
Alenta berdiri di samping jalan yang menghadap ke arah sebuah sungai. Sepi, itulah kenapa Alenta memilih untuk berhenti disana. Diam-diam dia menangis, mengigit bibirnya agar tak keluar suara tangisannya. Tapi punggungnya yang bergerak tak bisa membohongi Nick yang diminta untuk berdiri agak jauh darinya.
Kecewa, mungkin untuk menggambarkan sebuah perasaan kecewa itu tidak akan mungkin bisa, mengukur seberapa besar rasa kecewa itu juga tidak akan bisa karena sudah terlalu besar dan terlalu dalam. Benar, dia nampak begitu dingin, acuh, bahkan juga begitu kasar saat berbicara dengan Ayahnya tadi, tapi hatinya yang merasakan kesedihan juga tak mampu dia abaikan begitu saja.
Sudah dua puluh tahun dia hidup tanpa Ayahnya, kenangan-kenangan yang hanya dia ingat secuil saja itu tidak mampu menghilangkan, atau setidaknya sedikit saja memegangi merasa kecewa di dadanya. Sebenarnya, bukan benci yang Alenta rasakan, tapi kekecewaan saat melihat Ayahnya, juga Ibu Rahayu terlaku menyakitkan. Bayangan saat Ayahnya tertawa bahagia sembari menggendong Talita, memeluknya sembari tersenyum, mengusap rambutnya dengan tatapan yang lembut, bahkan ada hari dimana Alenta sakit, dia bahkan sampai kejang beberapa kali, dia terus memanggil Ayahnya, tapi pria itu tidak kunjung datang, sibuk? Iya! Dia sibuk berlibur bersama anak dan istri barunya.
Bisa dia maafkan karena tidak pernah mendapatkan nafkah sebagi seorang anak, tapi kasih sayang yang semakin tak bisa dia rasakan, semakin hari membuatnya semakin memupuk kekecewaan setelah banyak berharap kepada Ayahnya.
" Kenapa? Kenapa aku tidak bisa dibandingkan dengan anak itu? Padahal aku sekolah dengan jalur prestasi, bahkan juga kerja paruh waktu untuk uang saku ku, aku juga membeli pakaian, dan juga kebutuhan sekolah dengan hasil kerja kerasku sendiri. Apakah aku harus menjadi anak manja seperti anakmu dan dia agar dulu kau bisa menyayangi ku? "
Nick terdiam sebentar melihat punggung Alenta yang bergetar karena dia tenga menangis. Dia memang tidak tahu benar bagaimana rasanya disakiti oleh Ayahnya sendiri karena dia mendapatkan banyak sekali kasih sayang dari semua orang, tapi sangat mengingat dia sering di beda-bedakan dengan Reiner yang cerdas dan bijak dalam mengambil keputusan, sedikit dia paham bagaimana rasanya. Nick berjalan menghampiri Alenta, lalu memeluknya dari belakang.
" Kau terus memandangi arus sungai dari atas sini, apakah kau sangat frustasi setelah berbicara dengan Ayahmu lalu ingin bunuh diri? "
Alenta menyeka air matanya, lalu mencoba menyingkirkan tangan Nick dari tubuhnya.
" Kenapa juga aku harus membunuh diriku sendiri hanya karena pria itu? "
Nick meletakkan wajahnya di pundak Alenta, lalu semakin mengeratkan pelukannya.
" Kalau begitu, kenapa kau terus melihat ke bawah sembari menangis? Jangan-jangan arus deras itu dari air matamu ya? "
Alenta dengan kuat melepaskan tangan Nick, lalu berbalik menatapnya, dan Nick sontak membenahi posisi berdirinya.
" Aku hanya kesal, kesal sekali sampai tidak tahan untuk menangis. "
Nick menghela nafasnya, lalu meraih lengan Alenta, membawa tubuh Alenta ke dalam pelukannya.
" Aku tidak akan memintamu untuk memaafkan mereka, aku juga tidak akan memintamu untuk berdamai dengan masa lalu, tapi aku benar-benar memintamu untuk tetap menomor satukan dirimu sendiri. Kalau kau masih ingin mengisi, kau bisa mengisi diperlukan ku kok. " Ucap Nick lalu tersenyum setelahnya.
