
Rebecca duduk diam di ujung ruangan yang hanya ada sofa, meja, dan juga sebuah vas bunga disana. Sial! Memang benar-benar sial kalau sudah ada Alenta yang ikut campur di dalam kegiatan mereka. Memang benar ini di kantor, tapi apa hak nya mengatur-atur padahal Nick yang tak lain adalah pacarnya itu Bos untuknya. Tapi kenapa Alenta terus memperlakukan Nick seperti bawahannya?
" Bos, ini kontrak kerja dengan Vanhsdor Group, tolong di tanda tangani. Lalu ini ada dokumen tentang pembelian material dari pusat yang wajib Bos baca. " Alenta membantu Nick memilah dokumen, juga menunjukkan yang mana saja dokumen-dokumen yang harus segera ditanda tangani.
" Alenta, kau ini sengaja membuat Nick sibuk ya? " Rebecca yang sedari tadi hanya bisa menonton Pacar dan juga sekretarisnya sibuk, tentu saja merasa kesal. Walau bagaimana pun, Alenta itu juga cantik, bahkan tubuhnya lebih tinggi dari lada tubuhnya. Yah, walaupun tubuhnya sendiri sudah dibentuk agar memiliki bokong dan dada yang menggoda, tapi tetap saja dia merasa jika pesona Alenta lebih bersinar dari pada pesonanya. Padahal Alenta hanya anak seorang pemilik toko roti, sedangkan dia adalah anak dari pengusaha garmen yang cukup terkenal, lalu apa sih yang membuat Alenta lebih terlihat elegan dan menarik dari pada dirinya? Huh! Padahal Alenta kan selalu saja berpenampilan kuno dengan setelah baju kantor yang modelnya hanya itu itu saja, rambutnya juga selalu saja di ikat seperti buntut kuda. Tidak tahu lah, pokoknya kali ini dia harus menjaga dengan baik hubungannya dengan Nick. Selain Nick itu tampan, Nick kan juga berasal dari keluarga kaya raya yang terpandang, jadi sayang sekali kalau harus dilewatkan begitu saja.
Alenta menyibakkan rambutnya yang jatuh ke pundak saat dia membungkuk untuk memperlihatkan beberapa dokumen kenapa Nick. Tatapannya yang jengah kini terarah kepada Rebecca, lalu membenahi posisinya menjadi berdiri tegak.
" Nona Rebecca, kekasih anda adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan. Anda harusnya tahu kan kalau seorang CEO itu tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main? Anda adalah orang yang bijak bukan? Tolong anda pahami, ada seribu seratus dua puluh dua karyawan yang menggantungkan nasibnya di perusahaan ini. Maaf kalau saya bicara agak kasar, tapi tanpa saya membuat sibuk pekerjaan Bos Nick memang akan selalu banyak. " Alenta kembali tersenyum setelahnya karena dia bisa melihat dengan jelas Rebecca yang tak bisa membalas ucapannya. Sementara Nick, dia hanya bisa menahan diri juga karena tidak mungkin membantah ucapan Alenta yang seratus persen benar.
Setelah selesai dengan urusannya, segera Alenta keluar dari ruangan Nick yang membuatnya sebal dan pusing menahan kesal terhadap dua orang bodoh yang tengah mabuk cinta itu.
" Sek Alenta, Pacar Bos datang dari pagi, apa sih yang mereka lakukan? " Asisten Alenta bertanya karena penasaran, dan dia adalah Maudi, teman sekaligus rekan kerjanya di perusahaan Chloe.
Alenta menghela nafas sebalnya, lalu memaksakan senyumnya.
" Apa lagi? Tentu saja mereka berpacaran di sela-sela pekerjaan. "
Maudi menjebikkan bibirnya karena merasa kesal juga terganggu sendiri dengan adanya Rebecca yang sudah hampir enam bulan ini bertingkah seperti Nyonya muda Chloe saja.
" Dasar gila! Padahal pekerjaan Bos kan banyak, masa iya sih masih sempat pacaran di kantor? "
" Biarkan saja, lagi pula mereka pasangan yang serasi kok. " Ujar Alenta seraya mendudukkan dirinya untuk mengecek dokumen sebelum diserahkan kepada Maudi.
" Tapi, aku dengar-dengar gosip, katanya Bos sudah diam-diam menikah loh. "
Brep.....
