
Makin hari gosip tentang Alenta semakin menjadi-jadi, sekarang sudah menyebar luas, bahkan kadang terang-terangan mereka bergunjing saat melihat Alenta lewat di depannya, bahkan tak sekali dua kali para pegawai mengunggah status tentang buruknya sikap Alenta, juga Alenta yang diduga adalah simpanan dari Bos mereka.
Masih sama seperti sebelumnya, Alenta masih saja cuek menanggapi gosip menyakitkan yang menimpanya. Bukan kebal, tapi Alenta tidak ingin membuang tenaga hanya untuk mengurusi masalah gila ini.
Nick, pria itu lah yang seperti kebakaran jenggot. Sudah beberapa hari ini dia marah-marah tidak jelas, bahkan sudah mengganti ponselnya dua kali karena tidak tahan saat membaca komentar pedas dari pegawai yang menggunjing Alenta, dan dia memutuskan untuk membanting kuat ponselnya. Bukan tidak ingin melindungi Alenta, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Alenta selalu melarangnya untuk melakukan hal tidak penting semacam itu. Entah apakah Alenta sudah terlalu lelah menghadapi hal yang menyakitkan atau bagaimana, intinya Alenta seperti tida tahu menahu tentang masalah yang jelas-jelas membuat Nick blingsatan beberapa hari terakhir.
" Berhenti memelototi ponselmu, ini buahnya. " Ucap Alenta seraya menyerahkan sepiring buah-buahan yang sudah bersih dan sudah dipotong-potong.
" Sayang, aku benar-benar ingin mengunggah photo pernikahan kita agar moncong jahanam mereka diam! " Ucap Nick kesal. Iya, lagi-lagi dia tengah membaca salah satu postingan dari akun palsu yang menjelekkan Alenta sesuka hati. Tentu sebagai suami yang sudah lama mengidamkan Alenta sebagai istri merasa sangat tidak terima. Bayangkan saja, sudah bertahun-tahun memendam rasa untuk Alenta, dan sekarang di saat mereka sudah hidup dengan bahagia bersama orag lain malah datang menghina Alenta si pujaan hati sepanjang masa, sepanjang abad pokoknya.
" Akan ada waktu yang tepat, biarkan saja mereka berbicara sesuka hati. Lihat saja siapa saja yang sudah menunjukkan sifat asli mereka, kita hanya tinggal tersenyum sembari menandai orang-orang itu. Mencengkram kesalahannya sebagai senjata untuk mematikan musuh, lalu menginjaknya kuat tapi mengaduh pun mereka akan sungkan. "
Nick menganga menatap Alenta. Ini benar-benar Alenta yang sesungguhnya, diam tapi memiliki sebuah rencana yang amat matang. Segera Nick bangkit dari posisinya, memeluk Alenta dan mengecup pipinya berulang kali dengan semangat.
" Ah, hentikan! "
" Aku bangga menikahi wanita sepertimu. " Ucap Nick lalu kembali memeluk Alenta. Entah itu disebut kata-kata gombal, atau memang tulus dari dalam hati, intinya Alenta cukup bahagia dengan kata-kata itu.
" Oh iya, Minggu depan adalah hari ulang tahun Ayah mertua. Kita benar-benar harus menyiapkan hadiah yang spesial kan? "
" Seperti tahun sebelumnya, Ayahku pasti akan merayakan hari ulang tahunnya bersama pegawai Chloe dan juga akan di hadiri oleh rekan-rekannya. "
" Baiklah, jadi mulai sekarang mari kita pikirkan hadiah apa yang cocok dengan Ayah mertua ya? "
" Iya. Sekarang beri aku hadiah dulu ya? "
Alenta kaget dan berniat untuk kabur dari pelukannya Nick. Tapi pria itu malah lebih dulu mempererat pelukannya dan menyentuh bagian-bagian penting yang sensitif bagi Alenta.
__ADS_1
" Ah, Nick! "
" Iya sayang? "
" Lepas! "
" Lepas bajumu? Oke! "
" Bukan! Lepaskan aku! "
" Iya, iya, ini aku akan melepaskan bajumu! "
" Ah, Nick! "
***
Sudah satu pekan dia menghubungi banyak teman-temanya demi meminjam uang agar Tuan Baskoro bisa mengobati tumornya, tapi tak ada satupun yang memberikannya. Maklum saja, mereka juga pasti sudah tua, dan belum tentu juga mereka memiliki usaha seperti dirinya.
