My Secretary, Is My Wife

My Secretary, Is My Wife
Kekecewaan Talita


__ADS_3

Talita menatap Ibunya dengan linangan air mata kekecewaan. Pantas saja di mata Alenta hanya ada permusuhan saat menatapnya, pantas saja Alenta begitu membencinya, pantas saja Alenta begitu tidak ingin menerimanya sebagai seorang adik meskipun berbeda Ibu. Pantas saja Ayahnya selalu mengatakan Alenta banyak mengalami kesulitan, pantas saja Ibunya juga memohon untuk bisa lebih memahami Alenta sebesar apapun kemarahan Alenta. Pantas juga Ayah beserta Ibunya hanya bisa menunduk saat Alenta mengatakan hal-hal menyakitkan, nyatanya semua keluarganya, Ayah, Ibu, nenek, dan dia sendirilah yang telah membuat Alenta hidup dengan kebencian.


Talita menjauhkan tangan Ibunya yang memegang kedua pundaknya. Tatapan Ibunya juga terlihat sangat bersalah karena dia juga terus menangis tak kuasa menghadapi kekecewaan yang tersirat dari kedua bola mata Talita saat menatap matanya. Jelas, dia bukan bodoh yang tidak bisa mengartikan tatapan itu, tapi mau bagaimana lagi, karena kekecewaan dari putrinya itu tak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.


" Ibu, apakah Ibu sejahat itu? Apakah Ayah tahu apa yang Ibu lakukan itu?! "


Ibu Rahayu menggelengkan kepala sembari terisak-isak. Hubungannya dengan Tuan Baskoro saat itu benar-benar tidak hangat karena Tuan Baskoro masih menyimpan photo bersama dengan Alenta dan Ibunya. Dia sungguh takut kalau sampai dia menceritakan itu lalu ditinggalkan begitu saja. Benar, cinta bodohnya telah menghancurkan kehidupan sebuah keluarga. Tapi cinta yang tumbuh menggebu-gebu itu seolah tak bisa ia padamkan Meksi akalnya selalu mengatakan untuk jangan melakukannya.


" Kenapa, kenapa Ayah memilih bersama Ibu? katakan padaku sejujurnya kenapa Ayah memilih Ibu dibanding kak Alenta dan juga istrinya yah dulu? "


Ibu Rahayu tak sanggup untuk menjawab karena terus menangis sesegukan, tapi tak lama dia mulai membuka mulut, dan ucapan itu membuat Talita semakin ternganga tak percaya.


" Ibu, saat itu Ibu sangat mencintai Ayahmu. Ibu mengancamnya dengan meminum racun serangga, kadang mengancamnya dengan pisau, untuk memotong urat nadi, juga pernah mengancamnya akan terjun dari gedung. Ibu tahu akal sehat Ibu benar-benar sudah mati saat itu, tapi kebaikan Ayahmu sungguh membuat Ibu ingin memilikinya. Ibu tahu dia sudah memiliki istri yang tengah mengandung, tapi saat itu Ibu berpikir, apakah salah jika Ibu menjadi istrinya juga? Setelah Ayahmu menikahi Ibu, Ibu mengandung mu, tapi kondisi Ibu sangat tidak memungkinkan, tapi karena Ibu tidak ingin kehilangan perhatian Ayahmu yang saat itu sedang berbahagia karena anak pertamanya sudah tumbuh sekitar satu tahun, Ibu menjadikan kehamilan Ibu untuk bisa menahan dia di sisi Ibu. Saat kau lahir juga kau sangat mudah sakit, dan Ibu memanfaatkan itu untuk membuat Ayahmu lebih banyak menghabiskan waktu bersama kita. "


Talita menepis kedua tangan Ibunya yang masih disana memegangi kedua sisi pundaknya. Cukup, sudah cukup! Dia tidak ingin lagi mendengar apapun! Selama ini dia melihat keromantisan yang disuguhkan oleh orang tuanya, dia kira semua itu benar-benar karena mereka saling mencintai, dia kira cinta mereka tidak salah, dan dia kira orang tua mereka adalah orag yang baik. Benar, Ibunya adalah Ibu yang sangat lembut dan penuh perhatian, Ayahnya juga seperti itu. Tapi, jika alasan Ibu begitu egois mengatakan ingin memilki Ayah karena perlakuan baik Ayahnya, bukankah itu mengingatkan Talita dengan seseorang? Iya, dia adalah Arkan. Sekarang Talita tahu kenapa hubungan Arkan dan Alenta berakhir, dan semua itu karena Arkan yang terlalu baik hati kepada siapapun, dan sayangnya orang yang baik hati akan mengatakan iya disaat hatinya tidak ingin melakukannya. Sama seperti Ayahnya, jika saja Ayahnya memiliki keteguhan dalam sebuah hubungan, maka tidak ada keluarga yang hancur. Tidak ada Alenta yang menatap penuh kebencian, tidak ada seorang istri yang akan kehilangan suami, tidak akan ada lingkaran menyakitkan ini. Benar-benar gila kan? Sekarang dia paham benar bagaimana sakitnya Alenta melihat Talita bersama dengan Arkan.


