My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Ngidam Masih Berlanjut


__ADS_3

Nick menghela nafas panjangnya setelah seharian di kerjain habis-habisan oleh anak yang sedang di kandung Alenta. Padahal sudah lewat tiga bulan, tapi ngidam aneh Alenta semakin menjadi, dan itu benar-benar di luar akal sehat Nick sebagai orang yang selama ini mengenal Alenta.


Pagi tadi, Alenta yang sekarang sudah tidak lagi sering mual dan muntah seperti sebelumnya kini malah berubah menjadi sangat sensitif, tidak boleh mendengar kata-kata yang agak menyinggung akan langsung menangis, mengunci kamar, bahkan bisa seharian tidak bicara.


" Sayang, makan salmon ya? Kemarin kan sudah makan bakso seharian, hari ini kau makan yang bergizi ya? " Ujar Nick sembari mendekatkan sepiring nasi dengan salmon yang sudah di masak, kemudian juga ada telur ceplok dengan sayuran juga.


" Tapi aku sedang tidak ingin makan salmon. " Alenta memasang mimik sedih, dia juga terlihat sangat manja. Sudah dua hari Alenta seperti ini, tentu saja Nick yang sudah di abaikan selama tiga bulan itu merasa sangat senang. Sekarang tidur harus terus memeluk Alenta karena itu permintaan Alenta sendiri. Mandi, makan, semuanya dilakukan bersama Alenta, terkecuali bekerja. Yah, meskipun bekerja juga selalu terganggu dengan telepon dari Alenta yang hampir sepuluh menit sekali menghubunginya. Pernah sih saat Nick sedang sangat sibuk dan tidak sempat untuk menerima panggilan, tapi saya dirumah Alenta menjadi diam saja tak bicara seharian.


" Sayang, Dokter kan sudah bilang kalau makan makanan yang bergizi sangat penting untuk pertumbuhan anak kita kan? Jadi jangan bandel ya? Sekarang habiskan makanan mu, aku kan juga harus segera berangkat bekerja. "


Alenta tak menjawab, karena Nick kira Alenta sudah mengiyakan di balik diamnya, maka segera Nick menyendok makanan di piring untuk dia suap ke mulut Alenta. Tapi saat menatap Alenta untuk memasukkan makanan itu, Nick jadi bingung karena Alenta malah terlihat ingin menangis.


" Sayang, kok malah tertawa? "


" Sedih! Aku sedih, Nick! "


Nick terkekeh.


" Iya, memang kenapa kau sedih? "


" Kau sekarang sangat sibuk bekerja, kau tidak perduli lagi denganku ya? "


Nick menggaruk tengkuknya yang tak gatal, meletakan lagi sendok yang bersisi makanan ke piring. Nick menghela nafasnya, menangkup wajah Alenta, mengecup singkat bibir istrinya itu.


" Siapa bilang aku tidak perduli? Tentu saja aku perduli denganmu. Tapi kau juga tahu kalau pekerjaan ku banyak sekali kan? Lagi pula, aku kan tidak pernah lembur. "


" Kau tidak macam-macam di sana kan? "


Nick tersenyum kikuk. Apanya yang macam-macam coba? Di kantor dia hanya berhubungan dengan Dimas, dan juga Maudi yang sudah dia anggap adik sendiri. Kalaupun mau macam-macam bukanlah Dimas dan Maudi adalah mata-mata Alenta? Satu jam saja Nick tidak ada kabar, Dimas dan Maudi akan di teror melalui ponsel, bagaimana kepikiran ingin macam-macam? Bekerja saja sudah di bua tidak tenang.

__ADS_1


" Macam-macam dengan siapa sih, sayang? "


" Bisa saja dengan Dimas. "


Nick ternganga tak percaya. Kenapa harus Dimas sih? Apakah tidak ada yang masuk akal sedikit? Misalnya Maudi saja yang jelas punya lubang.


" Dari pada dengan Dimas, kenapa tidak menuduh dengan Maudi saja? Itu lebih masuk akal, dan suamimu ini tidak akan merasa terhina. "


Alenta mulai menangis.


" Sa sayang, kok menangis? Aku hanya bercanda kok. Iya deh iya aku macam-macam dengan Dimas. Oke kan? Sudah jangan menangis ya? "


" Hua..... " Alenta menjadi tambah menjadi dengan ucapan Nick barusan.