Tadinya dia juga sudah akan menjual rumah yang ia tempati demi mengobati tumor yang di idap oleh suaminya. Tapi dia juga bingung kemana Talita dan anak bungsunya akan tinggal nanti? Belum lagi surat rumah kan ada pada bank karena dia sudah meminjam kepada bank beberapa bulan yang lalu untuk usaha tempat makannya.
Tidak tahu apa lagi yang bisa dia jual, restauran juga masih sewa tempatnya. Perhiasan juga jauh dari kata cukup untuk berobat suaminya. Mengandalkan Talita, gajinya habis untuk kehidupan sehari-hari mereka dan juga biaya sekolah anak bungsunya. Sebentar dia teringat kepada Ibunya Alenta yang menawarkan yang beberapa waktu lalu. Iya, hanya itu harapan satu-satunya kan? Alenta, tidak mungkin untuk ia temui, meminta kepada Ibu mertuanya juga tidak mungkin karena dia juga kesulitan uang.
Sebentar Ibu Rahayu menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan perlahan dan segera dia meraih tasnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menemui Ibunya Alenta dan meminta bantuan kepadanya. Sebenarnya untuk rasa cinta kepada Tuan Baskoro memang boleh di acungi jempol, tali caranya saja yang salah untuk bersama pria itu.
" Kau tidak boleh marah padaku, Baskoro. Aku melakukan ini karena aku ingin kau tetap hidup bersama ku dan juga anak-anak kita. ''
Tak menunggu lama, setelah sampai ke jalan utama Ibu Rahayu dengan segera memberhentikan sebuah taksi untuk segera menuju ke toko roti milik Ibunya Alenta.
__ADS_1
Sesampainya disana.
Dengan langkah ragu-ragu dia membuka pintu kaca bertuliskan Buka.
" Nyo Nyonya? " Sapa Ibu Rahayu, Meksi sebenarnya dia gugup dan takut menemui Ibunya Alenta sendiri, nyatanya dia tidak memilki pilihan lain selain menemuinya jadi sebisa mungkin dia coba untuk menjadi berani meski dia serasa tidak sanggup.
Ibunya Alenta sebentar terdiam setelah beberapa saat lalu sibuk berbicara dengan pegawainya karena ada pesanan kue ulang tahun yang agak spesial hari ini.
" Ada apa? " Tanya Ibunya Alenta.
Beberapa saat kemudian.
" Nyonya, bisakah pinjamkan aku uang untuk Baskoro berobat? "
Ibunya Alenta tersenyum seperti sedang keheranan. Lucu bukan? Seorang wanita yang dulu dengan wajah polos merebut suaminya hingga Alenta menjadi korban kini tengah memohon pertolongan darinya. Entahlah Tuhan ingin membuatnya menginjak harga diri seorang Rahayu dengan caranya seperti ini atau hanya kebetulan semata.
" Kalian bekerja bersama menghasilkan uang di perusahaan yang sama, kalian membuka usaha bersama, memamerkan kemesraan bersama seolah dunia hanya milik kalian berdua, tapi kau yang biasanya menunjukkan wajah mu yang tertekan seperti tertindas saat melihatku dengan tatapan tajam dan menghina bagaimana bisa memohon seperti ini? "
" Tentang masa lalu itu, aku benar-benar minta maaf. "
Ibunya Alenta menghela nafas.
" Kau, tahukah kalau aku sangat tidak nyaman saat bersamamu? "
" Tahu, aku tahu dan tolong maafkan aku yang tidak memiliki pilihan lain. "
" Akan ku pinjamkan uang yang aku miliki, bukan berarti aku kasihan dan perduli dengan Baskoro. Tapi, aku sangat kasihan melihatmu yang dulu menghinaku dengan caramu menunjukkan kebahagiaan kalian setiap waktu akhirnya memohon bantuan ku hingga rela merendahkan dirimu serendah-rendahnya hanya demi uang yang tidak seberapa ini. "
__ADS_1
Bersambung.