My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Tingkah Suami Dan Istri


__ADS_3

Seharian sudah Nick dihukum dengan wajah serius Alenta, bahkan kalau tidak bertanya juga sama sekali Alenta tidak mengeluarkan suara. Tahu sih kalau ini juga salahnya, tapi ya mau bagaimana lagi? Semua kan sudah terjadi, tinggal sekarang hanya bisa menikmati saja wajah Alenta yang sangat serius dalam mengerjakan pekerjaan.


Sudah waktunya pulang, tapi suasana juga masih sama. Tapi begitu Rebecca nimbrung dengan mereka, suasana jadi berubah aneh meski Rebecca adalah gadis yang biasanya mudah mencairkan suasana.


" Babe, kita pergi nonton yuk? " Ajak Rebecca, dan seperti biasanya, dia akan merangkul lengan Nick dan bergelayut manja disana. Sementara Alenta yang berjalan di belakang mereka hanya bisa menghela nafas sebal. Bukan cemburu, tapi dia merasa sebal karena Nick masih saja buta dan sulit untuk memahami bahwa hubungan yang ia jalani dengan gadis manja berlebihan seperti Rebecca sama sekali tidak bermanfaat, dan malah merugikan saja.


" Tapi ini kan sudah hampir jam sembilan malam, bagaimana kalau akhir pekan besok saja? " Ujar Nick yang merasa lelah sekali hari ini. Tidak tahu balas dendam atau apa, tapi Alenta benar-benar tidak membuat Nick menganggur barang sebentar saja. Setelah rapat selesai, Nick harus segera melakukan beberapa pertemuan penting, meninjau langsung pekerjaan di lapangan, bahkan juga sampai harus membaca berkali-kali dokumen yang biasanya Alenta sudah membacanya, dan tinggal ditanda tangani saja.


" Ayolah, Babe. Aku bosan sendirian di apartemen nih, kalau kau menemani ya tentu saja aku tidak akan merasa bosan. "


Alenta yang sudah mulai bosan mendengar pembicaraan Nick dan Rebecca tentu saja dia lebih memilih untuk berbicara dengan Arkan yang sudah mengiriminya banyak pesan, dan pastinya juga Alenta abaikan karena alasan kesibukan aktivitasnya sebagai sekretarisnya Nick.


" Arkan, kau sudah pulang kan? Bisa jemput aku tidak? "


Mendengar samar-samar Alenta berbicara melalui sambungan telepon dengan Arkan, Nick spontan berbicara ya tentu saja tujuannya adalah untuk mencegah Alenta bertemu dengan Arkan.


" Oh iya, Alenta! " Nick segera berbalik badan, lalu menatap Alenta meski dia tidak begitu berani berlama-lama karena Alenta mengeryitkan dahi dengan tatapan menakutkan.


" Alenta, ada beberapa dokumen yang harus kita bahas karena aku masih belum terlalu paham benar. "


Alenta, gadis itu sungguh ingin meninju wajah sialan Nick dengan kekuatan super yang terpendam ditangannya hingga wajah menyebalkan itu tak lagi berbentuk dan akan terasa lebih enak dipandang dari pada sekarang, Eh! Ini sih menurut Alenta saja ya?


" Aduh, maaf sekali ya Bos. Jam kerjaku sudah lewat dua jam lalu, aku tidak semurah hati yang kau bayangkan Bos. " Alenta melengos sebal dan berniat kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Nick.


" Itu, Ibuku juga ingin membahas sesuatu denganmu! " Ucap lagi Nick.


" Ibu, eh! Maksudku Nyonya mengirim pesan kalau dia tidak tinggal dirumah malam ini karena ada hal yang harus dia kerjakan dengan tuan Nathan. "


Rebecca mengeryit karena dia merasa curiga dan yakin benar sih kalau Alenta sempat menyebut calon Ibu mertuanya Ibu. Ini keceplosan saja atau memang ada hal yang tidak biasa? Ah! Ingin sekali bertanya tapi sepertinya tidak akan di jawab, batin Rebecca.

__ADS_1


" Nenek, nenekku ingin bertemu denganmu! Dia ingin bertanya masalah perusahaan secara langsung denganmu. "


Memang dasar brengsek! Bagaimana bisa alasan tidak masuk akal, dan jelas sekali di ada-adakan itu dengan percaya diri dia katakan? Duh! Andai saja mencekik orang tidak dilanggar, bolehlah leher Nick di cekik sampai melintir seperti kue tambang.


" Nenek mu kan sedang di luar negeri, beserta kakek mu, Bos? "


Aduh! Lupa!


" Maksudku, nenek dari Ibuku! "


Alenta membuang nafas kasarnya, memang dasar pengganggu dan tukang iri! Perasaan baru saja dia ingin menyegarkan perasaan dan hati dengan menemui kekasihnya, tapi si biang masalah ini lagi-lagi mengacaukan niat indahnya dengan alasan-alasan bodoh yang bahkan nyamuk sekarat saja pasti akan menolak untuk percaya.


