
Sudah lewat dua hari, dan Talita sama sekali tak pernah lagi muncul. Ada rasa lega yang tak bisa dijelaskan melalui kata-kata, Alenta kini jadi terlihat baik-baik saja, dia sudah kembali menjadi Alenta seperti biasanya. Masa bodoh dengan gosip yang kini mulai beredar, Alenta malah semakin menyibukkan diri untuk sebuah proyek baru yang diterima Chloe. Sebenarnya sebagian besar sudah Nick kerjakan, tapi karena Alenta nya sendiri yang menginginkan kesibukan, mau tidak mau NIck hanya bisa mengizinkannya saja.
Sempat Nick ingin membuat peraturan bahwa tidak ada yang boleh menggunjing Alenta, tapi ucapan Alenta benar-benar membuatnya tidak bisa bergerak.
Percuma saja membuat peraturan untuk tidak menggosipkan ku. Orang yang membenciku malah akan semakin membenciku, karena bagi mereka mempercayai apa yang mereka lihat itu sudah jauh lebih dari sebuah fakta yang wajib untuk mereka yakini.
Sudah dua hari, pegawai selaku berbisik saat melihat Alenta, atau kalaupun mulut mereka diam, mata mereka seolah menatap dengan maksud menggunjing. Sebagai seorang suami yang mencintai istrinya, tentu itu membuat Nick merasa sangat marah dan kesal, tapi sudahlah! Alenta masih terus mencegahnya bertindak, maka dia juga hanya bisa mengikuti apa kata istrinya itu.
" Sayang, makan siang di restauran dekat rumah yuk? "
Alenta menatap Nick sebentar, lalu kembali melihat dokumen yang sedang ia periksa.
" Ini di kantor, jangan terlalu biasa memanggil seperti itu, kalau nanti jadi kebiasaan bagaimana? "
Nick menghela nafas, lalu berjalan mendekati Alenta yang duduk bersebrangan meja dengannya. Dipeluknya Alenta yang sedari tadi mengecek dokumen padahal jelas Nick sudah dua kali mengeceknya sebelum membubuhi dengan tanda tangannya tadi.
" Kita kan cuma berdua sekarang, lagi pula mana bisa sepasang suami istri yang bekerja di tempat yang sama kan terus-terusan bisa melakukannya. "
Alenta tak menjawab, bukannya tidak ingin menjawab, hanya saja sedari tadi dia sedang konsentrasi mengecek dokumen.
" Sayang? "
" Ah! Iya iya! " Alenta bangkit dari duduknya karena merinding dengan cara Nick memanggilnya. Sudah nafas hangatnya begitu terasa di tengkuknya, belum tangan Nick melingkar di perutnya membuat dia merinding parah.
__ADS_1
Tak mau berlama-lama dengan suasana seperti tadi, akhirnya Nick dan Alenta keluar dari perusahaan bersama-sama dan tujuan mereka adalah makan siang. Arkan yang tidak sengaja melihat Nick dan Alenta masuk ke mobil yang sama hanya bisa menahan diri yah tengah kecewa itu, masih terbesit rasa tidak rela, tali juga tidak akan baik kalau memaksa Alenta. Harus bagaimana? Karena setiap waktu yang dia ingat hanyalah saat-saat mereka bersama dulu, menikmati makanan pinggir jalan mulai dari yang manis Samoa yang paling pedas bagi mereka. Sekarang hanya tinggal kenangan saja, karena nyatanya Alenta sudah semakin jauh dari dirinya.
Di kantin kantor.
Dimas dan Maudi kini tengah bersama-sama menikmati makan siang mereka bersama. Sudah beberapa hari setelah kembalinya Bos mereka, tidak ada lagi sekretaris Alenta dan Bosnya bergabung seperti biasanya.
" Kau dengar gosip terbaru ini kan? " Ucap pegawai yang duduk berhadapan punggung dengan Maudi dan Dimas.
