
Alenta menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Kegiatan ini sudah beberapa kali dia lakukan, tapi tetap saja dia merasa tidak bisa juga menghilangkan perasaan gugup dan juga marah karena lagi-lagi harus melihat Ayahnya. Sebenarnya bukan hal aneh, tapi setelah lima tahun tidak bertemu karena Alenta mencoba menghindar sebisa mungkin, ternyata datang juga waktu baginya untuk bertemu lagi meski enggan.
" Ada aku, jangan khawatir. " Ucap Nick seraya menggenggam tangan Alenta yang terasa begitu dingin dan berkeringat. Tentu tak bisa dipungkiri bahwa Alenta sangat gugup dan juga harus menahan diri agak tidak melakukan hal bodoh saat terpancing emosi nantinya.
Alenta sejenak terdiam merasakan betapa hangatnya tangan Nick yang kini menggenggam tangannya erat. Mungkin, jika ini dilakukan saat hatinya tidak sedang kacau seperti sekarang ini, tangan Nick pasti sudah dia tepis dengan kuat. Tapi, sungguh tangan Nick benar-benar terasa hangat sekarang ini, bahkan tatapannya juga terlihat seperti sosok yang mampu di andalkan. Aneh ya? Tapi seperti itulah Nick saat ini di mata Alenta.
" Bos, bagaimana kalau pria itu bertanya dengan hubungan kita? "
" Kita bilang saja yang sesungguhnya kalau kita sudah menikah. " Jawab Nick santai.
" Tidak, jangan dulu, aku tahu benar seperti apa istrinya yang sekarang ini. "
" Sedih sekali, benar-benar kasihan kau Nick, pada akhirnya malah menjadi suami di balik layar. "
Alenta menghela nafas, lalu menarik tangan Nick sampai ke pintu utama.
" Jangan berpegangan tangan terus, nanti mereka curiga. "
Nick menghela sebal, padahal kapan lagi bisa seromantis sekarang ini?
Alenta kembali membuang nafas, lalu mengetuk pintu rumah sederhana yang ditinggali Ayah kandung serta keluarga barunya.
" Kakak? " Sapa Talita, gadis itu tersenyum bahagia, tapi dia juga hanya bisa melakukan sebatas itu karena tahu kalau memeluk Alenta seperti menyambut saudari yang pulang kerumah, sudah pasti kan dia akan mendapatkan sikap tidak enak dari Alenta. Belum lagi dia juga melihat Bos Nick di sana. Agak aneh sih karena Bos perusahaan sampai harus menemani sekretarisnya, tapi apapun itu alasannya Talita hanya bisa membatin saja dan tetap tersenyum seperti seharunya.
" Bos Nick juga ikut? Selamat malam Bos Nick? " Sapa Talita dengan sopan.
__ADS_1
" Malam. " Balas Nick tersenyum sebentar.
" Silahkan masuk, kak, Bos Nick juga. ''
Alenta tak mengatakan apapun, dan dia memilih untuk mengikuti saja kemana Talita berjalan membawanya untuk bertemu pria yang katanya adalah Ayahnya.
" Ayah, lihat siapa yang datang! " Talita berlari menuju Ayahnya yang tengah duduk sembari mengobrol dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun, dan Talita memeluk Ayahnya seolah dia begitu bahagia.
" Alenta? " Pria bernama Baskoro, dia adalah Ayah kandung Alenta. Pria itu menatap Alenta dengan mata memerah seolah menahan rindu yang amat besar, dilepaskan perlahan pelukannya dengan Talita, dan dia bersiap untuk mendekati Alenta yang berdiri dengan ekspresi datar, mungkin sih dia ingin memeluk Alenta.
" Selamat ulang tahun, Pak Baskoro. " Ucapan Alenta barusan benar-benar membuat langkah kaki Ayahnya terhenti mendadak. Matanya yang memerah menahan rindu kini berubah kecewa, bahkan sampai pelupuk matanya sudah berair. Pak Baskoro, kenapa? Padahal seharusnya dia di panggil Ayah kan? Sudah puluhan tahun, tapi tidak sekalipun saat bertemu Alenta memanggil namanya dengan sebutan Ayah seperti saat dia kecil dulu.
" Alenta, bagaimana kabarmu, nak? " Ayah Baskoro perlahan mendekati Alenta setelah mengusap matanya agar tak meneteskan air mata. Dia berpikir bahwa, mungkin Alenta akan sedikit tersentuh saat dia mencoba mendekatkan diri dengan bertanya kabarnya. Sebenarnya di hari-hari sebelumnya, Ayah Baskoro selalu mengirim pesan demi menanyakan kabar Alenta, tapi Alenta sama sekali tak menggubris pesan itu apalagi membalasnya.