" Siapa juga yang masih ingin menangis? Kau pikir aku selemah itu? "
__ADS_1
" Menangis bukan berarti lemah, lemah itu adalah orang yang selalu takut menanggung resiko, dan selalu ragu-ragu untuk melangkah. Menangis memang terdengar seperti penanda lemah, tapi menangis itu bisa mengurangi rasa sedih mu loh. "
Sialan! Kata-kata Nick barusan benar-benar membuatnya tak berdaya. Padahal hanya kata-kata biasa saja, tetapi benar-benar membuatnya tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Alenta awalnya masih bisa menahan, tapi lama kelamaan karena perasaan nyaman, serta pelukan hangat dari Nick, akhirnya lirih sudah air matanya, suara tangisnya juga tak lagi dia tahan dan dengan bebas dia bisa mengisi di pelukan Nick.
Beberapa saat kemudian.
" Aku dengar, Talita sudah mulai bekerja di perusahaan, apa kau tidak apa-apa kalau melihat dia di kantor? " Tanya Nick setelah Alenta benar-benar tenang, dan kini mereka juga sedang melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah mereka.
Alenta menghela nafasnya.
" Dia bisa diterima bekerja, itu juga pasti karena dia memiliki kemampuan, jadi sebisa mungkin aku harus berlaku sebagai mana mestinya. "
Nick mengangguk setuju. Sebenarnya agak melas juga sih karena Alenta lagi-lagi harus sok bijak, tapi ini jugalah yang membuat Nick begitu mengagumi Alenta secara diam-diam.
Sesampainya dirumah, Nick dan Alenta hanya mengganti baju saja untuk tidur, dan segera berbaring di tempat tidur karena besok adalah hari Senin, dan seperti biasanya, Senin adalah hari paling malas bagi Nick karena akan banyak sekali pekerjaan baru, sedangkan yang lama saja belum juga selesai.
" Alenta, kau sudah tidur? "
Nick mendekatkan tubuhnya, lalu memeluk Alenta dari belakang.
" Jangan marah ya? Tidur sambil memeluk mu sepertinya akan menjadi rutinitas ku."
Alenta terdiam, padahal dia juga tidak ingin menepis tangan Nick, apalagi sampai harus marah. Energinya benar-benar sudah terkuras habis, jadi dia benar-benar tidak ingin melakukan apapun sampai dia terlelap dengan nyenyak.
***
" Talita? " Sapa Ibu Rahayu yang tak sengaja melihat putrinya masih belum tidur dan duduk di teras rumah memandangi langit yang malam itu tengah dipenuhi bintang-bintang malam.
" Ibu? Ibu belum tidur? "
Ibu Rahayu tersenyum, lalu duduk disampingnya Talita.
__ADS_1
" Belum nak, lagi pula ini juga belum jam sepuluh malam. Lalu kau? kenapa kau tidak tidur? Kau tahu kan Ayahmu selalu mengatakan kalau jam sembilan kau sudah harus istirahat? "
Talita menghela nafas sebal.
" Aku sudah dewasa Ibu, gadis dewasa mana ada yang tidur di jam itu? "
Ibu Rahayu terkekeh, lalu mengusap kepala Talita dengan lembut.
" Apa kau sedang memikirkan sesuatu sampai kau belum tidur? " Tanya Ibu Rahayu.
Talita tersenyum malu, bahkan pipinya sampai merona merah.
" Aku tahu ini tidak pantas, tapi beberapa hari ini aku selalu terbayang-bayang wajah Bos Nick, dia itu tampan sekali ya Bu? Aku tidak salah kalau mengidolakan Bos Ku sendiri kan? "
Ibu Rahayu mengerti bingung.
" Pria yang waktu itu Ibu lihat saat menjemputmu dari perusahaan Chloe, dia itu siapa? Kalian kelihatanya akrab juga. "
" Oh, itu adalah kekasihnya kakak Alenta, dia adalah orang yang baik dan sangat ramah, jadi tidak masalah kan kalau aku akrab dengan calon kakak ipar? "
Ibu Rahayu menelan salivanya sendiri.
" Talita, lebih baik kau menjauhi pria itu, dia adalah kekasihnya kakakmu, jangan sampai nanti ada salah paham, nak. "
" Tenang saja Bu, aku tahu kok. "
Ibu Rahayu menatap khawatir.
Tidak, jangan nak! Mulanya Ibu juga seperti itu, tolong jangan mengikuti jejak Ibu.
Bersambung.
__ADS_1