My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Pembatalan Janji


__ADS_3

" Alen, nanti kalau sudah selesai meeting beri kabar kepadaku ya? Aku akan menjemputmu, sekalian ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu. " Ucap Arkan lalu tersenyum seperti biasanya saat berbicara dengan Alenta. Sejenak Alenta terdiam, lalu tersenyum karena dia merasa bersalah juga sudah mengabaikan Arkan beberapa hari terakhir ini.


" Iya, nanti aku akan menghubungi mu setelah semua pekerjaan selesai. "


" Baiklah, oh iya Alenta, kemarin aku mampir ke rumah sewa mu, tapi pemilik nya sudah berganti. Kau ganti unit, atau sudah pindah? "


Alenta menelan salivanya karena bingung harus menjawab apa. Sementara Nick, pria itu tiba-tiba saja merasa kesal mendengar Alenta dan Arkan akan bertemu malam nanti. Maudi, gadis itu lagi-lagi hanya bisa membatin bingung karena situasi ini kenapa begitu bertolak belakang dengan dugaan yang sudah menguat? Kalau iya sudah suami istri dengan Bos Nick, kenapa juga malah membuat janji dengan Arkan? Rebecca juga masih gentayangan di antara mereka berdua, jadi sebenarnya apa hubungan antara Alenta dan Bos mereka?


" Alenta, waktu kita sudah akan banyak terbang, kita harus segera bergegas. Kau sendiri sudah sering mengatakan jangan banyak membuang waktu untuk hal yang tidak penting. " Ujar Nick lalu merangkul kedua pundak dua wanita yang selalu menemani kegiatan penting nya di kantor, iya tentu saja mereka adalah Maudi dan Alenta.


" Aku akan jelaskan nanti! " Ucap Alenta seraya berjalan mengikuti langkah kaki Nick yang dengan cepat membawanya masuk ke dalam mobil.


Arkan menatap Alenta dengan tatapan datar tapi angannya tengah memikirkan banyak hal yang begitu mengganggu setelah melihat perlakuan Alenta dan Nick. Mungkin ini hanya rasa cemburunya saja, tapi seandainya ada hal yang di luar dugaan bagaimana? Sejenak Arkan menghela nafas karena otak nya yang terus memikirkan banyak hal negatif cukup untuk membuat moodnya menjadi tidak baik.


" Aku baru lihat ada Sekretaris dan Bos yang sangat dekat hingga tidak ada tata Krama antara Bos dan bawahan yang perlu di patuhi. Tuan Nick pasti adalah orang yang sangat mudah bergaul ya? Dia juga merangkul kakak cantik yang satu lagi seperti seorang kawan saja. " Ujar Talita tersenyum kagum karena merasa jika Nick adalah sosok yang ramah, juga sangat tidak memperdulikan status rekan kerjanya.


" Pasti asik kalau bisa bekerja bersama dengan tuan Nick dan kakak Alenta. Selain bisa bekerja seperti sedang bekerja bersama dengan sahabat, mereka juga terlihat tidak saling canggung dalam berbicara dan berpendapat. "


Arkan terdiam tanpa bisa menanggapi ucapan Talita barusan. Tidak! Bos yang ia kenal bukanlah orang yang seperti itu, dia adalah orang yang paling ingin dipandang tinggi, sangat tidak suka ada orang yang sembarangan bicara dengannya. Tapi kalau bersama dengan Alenta, Bosnya memang nampak berbeda dari yang ia kenal. Dia lebih terlihat mengalah, dan juga menurut saja dengan apa yang di katakan oleh Alenta. Jika alasannya adalah karena tuan Nathan mempercayakan kinerja Bos Nick kepada Alenta dan diberikan hak untuk menegur, bahkan memberikan pelajaran saat Bos Nick melakukan kesalahan, apakah mungkin bisa hubungan mereka sedekat itu tanpa adanya rasa benci? Arkan bisa melihat dengan jelas tatapan yang tidak biasa setiap kali dia melihat Bosnya menatap Alenta.


" Kak Arkan, semoga aku diterima bekerja disini, dan bisa bergabung dengan kakakku juga ya? " Ucap Talita lalu tersenyum setelahnya.