" Bos, bisa tidak mencari alasan yang masuk akal? Nenek anda itu mana perduli dengan urusan perusahaan? Sudah ah, Bos! Aku mau happy sebentar, tolong jangan mencegahku ya? "


Tidak! Mana boleh seperti itu! Batin Nick di dalam hati. Segera dia meraih ponsel Alenta, mematikan sambungan telepon, lalu mengantongi ponsel milik Alenta. Mengegrakkan kan? Tentu saja Alenta dan Rebecca terperangah tak percaya dengan apa yang dilakukan Nick barusan.


" Babe, Alenta kan ingin bertemu kekasihnya, ya biarkan saja. " Protes Rebecca yang sebenarnya bukan perduli kepada Alenta, tapi dia cemburu dengan sikap Nick yang seolah-olah begitu tida rela Alenta bertemu dengan Arkan yang adalah kekasih Alenta sendiri.


Rebecca melotot kepada Alenta dengan wajah keberatan. Uh! Andai saja bisa meraih bibir Alenta dan menjambak giginya, pasti kekesalannya akan sedikit berkurang. Sayang, sungguh sayang sekali semua itu hanya bisa dia lakukan di dalam imajinasinya saja. Suami posesif? Kenapa sih kata-kata itu membuat Rebecca ingin menghancurkan dunia saja? Tahu tidak kalau Nick dan gosip pernikahannya sudah membuat kepalanya sakit dua hari ini?!


" Jangan asal bicara, Alenta! Nick mana mungkin mau menikahimu. " Protes Rebecca.


" Iya kan Babe? " Rebecca menatap Nick seolah menginginkan kata iya dari mulut Nick. Aduh, tapi sayangnya mulut Nick sekarang seperti sedang terkunci dengan rapat hingga mau tersenyum pun susah sekali.


Nick, pria itu masih terdiam sembari menelan salivanya beberapa kali berharap bisa segera mengembalikan keseimbangan di dalam dirinya. Sementara Alenta, gadis cantik itu sedari tadi malah sibuk menatap Rebecca dengan tatapan miris, tapi sisi bibirnya nampak naik ke atas sedikit.


" Duh, bagaimana ya? Menurutmu harus bagaimana aku menjawab untuk mewakili mu, Bos? " Alenta tersenyum, tapi ya tentu saja senyum dengan tatapan mengancam itu sungguh membuat bulu-bulu di sekujur tubuhnya bangkit.


" Bos, kau begitu posesif apakah kau menyukai ku, Bos? "

__ADS_1


Nick kembali menelan salivanya, matanya terkunci tak bisa melengos untuk bertolak pandang dengan Alenta yang terus tersenyum mengerikan. Matilah! Padahal niatnya hanya ingin bicara sepatah dua patah kata, lalu Alenta menyetujuinya. Tapi siapa sangka kalau Alenta malah mematahkan semua alasannya dan membuatnya kurang bisa mengontrol diri hingga tanpa sadar melakukan hal aneh seperti pacar, atau suami yang posesif semacam itu.


" Sana, pergi saja sana! " Nick menyerahkan ponsel Alenta dengan tatapan sebal karena tidak berani menatapnya secara langsung.


" Jadi kita nonton saja Babe? " Rebecca tersenyum, bahkan dia mengedip-ngedipkan matanya dengan genit sembari menatap Nick yang masih saja engga untuk tersenyum.


" Sana, pergi saja nonton Bos. " Alenta kembali tersenyum, tapi kali ini senyum Alenta malah nampak menyebalkan bagi Nick.


" Kalau aku tidak pergi ya kau juga tidak boleh lah! " Protes Nick.


" Mana bisa begitu! " Ucap Alenta yang tak terima.


" Pokoknya tidak boleh! "


" Ih, jangan mengatur-atur urusan pribadi! "


Rebecca menoleh ke kanan, lalu ke kiri melihat Nick dan Alenta yang berdebat.


" Pribadi? Mau aku jelaskan siapa aku bagimu?! "


" Tidak perlu! "


" Ya sudah, ayo kita pulang saja! " Nick meraih tangan Alenta, lalu memaksanya untuk ikut bersama dengannya masuk ke dalam mobil.


" Lepas, Bos! "


" Oh, tidak bisa tuh!. "


" Babe, Alenta! Kalian ini apa-apaan?! Bagaimana denganku?! Babe! Babe! " Teriak Rebecca yang ingin mengejar mobil Nick tapi tak keburu.

__ADS_1


" Brengsek! Kenapa mereka bertingkah seperti pasangan suami istri sih?! "


Bersambung.


__ADS_2