh padanya. Cukup! Dia adalah wanita yang memiliki luka masa lalu begitu dalam, jika pada akhirnya ada seseorang yang memberikan luka itu lagi padanya, maka seharusnya dia tidak boleh lagi jatuh cinta agar tidak merasakan hal seperti ini lagi kan?
" Jangan begitu marah, kau dengar apa yang di katakan adik tiri tersayang mu itu kan? Dia menginginkan hadiah yang diberikan perusahaan, jadi kau tahu bagaimana cara melampiaskan kemarahan mu kan? " Nick yang sedari tadi melihat bagaimana Alenta cemburu dan marah, tentu akan mengambil tindakan yang menguntungkan dirinya.
" Bos, maukah menjadi partner ku? Mari kita menangkan hadiah itu. "
Nick terkekeh geli.
" Hadiah dari kita, tapi kau juga ingin mengambilnya? Dasar pamrih! Tapi sepertinya oke juga! "
Alenta tersenyum miring, lalu memberikan telapak tangannya lalu segera Nick menyambutnya. Mereka bergandeng tangan berjalan menuju panitia dan mendaftarkan nama mereka. Masa bodoh bagaimana orang lain melihat mereka, yang paling penting adalah menang!
" Bos, kalau sampai kalah, aku benar-benar akan mogok kerja satu bulan. " Bisik Alenta.
" Kalau kita menang, janji kita latihan buat anak ya? "
__ADS_1
Bersambung.