My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Good Night, Wife.


__ADS_3


Halo kesayangan? Aku promo Novel baru aku nih. Novel yang sebenarnya mau aku up di *** tapi karena ada lomba menulis di NT, jadi aku up disini. Jangan lupa klik fav, kasih like, komen di tiap bab nya ya kesayangan... ❤️❤️❤️


*****


Malam semakin larut, dua insan yang beberapa saat lalu menyatukan tubuh kini tengah berbaring dengan perasaan malu, tapi juga bahagia. Nick, pria yang kini tengah memeluk punggung Alenta hanya bisa terus tersenyum bahagia, untung saja Alenta membelakanginya jadi Alenta tidak bisa melihat bagaimana Nick kesulitan merapatkan bibirnya karena terus tersenyum. Di dalam hati Nick tengah menari-nari bahagia bak film India, dia bersorak hore dengan bersemangat. Akhirnya, aku dan istriku melakukan kikuk kikuk! Oh, satu lagi! Ternyata aku juga pria pertama dan satu-satunya yang akan menyentuh istriku, Alenta. Heh! Membahagiakan sekali, juga dengan bangga dia akhirnya bisa melakukan itu dengan istrinya dan bisa sombong kepada Arkan bahwa dirinyalah yang mampu membobol benteng pertahanan seorang Alenta yang dingin dan sangat sulit di dekati.


Tak jauh dengan apa yang dirasakan Nick, Alenta kini tak berani membalikkan badan karena merasa malu. Gila! Barusan dia tidak memakai pakaian sama sekali! Alenta kembali merona malu mengingat bagaimana Nick menciumnya dengan rakus, menyesap bagian dadanya seperti bayi yang kehausan, bahkan anunya juga tidak lewat dari sesapan Nick, bahkan jarinya juga masuk ke dalam sana. Ya ampun! Rasanya malu sekali sampai ingin kabur dari sana.


" Alenta? "


" Em? " Jawab Alenta tak berani berbalik untuk melihat Nick yang sedari tadi memeluk punggungnya.


" Kau tahu tidak? Aku sangat bahagia sampai tidak bisa berhenti tersenyum loh. "


Alenta semakin meninggikan selimutnya sampai batas hidung karena wajahnya semakin memerah malu. Nick, pria itu tahu jika Alenta pasti sedang menahan malu, segera dia mengeratkan pelukannya, mengecup beberapa kali punggung Alenta, juga kepala bagian belakangnya.


" Terimakasih Alenta, sekarang kau lebih baik tidur dulu ya? Satu jam lagi aku akan membangunkan mu. "


" Untuk apa? " Tanya Alenta bingung.


" Sebenarnya aku sudah mau lagi, tapi aku takut kau terlalu lelah, jadi aku tahan dulu sampai satu jam mendatang. "


Uh! Benar-benar otak tidak ada! Mereka saja baru selesai, tapi sudah berencana matang ingin melakukannya lagi? Memang benar laki-laki itu monster!


Di depan pintu kamar.


" Sayang, sampai kapan kau akan berdiri disini teru? " Protes Nathan yang merasa pegal berdiri menemani istrinya, padahal sudah satu jam setengah mungkin saja lebih karena kakinya sudah kesemutan beberapa kali.


" Hus! Diam! Jangan bicara nanti anak-anak dengar dan tahu kalau dari tadi kita menguping. " Ucap Ivi berbisik seraya mengacungkan jari telunjuknya di depan mulutnya.


" Kalau mereka tahu kita disini, bagaimana aku akan menghadapi mereka nanti? Kau juga, kenapa kau begitu penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Mereka kan sudah menikah, jadi jangan seperti ini. "

__ADS_1


Ivi melotot sebal, lalu memukul lengan Nathan sebagai bentuk peringatan agar suaminya tak lagi banyak bicara dan biarkan dia mendengarkan lagi suara-suara keramat yang keluar dari bibir keduanya.


" Aku kan penasaran apakah mereka berkembang biak sungguhan atau bohongan. Lagi pula aku kan tidak mengintip, cuma sedikit menguping saja memang apa salahnya? "


Nathan terperangah tak bisa berkata-kata, memnag benar istrinya sudah tertular kegilaan Ibunya, tapi dia tidak menyangka kalau Ivi benar-benar akan menjadi seperti ini. Tidak mengintip tapi menguping, bukannya itu artinya sama saja dia seharunya tidak harus melakukan itu? Sudahlah, memang dimana-mana wanita selalu benar.


" Sayang, kalau kau penasaran kita coba saja sendiri! " Nathan meraih lengan Ivi, merangkul paksa dan membawanya pergi dari sana. Benar-benar tidak ada cara lain lagi, mau sampai kapan mendengarkan suara ah ih uh eh oh? Mereka yang di dalam kamar sih enak-enak saja, tapi bagaimana dengan dia yang mendengar di balik pintu?