" Aduh, jadi aku harus bagaimana sih? Kalau bilang tidak macam-macam kau kan tidak percaya. Kalau bilang dengan Maudi kau juga tidak setuju, aku iyakan tuduhan mu dengan macam-macam kepada Dimas pun salah, aku harus jawab apa sih sayang? " Bujuk Nick, aduh! Ini namanya ngidam yang membagongkan. Sudah menurut apa saja, kadang Nick hanya bisa iya iya iya tapi juga masih salah.


Sebenarnya punya dendam apa anak di dalam perutmu terhadapku? Aku ini Ayahnya, kenapa dia begitu memusuhiku, bahkan kadang aku seperti merasa kalau dia mengajak ku tawuran setiap saat.


Nick terdiam dengan tatapan pasrah. Sudahlah, memang begini menghadapi istri hamil. Jujur, kadang juga Nick bergerundel di dalam hati seperti ingin memaki Alenta. Tapi karena mengingat kata Dokter untuk lebih sabar menghadapi Ibu hamil, Nick hanya bisa pasrah saja dan mencoba bersabar setiap saat.


" Ya sudah, sekarang aku harus bagaimana? "


Alenta menyeka air matanya, di menatap wajah Nick yang nampak melas, lalu dia bangkit dan duduk di pangkuannya.


" Aku mau itu. "


" Mau apa? "


" Itu! "

__ADS_1


" Iya apa? Aku tidak bisa baca pikiranmu, sayang. Jadi bicara saja supaya aku bisa tahu. " Alenta mendekatkan bibirnya di telinga Nick berbisik di sana.


Nick mengeryit karena tak percaya dengan apa yang dikatakan Alenta. Sebentar dia menatap Alenta untuk mencari kebenaran dari ucapannya.


" Sayang, kau serius? " Alenta mengangguk. Nick tersenyum senang, dia memang sudah melihat jam di pergelangan tangannya, meski sadar benar jika akan ada pekerjaan penting, tapi kalau di bandingkan dengan kikuk kikuk bersama Alenta tentu saja tidak akan ada apa-apanya. Nick segera mengangkat tubuh Alenta untuk masuk ke kamar. Tak usah susah menaiki tangga, karena sudah dua bulan terakhir ini dia pindah ke lantai dasar agar tidak membuat Alenta kelelahan harus naik turun tangga. Pagi begini Damar juga sekolah, jadi bisa bersuara dengan lepas.


Tidak tahu apakah itu karena mood seorang Ibu hamil, Alenta yang tadinya hanya akan diam membiarkan Nick melakukanya, kini dia begitu aktif, bahkan Nick sampai tak harus mengeluarkan banyak tenaga. Dari awal pemanasan juga Alenta lah yang lebih agresif. Dia menyentuh bagian-bagian tubuh yang bisa dibilang titik sensitif seorang Nick, bibirnya juga dengan lihai menjamah di sana sini membuat Nick menjadi tak karuan. Aneh kan? Tapi jujur bagian ini sangat Nick sukai.


Semoga saja mood nya begini terus sampai seterunya.


Ponsel berdering, Nick yang tahu jika itu Maudi hanya bisa bingung sendiri. Mau angkat atau tidak? Kalau tidak nanti ada yang penting, kala di angkat dia tidak ingin membuat fokusnya teralihkan dan membuat Alenta yang sedang di atasnya bergerak menjadi kesal.


" Angkat saja, siapa tahu ada yang penting. " Ujar Alenta.


" Iya, tapi jangan bergerak dulu, nanti aku bisa tidak tahan. " Alenta mengangguk, lalu dia bangkit dari sana.


" Kok dilepas? " Tanya Nick kecewa, sekarang dia sudah mengambil ponsel dan batu akan menerima telepon, kalau tahu begini lebih baik tadi tidak usah saja mengurusi telepon, batin Nick.


" Angkat saja dulu. "


Nick menghela nafas, lalu mengangkat telepon dari Maudi.


" Ada apa? "


Bos, sebentar lagi akan meeting, Bos kenapa belum datang?


" Aku, ah.... " Sial! Nick kelepasan karena Alenta tiba-tiba memperlakukan tongkat ajaibnya seperti seperti sebuah lolipop.


Bos, jangan bilang kau sedang anu-anuan?

__ADS_1


" Meeting tidak sepenting ini, kau undur saja sampai aku selesai! " Nick mematikan sambungan teleponnya.


__ADS_2