" Hem, semoga saja. Tapi, akan lebih baik jika kau memanggil Bos Nick dengan sebutan Bos. "

__ADS_1


" Eh, memang kenapa? " Tanya Talita bingung.


" Dia lebih suka di panggil seperti itu, dia tidak melarang mu pasti karena dia pikir kau belum menjadi pegawainya, jadi ingat untuk memanggilnya Bos saat kau sudah bekerja disini nanti. "


" Oh, iya. " Talita sebenarnya agak tidak setuju dengan kata-kata Arkan barusan, tapi lebih baik kalau mengiyakan saja dulu ucapan Arkan karena siapa tahu itu adalah hal yang penting dan jangan sampai membuat kesalahan juga agar bisa diterima bekerja di Chloe yang sudah sangat terkenal itu.


***


" Masalah pemasaran, semuanya akan dijalankan pada bulan kesepuluh susuai dengan jadwal kita. Untuk model tentu saja mengikuti saran dari Mr Zerg, satu dari negara asal anda, dan satu lagi dari negara kami. Tentang iklan juga akan mengikuti rencana awal yang sudah disepakati kita di awal. " Ucap Alenta yang dengan lugas menjelaskan tentang pokok meeting.


" Bagaimana dengan biaya yang ternyata melebihi ekspektasi kita? " Tanya Mr Zerg yang sedari tadi matanya tak henti menatap Alenta. Hal itu rupanya bisa dilihat langsung oleh Nick, pria itu kini hanya bisa menahan kesal dengan terus menatap Mr Zerg dengan tajam.


" Mr Zerg juga sudah menerima daftar rincian yang saya kirimkan kemarin kan? "


" Ah, iya aku hampir lupa, Alenta! "


" Kalau begitu, semua sudah jelas kan, Mr Zerg? "


" Ah, iya Alenta. "


" Baiklah, karena ini sudah pukul tujuh malam, bagaimana kalau kita akhiri meeting kita ini? "


" Nah, justru karena masih pukul tujuh malam, bagaimana kalau kita makan malam bersama Alenta? "

__ADS_1


Ini apa-apaan lagi?


Nick membatin tanpa mengalihkan pandangannya yang tajam kepada Mr Zerg. Sementara Maudi, dia hanya bisa merinding sendiri melihat bagaimana Mr Zerg mencoba menarik perhatian Alenta, lalu Nick yang sedari tadi menatap dengan begitu menakutkan.


Ya Tuhan, apakah ini rasanya naik roller coaster? Mereka yang memiliki hubungan, mereka yang jatuh cinta, kenapa aku yang berdebar? Tolong, tolong aku yang seperti cecunguk busuk disini! Tolong selamatkan aku dari situasi aneh ini!


" Maaf, Mr Zerg, aku sudah memiliki janji penting. "


Nick mengernyit karena baru saja mengingat kalau Arkan tadi kan mengajak Alenta untuk bertemu.


Sebenarnya aku benci dengan si mister zorok ini! Tapi aku terpaksa harus berkawan asalkan Alenta tidak bertemu dengan si Arkan jelek itu.


" Alenta, tidak baik menolak tawaran dari klien yang sebaik Mr Zerg ini, makan malam tidak membutuhkan waktu satu abad kok, jadi setujui saja. " Nick tersenyum dengan begitu manis meskipun dia sadar kalau tatapan Alenta sangat menakutkan terarah padanya.


" Bos Nick benar-benar pengertian sekali, apa boleh aku makan malam berdua dengan Alenta saja? "


Pesh! Hilang sudah senyuman di wajah Nick barusan.


Matamu!


" Sebenarnya sih boleh-boleh saja, tapi perutku juga lapar. Jadi aku yang tidak ingin mengganggu ini terpaksa harus bergabung dengan kalian, iya kan Maudi? "


Maudi menelan salivanya lagi-lagi. Aduh! Apa ya tidak tahu kalau sedari tadi dia sudah berkeringat dingin? Kenapa juga harus membawa-bawa dirinya sih?

__ADS_1


Ibu, bisakah jemput aku? Aku tidak sanggup lagi berada di dekat mereka, dengkulku lemas! Hua Hua Hua ....


Bersambung.


__ADS_2