" Tentu saja, tentang Sekretaris Alenta kan? "
" Iya, aku tidak menyangka kalau dia adalah orang yang jahat seperti itu. Selain memusuhi adik tirinya, dia juga sangat kejam terhadap Ayahnya. Padahal kalau tidak ada Ayahnya dia tidak akan mungkin ada di dunia ini kan? Aduk tirinya sampa mengemis begitu untuk Sekretaris Alenta menjenguk Ayahnya, bahkan kemarin sampai memohon-mohon agar dibantu membayar uang biaya rumah sakit. "
" Iya, orang kalau sudah ada di atas tentu saja akan lupa diri, bahkan gosip belakangan juga beredar kalau Sekretaris Alenta itu memiliki hubungan gelap dengan Bos. "
" Iya, ada beberapa pegawai yang melihat secara langsung. Kalau tidak salah kan Bis sudah menikah, tapi beberapa bulan lalu juga masih bersama dengan Nona Rebecca, sekarang dengan Sekretaris Alenta. "
" Maklum saja lah, sekretaris Alenta memang lumayan cantik, sayang saja kalau tidak digunakan wajahnya untuk mengait pria kaya, apalagi Bos Nick kan tampan. "
Maudi yang sedari mendengar itu sudah coba untuk menahan diri hingga kedua tangannya gemetar memegang sendok dan garpu.
Brak! Maudi membanting sendok dan garpu bersamaan. Maudi bangkit dan menatap pegawai yang sedari tadi asik bergosip kesana kemari tidak jelas arah dan tujuannya. Boleh saja Alenta merasa tida perlu menghiraukan itu, tapi Maudi yang paling tahu bagaimana Alenta kesehariannya, mana mungkin dia akan diam saja membiarkan gosip aneh itu semakin berkembang dan menjadi-jadi.
" Kalian pikir kalian punya hak apa bergosip seperti itu hah?! "
__ADS_1
" Anu, asisten Maudi, kita kan hanya mendengar rumor saja. " Jawab pegawai itu dengan gugup.
Maudi mengepalkan tangannya kuat-kuat, sementara Dimas tersenyum tipis melihat bagaimana setia kawannya Maudi.
" Rumor? Aku peringatkan kepada kalian yang suka sekali mempercayai rumor, kalian pasti akan sangat menyesal sudah mendengar rumor aneh ini, dan kalian Yanga menyebarkan rumor tidak benar ini akan sangat menyesal sampai ke tulang sum-sum! Kalian hanya tahu bergunjing, bergosip seperti diri kalian adalah makhluk yang paling suci tanpa dosa. Lihat cermin kalian dulu sebelum menggosipkan orang! " Maudi meninggalkan kantin dengan wajah kesalnya. Para pegawai yang ada disana hanya bisa kebingungan, apalagi yang tadi bergosip, mereka sangat ketakutan sekarang ini. Maudi adalah orag yang dekat dengan Alenta dan Nick, jadi bisa saja mereka akan kehilangan pekerjaan gara-gara mulut mereka tadi.
***
Di rumah sakit tempat Tuan Baskoro menjalani perawatan paska operasi.
" Bas, Alenta apa tidak datang menjenguk mu? " Tanya Nenek Tina, atau Ibu dari Tuan Baskoro. Wanita itu datang menjenguk putranya dengan kursi roda yang di dorong oleh putra sulungnya sendiri.
Taun Baskoro menggeleng. Sekarang dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbicara lagi dengan Alenta, jaraknya dengan Alenta sudah semakin jauh, dan Alenta juga sudah tidak bisa ia jangkau lagi.
" Kau harus berusaha untuk dekat dengan dia, Bas. Kau kan tahu keuanganmu tidak bisa di andalkan belakangan ini. Alenta itu kan bekerja di perusahaan besar, gaya pakaian dan barang-barang yang dia kenakan itu adalah barang branded, jadi dia pasti mampu membiayai mu. Putramu sudah akan sekolah lebih tinggi, dia membutuhkan biaya yang cukup besar loh. "
" Ibu, Alenta sudah memberikan semua uang tabungan yang dia punya. Bahkan Ibunya saja tidak meminta barang sepeserpun, padahal dia membesarkan Alenta sendiri, dengan uang dan kerja keras sendiri hingga Alenta bisa mejadi seperti sekarang. Bagaimana bisa dengan tidak tahu malunya aku ingin menempel seperti parasit dengan putri yang aku abaikan? "
" Bagaimanapun kau adalah Ayahnya Bas, setidaknya mintalah sedikit modal untuk membuka usaha, putramu itu butuh biaya yang besar, jadi jangan di anggap remeh. "
" Maksud Ibu? Ibu ingin aku menggerogoti Alenta untuk memberikannya pada anakku yang lain? Apa Ibu gila? "
Bersambung.
__ADS_1