" Dasar tua bangka! Masih saja cabul mu tidak hilang! "


" Tua bangka mu ini masih bisa melakukannya dengan baik. " Jawab Nathan singkat tapi mampu membuat Ivi tak mampu berkata-kata karena keheranan.


Kembali ke dalam kamar, Nick dan juga Alenta.


Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya Alenta mulai tertidur karena Nick bisa mendengar dengan jelas dengkuran halus Alenta. Nick perlahan mengubah posisinya, meraih ponselnya, lalu memotret dirinya dan Alenta yang menghadap belakang jadi hanya kepala serta rambut Alenta saja yang terlihat di photo itu. Nick tersenyum bahagia karena sedari tadi memang tidak bisa menghentikan kegiatan itu. Dia memberikan keterangan, good night, wife.


Padahal ini sudah hampir larut, tapi sepertinya banyak orang yang bum tidur terbukti unggahan Nick barusan mulai mengundang banyak orang untuk mengomentari unggahannya.


Bos ternyata benar sudah menikah? Sungguhan itu istrimu Bos? Bagaimana dengan wajahnya? Sepertinya bukan Rebecca. Bos apa sedang membuat pengumuman? Bos apa sedang mematahkan hati para gadis yang mengidolakan mu? Unggah photo wajah nyonya Nick, Bos! Ah, aku penasaran siapa wanita yang beruntung itu!


Aku ingin mengunggah photo istrimu, bagiamana menurutmu?


Nick menghela nafas, lalu membalas komentar dari Rebecca.


Lakukan saja, aku juga akan melakukan apa yang bis aku lakukan, ( Emotikon senyum. ) Kau tahu apa maksudnya kan? Salam damai, ( peace )


Tak lagi Rebecca membalas, tapi sepertinya banyak pegawai yang menyerang akun Rebecca dengan kata-katanya sendiri, masa bodoh saja lah, toh yang memulai bukan dia.


Nick meletakkan ponselnya, kembali fokus dengan Alenta dan memeluknya lagi. Masa bodoh saja lah kalaupun pada akhirnya orang tahu hubungan mereka, dia juga tidak perduli karena hubungan mereka sah secara agama juga negara sebagai suami istri, jadi terkuaknya hubungan itu, Nick justru akan merasa bahagia karena tidak perlu bermain petak umpet lagi.


Tadinya Nick ingin sebentar tidur sembari menunggu Alenta bangun, tapi saat tangannya ingin memeluk Alenta lebih erat, tak sengaja tangan laknat itu menyentuh bagian dada Alenta yang memang masih tak menggunakan pakaian apapun selain selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Gila! Hanya tidak sengaja menyentuh tapi dia sudah bisa merasakan bagian bawahnya mulai bereaksi.


" Sayang.... " Nick mengecup pundak Alenta setelah menurunkan sedikit selimut tebal yang digunakan Alenta sampai Batam hidungnya. Nick membalikkan tubuh Alenta agar menjadi terlentang. Masih tidak bangun, Nick membuatkan saja Alenta tertidur, lalu menyesap bagian ujung puncak dada Alenta dengan lembut.

__ADS_1


" Em.... " Alenta yang terganggu tidurnya sebentar bergerak tapi tak membuka mata.


" Sayang, lagi yuk? " Nick menjulurkan lidahnya menjalankan di telinga Alenta hingga si pemilik terbangun karena terkejut.


" Bos! "


" Panggil sayang dong, masa memanggil suaminya dengan Bos. "


" Aku belum terbiasa. "


" Coba dari sekarang. " Ujar Nick.


" Tidak mau! "


" Benarkah? " Nick tersenyum, lalu mengubah posisinya menjadi berada di atas tubuh Alenta.


" Bos, besok kita harus bekerja! "


" Panggil aku sayang, baru akan aku pertimbangkan lagi. "


Alenta menelan salivanya, mampus! Sayang? Bisa kejang mulutnya!


" Panggil aku sayang! " Ucap Nick segera menyesap ujung dada Alenta.


" Ah! Iya, iya! Sayang. "


" Bagus, karena kau sangat patuh, biarkan aku memberi hadiah untukmu. " Ucap Nick seraya mengarahkan kedua kaki Alenta untuk terbuka membiarkan dia mengambil posisi untuk kikuk kikuk lagi.


" Sialan! Aku tidak mau hadiah darimu. "


" Jangan malu-malu anjing deh sayang. "


Kucing! Kucing woi! Alenta menatap sebal tapi juga gak bisa berkata-kata karena Nick sudah dengan cepat memainkan lidahnya ke bagian inti Alenta.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2