
Seharian Alenta dan Nick menghabiskan waktu bersama, pagi hari mereka sarapan bersama, lalu jalan-jalan sebentar di taman kota, siangnya mereka makan siang bersama, lalu berbelanja baju untuk mereka berdua, dan pulang setelah sore hari mulai datang. Memang sih cukup lelah karena pagi tadi Nick baru saja sampai, tapi seharian bersama Alenta dia malah sama sekali tak merasakan lelah sedikitpun.
Nick kembali ke luar setelah meletakkan barang belanjaannya di kamar, dan menyusul Alenta yang kini tengah berada di dapur karena dia bilang haus setelah masuk ke rumah tadi. Benar-benar seperti seorang model yang tengah mengiklankan minuman botol, bahkan minum saja terlihat sangat cantik di mata Nick. Tak mau membuang waktu, Nick segera berjalan menuju Alenta yang duduk di sofa tengah karena berjalan-jalan seperti tadi pasti membuatnya lelah.
" Alenta, mau panggil tukang pijat tidak? Apa biar aku saja yang memijat mu? " Ucap Nick seraya mengambil posisi untuk duduk disebelah Alenta.
" Tidak usah, Bos. Hanya agak lelah, tidak membutuhkan pijitan. "
Nick tersenyum, dia meraih tangan Alenta, lalu menggenggamnya erat. Tidak bisa mengatakan rayuan dan kata-kata manis seperti yang pernah Arkan lakukan, tapi Nick merasa cara seperti ini akan lebih berarti dari pada sebuah ucapan saja.
" Alenta, kau tahu tidak kalau aku sangat merindukanmu? "
Alenta menghela nafas, lalu memasang wajah sebalnya.
" Lalu kenapa seminggu ini tidak memberi kabar? Apa kau sedang sibuk berkencan? "
Nick tersenyum menahan diri agar tidak tertawa. Tidak tahu apakah benar dugaannya atau tidak, tapi Alenta terlihat seperti cemburu.
" Karena aku ingin tahu, apakah jika aku menghilang kau akan mencari ku atau tidak. "
Alenta melepaskan tangannya dari genggaman Nick seraya berdecih sebal. Sebenarnya dia juga tidak terlalu memahami dirinya kenapa dia begitu marah saat Nick tidak memberi kabar seperti biasanya, tapi kedatangan Nick hari ini seolah menjawab pertanyaan itu secara tegas. Alenta merindukannya, itulah yang bisa dengan jelas Alenta rasakan setelah hatinya begitu bahagia minat Nick secara langsung hati ini.
" Kau akan kembali lagi ke Tuan Sammy? " Tanya Alenta, tapi di dalam hati ya terus berharap agar tidak akan Nick pergi lagi. Seakan Tuhan berpihak padanya, Nick segera menggeleng untuk menjawab pertanyaan Alenta barusan.
__ADS_1
" Sungguh? " Tanya Alenta lagi untuk memastikan.
" Iya, aku bisa belajar sisanya secara otodidak, juga dengan buku pastinya. "
Alenta tersenyum dan mengangguk. Hah! Benar-benar bahagia sekali, tapi dia juga tengah kesulitan karena harus menahan diri agar bisa mengontrol perasaan bahagianya agar tak terlalu terlihat.
" Alenta, kau tahu betapa sulitnya dua bulan lebih itu? " Nick tersenyum dengan tatapan yang tak bisa Alenta baca. Memang dia tidak terlalu paham, tapi kalau mengingat Nick yang seorang laki-laki normal dan sudah pernah merasakan melakukan hubungan badan, rasanya Alenta sedikit mengerti sekarang. Ditambah lagi kan selama bersama dengannya Nick selalu menahan diri agar tidak memaksanya melakukan itu meski mulutnya tak ada henti-hentinya membicarakan soal membuat anak.
" Aku tidak tahu kalau aku sungguh bisa begitu setia denganmu, dan aku bisa kembali dengan bangga, Alenta. "
Alenta terkekeh tak tahan lagi untuk tertawa. Hanya karena bertahan untuk setia, Nick benar-benar hal itu sungguh membanggakan.