Alenta mengepalkan tangannya menahan marah, marah? Iya! Karena setiap kali melihat wajah Ayahnya, Talita, bahkan sekarang juga ada istri dari Ayahnya, jantungnya berdegup kencang seolah menyalahkan mereka semua atas apa yang terjadi kepada dia dan Ibu kandungnya. Tapi, mencoba menyembunyikan perasaan adalah keahlian Alenta, maka dari itu bukan hal sulit untuk tersenyum manis di saat seperti ini.
Begitu jarak mereka semakin dekat, Alenta masih tersenyum manis seolah ingin menunjukkan bahwa pria yang menatapnya penuh kerinduan itu adalah orang asing baginya. Sakit? Iya! Bukan hanya sakit bagi Ayah Baskoro saja, tapi juga menyakitkan bagi Alenta. Andai saja, kenangan-kenangan indah saat dia kecil lebih banyak, andai saja rasa sakit yang diberikan Ayahnya tidak terlalu dalam, mungkin Alenta bisa tersenyum dengan tulus, masih bisa meregangkan kedua lengannya untuk memeluk pria itu, bahkan mungkin saja Alenta bisa tetap memanggil Ayah dan menerima adik dari Ibu tirinya. Tapi, kata jika dan kata andai tidak bisa digunakan oleh masa lalu, mana mungkin Alenta bisa menjadi seperti sekarang ini?
" Alenta, my princess, bisakah jangan menggunakan bahasa seolah hubungan kita begitu jauh? Bisakah Ayah memelukmu sebagai seorang Ayah? "
Alenta sejujurnya ingin sekali berkata kasar, tapi dia tetap tersenyum, bahkan hebatnya dia juga tak terlihat ingin menangis, apalagi sedih.
" Pak Baskoro, tentu saja boleh. " Alenta memeluk tubuh Ayah Baskoro dengan bibir tersenyum.
Pak Baskoro, lagi? Kenapa Alenta seolah mengingatkan dan menekan dengan kata-kata itu agar Ayahnya tetap menjaga jarak dengannya. Boleh saja sekarang Alenta memeluk Ayahnya, tapi lewat ucapannya tadi jelas sekali bahwa pelukan itu sama saja dengan pelukan kepada rekan bisnis, atau bisa dibilang penghormatan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Nick dan Alenta kini ikut duduk di meja makan untuk makan malam bersama. Tak ada banyak yang Nick katakan, dia hanya menjawab seperlunya saat Ayah Aleta, juga Ibu tirinya menyapa untuk berbosa-basi. Maklum saja, Nick adalah Presdir dari Chloe yang sudah terkenal di negara ini, jadi kedatangan Nick sebenarnya sudah membuat mereka merasa bangga dan bahagia tentunya.
" Kak, kakak pulang kerja? Kenapa bisa datang bersama Bos Nick? "
Alenta terdiam, dia sebenarnya tidak ingin menjawab, tapi demi menyembunyikan perasaannya, dia mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum.
" Kami baru saja menemui klien, jadi sekalian saja mampir. " Ucap Alenta. Hah! Sungguh luar biasa, biasanya kan Alenta akan marah saat dia memanggilnya kakak?, batin Talita.
" Jadi, kak Alenta ini adalah kakak pertama ku ya yah? " Tanya anak laki-laki yang bernama Damar, dia adalah anak kedua dari Ayah Baskoro dengan istrinya sekarang.
" Iya, dia adalah kakak mu. Waktu pertama kali Ayah membawa kakak Alenta kesini, saat itu kau masih kecil, jadi kau pasti tidak ingat wajahnya. " Ayah Baskoro mengusap kepala putranya dengan begitu lembut, bahkan dia juga tersenyum dengan tatapan hangat seorang Ayah yang dulu sangat ia rindukan.
Aku tidak tahan lagi.
Alenta menurunkan tangannya, dia menggenggam dengan begitu kuat hingga gemetar. Tapi karena Nick melihatnya, Nick dengan cepat menurunkan satu tangannya, membuka genggaman tangan itu perlahan, lalu menautkan jemarinya.
Ada aku, Alenta.
Nick tersenyum, begitu juga dengan Alenta yang kini menatapnya.
Bersambung.
Halo kesayangan....
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel baru ku ya...
TEARS