" Ibu, aku benar-benar berharap apa yang Ibu katakan tadi adalah kebohongan. Aku berharap semua adalah mimpi saja. "


Ibu Rahayu tertunduk tak berdaya.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, operasi juga telah selesai, dan sekarang Tuan Baskoro juga sudah mulai sadar dari obat biusnya. Ibu Rahayu terus menemani dengan penuh perhatian, sementara Talita sedari tadi hanya bisa terdiam karena semenjak mendengar cerita Ibunya dia seolah tak tahu harus bagaimana dan kehilangan arah. Dia terus mengingat bagaimana tatapan Alenta saat menyerahkan kartu tabungan yang bersuhu seluruh tabungannya yang bahkan seorang Bintang sudah membesarkan menolak untuk menerimanya. Benci, rasanya Talita membenci dirinya sendiri karena lahir di tengah-tengah hubungan menyakitkan. Dia tidak berniat menyakiti, tapi pada akhirnya dialah yang membawa Alenta ke dalam jurang masa lalu dan membuat ya terperangkap.


Aku membeli kebebasanku.


Kata-kata itu seperti pukulan menyakitkan, kalau saat menerimanya itu terasa sebuah hinaan, maka sekarang saat mengingatnya dia merasa begitu membenci dirinya sendiri. Menyesal, tapi sudah terlanjur terjadi. Ingin marah, tapi dengan siapa dia akan melampiaskan kemarahan itu? Ayah? Ibu? Ataukah kepada Tuhan?


" Apa Alenta tidak datang menjenguk? " Tanya Tuan Baskoro pelan. Sebenarnya sudah dua jam lebih Tuan Baskoro sadar dari oba bius setelah operasi, sedari tadi dia juga terus minat ke pintu, dan inilah jawabannya. Dia masih mengharapkan Alenta untuk datang.


" Berhentilah untuk mengharapkan Alenta, Ayah. " Ucap Talita dengan tatapan kosong seperti sebelumnya.


Ayah Baskoro melirik untuk menatap Putrinya yang sedari tadi seperti tak bahagia saat dia bangun.


Talita mengepalkan kedua tangannya. Jika saja Ayahnya tidak selembut ini saat bicara, jika saja Ayahnya bisa membagi watu dengan adil, apakah hasilnya akan berubah? Iya! Setidaknya Alenta pasti akan menunggu disini meski wajahnya terlihat berat.


" Ayah, uang yang Ayah gunakan adalah uang kak Alenta. Kak Alenta memberikan semua uang yang ia tabung untuk Ayah, padahal Ibu kandungnya yang sudah membesarkan dia seorang dia tidak meminta sepeserpun. "


Tuan Baskoro nampak terkejut dengan ucapan Talita.


" Talita! Pahamilah kondisi Ayahmu! " Ucap Ibu Rahayu dengan tatapan yang menunjukkan betapa marahnya dia.

__ADS_1


" Kak Alenta memberikan semua uangnya kepada Ayah, juga sekalian untuk Ayah mengobati penyakit Ayah yang lain, tapi dengan uang itu juga kak Alenta mengatakan dia sudah membeli kebebasan dari kita, jadi jangan mengharapkan dia lagi. "


Tuan Baskoro nampak menahan tangis meski tak ada air mata di matanya. Jika saja dia tidak di operasi dan dia mati lebih cepat, apakah Aleta akan datang untuk melihatnya? Jika begini kenapa di harus bangun?


" Ayah, jika Ayah menyayangi dia, maka biarkan saja dia hidup bahagia dengan jalannya. Kita tidak usah mengharapkan lagi kak Alenta. "


" Kak? " Seseorang masuk ke dalam ruangan Tuan Baskoro, dan dia adalah Abimana, adik dari Tuan Baskoro.


" Maaf baru sempat menjenguk kak, aku tadi harus memulangkan Ibu ke rumah dulu. "


" Tidak apa-apa, maaf karena tidak bisa membantu biaya operasi Ibu. " Ujar Tuan Baskoro.


Abimana menghela nafas.


" Alenta, dia sudah membayar semua tagihan rumah sakit. "


" Apa?! " Tuan Baskoro dan Ibu Rahayu terkejut.


" Kami mengirim pesan kepada Alenta karena tidak tahu lagi dengan siapa meminta tolong, lalu seorang pria menghubungi akan membayar asalkan kami tidak menghubungi atau mengganggu Alenta lagi. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2