Sialan! Padahal dia baru saja merasakan lega tenggorokannya yang baru saja disiram air mineral, tapi gara-gara ucapan Maudi, air mineral yang sudah masuk kedalam mulutnya muncrat kemana-mana. Oh, untung saja tidak mengenai kertas-kertas di mejanya.
__ADS_1
" Uhuk! Uhuk! " Alenta terbatuk-batuk, dan Maudi dengan segera menepuk-nepuk pelan punggung Alenta.
" Aduh, Alenta pasti sangat terkejut ya? Aku juga terkejut sih awalnya, tapi yang lebih mengejutkan lagi, ternyata istrinya itu adalah- "
" Adalah apa? Siapa?! " Alenta memegang erat tangan Maudi, tatapannya tajam tapi juga terlihat takut.
" Eh, Alenta kau kenapa? "
" Katakan, apa yang gosip katakan? "
" Alenta, kenapa kau bersikap seolah-olah kau tahu segalanya? Apa gosip itu sungguhan? Apa sungguh Bos sudah memiliki istri? "
Alenta menelan salivanya beberapa kali, dari cara bertanya Maudi, sepertinya siapa istri Bos juga belum diketahui kan?
" Aku hanya sekretaris saja, mana aku tahu siapa istrinya. Aku tadi hanya karena terkejut makanya seperti itu reaksi ku.
Alenta memaksakan senyumnya lagi.
Tersedu-sedu? Iya benar, aku menangis tersedu-sedu karena tidak ingin menjadi istrinya Bos.
" Sudahlah, Maudi. Kita lanjutkan saja pekerjaan kita.
Jam pulang kantor.
Hati tak ada lembur, kenapa? Itu karena Alenta dan Maudi giat mengerjakan tugas agar bisa beristirahat lebih banyak karena kemarin mereka harus lembur sampai malam.
" Babe, kita dinner dimana nih? " Rebecca bergelayut manja memeluk lengan Nick. Sementara Alenta hanya bisa menatap jijik sepasang manusia yang berjalan di depannya itu.
" Dimana saja yang kau inginkan. " Ujar Nick lalu mengusap rambut Rebecca dengan lembut.
__ADS_1
Duh, sialan! Apa-apaan sih ini?! Mesra-mesraan di hadapan orang lain apa tidak mau hah?! Alenta menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.
" Sayang, bagaimana kalau kita makan malam di hotel Elizabeth yang terkenal itu? Lalu setelahnya, " Rebecca berbisik di telinga Nick, lalu tak lama Nick tersenyum mengangguk degan semangat.
Oh, masih berpikir akan bahagia? Heh! Kan sudah dia bilang kalau hari ini tidak akan ada bahagia untuk Nik.
" Bos, jangan lupa kalau dirumah anda ada Nyonya Ivi yang menunggu. "
Duar.........!
Hancur! Hancur sudah rencana indah yang ada di benak keduanya. Gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaan dan Rebecca, dia sampai lupa kalau Ibunya akan tinggal dirumahnya sampai beberapa hari, dan malah mengandai-andai rencana indah bersama dengan Rebecca.
Rebecca berbalik dengan tatapan kesal.
" Alenta, kau pasti sengaja kan?! " Nick mencoba untuk menenangkan kekasihnya dengan mengusap pelan punggungnya dan berbisik agar jangan marah.
" Aduh, nona Rebecca aku tidak ikut-ikutan kalau masalah adanya Nyonya Ivi di rumah Bos. " Alenta tersenyum setelahnya.
" Kau, dari mana kau tahu kalau ada Ibunya Nick disana?! " Rebecca melotot kesal karena tak tahan dengan Alenta yang selalu mengganggu rencananya dengan Nick.
Alenta terdiam sesaat, lalu menelan saliva karena bingung harus menjawab apa.
" Babe, Alenta tentu saja tahu. Kan Ibuku selalu mengabari Alenta untuk mengingatkan agar aku segera pulang, begitu kan? " Nick menatap Alenta seolah meminta Alenta untuk mengiyakan ucapannya barusan.
" Oh, benar sekali. Aku juga bingung, kenapa ya nyonya Ivi lebih sering menghubungiku, menanyakan kabar, aku jadi takut nyonya Ivi salah paham dan mengira aku kekasih Bos. "
" Alenta!!! " Rebecca semakin histeris marah.
Bersambung.
__ADS_1