" Apa aku perlu memberi penghargaan untukmu, Bos? "
" Aku mencintaimu, Alenta. "
Alenta terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia amat bahagia mendengar kata-kata itu Meksi itu bukanlah yang pertama kali di ucapkan Nick, tapi tatapan Nick yang begitu tulus dan serius membuatnya tak bisa berbicara, bahkan beralih pandangan juga tidak bisa. Mereka saling menatap dengan jarak yang begitu dekat, semakin dekat hingga tanpa disadari mereka kembai berciuman dengan begitu mesra. Sudah tidak tahu berapa kali mereka berciuman hari ini, tapi nyatanya mau berkali-kali juga tak membuat mereka merasa bosan.
Pada awalnya ciuman itu memang terasa begitu penuh cinta, tapi beberapa detik setelahnya menjadi begitu panas tanpa mereka sadari. Nick semakin menarik tubuh Alenta untuk mendekat padanya, memeluknya erat-erat, lalu mulia mengelus punggung Alenta. Tak berhenti disana karena insting yang memintanya, Nick mulai menjalankan tangannya ke bagian depan tubuh Alenta, lalu membuka kancing kemeja Alenta. Ciuman masih terus berlanjut, hawanya juga semakin panas membuat mereka semakin hanyut di dalam perasaan membara meski tak berani untuk Alenta akui.
" Bos! " Alenta menjauhkan tubuhnya dari Nick karena terkejut saat tangan Nick menyentuh bagian dadanya, bukan dari luar, tapi sudah masuk kedalam tangannya entah kapan kancing kemejanya terbuka hampir semua.
" Maaf Bos, aku belum siap. Aku masuk ke kamar untuk mandi. " Alenta segera bangkit dari posisinya, berjalan cepat menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Nick disana.
__ADS_1
Nick menghela nafasnya, lalu segera mengusap wajahnya karena salah juga sudah begitu mendesak Alenta. Nick bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengikuti Alenta, tali bukan untuk masuk ke kamar mereka, mainkan ke kamar sebelah. Bukan marah, hanya saja Nick takut akan kehilangan kontrol dan berujung memaksa Alenta yang pasti akan membuat Alenta membencinya kan?
Sudahlah, mungkin ini juga bagian dari rencana Tuhan yang ingin dia terus bersabar. Nick masuk ke dalam kamar sebelah yang dulu digunakan Alenta, lalu bergegas untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap keinginan untuk melakukan sesuatu. bersama Alenta itu sirna dari otaknya. Sudah lumayan membaik, kini Nick bisa beristirahat degan duduk di atas tempat tidur sembari membaca buku tentang bisnis yang memnag belum selesai ia baca sebelumnya.
Sudah pukul tujuh, tapi Nick masih saja belum masuk ke kamar. Padahal Alenta sudah menunggunya untuk meminta maaf karena tadi dia benar-benar kaget dan belum siap secara batin. Alenta yang gelisah hanya bisa berjalan ke kanan ke kiri mondar-mandir menunggu Nick masuk, sampai tiga puluh menit lebih masih juga belum masuk ke kamar. Alenta akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah karena penasaran juga kemana Nick, ataukah karena ngambek jadi dia kembali ke tempat Tuan Sammy? Batin Alenta was-was.
" Bi, sudah mau pulang? " Tanya Alenta yang melihat pembantu rumah tengah bersiap-siap.
" Iya Non Alenta, ada apa? "
" Em, lihat Nick tidak? "
" Oh, tadi ada di kamar sebelah, sedang membaca. "
" Oh, Oke, terimakasih Bi, hati-hati dijalan. "
Alenta menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan. Setelah sampai di depan pintu kamar Nick dia sempat berdiri lumayan lama untuk berpikir dan menimbang keraguannya, Alenta kembali teringat dengan gadis-gadis yang coba mendekati Nick, lalu teringat dengan ucapan Ibunya.
Dengan nekat yang tidak tahu sebesar apa, Alenta mengetuk pintu kamar beberapa kali hingga Nick membukanya.
" Alenta? Ada apa? " Tanya Nick yang merasa agak aneh dengan mimik Alenta yang tidak biasa.
Tak mengatakan apapun, tapi Alenta segera melajukan langkah kakinya, memeluk tengkuk Nick dan mencium bibirnya.
__ADS_1
Bersambung.